Kenangan Rindu

Kenangan Rindu
Joseph si Tampan


__ADS_3

Sarah POV


Drrtt...drrtt..drrtt.


Ku rasakan getaran dari handphone yang berada di dalam tas tanganku. Aku segera mengambil handphone ku dan ku lihat nama Mas Hanif yang tertera di layar handphone ku.


"..........."


"Walaikumsallam, udah mas ini lagi di dalam mobil. Kenapa gitu?"


"......"


"Innalilahi, terus sekarang kondisinya gimana, mas?"


"....."


"Oh oke mas, kabarin Sarah langsung ya kalau ada apa-apa."


"....."


"Walaikumsallam."


Tiba-tiba aku menjadi ragu untuk melanjutkan perjalanan ke kota tempat aku bertugas. Ingin rasanya aku putar arah menuju desa tempat tinggal kakek dan nenek. Walaupun aku dan Nenek Kemala mempunyai hubungan yang tidak terlalu dekat, tapi bagaimana pun juga beliau adalah nenek kandungku, jadi aku pun turut cemas dengan keadaannya saat ini.


Tidak lama kemudian aku dan Joseph sampai di Stasiun Gambir dan langsung menuju ke bagian tiket untuk mencetak tiket kereta kami. Setelah itu kami langsung menuju ke petugas pemeriksaan untuk mencocokkan kode tiket kereta kami di alat yang ada di pintu masuk menuju ruang tunggu penumpang kereta.


Sesampainya di dalam ruang tunggu, Joseph segera mencari toilet terdekat sementara aku berinisiatif untuk mencari tempat duduk untuk kami berdua. Kereta menuju Bandung masih akan datang setengah jam lagi. Beruntung nya kami tidak sampai telat sampai di stasiun, karena bagaimanapun juga lebih baik menunggu setengah jam dari pada terlambat untuk naik kereta, rugi waktu dan juga rugi materi tentunya.


Akhirnya aku menemukan bangku panjang untuk tempat aku dan Joseph duduk, dan untungnya bangku itu dalam keadaan kosong. Aku menaruh koperku di depan kaki ku dan menaruh tas tangan di pangkuanku. Sambil menunggu Joseph aku pun membuma handphone.


Aku melihat akun media sosial ku, dan tertawa melihat beberapa postingan milik teman-temanku yang menurutku sangat lucu, aku juga melihat beberapa postingan milik selebgram yang aku ikuti akun sosial medianya. Karena asyik melihat-lihat handphone, aku jadi tidak menyadari bahwa ternyata Joseph sudah berada di sampingku saat ini.

__ADS_1


"Dooorrrrrrr!!!" Teriak Joseph mengagetkanku.


"Astaghfirulloh Ya Allah." Ucapku kencang karena terkejut.


"Hahahaha lagian fokus banget sih liatin handphoneku, ada apa emangnysa?"


Aku hanya menatap Joseph dengan pandangan sedikit kesal karena sudah mengagetkan ku tadi.


"Ihhhh gitu aja ngambek, gemes deh." Ucap Joseph meledekku sambil menyentuh dagu ku dengan genit.


Aku hanya memutar bola mata dengan malas melihat tingkah kemayunya itu.


Tidak lama kemudian akhirnya kereta yang kami tunggu telah sampai, aku dan Joseph segera bergegas untuk berdiri di batas aman penumpang menunggu kereta datang, dan setelah kereta berhenti dengan sempurna kami berdua segera masuk dan langsung mencari nomor tempat kami duduk.


"Hfft sampe juga, kamu mau deket jendela apa pinggir sini?" Tanya Joseph kepadaku yang masih berjalan pelan-pelan di belakangnya sambil menarik koper.


"Deket jendela." Jawabku singkat.


Beberapa penumpang tersenyum melihay interaksiku dengan Joseph. Mereka yang melihat ini pasti salah paham dan berpikir bahwa kami adalah sepasang kekasih karena perlakuan Joseph kepada ku yang sangat perhatian. Memang saat masuk ke dalam kereta tadi hingga akhirnya bertanya kepadaku mengenai tempat duduk, Joseph sama sekali tidak terlihat seperti laki-laki yang mempunyai kepribadian seorang wanita.


Joseph terlihat sangat macho, dengan tampangnya yang sedikit ke barat-baratan , lalu tubuhnya yang lumayan tinggi sekitar 175 cm, kemudian badannya yang sedikit berotot semakin menambah kesan maskulin dan membuat siapapun wanita yang melihatnya menjadi terpesona akan ketampanan Joseph.


Namun semua itu pasti akan musnah saat Joseph sudah mulai menunjukkan kepribadian nya yang sesungguhnya.


"Huffttttt, yey bawa apaan sih? Ini koper berat banget, capek deh J'lo ngangkatnya." Keluhan yang keluar dari bibir seksinya ditambah gerakannya yang seolah-olah sedang menghapus peluh di dahi sukses membuat para penumpang di sekitar kami terdiam seketika karena terkejut melihat kenyataan yang ada.


Aku hanya tertawa sambil menutup mulut ku melihat pandangan para penumpang ke arah Joseph.


"Ih, Darling kenapa yey ketawa-ketawa sendiri? Kesambet?" Tanya Joseph lagi-lagi tidak menyadari bahwa tingkahnya sekarang sudah menarik perhatian para penumpang di gerbong kereta ini.


"Gak apa-apa lagi pingin ketawa aja, udah duduk anteng sekarang!" Kataku kepada Joseph.

__ADS_1


Joseph segera duduk di bangkunya sambil menopang satu kakinya dengan kaki yang lain dengan gerakan yang anggun. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahnya yang satu ini.


Seharusnya para wanita di gerbong kereta ini sudah bisa curiga jika melihat pakaian yang Joseph kenakan saat ini, mana ada laki-laki normal yang mau mengenakan pakaian berwarna baby pink? Pasti hanya laki-laki berkepribadian seperti wanita saja yang mau mengenakan nya. Namun lagi-lagi semuanya seolah-olah tertutupi oleh paras tampan dari seorang Joseph.


Selamat datang di kereta Argo Parahyangan yang akan mengantar kita ke tujuan akhir…


Terdengar pengumuan dari pengeras suara di dalam gerbong kereta yang menunjukkan bahwa sebentar lagi kereta akan berangkat menuju Bandung. Aku mulai memasang earphone dan mendengarkan lagu di salah satu aplikasi pemutar musik di handphone.


"Darling, J'lo ke toilet sebentar ya." Joseph menepuk bahuku untuk memberitahukan bahwa dirinya ingin pergi ke toilet, aku hanya mengangguk dan dia pun segera beranjak dari kursinya.


Tidak lama sejak Joseph pergi ke toilet, aku merasakan ada seseorang yang datang dan kemudian duduk di kursi samping ku menempati kursi tempat duduk Joseph. Aku masih mengacuhkan nya dan kemudian merasakan tepukan di bahu ku, seketika aku menoleh kan muka dan terkejut begitu melihat siapa yang berada di sampingku saat ini.


******


Author POV.


Nenek Kemala membuka matanya setelah efek dari obat yang di minumnya sudah mulai berkurang. Dia melihat ke sekelilingnya dan menyadari bahwa sekarang sedang berada di ruang perawatan rumah sakit.


Dia sendirian berada di ruang perawatan ini dan tidak ada satupun anggota keluarga yang menemaninya, entah suaminya sedang berada di mana, sementara semua anak-anaknya telah tinggal di rumah masing-masing di luar kota


Tiba-tiba dia merasakan bahwa hatinya terasa sangat sepi. Nenek Kemala mempunyai dua orang anak, tapi tidak ada kedekatan antara ibu dan anak seperti normalnya keluarga lain di luar sana. Dengan suami nya pun dia merasakan bahwa semakin lama hubungan antara dirinya dan Kakek Dedi semakin menjauh, mereka menjadi suami istri hanya sebatas di atas kertas saja, suaminya pun tidak mau perduli dengan apa yang dia lakukan selama ini, bahkan dengan keadaannya sekarang tidak terlihat kekhawatiran yang ada di dalam diri Kakek Dedi. Diam-diam dia menyesali segala perbuatannya selama ini, dan tidak menyangka bahwa karena perilakunya selama ini membuat dirinya di jauhi oleh keluarga nya sendiri.


Nenek Kemala bertanya-tanya dalam hatinya, siapa yang membawa dirinya ke rumah sakit saat terkena serangan jantung tadi, karena saat dia terjatuh lalu pingsan, Kekek Dedi sedang tidak berada di rumah dan para pekerja di rumah nya sedang menyelesaikan pekerjaan nya masing-masing.


Sedang asyik merenung, tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka dengan keras seperti ada yang sedang mendobrak nya.


Jederrr!!!


Nenek Kemala sangat terkejut, dia berusaha memencet tombol di atas kepalanya yang terhubung ke meja para suster di luar sana. Belum sempat dia memencet tombol itu, tiba-tiba saja sesosok wanita muncul dari dalam kamar mandi, dengan gerakan perlahan wanita itu melayang rendah menuju tempat tidur Nenek Kemala.


Sekujur tubuh Nenek Kemala gemetar dengan begitu hebat, keringat dingin keluar deras dari seluruh permukaan kulitnya. Tubuhnya menjadi kaku seketika tidak bisa di gerakkan sama sekali, hanya air mata yang menetes dari kedua matanya.

__ADS_1


Perlahan wanita itu mengangkat kepalanya, sebagian rambutnya yang acak-acakan itu menutup separuh wajahnya yang hanya menyisakan pemandangan mengerikan karena setengah wajah wanita itu terdapat banyak bekas sayatan sehingga menampilkan sebagian tulang dan daging di wajahnya. Dengan matanya yang semerah darah, wanita itu menunjukkan seringainya yang menyeramkan dan berkata, "Kemala."


__ADS_2