
Kediaman Kakek dan Nenek…
"Kamu ngapain dateng ke sini? Ayo pergi sekarang, nanti takut suamiku lihat." Usir Nenek Kemala dengan sedikit kasar kepada tamunya.
"Kamu gak kangen denganku, Kemala?" Tanya laki-laki tersebut sambil tersenyum smirk.
Penampilannya masih terlihat gagah di usia nya yang sebaya dengan Kakek Dedi meskipun mukanya tidak lebih tampan dari kakek, tapi tetap saja masih bisa dikategorikan sebagai lelaki yang mempunyai wajah cukup tampan.
"Kangen kamu? Jangan mimpi kamu!" Jawab Nenek Kemala dengan sinis.
"Hahahaha, kamu masih belum berubah juga ternyata Kemala. Ingat, aku masih memegang semua rahasia kelam mu selama ini." Ancaman dari laki-laki itu tentu saja membuat Nenek Kemala menjadi kelabakan. Dia tidak ingin rahasia yang selama ini disimpannya rapat-rapat menjadi terbongkar karena pria yang ada di hadapannya saat ini.
"Jangan kurang ajar kamu ya! Kamu pikir saya takut sama ancaman kamu! Sekarang pergi kamu dari rumah saya dan jangan pernah menginjakkan sedikitpun kaki kamu di halaman rumah ini!"
Masih dengan senyuman smirk nya, laki-laki itu pergi dari hadapan Nenek Kemala dan masuk ke dalam mobil tua nya yang masih terlihat sangat terawat.
Dia segera menyalakan mesin mobilnya. Namun, sebelum dia menginjak pedal gas dia sempat menurunkan kaca mobilnya dan berkata, "akan ku pastikan kalau kau segera mendapatkan pembalasan yang setimpal untuk semua kelakuanmu selama ini."
Brruuummm…
Suara deru mesin mobil tua itu mulai terdengar menjauhi rumah berbarengan dengan kedatangan Kakek Dedi yang baru pulang dari mengecek sawahnya. Melihat kedatangan suaminya, Nenek Kemala langsung bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengan dirinya.
"Baru pulang mas?" Tanya Nenek kemala berbasa-basi sambil mencium punggung tangan Kakek Dedi.
"Iya, ada sedikit masalah di sawah." Jawab kakek.
"Yaudah kamu istirahat dulu, aku buatin kopi ya."
"Iya."
Kakek Dedi masuk ke dalam rumah terlebih dahulu sementara Nenek Kemala masih bertahan beberapa saat di halaman rumah sambil memperhatikan keadaan sekitar, namun tanpa dia sadari bahwa sebenarnya sedari tadi saat Nenek Kemala kedatangan tamu laki-laki, ada sepasang mata yang mengintip dan mendengarkan semua pembicaraan Nenek Kemala dengan laki-laki tersebut secara sembunyi-sembunyi.
Ada informasi bagus untuk tuan. Tuan pasti senang mendengarnya..
******
Author POV.
Sementara itu di kantor tempat Sarah bekerja terlihat seorang laki-laki gemulai dan seorang pria tampan nan gagah yang sedang gelisah menunggu kemunculan sosok wanita cantik yang masih betah berada di dalam kamar mandi kantor.
"Duh, Sarah kemana sih bo? Kamar mandi nya udah pindah ke planet lain apa? Lambreta banget deh sumpah." Kata Joseph sambil menghentakkan kakinya ke lantai.
"Lo susulin sana, ini mau gue telpon tapi handphone nya ada di atas meja kerja dia. Gue takut dia kenapa-kenapa di kamar mandi, udah setengah jam soalnya dia disana." Kata Andre memberi perintah.
"Eh bapak manajer ganteng, yey lupa ya itu kamar mandi buat siapa? Buat cewek sementara eyke setengah mateng, ga enak tau kalau ada yang lihat J'lo cantik masuk ke dalam sana."
"Nah justru itu, karena lo setengah mateng jadi ga akan ada yang mikir macem-macem, lo ga mungkin suka sama cewek kan?"
__ADS_1
"Ya gak lah, eyke sukanya sama lekong macam yey yang macho begitu." Jawab Joseph sambil mengedipkan matanya dengan genit.
Andre memutar bola matanya dengan malas mendengar jawaban genit dari Joseph. Tidak lama kemudian, terlihat Sarah yang masuk ke dalam ruangannya dengan kondisi muka yang sedikit pucat.
"Yang, kamu gak apa-apa?" Tanya Andre khawatir melihat rona wajah Sarah yang terlihat pucat.
Sarah tidak menjawab tapi langsung duduk di kursi kerjanya sambil memijat pelipisnya pelan-pelan.
"Darling, dirimu kenapa?" Tanya Joseph yang ikut khawatir melihat keadaan Sarah yang tiba-tiba berubah seperti orang sakit.
"Hfft." Sarah menghembuskan nafasnya dan mencoba untuk sedikit lebih tenang.
"Aku gak apa-apa kok." Jawab Sarah sambil tersenyum untuk menenangkan dua orang laki-laki di hadapannya.
"Bener gak apa-apa? Kalau gak enak badan kamu batalin aja pergi tugas ke luar kota nya, nanti aku bilangin ke Rafli."
"Ga enak Ndre, ini kerjaan aku soalnya ga ada yang bisa gantiin."
"Sarah darling, kalau kamu ga kuat udah gak apa-apa batalin aja tugasnya, J'lo bisa berangkat sendiri kok. Kamu ijin aja sama Pak Rafli, pasti di bolehin secara dia kan pengagum rahasia kamu Sarah sayang." Kata Joseph dengan gayanya yang khas.
"Apa???" Tanya Andre terkejut.
"Gak apa-apa Ndre, jangan dengerin J'lo dia cuma bercanda, tau sendiri kan J'lo orangnya gimana."
"Hihhh, eyke bener tau pak menejer ganteng. Asal situ tau ya, penggemarnya Sarah di kantor ini tuh banyak banget. Salah satunya Pak Rafli, hihhh diem-diem dia perhatian banget loh sama si darling ini, bener deh. Makanya eyke bilang yey sama eyke aja biar ga pusing mikirin penggemar-penggemar eyke di luar sana, karena ga ada yang mau sama eyke hahahahahah."
"Ih J'lo apaan sih malah bikin Andre tambah salah paham." Kata Sarah sedikit kesal dengan ledekan Joseph.
"Iya gak ada Andre, udah sana balik ke ruangan kamu. Udah mulai jam kantornya, gak enak masa kamu masih di sini."
"Hahahahaha." Terdengar suara tawa dari Joseph yang berhasil mengerjai seorang Andre sehingga dia menjadi cemburu terhadap Sarah.
"Gak usah ketawa!" Ketus Sarah dan Andre kompak.
"Ehm, ada apa nih kayaknya seru banget?" Terdengar suara seseorang yang membuat mereka bertiga terkejut karena kedatangannya yang tiba-tiba.
"Eh Pak Rafli ganteng, pagi pak." Sapa Joseph dengan gayang yang lemah gemulai.
"Pagi Joseph." Balas Rafli yang justru membuat muka Joseph menjadi merengut karena atasannya itu memanggilnya dengan nama asli.
"Ih J'lo pak jangan Joseph, masa udah cantik-cantik begini di panggilnya Joseph sih, kayak laki-laki banget deh."
"Hah? Kamu kan emang laki-laki." Jawab Rafli bingung.
"Hahahaha." Sarah dan Andre tertawa bersamaan melihat interaksi Joseph dan Rafli.
"Hfft capek deh jelasin bapaknya." Sungut Joseph sambil mengeluarkan kaca kecil dari kantong celana nya dan mulai berkaca.
__ADS_1
Rafli hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal melihat kelakuan anak buahnya ini yang menurutnya sangat ajaib.
"Hmm, Pak Rafli ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya Sarah kepada atasannya itu.
"Ehm ga ada kok, saya cuma mau mengecek kamu sama Joseph, mau jalan jam berapa? Biar nanti supir kantor yang anterin kalian ke stasiun." Tanya Joseph ke Sarah sambil menatap wajah Sarah dengan ekspresi wajah yang sulit untuk di artikan.
"Sebentar lagi pak, mau rapihin berkas-berkas yang mau di bawa."
"Kereta jam berapa emangnya?" Tanya Rafli yang sedari tadi menampilkan mimik wajah kurang ramah melihat keberadaan Andre di divisinya.
"Jam setengah satu siang nanti pak. Tapi kami berangkat ke stasiun jam 10.00 biar ga terjebak macet." Jawab Sarah.
"Kamu yakin mau tetep berangkat tugas?" Tanya Andre sambil menatap mata Sarah dengan lembut.
"Loh kenapa emang dengan Sarah?"
"Ini pak, tadi Sarah mukanya agak pucet. Takutnya dia gak enak badan, nanti malah kenapa-kenapa di sana." Joseph menjelaskan keadaan Sarah kepada Rafli.
"Gak apa-apa pak, saya udah enakan kok."
"Bener gak apa-apa? Kalau gak enak badan tugasnya bisa di tunda dulu, besok berangkatnya gak apa-apa." Kata Rafli memberi perhatian ke Sarah.
Andre yang melihat itu menjadi cemburu kembali. Dia pun memegang tangan Sarah demi menunjukkan bahwa wanita itu adalah kekasihnya. Melihat kelakuan Andre yang seperti itu membuat Rafli mengernyitkan dahinya.
"Loh Pak Andre ada keperluan apa ya kok ada di lantai ruangan saya?" Tanya Rafli sambil menatap Andre tajam.
Terasa sekali aura persaingan yang ada dalam diri mereka berdua dan membuat beberapa karyawan yang berada di ruangan itu menjadi tegang seketika, termasuk Sarah.
"Saya ada perlu sama Doni, pak. Bahas masalah kerjaan, dan ada keperluan lain dengan Sarah yang tidak perlu Pak Rafli ketahui." Jawab Andre sambil balas menatap tajam Rafli.
"Baik, kalau begitu urusannya sudah selesaikan? Apa bapak tidak kembali ke ruangan bapak sementara jam kantor sudah di mulai dari lima belas menit yang lalu." Kata Rafli kembali sambil menyindir Andre.
Dengan menghela nafas, Andre tidak menjawab kembali perkataan Rafli karena memang kenyataannya jam kantor sudah dimulai dari tadi, sementara dia sebagai seorang manajer di divisinya malah keluyuran di divisi lain.
"Sayang, aku balik dulu ke ruangan aku ya. Inget jangan maksain pergi kalau kamu ga enak badan." Kata Andre sambil mengusap kepala Sarah.
"I-iya." Jawab Sarah canggung karena saat ini ada atasannya di hadapan mereka bertiga.
"Sarah, kamu bisa ke ruangan saya sebentar?" Tanya Rafli saat melihat Andre sudah keluar dari pintu ruangan divisinya.
"Bisa pak."
"Baik, saya tunggu sekarang ya."
Rafli berlalu dari hadapan Sarah dan Joseph, dan menuju ruangan kerjanya.
"Darling, sumpah eyke pikir bakal ada perang dunia ke tiga di sini. Hfttt panas suasanya." Kata Joseph sambil mengipas-ngipas wajanya dengan tangan.
__ADS_1
"Aku ke ruangan Pak Rafli dulu ya." Kata Sarah.
"Iya, hati-hati ya darl, nanti di terkam sama Pak Rafli. Rrrraurrrr." Jawab Joseph sambil mengangkat kedua tangannya dan mengeluarkan suara auman macan.