
Bi Iroh dan Ujang hanya bisa diam tidak berkutik mendengar bentakan dari Agus. Mereka berdua menyadari bahwa kesalahan berasal dari pihak mereka yang telah berani membicarakan anak perempuan majikannya sendiri.
Namun, disaat mereka masih berdiam diri di tempat sambil menundukkan kepala, tiba-tiba saja terdengar suara tertawa cekikikan yang ternyata berasal dari mulut Agus sendiri.
Hahahahahaha … hahahaha …
Bi Iroh dan Ujang menjadi terheran-heran melihat tingkah laku Agus yang dalam sekejap berubah seperti ini.
"Gus!" Panggil Bi Iroh khawatir.
Hahahaha … ehm … hahaha
Agus masih tertawa sambil memegang perutnya.
Dengan keberanian yang berhasil di kumpulkan, Ujang berinisiatif untuk menyadarkan Agus dengan cara menepuk dahinya.
"Bismillahirrahmanirrahim, pergi kau setan!" Teriak Ujang sambil menepuk dahi Agus karena di pikirnya Agus sedang kemasukan hal gaib.
"Aduh, sialan kamu, Jang!" Teriak Agus kesakitan.
"Alhamdulillah, Mas Agus sudah sadar," kata Ujang sambil mengusap dadanya lega.
"Emang kamu pikir saya kesurupan?" Agus berkata dengan gusar.
"Loh, Mas Agus gak kesurupan toh? Loh ya tak kira kesurupan, mas. Habisnya dari marah-marah tiba-tiba ketawa ngakak gitu, ngeri kan saya."
"Sialan! Saya tuh ngetawain kamu sama Bi Iroh, habis nya percaya aja saya kerjain gini."
"Ngerjain gimana maksudnya, Gus?" Tanya Bi Iroh tidak mengerti.
"Ya saya tadi marahnya cuma bohongan, Bi. Cuma mau ngerjain kalian berdua aja."
"Bohongan?" Tanya Bi Iroh dan Ujang serempak.
"Iya, tadi saya denger obrolan kalian berdua, terus jadi muncul niat mau ngerjain kalian deh," jawab Agus tanpa rasa bersalah.
"Loh, kamu gak marah, Gus? Kita kan ngomongin Non Kemala." Tanya Bi Iroh hati-hati.
__ADS_1
"Gak lah, ngapain marah? Wong saya juga kurang begitu suka kok sama dia. Emang bener, sifatnya beda banget sama Almarhumah ibunya. Bingung deh, nurunin sifat siapa ya dia? Padahal bapaknya juga ga gitu-gitu banget."
"Bener kan, berarti bukan kita berdua aja Bi yang kurang suka sama sikapnya si non yang suka semena-mena sama pembantu kayak kita gini."
"Iya, Jang. Tapi udah ah jangan di omongin lagi, takut nanti orangnya sendiri yang denger kalau kita lagi ngomongin dia," kata bibi sambil bergidik.
"Yasudah sekarang kerja lagi. Oh ya, Bi, buatin saya kopi dong. Kayak biasa ya. Anterin ke pos," Agus pun kembali ke halaman depan rumah untuk berjaga-jaga. Sementara Ujang kembali melanjutkan pekerjaannya mengurus seluruh tanaman di rumah Juragan Slamet.
*******
Dedi langsung memulai pekerjaannya setelah dia selesai berkenalan dengan semua buruh yang bekerja di sawah ini. Sebelumnya, dia juga sudah selesai mengelilingi sawah Juragan Slamet dari batas ujung ke ujung untuk melihat seberapa luasnya sawah ini. Di batas belakang sawah, langsung berdampingan dengan perkebunan pisang yang juga milik sang juragan.
Selesai berkeliling, Dedi langsung menuju bangunan menyerupai gudang penggilingan sekaligus penyimpanan beras yang berada di sebelah barat sawah. Bangunan itu juga sekaligus ruangan istirahat untuk Dedi.
Di dalam bangunan itu juga terdapat seorang wanita yang bertugas mengurus bagian administrasi, termasuk masalah keuangan di sana.
Dedi masuk ke dalam gudang dan bermaksud untuk mencari Pak Joko karena ada beberapa hal yang ingin dia tanyakan mengenai bagian belakang sawah yang berbatasan langsung dengan kebun pisang
"Permisi, mbak, lihat Pak Joko gak?" Tanya Dedi kepada wanita itu yang sedang mengerjakan pekerjaan nya di atas meja.
Wanita itu pun mengangkat kepalanya dan terlihat bingung melihat Dedi tiba-tiba ada di hadapannya.
"Maaf saya lupa memperkenalkan diri, saya Dedi, mandor baru di sini," kata Dedi sambil mengulurkan tangannya ke arah wanita itu.
"Ranti," jawab wanita itu sambil membalas jabatan tangan Dedi.
"Mbak Ranti, lihat Pak Joko gak? Ada beberapa hal yang mau saya tanyakan ke beliau masalah sawah di bagian ujung sana."
"Biasanya kalau jam segini Pak Joko ada di dalam kebun pisang."
"Loh ngapain? Kerjanya Pak Joko bukannya di sawah aja ya?"
"Kurang tau, mas. Tapi Juragan Slamet sendiri yang suruh Pak Joko kalau siang hari seperti ini datang ke kebun pisang, tapi kita-kita gak ada yang tau Pak Joko di suruh lakuin apa," kata Ranti menjelaskan.
"Oh begitu, yasudah terima kasih ya Mbak Ranti, silahkan di lanjutkan pekerjaan nya."
Dedi lalu keluar dari gudang dan kembali menuju sawah untuk mengawasi para buruh yang sedang menanam bibit padi dengan cara menancapkan batang padi satu persatu dengan berjalan mundur searah garis lurus. Cara menanam padi ini di namakan "tandur" yaitu kependekan dari ditoto mundur.
__ADS_1
Kebanyakan buruh wanita yang bertugas menanam padi di sawah ini adalah para ibu-ibu rumah tangga yang berasal dari desa sekitar. Sementara buruh lelaki bertugas untuk membajak sawah dan mengangkut karung-karung berisi padi atau beras ke dalam gudang.
Dedi sedang serius mengamati para pekerja itu hingga akhirnya terdengar suara Pak Joko yang membuyarkan konsentrasi Dedi.
"Nak Dedi cari saya?"
Dedi langsung membalikkan badannya ke arah Pak Joko dan menghampirinya.
"Iya, Pak. Bapak dari mana?"
"Dari kebun pisang Juragan Slamet. Ada apa Nak Dedi?"
"Anu pak, ada yang mau saya tanyakan tentang bagian sawah yang berbatasan dengan kebun pisang itu."
"Oh, memang kenapa, nak?"
"Saya perhatikan, di bagian belakang sana ada beberapa bagian tanah sawah yang tidak rata ya pak? Dan bagian itu tidak di peruntukan untuk di tanamin tanaman, benar tidak?" Tanya Dedi ke Pak Joko.
"Iya benar, walau sawah ini luas dan ada batasnya, tapi tidak semua nya di gunakan untuk menanam tanaman padi. Khususnya yang di belakang sana."
"Oh begitu, kenapa memang pak?"
"Saya tidak tahu, nak. Sudah perintahnya Juragan Slamet seperti itu. Kita-kita para buruh hanya melaksanakan perintah saja."
"Hmm begitu. Terus kalau Pak Joko kenapa ke kebun pisang? Bapak kan tugas nya di sawah ini."
"Khusus saya, Juragan Slamet memerintahkan saya untuk bantu mengurus pohon-pohon pisang nya. Lumayan untuk tambahan upah kerja, nak."
"Seluas itu? Semua pohon pisang nya bapak sendiri yang urus?"
"Iya," jawab Pak Joko singkat sambil tersenyum misterius.
Dedi memperhatikan senyuman Pak Joko itu dan merasakan ada sesuatu hal yang di rasa ganjil oleh dirinya. Namun dia hanya diam dan tidak mau melanjutkan pertanyaannya lagi.
"Ada lagi yang mau di tanyakan, Nak Dedi?" Tanya Pak Joko kembali.
"Oh, sudah cukup pak, saya cuma mau menanyakan itu saja karena penasaran. Yasudah bapak di lanjutkan kembali pekerjaannya, saya juga lanjut mau kerjain kerjaan saya. Terima kasih ya Pak Joko."
__ADS_1
"Sama-sama, saya permisi dulu, Nak Dedi."