Kenangan Rindu

Kenangan Rindu
Lift Kantor #2


__ADS_3

Author POV.


Sarah merasa sangat ketakutan saat ini karena hantu wanita tersebut sedang berada tepat di belakang sarah. Suasana di dalam lift berubah menjadi mencekam, di tambah hanya ada Sarah dan Joseph saja yang berada di dalam lift beserta si hantu wanita.


"Sarah darling, kok ini lift turun nya lama banget ya? Biasanya cepet dari lantai kita ke lantai bawah." Tanya Joseph kepada Sarah. Terlihat dari ekspresi wajah nya bahwa dia juga sedang ketakutan seperti Sarah.


Tidak terdengar jawaban dari mulut Sarah sehingga Joseph pun menghadapkan tubuhnya ke hadapan Sarah yang berada di sisi sebelah kanannya.


"Loh Sarah, yey kenapa? Masih ga enak badan?" Tanya Joseph kembali. Dia heran melihat tampilan wajah Sarah yang menjadi sedikit pucat dengan kejing yang mengeluarkan banyak keringat.


"A-aku gak apa-apa kok." Jawab Sarah dengan terbata-bata.


Hantu itu masih berada di belakang badan Sarah, dengan wajah yang sedikit menunduk dan rambut panjangnya yang awut-awutan, hantu tersebut tersenyum menyeringai seolah-olah mengejek Sarah yang sangat ketakutan melihat dirinya.


"Yakin gak apa-apa? Tapi kok itu muka pucet banget? Jidat juga keringetan." Kata Joseph sambil menyeka keringat di kening Sarah.


Tringg.


Akhirnya pintu lift terbuka setelah sampai di lantai dasar. Sarah dengan terburu-buru segera keluar dari dalam lift meninggalkan Joseph yang masih sempat-sempatnya bercermin untuk merapikan penampilan nya.


"Eh darling tunggu J'lo, ih larinya cepet banget sih udah kayak di kejer setan." Dengan bersungut-sungut Joseph mengikuti langkah Sarah dengan berlari kecil sambil menggendong tas punggungnya.


********


Sarah POV.


Aku sangat ketakutan melihat hantu itu yang ternyata sudah berdiri tepat di belakangku. Dengan senyumnya yang menyeramkan, perlahan dia mendekat kan kepalanya ke arah belakang telingaku dan berkata, "mati."


Aku sangat terkejut mendengarnya. Lututku terasa lemas. Keringat di kening semakin banyak yang berjatuhan persis seperti orang yang habis melakukan olah raga berat.


Untungnya tidak lama dari itu pintu lift terbuka lebar dan kami sudah sampai di lantai dasar kantor. Dengan tergesa-gesa aku segera keluar dari lift dan tidak memperdulikan Joseph yang sedang berkaca memperbaiki penampilannya di cermin dalam lift.


Suasana di luar lift terasa kembali normal seperti biasa. Atmosfer mencekam yang ku rasakan saat di dalam lift tadi menjadi hilang tak berbekas, hanya sisa-sisa ketakutan ku saja yang masih tampak terlihat.


"Loh Bu Sarah kenapa? Kok ngos-ngosan?" Tanya Maya, salah satu anak magang di kantorku yang kebetulan berdiri dekat dengan diriku.


"Gak apa-apa kok." Jawabku sambil tersenyum dan berusaha untuk menampilkan wajah "aku baik-baik saja".

__ADS_1


"Eh darling tunggu J'lo, ih larinya cepet banget sih udah kayak di kejer setan." Terdenger suara Joseph di belakang seperti sedang mengejar diriku.


Aku dan Maya menengok ke arah Joseph yang berlari kecil menuju arahku.


"Kamu kenapa sih darl kok di lift tadi aneh gitu mukanya?" Tanya Joseph kepadaku.


"Aku gak apa-apa kok, mungkin karena mau dateng bulan kali ya jadinya begini." Jawabku memberi alasan yang di rasa lebih masuk akal.


"Oke deh kalau begitu, yuk cuss kita samperin Pak Supri." 


"Hayuk."


Aku dan Joseph berjalan ke arah taman belakang kantor yang juga berfungsi sebagai tempat berkumpulnya para sopir dan satpam kantor saat jam istirahat mereka. 


Sesampainya di taman, Joseph langsung mencari Pak Supri si sopir kantor, sementara aku duduk di bangku taman sambil mengirim pesan WhatsApp ke nomor Andre untuk memberitahukan bahwa aku akan berangkat ke stasiun dan pergi ke Bandung untuk pergi tugas.


"Tante."


Aku terkejut karena tiba-tiba ada yang berbicara persis di kupingku. Aku langsung menegakkan kepalaku dan melihat ke arah belakangku untuk mencari tahu siapa yang memanggilku.


"Aku di sini tante, di belakang kamu."


Lagi-lagi aku terkejut, aku langsung berdiri dan lebih memperhatikan keadaan dan akhirnya menemukan seseorang yang sedari tadi memanggil diriku sedang berdiri di bawah pohon kamboja dalam taman dan melihatku dengan wajahnya yang dingin tanpa ekspresi.


"Aldi."


************


Flashback.


"Assalamualaikum. Asih, Asih." Terdengar suara seorang wanita yang memanggil nama Asih dari arah halaman rumahnya yang asri itu.


"Walaikumsallam, iya sebentar." Jawab Asih yang segera membuka pintu rumahnya dan melihat Imas, tetangga rumahnya sedang berdiri menunggu dirinya.


"Loh Imas, kenapa?" Tanya Asih


"Emmm, anu. Aku boleh ngomong sesuatu ga sama kamu?" Jawab Imas sambil meremas tangannya sendiri tanda bahwa dirinya sedang merasakan gelisah.

__ADS_1


"Boleh, ngomong aja. Silahkan duduk dulu."


"Terima kasih. Emm, begini Asih. Aku mau nanya ke kamu, boleh ga aku minjem uang sama kamu?" Tanya Imas sambil menundukkan kepalanya.


Imas memang berasal dari keluarga tidak mampu. Jika dibandingkan dengan Asih, memang jauh lebib berada keluarga Asih. Ayahnya Asih bekerja sebagai seorang kepala sekolah di sekolah dasar daerah tersebut. Meskipun penghasilan nya tidak begitu besar, namun masih cukup untuk mencukupi kebutuhan keluarga nya, dan karena profesi ayahnya tersebut menjadikan keluarga nya di anggap sebagai salah satu keluarga terpandang yang ada di desa.


Sementara orang tua Imas hanya bekerja sebagai buruh harian lepas di sawah yang hanya bekerja jika ada seseorang yang membutuhkan tenaga mereka untuk menggarap sawahnya.


"Kalau boleh tau, kamu mau minjem buat apa?" Tanya Asih kembali.


"Mau buat berobat ibuku sama buat ongkos aku pergi ke kota, Sih. Aku mau coba cari pekerjaan di sana." Jawab Imas dengan suara yang sedikit bergetar karena menahan tangisan.


Asih diam tidak langsung memberikan jawaban. Bukannya dia tidak mau memberi bantuan, hanya saja dia terlarut dengan suasana sedih saat mendengar cerita Imas barusan.


"Asih."


"Ah, iya. Boleh kok Imas, kamu butuh berapa?"


Imas pun menyebut kan nominal yang dia butuhkan untuk mencukupi keperluan nya tersebut. Tidak lama kemudian, Asih pun masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil uang simpanan nya yang akan di pinjamkan ke Imas.


"Ini uangnya. Gantinya nanti aja kalau kamu udah dapat kerja. Ngomong-ngomong kapan emang kamu mau berangkat ke kota?"


"Lusa, Sih. Setelah aku anterin Ibu berobat dulu."


"Oh yaudah, semoga kamu cepet dapat kerja ya di sana. Semoga ibu juga cepat sembuh."


"Amin, terima kasih Asih. Kamu memang temanku sekaligus tetangga yang paling baik." Kata Imas terharu sambil memegang tangan Asih.


"Sama-sama, sebagai tetangga dan sebagai teman kita memang harus saling tolong menolong."


"Yasudah, kalau begitu aku pamit pulang ya Asih. Terima kasih. Assalamualaikum."


"Walaikumsallam." Setelah membalas salam, Asih lalu masuk ke dalam rumah nya dan menutup pintu.


Hahaha, dasar. Masih saja kamu gampang di bodohi. Asih Asih.


Kata Imas dari dalam hatinya sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


__ADS_2