
"Sstttt, tante jangan lihat-lihat ke arah luar ya. Tante juga jangan pergi tugas besok, udah di rumah aja." Katanya dengan mimik muka yang terlihat seperti orang ketakutan.
Aku terdiam sambil menatap anak itu yang ternyata adalah seorang anak laki-laki dengan paras yang tampan. Namun, selain mimik mukanya yang terlihat seperti sedang takut akan suatu hal, kulihat juga bahwa wajah anak tersebut sangat pucat seperti orang yang sedang sakit.
"Hai, siapa nama kamu? Orang tua kamu kemana?" Tanyaku dengan ramah.
"Aku Aldi. Orang tua ku ada di luar sana, lagi berdiri di bawah pohon besar samping mobil itu." Jawabnya sambil menunjuk ke arah mobil yang ternyata itu adalah mobil kami bertiga.
Aku melihat ke arah sana, dan tidak melihat siapapun yang berdiri di bawah pohon besar itu.
"Gak ada siapa-siapa dek di sana." Kataku kembali.
"Ada kok tante, mama papa ku lagi lihat ke arah sini. Tadi malah aku yang di suruh nemuin kakak buat ngasih tau kalau tante besok di rumah aja jangan kemana-mana."
"Memang kenapa?"
"Ada yang mau jahatin tante. Orangnya serem." Jawab Aldi datar.
Aku hanya bisa tersenyum mendengar ocehannya yang mencoba memperingatkan aku akan sesuatu hal. Aku mencoba berpikir positif bahwa itu hanya omongan anak kecil yang penuh dengan hal imajinasi.
"Terima kasih ya dek sudah ingetin tante. Sekarang kemana orang tua kamu? Tante kok ga lihat ada siapa-siapa disana? Sudah mau jam 12 malam loh ini, kamu ga tidur?" Tanya ku kembali kepada Aldi.
"Di sana, mama papaku masih di bawah pohon lagi lihat ke arah sini."
Kembali aku lihat ke arah yang dimaksud, tapi tetap tidak ada siapapun disana. Tiba-tiba saja aku merasa hawa di dalam restoran cepat saji ini menjadi sunyi dan dingin. Bukan dingin karena AC, tapi karena hal lain. Bulu di sekujur tubuhku juga tiba-tiba meremang.
Tanpa kusadari, ternyata Mas Evan dan Mas Hanif sudah datang ke meja tempat ku duduk lalu Mas Hanif menepuk pundakku.
"Sar, kok diem aja?" Tanya nya sambil menatapku heran.
Aku terkejut karena melihat mereka berdua sudah ada di hadapanku dengan makanan dan minuman yang memenuhi meja tempat kami duduk.
"Loh, anak tadi mana?" Tanyaku ke mereka.
__ADS_1
"Anak siapa?" Tanya Mas Evan yang malah heran melihat sikapku.
"Anak laki-laki tadi yang berdiri di sini, dari tadi ngobrol sama aku."
"Kamu dari tadi sendirian loh Sar di sini. Aku liatin kamu dari kasir kamu ga sama siapa-siapa." Jawab Mas Hanif yang justru membuatku terkejut.
"Hah sendiri? Lah tadi ada Aldi kok di sini, terus juga masih ada anak-anak yang main perosotan di situ." Jawabku kembali yang masih kekeh memberitahu apa yang aku lihat dari tadi.
Mas Evan dan Mas Hanif pun saling tatap-tatapan. Mereka berdua terlihat bingung dengan apa yang aku ucapkan.
"Dari tadi gak ada anak kecil main Sar, udah jam segini mana ada anak kecil yang makan di sini walaupun sama orang tuanya. Kamu tuh dari tadi sendirian di sini, kalau ga percaya cek cctv sini aja."
"Tapi..tapi.." Aku tergagap seketika. Bulu di sekujur tubuhku semakin tambah merinding. Jantungku tiba-tiba berdegup dengan kencang.
"Udah, mungkin kamu kecapean karena udah malam juga. Yuk sekarang habisin makanannya terus habis itu langsung pulang." Mas Hanif pun mengakhiri pembicaraan ini dan terlihat berusaha untuk menenangkanku yang mulai terlihat ketakutan.
Aku pun menuruti perintah nya. Kuambil makanan bagianku dan ku buka bungkusnya. Aku makan sambil menundukkan kepala dan terdiam memiliki hal aneh yang kualami tadi. Namun, tiba-tiba saja aku merasa bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikanku dari kejauhan.
Akupun menoleh ke arah luar dan memperhatikan keadaan sekitar dari jendela kaca yang berada di samping diriku.
Terdapat dua orang yang bersamanya dan berada di belakang Aldi, namun tak terlihat jelas jenis kelamin mereka. Hanya saja, kulihat beberapa bercak darah yang terdapat di pakaian mereka. Dan setelah ku perhatikan dengan seksama, ternyata penampilan Aldi telah berubah saat dengan bersamaku tadi.
Aldi terlihat sedikit menyeramkan dengan beberapa noda darah yang berada di pakaiannya dan juga keningnya. Aku benar-benar merasakan seluruh tubuhku lemas tidak bisa di gerakkan, hanya terpaku menatap ke arah pohon besar itu.
Tiba-tiba kesadaran ku kembali saat kurasakan tepukan di bahuku yang ternyata itu berasa dari tangan Mas Evan.
"Jangan bengong dek, cepetan di habisin makanannya." Perintahnya.
"I..iya mas."
Sekilas aku menoleh kembali ke arah pohon itu, tapi kali ini aku tidak melihat siapapun di sana. Hanya terdapat bayangan pohon dan mobil yang berasal dari sinar lampu jalan di luar sana.
Kenapa tiba-tiba perasaanku jadi gak enak begini ya?
__ADS_1
*******
Kemesraan ini
Janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini
Ingin kukenang selalu
Hatiku damai
Jiwaku tentram disampingmu
Hatiku damai
Jiwaku tentram bersamamu…
Terdengar lantunan lagu merdu yang di nyanyikan oleh penyanyi Indonesia Iwan fals dan Vina panduwinata.
Sepasang anak manusia yang sedang memadu kasih di tepi sungai begitu menikmati lirik lagu tersebut yang berasal dari radio usang milik si lelaki.
"Mas, Asih sangat mencintai Mas Dedi. Asih gak tau harus bagaimana kalau kamu sampai ninggalin aku mas." Kata Asih sambil menatap Dedi dengan tatapannya yang sendu.
"Mas juga sangat mencintaimu Asih. Mas janji gak akan ninggalin kamu. Cuma kamu yang ada di hati mas." Dedi berusaha meyakinkan Asih akan cinta nya yang begitu dalam kepada gadis cantik itu.
Dedi balas menatap Asih dengan tatapan matanya yang teduh. Keduanya begitu terhanyut dengan makna lagu yang sedang mereka dengar dari radio itu.
Hingga tanpa mereka sadari, keduanya mulai semakin mendekatkan jarak pandangan mata mereka, kening dan hidung mereka mulai bersentuhan.
"Boleh?" Tanya Dedi sambil mengelus pipi Asih. Kening mereka masih tetap bersentuhan.
Asih hanya menganggukkan kepala dan mulai memejamkan matanya. Dedi lalu memiringkan kepalanya dan mulai menempelkan bibirnya dan bibir Asih dengan lembut.
__ADS_1
Hanya sentuhan, tidak lebih tapi sungguh terasa manis karena ini merupakan ciuman pertama untuk keduanya.
"Terima kasih." Ucap Dedi sambil tersenyum setelah dia melepaskan bibirnya dari bibir ranum milik Asih.