Kenangan Rindu

Kenangan Rindu
Strategi Awal


__ADS_3

Bab 12 (Strategi Awal)


"Gue akan lakukan mediasi." Bagas pun menerangkan apa yang dimaksud dengan mediasi dan menjelaskan rencana-rencana selanjutnya untuk membantu memecahkan misteri dan menghilangkan teror yang terjadi selama ini.


"Jadi maksud lo, salah satu dari kita harus bersedia jadi mediatornya?" Tanya Mas Evan setelah mendengarkan penjelasan dari Bagas.


"Iya, kalau bisa antara lo sama Hanif. Jangan Sarah, kasian soalnya. Biasanya setelah mediasi badan capek dan sakit." Jawab Bagas enteng seperti tanpa beban. Mas Evan dan Mas Hanif langsung terkejut mendengar kalimat terakhir dari Bagas. Karena ini adalah pengalaman pertama mereka bersinggungan dengan hal gaib secara langsung, maka mereka tidak mengetahui dampak yang ditimbulkan setelah menjadi seorang mediator untuk makhluk astral.


"Lah ada efek juga setelahnya?" Tanya Mas Hanif memastikan.


"Iya lah, namanya badan manusia dipinjem sebentar buat diisi sama setan, nanti gerakannya kan ngikutin maunya itu setan kayak gimana. Kalau misal setan nya mau makan tanah atau beling sekalipun ya kita bisa apa?" Lagi-lagi Bagas malah memberikan jawaban yang sukses membuat kami bertiga menjadi sangat terkejut.


"Emm Bagas, bisa gak kalau misal mediatornya jangan mereka berdua? Kita cari orang lain aja yang emang biasa dijadikan mediator untuk hal kayak begini. Nanti kita bayar untuk ucapan terima kasihnya." Saranku memberi usul.


Jujur saja, aku tak akan tega melihat Mas Hanif dan Mas Evan melakukan suatu hal yang bisa melukai badannya, bahkan sampai mengancam nyawa.


Bagas pun menatapku dalam diam. Aku yang diperhatikan seperti itu, menjadi sedikit salah tingkah. Hingga akhirnya, "oke, gue ada temen yang bisa bantu gantiin kalian jadi mediator."


Ahhh akhirnya, lega perasaan kami karena ternyata Bagas mempunyai seorang teman yang bisa membantu menggantikan diri Mas Evan atau Mas Hanif sebagai mediator.


Singkat cerita, Bagas menghubungi temannya itu melalui sambungan telepon dan menceritakan sekilas tentang masalah yang sedang kita hadapi. Di akhir pembicaraan, Bagas menanyai kesediaan temannya itu untuk di jadikan mediator dalam ritual pemanggilan arwah nanti.


Temannya itu menyanggupi permintaan Bagas, dan setelah itu Bagas mengakhiri sambungan teleponnya.


"Temen gue mau bantuin ritual kita nanti. Dia bersedia gantiin buat jadi mediator." Kata Bagas sambil menyalakan sebatang rokok.


"Emm, kalau begitu mau mulai kapan ritualnya?" Tanyaku.


Sebenarnya masih ada sedikit keraguan dari dalam hatiku untuk menjalankan suatu ritual yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Masih ada sedikit rasa tidak percaya dalam diriku tentang masalah ini. 

__ADS_1


Selama ini jika tidak sengaja aku melihat tayangan-tayangan di televisi mengenai dunia supranatural aku selalu merasa jengah, apalagi jika ada adegan orang kesurupan, aku akan langsung berpikir bahwa itu hanya akting saja untuk menakut-nakuti orang yang melihat.


Tapi ternyata, sekarang aku malah akan dihadapkan dengan adegan tersebut, sesuatu yang kupikir hanya sekedar akting saja.


"Gimana kalau lusa? Pas Malam Jumat. Kita mulai dari jam 10 malam." Kata Bagas memberi saran.


"Aku terserah aja. Mas Hanif gimana? Besok katanya mau pulang lagi ke rumah kakek."


"Aku undur deh sampai urusan ini selesai." Jawab Mas Hanif.


"Yasudah kita sepakat kalau gitu lusa kita mulai ritualnya. Untuk kebutuhannya kita perlu siapin apa aja?" Tanyaku ke Bagas. 


"Gue aja yang nyiapin semua, kalian tinggal datang ke sini. Gue ga pernah sih pake sarana yang aneh-aneh, cukup nanti berdoa aja. Kalau dikasih sarana yang aneh-aneh itu sama aja kita ngasih makan setan." Jawab Bagas menjelaskan.


"Baiklah kalau begitu. Emm, Mas Evan kalau bisa mama, papa, sama Mas Ivan ga usah dikasih tau masalah ini dulu ya mas, cukup kita bertiga aja yang tau." Kataku mengingatkan kakak laki-laki tertuaku itu.


"Oke." Jawabnya singkat.


"Kalau gitu kita pamit pulang dulu ya." Mas Hanif pun mengajakku dan Mas Evan untuk pamit pulang ke tuan rumah.


"Iya, nanti kita kabar-kabaran lagi aja lewat handphone. Ehmm, ngomong-ngomong aku boleh minta nomor handphone kamu ga Sar?" Tanya Bagas kepadaku. Aneh, tadi dia menyebut dirinya dengan panggilan "gue" ke aku, tapi sekarang berubah jadi "aku" ke diriku.


"Emmmm." Aku melirik ke arah kakakku, dan Mas Evan menganggukan kepalanya yang artinya mengizinkanku untuk memberikan nomor handphone ku ke Bagas.


"Ini." Ucapku sambil memberikan kartu namaku ke Bagas.


"Terima kasih. Nanti kalau ada apa-apa aku langsung kabarin ke kamu." Kata Bagas sambil tersenyum.


"Ehm, ada yang mulai modus. Tadi gue-elo, sekarang aku-kamu. Lagian juga biasanya teleponannya sama gue, kok jadi malah mau telpon Sarah?" Ledekan dari Mas Hanif membuat Bagas menjadi salah tingkah.

__ADS_1


Kakakku hanya tersenyum melihatnya, namun tiba-tiba dia membisikkan sesuatu ke telingaku, "inget ada Andre." 


"Apaan sih kak." Ucapku sedikit sewot ke Mas Evan.


"Hahahaha." 


"Yaudah yuk pulang, udah malem. Gas, kita pamit dulu ya. Assalamualaikum." Kataku mengucapkan salam ke Bagas.


"Walaikumsallam."


Kami bertiga segera masuk ke dalam mobil, dan kali ini gantian Mas Hanif yang bertindak sebagai sopir.


Kami tidak langsung pulang ke rumah, namun mampir terlebih dahulu ke restoran cepat saji karena perut yang sudah berdemo minta untuk diisi makanan. Meski tadi di tempat Bagas juga disediakan aneka cemilan oleh tuan rumah, namun tetap saja tidak cukup untuk mengisi energi kami yang sudah mulai terkikis.


Kami pun sampai di restoran cepat saji dan memutuskan untuk langsung saja makan di sana.


Mas Hanif pergi menuju kasir untuk memesan makanan. Mas Evan pergi ke toilet untuk mengeluarkan hajat kecilnya, sementara aku yang mencari tempat untuk kami duduk dan makan.


Kulihat ada 1 meja kosong yang berada dekat dengan jendela besar dan tempat permainan anak-anak. Masih terlihat beberapa anak kecil yang sedang bermain papan seluncur di sana. Aku lalu menuju meja itu dan duduk sambil menunggu kakak dan sepupuku.


Aku mengambil handphone ku dan mengecek beberapa email kerjaan. Dan tiba-tiba aku teringat sesuatu hal.


"Astaghfirullah lupa, besok kan gue mau tugas ke luar kota." Ucapku sambil menepuk jidat sendiri.


Aku membuka handphone kembali dan dengan serius membaca satu persatu jadwalku saat perjalanan tugas besok.


Hingga aku tidak menyadari bahwa ada seorang anak perempuan yang sudah berdiri di sebelahku dan memperhatikan diriku yang sedang serius melihat layar handphone.


Anak perempuan itu tiba-tiba menutup layar handphone ku dengan tangannya yang mungil dan cukup membuatku terkejut karena melihat keberadaannya yang tiba-tiba sudah ada di sampingku.

__ADS_1


"Sstttt, tante jangan lihat-lihat ke arah luar ya. Tante juga jangan pergi tugas besok, udah di rumah aja." Katanya dengan mimik muka yang terlihat seperti orang ketakutan.


__ADS_2