Kenangan Rindu

Kenangan Rindu
Mulai Tersudutkan


__ADS_3

“Ampuuunnnnn, maafkan aku Asih! Jangan ganggu aku lagi!”


“Kau harus merasakan pembalasanku, dasar wanita biadab! Ha ha ha ha.”


“Tidak! Kau sudah mati, Asih! Kau tidak akan bisa menyentuhku!”


“Ha ha ha ha, kau akan segera merasakan pembalasan keji dariku!”


“Tidaaaakkk! Tolooooong!”


“Nek, nenek bangun, nek!” Terdengar suara Evan yang berusaha membangunkan neneknya dari mimpi buruk yang sedang menimpanya.


“Hah? Aku di mana?” Tanya Nenek Kemala.


“Nenek ada di dalam kamar nenek.”


“Syukurlah. Nenek pikir setan itu sudah membawa nenek pergi jauh.”


“Setan apa nek? Nenek mimpi apa sampai teriak-teriak histeris gitu?”


“Nenek mimpi seram, Van. Ada perempuan jahat yang mau melukai nenek, bahkan mau membunuh nenek, nenek takut sekali, huhuhu,” kata Kemala dengan menunjukkan ekspresi yang sangat ketakutan.

__ADS_1


“Sudah gak apa-apa, itu cuma mimpi aja, nek.”


Di saat Evan sedang berusaha menenangkan hati sang nenek, masuklah Kakek Dedi ke dalam kamar bermaksud untuk mengecek keadaan sang istri.


“Loh, kamu di sini, Van? Nenek kenapa?” Tanya kakek.


“Tadi nenek mimpi buruk sampai teriak-teriak, kek. Evan kebetulan lewat depan kamar nenek, terus langsung masuk buat bangunin nenek dari tidur.”


“Mimpi apa emang kamu?” Tanya kakek ke Nenek Kemala.


“Aku mimpi perempuan itu,” jawab Nenek Kemala singkat sambil menatap sendu sang suami.


“Khayalanmu terlalu jauh, jangan terus berprasangka buruk dengan dia.”


“Kenapa kau selalu takut akan keberadaan dia? Sementara keberadaannya sendiri saja sampai sekarang tidak di ketahui berada di mana seolah lenyap di telan bumi. Mengapa seolah-olah kau menutupi sesuatu yang selama ini tidak aku ketahui?” Cecar Kakek Dedi.


“Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan, keberadaan siapa yang kamu maksud?” Jawab Nenek Kemala dengan terbata-bata.


“Tunggu, tunggu sebentar. “dia” itu maksudnya siapa Nek? Kek?” Tanya Evan yang sedari tadi menyaksikan perdebatan nenek kakeknya itu.


Kakek Dedi hanya menatap Evan sekilas, lalu kembali menatap istrinya yang masih terduduk di atas tempat tidurnya.

__ADS_1


“Sudahlah, kau jangan membuat keributan lagi. Jika benar dia telah menjadi setan, mengapa hanya kau yang terus-terusan di ganggu? Aku yang menjadi suamimu dan tinggal satu rumah denganmu tidak pernah merasakan teror apapun dari dia yang kau maksud.” Kakek Dedi lalu meninggalkan istrinya begitu saja dan menuju ke arah luar kamar. “Kamu kakek tunggu di ruang tamu ya, Van”, kata Kakek Dedi sebelum menutup pintu kamar kembali.


“Nek, Evan tinggal ke luar dulu ya,” Evan pun pergi meninggalkan neneknya sendiri di kamar.


Kemala kini sendirian berada di dalam kamarnya yang lumayan luas. Dia terlihat waspada mengamati sudut-sudut kamarnya, takut jika tiba-tiba saja hantu wanita itu muncul lalu benar-benar mencelakai dirinya.


“Sialan! Sudah mati saja kau masih mengganggu kehidupanku. Sebelum kau berhasil membunuhku, maka aku duluan yang akan benar-benar melenyapkan wujud setanmu itu! Enyahlah kau ke Neraka Jahanam!” teriak Kemala dengan kemarahan yang menggebu-gebu.


Tanpa Kemala sadari sedari tadi bahwa sebenarnya Kakek Dedi telah berdiri mematung di depan pintu mendengar segala ucapan yang keluar dari mulut Nenek Kemala. Awalnya, kakek ingin kembali ke dalam kamar karena lupa memakai jam tangannya yang tertinggal di dalam lemari pakaian, namun kakek dibuat sangat terkejut ketika mendengar apa yang di ucapkan sang istri.


Mati? Siapa yang mati? Mau membunuh siapa juga dia? Rencana busuk apalagi yang sedang kau susun, Kemala? Kakek Dedi bertanya kepada dirinya sendiri. Kakek Dedi sebenarnya telah lama mencurigai perilaku isterinya itu yang berkaitan dengan hilangnya Asih, kekasih tercintanya, yang selama ini hilang secara misterius.


Dia menyadari bahwa itu semua ada campur tangan dari istrinya sendiri, namun dia belum juga mendapatkan bukti kuat untuk membongkar semua kedok Nenek Kemala. Entah kenapa, petunjuk-petunjuk yang menujukkan tentang keberadaan Asih benar-benar tersimpan dengan rapat.


Kakek Dedi juga menyadari bahwa istrinya tersebut tidak mungkin bertindak seorang diri, pasti ada beberapa orang yang turut membantu melaksanakan kejahatan yang dilakukan oleh Nenek Kemala.


Telah berpuluh-puluh tahun mereka menikah, namun tak secuilpun ada perasaan cinta dalam hati Kakek Dedi untuk Nenek Kemala, itulah mengapa selama ini Kakek Dedi selalu bersikap dingin kepada istrinya.


Jika beliau tidak mencintai istrinya, lalu mengapa mereka bisa sampai mempunyai dua orang anak dalam kehidupan pernikahan mereka? Itu karena desakan keluarga Nenek Kemala sekaligus ancaman bunuh diri yang selalu dilakukan oleh istrinya itu, disertai dengan beberapa jebakan dari Kemala agar mereka bisa melakukan hubungan suami istri.


Ancaman yang dilakukan oleh Keluarga Kemala saat itu tidak main-main, karena menyangkut nyawa kedua orang tua Kakek Dedi. Ditambah lagi, orang tua dari Kemala muda memang terkenal akan kekuasaannya dari segi kekayaan maupun kekuatan, siapapun yang menolak kehendak mereka maka nyawa taruhannya.

__ADS_1


Namun begitu, Kakek Dedi tidak pernah menyesali akan kehadiran kedua buah hatinya itu, bahkan dia sangat mencintai dan menyayangi anak-anaknya dan selalu memperhatikan segala kebutuhan mereka. Berbeda sekali dengan sikap dari Nenek Kemala kepada anak-anak yang dikandungnya sendiri, Nenek Kemala cenderung cuek dan bersikap masa bodoh dengan tumbuh kembang dari kedua anaknya, semuanya dia pasrahkan kepada pengasuh dan pesuruh yang bekerja di kediamannya. Maka tak heran jika antara dia dan anak-anaknya tidak ada rasa ikatan batin yang kuat seperti halnya anak-anaknya ke suaminya sendiri.


Jadi, selama ini Kakek Dedi hanya bisa diam dalam menghadapi semua tingkah laku isrtinya itu sambil terus memikirkan cara untuk menyelesaikan semua masalah ini. Semuanya dia lakukan demi sang kekasih tercinta, ASIH.


__ADS_2