Kenangan Rindu

Kenangan Rindu
Perasaan yang Tidak Tenang


__ADS_3

Sarah POV


Aku terkejut setelah mengalami kejadian melihat kembali hantu wanita itu di depan mataku. Meskipun hanya beberapa menit saja bahkan mungkin beberapa detik, tetapi hal tersebut cukup membuatku merasa ketakutan.


Joseph sudah kembali duduk di sampingku, dengan sabar dia menenangkan diriku, mengusap-usap lembut punggungku demi membuat diriku menjadi lebih tenang.


Seorang pramugari kereta kembali datang ke kursi kami membawakan sebotol air mineral yang diminta Joseph sebelumnya. Setelah memastikan keadaanku kembali, pramugari itu berlalu dari hadapan kami dan melanjutkan lagi tugasnya.


Beberapa mata penumpang masih menatap kami dan ada juga beberapa yang mulai membicarakan tingkah laku kami berdua, lebih tepatnya tingkah laku ku yang tiba-tiba saja menangis di dalam pelukan seorang pria.


"Kamu kenapa tadi, Darl?" Tanya Joseph kepadaku.


Aku masih terdiam sambil menatap wajahnya, mencoba menceritakan apa yang ku alami tadi saat dia pergi ke toilet. Namun, bibir ini terasa kelu tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Sepertinya efek terkejut tadi masih sedikit terasa di diriku saat ini.


"Mmmmm," kata ku mencoba untuk menjawab pertanyaannya.


"Hfft, yasudah kalau belum bisa cerita, yeay makan dulu deh. Eike pesenin dulu ya di restoran, mau makan apa? Cuss bilang ke J'lo," kata Joseph sambil mengambil kaca kecil di kantong kemejanya dan menghapus beberapa kotoran yang ada di wajahnya.


Joseph berubah kembali menjadi dirinya yang kemayu dan tingkahnya serta ucapannya itu mampu membuat diriku kembali tersenyum seperti sedia kala.


"Aku nasi goreng aja deh, ini uangnya."


"Hais, kali ini J'lo traktir. Baik-baik ya di sini, inget loh jangan bengong. Nitip kursi eike."


Joseph berlalu dari hadapanku dan menuju ke arah restoran di gerbong lain dalam kereta ini. Sambil menunggu kedatangannya, aku memutuskan untuk menghubungi Andre, siapa tau hatiku menjadi tambah tenang setelah mendengar suaranya.


Tuutt… tuutt… tuutt…


Dering panggilan pertama sudah berakhir, namun Andre belum mengangkat telepon dariku.


"Kemana ya dia?" Tanyaku kepada diri sendiri.


Ku coba kembali untuk menghubunginya namun, hingga panggilan yang ke empat kalinya Andre tetap tidak mengangkat telepon dariku. Akhirnya ku putuskan untuk berganti mendengar kan lagu saja dari salah satu aplikasi yang ada di handphone ku sambil menunggu Joseph kembali dari restoran.


Aku mendengarkan lagu dengan earphone dan melihat pemandangan indah yang ada di luar jendela, perjalanan dari Jakarta ke Bandung yang tidak terlalu membutuhkan waktu yang lama namun diisi oleh pemandangan yang indah, benar-benar membuat nyaman penglihatan sepanjang perjalanan ini.


"Darl, ini nasi gorengnya," kata Joseph ketika sudah kembali duduk di kursinya.


Aku segera mengambil makanannya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Saat hendak membuka tutup makan, tiba-tiba saja aku mendapat panggilan telepon dan ku lihat yang meneleponku adalah Andre.


"Hallo, Assalamualaikum." Kataku mengucapkan salam saat sudah mengangkat telepon darinya.


"......."

__ADS_1


"Udah sampai Purwakarta, Ndre."


"......"


"Iya, gak apa-apa. Aku cuma mau denger suara kamu sebentar aja kok."


"......"


"Love you too. Assalamualaikum."


"....."


Sedikit lega hatiku setelah berbicara dengan Andre, suaranya yang terdengar lembut di telingaku seperti alunan nada yang bisa membuat suasana hatiku menjadi lebih baik.


"Siapa? Andre?" Tanya Joseph sambil mengunyah makanannya.


"Iya, telepon balik aku. Tadi aku telepon gak di angkat, orangnya lagi mandi ternyata."


"Lah, mandi? Emang dese udah cabut dari kantor? Masih jam stengah tiga loh ini."


"Gak tau, mungkin ada urusan mendadak di luar kantor."


Selesai berbincang sedikit dengan Andre dan Joseph, aku lanjutkan memakan nasi goreng pesananku sebagai menu makan siangku.


Tidak terasa, akhirnya kami sampai di Bandung. Setelah melewati perjalanan yang lumayan melelahkan, kami pun sampai di hotel yang telah dipesan oleh kantor kami sebelumnya. Hotel yang nyaman dengan fasilitas yang lengkap. Kantor kami memang benar-benar menomorsatukan kenyamanan para karyawannya bahkan saat sedang bertugas keluar kota.


Terdengar suara getaran dari handphone ku. Aku segera mengambil dan melihat siapa yang menelepon nomor ku. Ternyata itu Rafli, manajer di divisi tempat ku bekerja.


"Hallo. Assalamualaikum, Pak Rafli," sapaku sopan dengan mengucapkan salam terlebih dahulu.


".........."


"Sudah, pak. Ini baru masuk kamar hotel, lagi mau bersih-bersih badan dulu."


"...."


"Hahaha, ya gak lah, pak. Saya pisah kamar sama Joseph."


"......"


"Baik, pak. Terima kasih."


"....."

__ADS_1


"Walaikumsallam."


Aku menutup panggilan telepon dari Rafli, dan kemudian beralih mencari nomor handphone Andre untuk menelepon nya dan memberitahukan bahwa aku sudah sampai di tempat tujuan dengan selamat.


Tuuttt… tuuttt… tuuttt…


"Hallo. Assalamualaikum," terdengar salam dari Andre dari seberang sana.


"Walaikumsallam. Yang, aku udah sampai. Ini lagi tiduran di kasur hotel, capek banget."


"....."


"Iya, sebentar lagi aku mandi. Habis itu mau nyari makan sama Joseph ke luar."


"....."


"Hahahah, lucu deh kamu, masa cemburu sama Joseph, yang bener aja deh."


"...."


"Iya-iya sayang. Aku mandi dulu ya, nanti di lanjut lagi. Assalamualaikum."


"....."


******


Author POV.


Rafli terus tersenyum setelah menelepon dan mendengar suara Sarah, bawahannya sendiri di kantor. Tidak bisa di pungkiri, jika dia memang menyukai bahkan mungkin mulai mencintai Sarah secara diam-diam.


Sudah, pak. Ini baru masuk kamar hotel, lagi mau bersih-bersih badan dulu.


Hahaha, ya gak lah, pak. Saya pisah kamar sama Joseph.


Terus terngiang kembali percakapan singkat antara dirinya dengan Sarah. Terselip rasa cemburu saat menanyakan kamar yang telah dipesan untuk Sarah dan Joseph.


Cemburu? Mungkin terdengar sedikit aneh, untuk apa Rafli merasa cemburu dengan Sarah yang jelas-jelas bukan pasangan nya. Namun, namanya perasaan seorang laki-laki dewasa apalagi terhadap lawan jenis, tentu tidak bisa dipaksakan.


Begitu pula saat melihat kedekatan Sarah dengan kekasih sesungguhnya, Andre, yang sama-sama menjabat sebagai manajer namun di divisi berbeda. Rafli merasakan cemburu yang luar biasa, seakan-akan ingin menghajar wajah Andre saat itu juga. Tapi semua itu selalu dia tahan, karena sekali lagi dia hanyalah sesosok pengagum rahasia bagi seorang Sarah.


Apa aku harus mengungkapkan perasaanku selama ini terhadap Sarah ya? Biar dia sendiri yang akhirnya memutuskan akan memilihku atau Andre.


Rafli bermonolog dengan dirinya sendiri, mencoba berandai-andai mengenai hubungannya dengan Sarah. Dia melihat foto Sarah yang dia ambil diam-diam melalui kamera handphone nya. Dia pandangi dan dia elus lembut layar handphone itu seolah-olah sedang mengelus Sarah secara langsung.

__ADS_1


Aku akan selalu sabar menunggumu, Sarah.


Rafli mematikan kembali layar handphone nya dan mulai fokus untuk melanjutkan pekerjaannya kembali yang sempat tertunda. Memikirkan Sarah memang mampu mengalihkan fokusnya walaupun hanya sebentar saja. Seberat inikah rasanya jatuh cinta dalam diam? Apalagi yang dicintai adalah kekasih dari laki-laki lain. Sungguh, jika bisa memilih, dia tidak ingin mempunyai rasa yang dalam terhadap gadis cantik itu yang telah berhasil memporak-porandakan hatinya selama ini.


__ADS_2