
Aku sedikit terkejut saat menyentuhnya dan bertanya apakah beliau sedang sakit? Tapi tidak ada tanggapan sama sekali dari mama. Malah mama langsung meninggalkanku begitu saja dan berjalan cepat menuju kamarnya lalu menutup pintu dengan sedikit membanting.
Aku terkejut karena tidak biasanya mama bersikap seperti itu, selama ini mama terkenal sebagai wanita yang lemah lembut hatinya. Aku memutuskan untuk mendiaminya terlebih dahulu karena kupikir mama sedang ada masalah dan belum mau masalahnya itu di ketahui oleh anaknya, maka saat itu aku langsung menuju kamarku dan mengistirahatkan tubuhku sampai akhirnya aku tertidur lumayan lama dan terbangun menjelang magrib seperti saat ini.
“Pa? Papa?”, teriakku memanggil papa. Rasa takut sudah mulai menyerangku saat ini.
“Mas Evan? Mas Ivan?”, kali ini gantian aku meneriakkan dua nama kakak kembarku itu.
Tetap tidak terdengar satupun sautan atau jawaban dari anggota keluargaku di rumah ini. Dengan perasaan yang sangat berkecamuk, aku berhasil menyalakan semua lampu dan menutup tirai jendela yang berada di lantai bawah rumah ini, dan setelah itu aku menuju ke arah televisi untuk menyalakannya lalu menontonnya, setidaknya mengurangi sedikit rasa takut yang sedang aku rasakan.
Televisi pun sudah menyala dan kupilih tayangan sinetron komedi agar suasana rumah terasa sedikit ramai karena suara tertawa orang-orang yang ada di layar televisi. Tiba-tiba aku teringat jika handphoneku masih tertinggal di dalam kamarku.
Duh, hp ketinggalan di kamar lagi. Males banget harus naik ke atas. Aku dilema, tapi akhirnya tetap memutuskan kembali ke kamarku yang berada di lantai atas untuk mengambil handphone sekaligus tas ku karena setelah kupikir-pikir kembali lebih baik aku segera keluar rumah untuk menenangkan diri sekaigus mencari tahu keberadaan semua anggota keluargaku saat ini.
Dengan jantung yang berdegup kencang dan sambil melihat-lihat situasi sekitar, aku berjalan menuju tangga dan akhirnya sampai di dalam kamarku yang letaknya memang tidak terlalu jauh dari tangga. Dengan secepat kilat, aku ambil handphone yang berada di atas kasur dan juga tas tanganku tanpa mengganti bajuku apalagi mencuci mukaku.
Aku kembali ke lantai bawah dan langsung mematikan televisi, kemudian bergegas menuju keluar rumah tepatnya ke teras rumah terlebih dahulu. Sedikit lega hatiku ketika sudah berada di depan teras, walaupun Adzan Mahgrib sudah mulai berkumandang dan seharusnya aku berada di dalam rumah, namun untuk saat ini aku memutuskan mengabaikan larangan itu.
Aku membuka aplikasi kendaraan online dan bermaksud untuk memesan ojek online agar bisa mengantarkanku ke tempat yang akan aku tuju dan tak butuh waktu lama pesanan ojek onlineku di terima, tertulis nama “Sadikin” sebagai identitas supir ojek online yang akan mengantarku.
Sambil menunggu kedatangan ojek online tersebut, aku memainkan handphoneku sambil membalas pesan dari beberapa temanku. Sesekali aku menengok ke arah dalam rumah lewat celah kaca jendela yang sudah terhalang oleh hordeng, dan saat mengintip lewat celah itu pula aku masih merasakan bahwa ada seseorang yang berjalan mondar-mandir di dalam rumahku ini. Aku semakin bergidik melihat fenomena tersebut.
Drrrttt.. drrttt.. drrtt
__ADS_1
Ah, handphoneku berbunyi dan saat kulihat identitas pemanggilnya, ternyata itu dari papaku.
“Hallo. Assalammu’alaikum, pa. Papa dimana?” Tanyaku tanpa berbasa-basi.
“Walaikumsallam anak papa yang cantik. Papa, mama, sama mas-mas mu di rumah kakek sekarang. Kamu dimana?”
“Ih papa, kok gak ngabarin Sarah? Papa sampai kapan di sana?” Tanyaku dengan nada yang sedikit manja.
“Besok udah pulang kok, ini cuma mau liat keadaan nenek aja. Kenapa? Kangen ya?” Tanya papaku dengan meledek.
“Huu pede, hahaha. Yaudah pa, Sarah ijin hari ini nginep di rumah temen ya.”
“Loh, kenapa gak tidur di rumah aja? Kan kamu baru pulang dari tugas, emang gak cape?”
“Gak, pa. Iseng sendirian di rumah, mendingan ngumpul sama temen.”
“Walaikumsallam.”
Saat mengakhiri panggilan telepon dengan papa, berbarengan pula dengan kedantangan ojek online yang sudah ku pesan tadi.
“Assalammu’alaikum. Permisi, neng. Dengan Neng Sarah?” Tanya bapak ojek online tersebut dari arah luar pagar rumah.
“Walaikumsallam. Iya pak saya Sarah. Pak Sadikin?” Jawabku sambil menghampirinya.
__ADS_1
“Iya, Neng. Saya Sadikin. Maaf neng kalau bapak lama jemputnya, tadi berhenti dulu di masjid buat Magrib-an sebentar.”
“Iya pak gak apa-apa. Yuk, pak. Berangkat sekarang.” Aku mengunci gembok pagar terlebih dahulu lalu berdiri di samping motor Pak Sadikin untuk memakai helm ojek online nya.
Sambil mengenakan helm, ku lihat arah pandangan mata Pak Sadikin terus menatap ke arah teras rumahku. “Pak, ayo kita berangkat,” kataku menyadarkan lamunan Pak Sadikin. “Ah iya, Neng.”
Kami pun berangkat ke alamat yang ku tuju, yang tidak lain adalah apartemennya Andre. Jangan salah sangka, ini hanyalah tujuanku yang pertama sebelum nantinya aku akan menginap di salah satu rumah sahabatku. Sengaja aku tidak mengabari Andre terlebih dahulu karena bermaksud ingin memberikan kejutan untuknya sekaligus ingin meminta tolong di antarkan ke rumah sahabatku itu.
Sepanjang perjalanan menuju tempat Andre, aku dan Pak Sadikin berbicara banyak hal untuk mengisi waktu perjalanan yang lumayan lama karena efek dari kemacetan lalu lintas. Hingga tiba-tiba, Pak Sadikin mengeluarkan pernyataan yang membuatku sedikit terkejut.
“Neng, jangan banyak bengong dan jangan terlalu sering sendirian di suatu tempat ya,” kata Pak Sadikin.
“Maksudnya bagaimana, pak?” Jawabku.
“Iya, ini bapak jujur aja ya ke Si Neng. Tadi bapak lihat di teras rumah Neng ada perempuan rambutnya acak-acakan, bajunya ada darahnya, mukanya pucet banget, lagi melotot liat ke arah kita berdua pas tadi kita berdiri di depan pager.”
“Astagfirulloh, beneran pak?”
“Iya beneran Neng, bapak gak bohong. Terserah Neng aja mau percaya sama bapak atau gak, Cuma kalau boleh bapak saranin, yang seperti tadi bapak bilang, jangan bengong dan jangan suka sendirian, sama perbanyak ibadah dan doa, Insya Allah semua aman, Neng.”
“Iya pak, terima kasih sarannya. Duh, saya jadi merinding deh dengernya,” kataku memberi tanggapan. Aku sengaja tidak menceritakan kejadian di rumah tadi dengan Pak Sadikin, karena menurutku itu bukan hal yang penting untuk diceritakan ke orang lain. Tapi mendengar ucapan Pak Sadikin barusan, cukup membuatku mengambil suatu kesimpulan bahwa kejadianku tadi saat di dalam rumah sendiri memang benar adanya.
“Gak usah takut, Neng. Derajat makhluk seperti itu ada di bawah manusia. Kita cuma harus selalu menjaga diri kita dari hasutan mereka agar tidak terjebak dalam perbuatan yang tidak baik.”
__ADS_1
“Baik, Pak. Terima kasih nasihatnya.”
“Sama-sama, Neng.”