
Siang itu udara terasa sangat panas, sepanas hati seorang laki-laki setengah baya yang sedang berdiri di jendela menatap hamparan kebun buah yang mengelilingi rumah mungilnya yang berada di tengah-tengah perkebunan.
Perawakannya tinggi besar dengan wajah yang masih bisa dibilang awet muda untuk usianya saat ini. Lelaki tua itu bernama Anton, sosok yang mendatangi Rumah Kemala secara tiba-tiba dan mengancam akan menyebarkan rahasia Kemala kepada Dedi.
“Kamu terlalu meremehkanku, Kemala. Lihat saja, aku akan menuntut kembali apapun yang sudah menjadi hakku, bahkan jika itu harus menyingkirkan dirimu dan membuat diriku masuk ke dalam penjara!” dengan tersenyum smirk, Anton membalikkan tubuhnya dan duduk di kursi tua kesayangannya. Tak lupa dia menyalakan televisi tabung untuk sekedar melihat-lihat berita yang sedang ramai di perbincangkan oleh masyarakat saat ini.
“Ayah?” terdengar suara seorang wanita yang memanggil Anton dengan sebutan “ayah”. “Iya, ayah di sini lagi nonton tv, nak.” Tak lama kemudian, pintu ruang televisi pun terbuka dan tampak seorang wanita berusia sekitar 35 tahun datang sambil mendorong kursi rodanya sendiri dengan cara mendorong kedua rodanya menggunakan tangannya.
“Nonton apa, Yah?” tanya wanita itu.
“Cuma berita-berita aja, udah lama Ayah gak liat berita di televisi. Kamu kenapa keluar kamar? Udah enakan badan kamu?”
“Udah, Yah. Lili bosen di kamar terus, mau jalan-jalan sebentar keluar rumah. Boleh ya, Yah?”
“Tapi kamu kan lagi sakit, nak. Apa gak lebih baik kamu istirahat di kamar aja?”
“Yah, Lili baik-baik aja kok. Tolong jangan perlakukan Lili seperti orang cacat, Yah. Lihat ini, Lili sehat kan, Yah?” Gadis itu dengan sengaja memutar-mutar kursi rodanya dengan lincah, bermaksud ingin menujukkan keadaan dirinya yang sehat kepada ayahnya.
Anton hanya bisa menatap sedih anak perempuannya itu. Anak yang seharusnya terlahir normal, sehat, dan cantik. Namun, semuanya menjadi hancur karena keegoisan seorang wanita yang seharusnya dipanggil Lili dengan sebutan “ibu”.
************
Lili Anggraeni, adalah anak yang lahir dari hubungan terlarang antara Kemala dengan Anton. Saat mengetahui bahwa dirinya tengah mengandung anak Anton, Kemala begitu panik dan langsung melakukan segala cara untuk menggugurkan kandungannya. Dia mengandung Lili di saat usianya menginjak angka 45 tahun dan berselisih jarak yang cukup jauh dari anak terakhir yang dia lahirkan hasil dari perkawinannya dengan Dedi.
Telah berbagai cara dia lakukan agar janin yang berada di dalam rahimnya saat itu bisa segera keluar. Namun, janin itu terlalu kuat dan terus bertahan dalam rahim sang ibu. Di saat Kemala mulai menghadapi keputusasaan akan kehamilan yang tak ia inginkan, dia pun memutuskan untuk menemui Anton dan memberitahukan kehamilannya itu pada Anton, dengan harapan agar Anton membantunya dalam misi melenyapkan janin yang tak berdosa itu.
__ADS_1
Tapi ternyata sikap Anton jauh dari apa yang dia harapkan. Anton ternyata sangat antusias dengan kehamilan itu dan berusaha membujuk Kemala agar mau mempertahankan janin yang di kandungnya. Awalnya Kemala menolak dengan keras dengan usul Anton tersebut karena Kemala takut jika Dedi mengetahui hal ini, maka dia akan segera di ceraikan oleh Dedi. Kemala tidak mau di tinggalkan oleh Dedi begitu saja.
Namun, berkat ancaman dari Anton yang mengancam akan memberitahu semua perbuatan Kemala selama ini kepada Dedi, termasuk perselingkuhan Kemala dengan Anton, maka mau tak mau Kemala pun menuruti apa yang Anton inginkan.
“Tapi, bagaimana caranya aku menutupi kehamilan ini dari suamiku? Perut ini pasti akan membesar seiring berjalannya waktu,” tanya Kemala pada saat itu.
“Kau tenang saja, segalanya biar ku urus. Kau hanya perlu fokus akan kehamilanmu saat ini. Ingat, itu adalah anakku, aku tak ingin terjadi apa-apa dengannya saat dia di lahirkan nanti,” ancam Anton.
Entah apa yang telah Anton bicarakan kepada Dedi sehingga Kemala berhasil keluar dari rumahnya dalam waktu yang cukup lama, sampai akhirnya dia melahirkan Lili. Selama Kemala berada dalam persembunyiannya dengan Anton, tak ada satupun anggota keluarganya yang berusaha menghubungi atau mencarinya. Mereka seolah-olah tidak perduli dengan kepergian Kemala saat itu, mungkin memang dikarenakan tidak adanya rasa cinta yang ada di hati Dedi untuk Kemala, juga karena Kemala yang tidak bisa mendekatkan dirinya dan memposisikan dirinya sebagai seorang ibu yang penuh kasih kepada anak-anaknya, sehingga mereka semua masa bodo akan segala tindak-tanduk Kemala.
Sarah POV
“Berhenti di depan situ aja pak,” kataku kepada Pak Sadikin, pengemudi ojek online yang sedang mengantarku ke apartemen Andre.
“Iya, pak.” Motor pun berhenti di depan tulisan nama apartemen tempat Andre tinggal. Aku segera turun dan melepas helm berwarna hijau muda tersebut.
“Tadi udah pakai saldo aplikasi ya pak buat bayar ongkosnya, ini buat tips bapak,” aku menyerahkan selembar uang kertas berwarna biru kepada Pak Sadikin.
“Loh, Neng. Ini banyak banget tipsnya. Ongkos anterinnya aja gak sebesar ini, Neng.” Pak Sadikin terlihat sangat terkejut dengan pemberianku ini, menurut beliau, nominal tersebut terlampau besar baginya.
“Gak apa-apa, Pak. Ini udah rezekinya bapak. Buat jajan anak istri di rumah.”
“Alhamdulillah, terima kasih banyak, Neng.”
“Sama-sama, Pak.” Aku pun berlalu meninggalkan Pak Sadikin di depan gedung apartemen dan langsung menuju ke dalam ruang tunggunya.
__ADS_1
“Siang, Pak Sam,” sapaku kepada satpam di sana yang bernama “Samsul” tapi inginnya dipanggil dengan sebutan “Sam”.
“Loh, masih siang toh, Mbak Sarah? Tak kira udah subuh,” jawabnya sambil bersikap dramatis menaruh tangannya di kening dan menatap ke arah langit. Aku tertawa terbahak-bahak melihat kelakuannya yang memang selalu mengajakku bercanda jika bertemu denganku saat aku berkunjung ke apartemen Andre.
“Ke lobby dulu ya, Pak.”
“Monggo, silahkan Mbak Sarah”
Aku telah duduk di sofa panjang yang ada di ruang tunggu, ku ambil handphone dan ku kirim pesan ke Andre untuk segera menjemputku di lantai bawah dikarenakan aku tidak mempunyai kartu akses untuk ke lantai atas tempat unit Andre berada. “Pasti dia kaget kalau tau aku udah ada di bawah sini, hahaha,” kataku kepada diriku sendiri.
Pesan sudah terkirim, dan terlihat tanda “centang” dua buah yang artinya pesanku telah terkirim, hanya tinggal menunggu tanda tersebut berubah warna menjadi warna biru saja untuk mengetahui bahwa Andre sudah membaca pesanku itu.
“Malam, Pak Sam,” terdengar suara laki-laki dari arah belakang punggungku, tepatnya dari arah pintu masuk ke dalam apartemen. Suara itu terdengar sangat familiar di telingaku.
“Malam, Mas Andre. Dari mana, Mas? Widih sama siapa nih, Mas?”
“Beli cemilan aja nih, Pak. Biasalah, temen saya tadi ketemu di jalan.”
Aku segera membalikkan arah tubuhku begitu mengetahui bahwa itu adalah suara Andre, dan dibuat terkejut ketika melihat dia sedang bersama dengan seorang wanita yang tidak aku kenal sama sekali. Terlihat mereka berdua akan masuk menuju unit apartemen milik Andre.
Aku pun berdiri dan ingin menghampirinya, namun kakiku tidak bisa ku gerakkan seolah-olah ada yang menahanku untuk tidak mendekat ke arah mereka. Aku hanya bisa melihat mereka bertiga saling mengobrol dan sesekali tertawa dengan bahan obrolan mereka.
Andre tidak menyadari keberadaanku yang memang berada di belakang mereka dengan jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh. Hingga akhirnya, Pak Samsul, satpam penjaga gedung apartemen ini menyadari kembali ada diriku yang tengah berdiri menatap mereka bertiga. Ku lihat tiba-tiba dia berhenti tertawa sambil memberikan kode lewat mata kepada Andre.
Awalnya Andre terlihat sangat bingung dengan maksud dari Pak Samsul, sampai akhirnya dia menyadari bahwa ada sesuatu di belakangnya, dia pun membalikkan badannya dan melihat diriku yang sedang terpaku menatapnya tanpa bisa melakukan apa-apa.
__ADS_1