Kenangan Rindu

Kenangan Rindu
Gangguan untuk Hanif


__ADS_3

Author POV.


Hanif terburu-buru berjalan menuju mobilnya dan langsung berangkat menuju rumah kakek di desa setelah mendapatkan kabar bahwa Nenek Kemala terkena serangan jantung. Keluarga Sarah rencananya akan pergi menyusul ke sana setelah papanya pulang dari kantor.


"Hallo Assalamualaikum dek, kamu udah jalan tugas?" Hanif menelepon Sarah dalam kondisi sedang menyetir mobil. Terlihat sedikit kepanikan dalam raut wajah Hanif karena mendengar kabar yang baru saja dia terima.


"......"


"Nenek masuk rumah sakit kena serangan jantung, barusan mas di telepon kakek."


"......."


"Mas belum tau tapi ini udah di jalan pulang. Masih setengah perjalanan lagi. Nanti mama papamu nyusul setelah papa pulang kerja."


"......"


"Iya, kamu hati-hati ya dek. Nanti kalau udah sampai rumah sakit, mas telepon kamu lagi. Assalamualaikum."


"...."


Hanif mematikan telepon dan menaruh handphone nya di kursi sebelah. Dia kembali fokus menyetir mobil, namun tiba-tiba saja ada  seekor bangkai kucing hitam yang sudah tergeletak di tengah jalan, dalam sekejap dia berusaha menghindari bangkai hewan tersebut dengan cara sedikit mengarahkan setir mobilnya ke arah kanan mobil yang mana arah tersebut merupakan lawan arah dari posisinya saat ini.


Tanpa dia sadari ternyata di arah sebaliknya terdapat sebuah mobil minibus yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Seketika dia mengarahkan kembali setir mobilnya ke jalur yang semestinya agar terhindar dari kecelakaan.


Tabrakan memang bisa dihindarkan, namun dia harus merelakan kaca spion mobilnya yang patah dan hilang akibat terserempet mobil minibus itu.


Hanif sedikit terkejut dan kemudian dia menepikan mobilnya ke pinggir jalan besar untuk menenangkan dirinya sebentar. Saat sudah berhenti, dia membuka tutup botol minumnya dan meneguknya dengan beberapa tegukan agar tenggorokannya menjadi lebih lega.


Hanif memperhatikan keadaan sekitar dari dalam mobil. Saat ini sudah masuk waktu sore hari lebih tepatnya jam empat sore, namun keadaan di sekitarnya terasa sangat sepi. Tidak ada satupun kendaraan yang melintas, padahal sebelum adanya kejadian tadi jalanan dalam keadaan yang lumayan ramai karena ini merupakan jalan besar lintas daerah.


Hanif menjadi sedikit waspada dan tambah memperhatikan keadaan sekitar. Akhirnya dia pun paham sedang berada di mana dia saat ini. Setelah dia amati, ternyata dirinya berhenti di pinggir jalan menuju suatu hutan lebat yang tidak diketahui nama dari hutan tersebut. Dirinya merasa asing akan keberadaan hutan ini karena merasa tidak pernah dia lewati sebelumnya.


Hanif bingung, tadi dia berada di pinggir jalan yang arus lalu lintasnya lumayan ramai, tapi sekarang mengapa tiba-tiba saja dia berada di tepi hutan aneh seperti ini? Merasa ada hawa yang mencekam, buru-buru dia mengambil handphonenya kembali dan kali ini dia mencoba untuk menghubungi Bagas.

__ADS_1


Tuuttt..tuuttt..tuuttt.


Terdengar nada sambung dari handphone Hanif. Namun, hingga nada sambungan berakhir Bagas belum juga mengangkat telepon darinya.


Hanif mencoba untuk menghubungi Bagas kembali, tapi sampai dua kali percobaan tetap saja Bagas tidak mengangkat teleponnya. Hanif menjadi semakin gelisah dengan keadaannya saat ini. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja dia terjebak di daerah yang sama sekali tidak dia ketahui sebelumnya. Di tambah lagi, Suasana di luar mobilnya yang sangat sepi tidak ada satupun manusia atau kendaraan yang melintas.


Hanif mencoba lagi untuk menghubungi Bagas, dan akhirnya kali ini Bagas mengangkat sambungan telepon darinya.


"Hallo, Gas, gila susah banget lo di telepon, bantuin gue Gas!" Kata Hanif dengan nafas yang memburu.


"Sorry, tadi gue lagi keluar rumah sebentar, handphone lupa gue bawa. Lo kenapa?"


"Gue kejebak, tapi gak tau ini di daerah mana. Yang jelas sekarang gue ada di pinggir hutan." Hanif pun menjelaskan awal mula kejadian mulai dari bangkai kucing hitam di tengah jalan, mobilnya yang hampir kecelakaan sampai mengorbankan kaca spionnya, sampai dirinya yang tiba-tiba saja berada di pinggir jalan menuju hutan lebat yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya.


Hanif juga menjelaskan tentang keadaan Nenek Kemala yang tiba-tiba terkena serangan jantung sehingga membuat Hanif memutuskan untuk langsung pulang secepatnya setelah di beri kabar oleh kakek.


"Wah gawat, Nif, kayaknya ada sesuatu yang mau halangin jalan lo sama Sarah yang mau ngebongkar masalah teror di rumah kakek lo selama ini."


"Siapa? Terus sekarang gue harus gimana?"


"Jadi, tadi gue telepon dia lagi di jalan."


"Tolong lo pantau dia terus, gue ngeri Sarah juga di incar sama setan itu."


"Oke gue ngerti. Tapi ini sekarang gue harus gimana, Gas? Mana keadaan sekitar sepi banget lagi."


"Lo udah sholat belum?"


"Astaghfirullah belum, Gas, tiba-tiba sekarang berkabut, gimana ini?"


"Yaudah gini aja, baca Ayat Kursi tiga kali habis itu lo dzikir sebanyak mungkin, tenangin hati lo jangan panik. Percaya kalau pasti nanti ada yang dateng buat bantuin lo. Gue di sini juga ikut bantuin lo lewat doa."


"Iya, Gas, bantuin gue dari sana ya. Loh, a-ada cewek Gas di balik pohon depan mobil gue. Astaghfirullah Ya Allah tolongin hambamu ini Ya Allah."

__ADS_1


"Nif, lo tenang dulu ga usah panik. Udah lo fokus berdoa dulu sekarang. Gue matiin telepon nya ya. Ga usah lo liat keadaan sekitar. Lo berdoa sambil merem aja dan khusyuk."


Telepon pun sudah berakhir. Dengan perasaan yang luar biasa takut, Hanif langsung mengikuti saran dari Bagas untuk memanjatkan doa di dalam hatinya dan berharap semoga ada seseorang yang lewat untuk menyelamatkan dia.


Namun tidak bisa dia abaikan keberadaan sesosok wanita yang berada di balik pohon di depan sana. Dengan tampilan rambut panjang acak-acakan, kulit yang sangat pucat, mata melotot dan bola mata putih yang berubah menjadi semerah darah, serta kulit wajah yang sedikit mengelupas dan mengeluarkan darah. Hal itu tentu saja membuat mental Hanif menjadi ciut seketika.


"Audzubillahiminasyaitonirojim bismillahirrahmanirrahim." Hanif pun mulai membaca doa di dalam hatinya dengan khusyuk sambil memejamkan mata.


Setelah beberapa lama dia berdoa, tiba-tiba saja kaca mobil bagiannya di ketuk dari luar dengan irama yang kencang.


Dugdugdugdug.


Seketika Hanif membuka matanya dan langsung menghadap ke arah kaca itu.


"Astaghfirullah hal adzim." Di lihatnya ada seorang kakek-kakek yang sedang mengintip dirinya dari arah luar kaca.


Kakek itu memberi isyarat agar Hanif menurunkan kaca jendela mobilnya. Namun, Hanif ragu untuk mengikuti perintah dari kakek tersebut. Dia tidak mau mengambil resiko mengikuti perintah orang asing yang bisa saja malah akan mencelakakan dirinya.


Di saat kegundahan menyelimuti hatinya, tiba-tiba suara handphone berdering tanda ada panggilan masuk. Dia segera mengambil handphonenya dan melihat siapa yang saat ini meneleponnya. Ternyata panggilan itu berasal dari Bagas.


Hanif pun langsung mengangkat panggilan telepon itu sambil terus menatap ke arah kakek tersebut.


"Hallo, Gas."


"Nif, lo ikutin aja yang kakek-kakek itu perintah. Dia yang akan bantuin lo buat keluar dari daerah itu."


"Hah? Kok lo bisa tau kalau sekarang ada kakek-kakek di samping mobil gue?"


"Susah dijelasinnya, sekarang lo nurut dulu apa kata gue, lo ikutin perintah kakek itu sekarang."


"Tapi gue kan ga kenal kakek-kakek ini Gas. Kalau ternyata orang jahat gimana?"


"Udah lo percaya sama gue. Kakek itu yang akan nolongin lo keluar dari situasi di sana."

__ADS_1


Tak lama Bagas pun mematikan telepon nya secara sepihak. Hanif terdiam sesaat, namun akhirnya dengan sedikit rasa takut dia melihat kembali kakek itu sambil mulai menurunkan kaca mobilnya.


"Saya izin menumpang mobil kamu ya nak."


__ADS_2