Kenangan Rindu

Kenangan Rindu
Teka Teki


__ADS_3

“Sarah?” Andre terkejut begitu mengetahui bahwa di belakangnya telah ada sosok Sarah, kekasihnya. Dia pun langsung berjalan menghampiri Sarah. “kamu udah lama di sini? Kenapa gak ngabarin aku?” Andre berusaha tetap terlihat tenang di hadapan Sarah walaupun sebenarnya di dalam hatinya dia khawatir jika Sarah akan berfikir yang tidak-tidak mengenai dirinya yang sedang bersama wanita lain.


“Aku udah dari tadi ada di sini, maksudnya mau ngasih kamu suprise. Ngomong-ngomong dia siapa, Ndre?” tanya Sarah.


“Ah, iya sebentar aku kenalin dulu. Anggun, kesini!”


Anggun berjalan menuju Sarah dan Andre dengan langkahnya yang di buat seanggun mungkin. Dengan perasaan yang tidak menentu, dia akhirnya berhadapan langsung dengan Sarah setelah selama ini dia hanya mencari tahu sosok sarah –gadis yang berhasil mengalihkan perasaan Andre darinya- lewat media sosial.


“Anggun, kenalin ini pacarku Sarah. Sarah, ini Anggun temen SMA ku dulu,” Andre saling memperkenalkan mereka berdua.


“Sarah,” Sarah memperkenalkan dirinya dengan tersenyum sambil memberikan tangannya.


“Anggun,” jawab Anggun sambil membalas jabatan tangan Sarah namun tanpa memberikan senyuman. Temen? Kenapa kamu takut ngakuin kalau aku ini pacar kamu dulu, Ndre? Anggun bertanya akan sikap Andre dari dalam hatinya.


“Yaudah, kita ngobrol-ngobrol dulu yuk kalau gitu di kafe depan,” ajak Andre.


“Gak usah, Ndre. Kamu berdua aja sama Sarah ngobrolnya, aku lupa kalau sebentar lagi aku ada janji ketemuan sama orang lain di mall.”


“Loh, dadakan? Katanya tadi mau ngobrol-ngobrol dulu sama gue,” tanya Andre yang ternyata menggunakan sapaan “gue-elo” kepada Anggun, hal itu cukup membuat hati Sarah menjadi sedikit lega karena sapaan itu membuktikan bahwa perempuan tersebut tidak mempunyai hubungan yang spesial dengan kekasihnya.


“iya dadakan, udah sana kangen-kangenan dulu sama pacar. Aku duluan ya, Ndre. Yuk, Sar!” Anggun segera beranjak pergi dari ruang tunggu apartemen dan terlihat sekali bahwa dia sangat terburu-buru ingin meninggalkan mereka berdua. Apa aku benar-benar sudah tidak ada tempat di hatimu, Ndre? Tidak terasa dia berjalan sambil meneteskan air mata melihat Andre yang saat ini sedang bersama Sarah, kekasihnya.


************


Dedi meminum kopinya dengan perlahan sambil menikmati udara malam di halaman rumahnya. Saat ini, dia sedang duduk sendiri di teras hanya di temani dengan secangkir kopi. Ketiga cucu lelakinya bersama seorang temannya yang sedang menginap di sana, sedang keluar rumah, berjalan-jalan untuk menikmati udara malam hari di desa. Sementara anak-anak dan para menantunya sudah tertidur lelap di kamar masing-masing, begitu pula dengan Kemala, istrinya, yang masih betah berada di kamarnya sendirian.


“Bapak belum tidur?” terdengar sapaan dari seorang laki-laki yang ternyata adalah Slamet, tukang kebun sekaligus orang kepercayaan dari Dedi.


“Eh, Met. Sini-sini, Met. Temenin saya ngobrol,” ajak Dedi. Slamet pun segera duduk di kursi samping tuannya itu.

__ADS_1


“Kamu gak ikutan ngopi?”


“Sudah barusan, Pak. Takut gak bisa tidur kalau kebanyakan minum kopi.”


“Hahaha, bisa aja kamu.”


“Bapak kenapa toh? Sendirian aja di sini.”


Dedi menarik nafas panjang setelah mendengar pertanyaan dari Slamet. Raut mukanya pun juga berubah seketika.


“Asih,” satu nama itu yang keluar dari mulut Dedi. Slamet juga langsung merubah ekspresi mukanya begitu mendengar nama tersebut.


“Kenapa dengan Asih, pak?”


“Sebenarnya akhir-akhir ini saya semakin sering memimpikannya, tidak seperti dulu sejak awal-awal dia menghilang, justru saya tidak begitu sering memimpikan dia.”


“Dia seperti menuntun saya ke tengah-tengah perkebunan pisang, tapi saya gak tau itu di mana. Setiap saya tanya ada di mana dia selalu hanya menatap saya dengan tatapan sendu, dan anehnya di antara saya dan Asih, selalu ada Kemala. Dia juga ada di tengah-tengah kebun pisang itu sambil menatap Asih dengan tatapan sinis.”


“Nyonya juga ada di sana? Terus gimana lagi, Pak?”


“Ya begitu aja, sampai situ aja mimpinya habis itu saya terbangun. Beberapa kali juga saya mimpiin Kemala, dia seperti melakukan sesuatu di tempat yang kayaknya saya pernah lihat, tapi di mana ya itu?”


Slamet mengangguk-anggukkan kepalanya saat mendengarkan cerita dari Dedi tanpa menyela sedikitpun ucapan dari tuannya tersebut, hingga ketika cerita berakhir dia pun mulai mengeluarkan pendapatnya, “maaf sebelumnya Pak kalau saya lancang mau ngasih nasihat ke Bapak, tapi menurut saya misteri ini gak akan bisa terungkap kalau bapak masih kekeuh mau menyelesaikan semuanya sendiri.”


“Terus saya harus gimana, Met?”


“Maaf lagi sebelumnya, Pak. Tapi kalau menurut saya bapak harus meminta bantuan dari orang pintar, karena masalah yang sedang bapak hadapi ini sedikit banyaknya sudah tercampur dengan hal-hal gaib.”


“Hal gaib? Maksudmu masalah hilangnya Asih?”

__ADS_1


“Kurang lebih seperti itu, Pak. Dan juga masalah mimpi-mimpi bapak itu dan tentang sikap Nyonya akhir-akhir ini yang seperti sedang ketakutan akan sesuatu hal, mungkin saja orang pintar itu bisa menerjemahkan semuanya dan bisa membantu menemukan keberadaan Asih.”


Dedi terlihat serius mendengarkan saran dari Slamet, dan dia pun bertanya,”tapi siapa ya orang pintar nya itu, Met?”


“Mas Bagas, temennya Ma Hanif, Pak.” Jawab Slamet.


“oh iya benar juga ya, saya dengar-dengar dari Hanif  kalau si Bagas itu paham sekali dan punya kemampuan lebih akan hal gaib, baiklah saya akan coba ajak ngomong dia masalah ini.”


Prangggg. . .


Tiba-tiba terdengar suara pecahan yang berasal dari dalam rumah, tepatnya kamar tidur Kemala. Hal itu membuat semua anggota keluarga yang sedang berada di rumah lari terburu-buru menuju kamar tidur Kemala dan Dedi.


Mereka, termasuk Dedi, di buat terkejut dengan keadaan di dalam kamar yang terlihat sangat berantakan, dan suara pecahan tadi ternyata berasal dari kaca meja rias yang telah hancur berkeping-keping.


“Ibu?” Anita, yang merupakan anak kedua Kemala dan Dedi sekaligus mamanya Sarah, menghampiri Kemala yang sedang duduk di lantai kamar sambil memegang dan  menekuk kedua lututnya.


...$@-#+$)_/$/@+@)@...


Hey hey readers, author mau nanya deh, kalian pernah gak sih kalau lagi mau nulis sesuatu gitu, otak sama tangannya gak sinkron? maksudnya ide di dalam otak tuh udah banyak banget dan udah cakep banget deh pokoknya, eh tapi pas di tuangin ke dalam bentuk tulisan dan mau di ketik, kayaknya nyari kata-kata yg pas buat penulisannya susah gitu, padahal pas masih jadi ide di kepala gak susah. Masa author begitu tau😂


Btw, kemarin sempet sebulan (kalau gak salah) gak pernah update bab sama sekali, itu karena otak tuh rasanya udah gak bisa mikirin mau nulis apa lagi buat lanjutan ceritanya, faktor badan yang udah terlalu kecapean kali ya karena ngurusin 2 bocah sendirian, terus mereka tidurnya juga malem terus, jadinya pas mereka tidur eh bundanya juga ikutan tidur deh, gak kepikiran lagi kalau masih ada hutang novel di sini 😂😂


Yasudah segitu aja deh curhat dadakannya. Jangan lupa buat ikutin terus kelanjutan ceritanya ya, sudah mulai masuk episode-episode yang menegangkan ini🤭


Jangan lupa kasih komentar ya biar author semakin semangat nulisnya dan bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam penulisan nya. Jangan lupa juga buat kasih like dan votenya😀🙏


oh ya kalau ada yang mau tau author orangnya kayak gimana, follow ig author ya di @Asparamitha


terimakasih 🙏🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2