
"Syukurlah kalau begitu, akhirnya kau selamat. Kebetulan juga kau ke sini Di, aku mau menawarkan pekerjaan padamu." Kata Juragan Slamet menawarkan pekerjaan kepadaku.
"Kalau boleh tau kerjaan apa, juragan?" Tanyaku.
"Kamu mandorin sawahku yang ada di utara desa, luasnya kurang lebih 1 hektar. Kamu laporin kegiatan buruh di sana sama yang ngatur jam kerja mereka. Kalau tiba-tiba ada masalah di sana, kamu bisa langsung lapor ke Agus atau Fakhri, mereka tangan kananku. Nanti biar mereka yang turun tangan menyelesaikan masalahnya." Jawab Juragan Slamet menjelaskan.
Jujur dari dalam hati Dedi merasa senang mendapatkan tawaran pekerjaan dari Juragan Slamet, karena kalau untuk urusan upah pekerjanya, Juragan Slamet terkenal royal dan juga suka memberi beberapa hasil panen untuk para pekerjanya sehingga kehidupan para pekerjanya sedikit terjamin.
Namun di balik itu semua, Juragan Slamet terkenal juga sebagai orang yang masih mempercayai hal-hal mistis sehingga cenderung melakukan pemujaan-pemujaan kepada kekuatan selain Allah SWT. Hal ini bertujuan untuk menjaga seluruh harta kekayaan nya agar tidak ada seorangpun yang berani menyentuh apalagi mengambilnya.
Dan desas desus yang beredar antar warga adalah, bahwa di waktu-waktu tertentu, Juragan Slamet melakukan sebuah ritual yang harus mengorbankan nyawa seorang perawan agar seluruh harta kekayaannya terus bertambah.
Tentunya hal tersebut juga turut menjadi pertimbangan Didi. Karena, jika benar Juragan Slamet melakukan hal-hal tersebut, maka sama saja Didi mendapatkan upah pekerjaannya dari sesuatu yang haram dan sangat di benci oleh Allah SWT.
"Gimana Di, mau gak kamu kerja sama saya?" Juragan Slamet bertanya kembali kepada Didi.
Dedi terdiam sesaat, dan akhirnya dengan mengucapkan Basmalah di dalam hati ia menerima tawaran pekerjaan yang diberikan oleh Juragan Slamet.
"Hahahaha, bagus-bagus. Kalau begitu mulai besok Senin kamu masuk kerjanya ya. Dateng dulu ke sini jam 7 pagi terus ketemu sama Agus atau Fakhri, nanti salah satu dari mereka yang menjelaskan secara lengkap seperti apa tugasmu. Dan untuk masalah bayaran, kau jangan khawatir, aku akan menggajimu dengan upah besar, asal kau benar-benar serius menjalankan pekerjaan ini."
"Baik juragan, saya akan bekerja dengan sebaik mungkin, terima kasih sebelumnya." Dedi pun akhirnya pamit pulang ke Juragan Slamet karena malam sudah semakin larut. Di perjalanan pulang, dia kembali diliputi rasa was-was di hatinya, takut kejadian bertemu ular besar seperti tadi terulang kembali. Dedi pantas merasa takut bertemu dengan hewan-hewan buas, karena suasana di desa yang masih sangat asri, sehingga hewan-hewan seperti ular, monyet, dan lainnya masih mudah di temui di desa ini.
Perjalanan pulang ternyata aman dari segala bentuk gangguan apapun. Tak butuh waktu lama, Dedi pun sampai di rumahnya. Terlihat bapak dan ibu yang masih duduk di kursi tua yang berada di teras rumah menunggu dirinya pulang.
"Assalamualaikum." Salam Dedi kepada kedua orangtuanya.
"Walaikumsallam, nak. Ya ampun kamu kemana aja jam segini baru pulang?" Terlihat sekali raut wajah ibunya yang khawatir akan kondisi diri Dedi.
"Tadi Dedi mampir ke rumahnya Juragan Slamet, bu." Jawab Dedi sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Loh, kok kamu bertamu malam-malam Di? Emang juragan belum tidur jam segini? Terus peralatan kamu nyari belut kemana?" Tanya bapak yang mulai sedikit curiga akan jawaban Dedi.
"Iya pak, tadi di jalan ketemu sama orangnya juragan, terus Dedi di kasih tau katanya Juragan Slamet sendiri yang nyuruh Dedi segera datang ke rumahnya malam ini. Kalau peralatan nyari belut ketinggalan di rumah juragan. Tadi pulangnya Dedi buru-buru." Jawab Dedi menjelaskan.
Sengaja dia tidak menjelaskan kejadian sebenarnya yang dia alami tadi ke ibu dan bapaknya karena Dedi tidak ingin melihat mereka berdua khawatir dengan kondisinya di mana dia sempat di belit oleh ular tersebut.
Setelah berbincang sebentar di teras rumah, mereka bertiga pun akhirnya masuk ke dalam rumah dan kamar masing-masing untuk segera beristirahat.
*****
Pagi pun menyambut, suara kicau burung dan kokok ayam mulai terdengar bersahutan, sinar matahari mulai terlihat sedikit menyinari langit dengan sinarnya yang berwarna merah dan oranye.
Dedi sudah terbangun dari tidurnya. Setelah mandi lalu sholat subuh,dia menuju teras rumahnya untuk duduk di sana menikmati udara pagi yang masih sangat segar.
Sambil menunggu hingga pukul 6 pagi, dia menghabiskan waktu dengan sarapan segelas kopi dan beberapa gorengan pisang buatan sang ibu.
"Di, kamu mau bawa bekel ga buat kerja?" Tanya ibu sambil menyiapkan masakannya untuk sarapan pagi keluarganya. Hanya lauk makan sederhana, yaitu tumis daun kangkung dan tempe tahu serta sambal, tapi sangat menggugah selera makan siapapun yang melihatnya.
"Ngomong-ngomong, kamu udah ngasih tau Asih kalau kamu sekarang kerja sama Juragan Slamet?" Tanya bapak ke Dedi yang tengah mengambil lauk makannya.
"Belum pak, kan belum ketemu juga. Habis ini Dedi mau berangkat ke rumah Juragan Slamet, sekalian mampir ke rumah Asih sebentar buat kasih tau kalau Dedi sekarang kerja sama Juragan Slamet."
"Yasudah kalau begitu. Yang penting ga ada salah paham antara kamu dan Asih." Ucap ibu menimpali obrolan bapak dan Dedi.
"Tapi kamu tau kan Di, kalau Juragan Slamet itu punya anak masih gadis seusia Asih. Kamu jaga diri jangan sampai bablas kalau nanti sudah kenal sama anaknya juragan." Lanjut bapak memberi nasihat.
"Iya Dedi tau pak. Tenang aja, Dedi ga akan tertarik sama anaknya. Untuk kenalan pun juga ga perlu, cuma sebatas anak majikan dan pesuruh bapaknya saja nanti." Jawab Dedi coba menenangkan bapak ibunya.
"Yowes, ini udah jam 6, jalan sekarang biar ga telat. Jangan lupa ini bekalnya."
__ADS_1
"Iya Bu. Bapak, ibu, Dedi berangkat dulu ya, assalamualaikum." Pamit Dedi sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
Seperti yang tadi Dedi bilang ke bapak ibunya bahwa dia akan mampir ke rumah Asih untuk mengabari kalau dia sudah bekerja di rumah Juragan Slamet, maka di sinilah Dedi sekarang, dia sudah berada di depan pintu rumah kekasihnya itu dan mulai memanggilnya.
"Assalamualaikum, Asih!" Salam Dedi sambil mengetuk pintu.
"Walaikumsallam, sebentar." Terdengar sahutan suara dari dalam rumah.
Ceklek…
"Loh Mas Dedi? Mbak Asih ada Mas Dedi nih!" Ternyata yang membukakan pintu adalah Dimas adiknya Asih yang usianya tidak terlalu jauh dengan kakaknya itu.
"Silahkan duduk dulu mas, aku panggilin Mbak Asih lagi" Ucap Dimas kembali sambil berlalu masuk ke dalam rumah.
Dedi pun duduk di kursi yang ada di ruang tamu rumah orang tua Asih. Sebenarnya jika di lihat dari strata, orang tua Asih termasuk orang yang terpandang karena bapaknya Asih berprofesi sebagai seorang guru sekaligus kepala sekolah di sekolah dasar yang berada di desa tersebut.
Dedi melihat sekeliling ruangan ini. Ruangan yang tidak terlalu besar namun penataan barangnya sangat tepat sehingga tidak membuat rumah terasa sempit. Tak lama Asih pun keluar menghampiri Dedi sambil membawakan segelas teh hangat.
"Tumben Mas Dedi datang pagi-pagi, kenapa mas?" Tanya Asih mengagetkan Dedi yang tidak sadar bahwa Asih sudah berada di sampingnya.
"Ya Allah Asihhhh, kaget aku." Jawab Dedi sambil mengelus-elus dadanya karena kaget.
"Hehehe,maaf mas."
Dedi pun terdiam sesaat karena melihat ada yang berbeda dengan penampilan Asih pagi ini.
"Sih, mata kamu bengkak banget. Kamu habis nangis ya semalam?" Tanya Dedi masih sambil memperhatikan Asih.
Degggg…
__ADS_1
Jantung Asih tiba-tiba berdetak cepat mendengar pertanyaan mendadak dari Dedi.
Mas Dedi ga boleh sampai tau masalah semalam di sini..