
Drrtt … drrt …
Terdengar suara getaran dari handphone milik Andre tanda dirinya sedang mendapatkan panggilan telepon. Andre sedang melakukan ritual mandinya sehingga tidak menyadari bahwa ada panggilan telepon tersebut.
"Ah, seger banget habis mandi," kata Andre kepada dirinya sendiri. Dia keluar dari kamar mandi yang terdapat di dalam kamar pribadinya dengan hanya memakai celana training saja. Terlihat jelas pantulan dirinya dari kaca lemari yang berada di samping tempat tidurnya.
Tubuh tinggi atletis, dengan perut yang lumayan menampilkan otot-otot nya, di tambah dengan rambutnya yang masih setengah basah, menambah kesan maskulin yang ada di dalam diri Andre.
Dia lalu mengambil handphone nya yang ada di atas kasurnya dan melihat ada beberapa panggilan dari kekasih hatinya yang tidak lain adalah Sarah. Lalu, dia juga melihat ada beberapa pesan dari nomor yang tidak di kenalnya.
Hai, Andre. Gimana kabar kamu?
Andre, maaf kalau aku lancang. Tapi aku ga bisa bohongin perasaan aku selama ini ke kamu. Aku kangen kamu, Ndre..
Andre di buat terheran-heran dengan isi pesan tersebut karena dia tidak mengetahui dari mana asal pesan tersebut berasal.
Sejenak dia tidak menghiraukan pesan tersebut, dia lebih memilih untuk segera menelepon kembali Sarah yang sedang berada dalam perjalanan menuju ke Bandung.
Tutt … tutt … tutt…
"Hallo, Assalamualaikum," terdengar suara Sarah setelah mengangkat panggilan telepon dari Andre.
"Walaikumsallam, udah sampai mana yang?" Tanya Andre.
"........."
"Aku tadi lagi mandi, hp ada di atas kasur. Kamu udah makan?"
"........"
"Yaudah, kalau ada apa-apa langsung kabarin aku ya yang. I love you."
"....."
"Walaikumsallam."
Andre menaruh kembali handphone di atas kasur dan menuju ke lemari pakaiannya untuk mengambil kaos.
Drrttt … drtt … drrtt …
__ADS_1
Terdengar kembali suara getaran dari handphone Andre. Dia segera mengambil handphone dan melihat ada panggilan dari nomor tak dikenal, nomor yang sama dengan si pengirim pesan ke handphonenya.
"Ya, hallo." Andre mengangkat panggilan telepon itu, dan terkejut karena mendengar suara wanita dari seberang sana.
"Andre?" Tanya wanita tersebut.
"Iya, ini siapa ya?"
"..........."
"Anggun? Kok bisa dapat nomor saya?"
"......"
"Alhamdulillah, saya baik-baik saja," jawab Andre datar.
"......."
"Maaf, Anggun. Saya harus matiin telepon nya, masih ada kerjaan yang harus saya kerjakan."
"....."
Andre tidak menjawab salam terakhir dari Anggun sebelum dia menyudahi obrolannya dengan Andre.
Anggun adalah cinta pertamanya sekaligus orang yang memberikan rasa sakit yang teramat sangat untuk hatinya. Saat memutuskan hubungan dengan Anggun, dia merasakan trauma untuk memulai hubungan kembali dengan wanita lain.
Selama hampir dua tahun dia membentengi dirinya untuk tidak jatuh cinta kembali, namun akhirnya hatinya tidak bisa berbohong saat pertama kali dia bertemu Sarah di depan perpustakaan kampusnya.
Ya, dia dan Sarah kuliah di satu universitas dan satu fakultas yang sama. Andre adalah kakak senior dari Sarah. Saat pertama melihat Sarah, dirinya langsung merasa tertarik dengan aura yang di keluarkan dari diri Sarah. Andre tidak langsung merasakan cinta pada pandangan pertama dengan Sarah, namun dia merasakan ketertarikan untuk berkenalan dengan Sarah dan mulai menjalin hubungan pertemanan dengannya.
Hingga akhirnya, berkat dorongan dan dukungan dari teman-teman dan orang tuanya, hubungan yang awalnya hanya sebatas pertemanan antara senior dan junior secara perlahan-lahan berubah menjadi sepasang kekasih hingga saat ini.
Namun, di saat dirinya sudah merasa nyaman dan yakin untuk membawa hubungannya dengan Sarah ke arah yang lebih serius, tiba-tiba saja Anggun sang cinta pertama datang kembali menghubunginya.
Jujur saja, ada perasaan gelisah saat mengetahui bahwa yang memberi pesan dan menelepon dirinya adalah Anggun. Walaupun terkesan datar dan tidak berminat untuk berbicara dengan wanita itu via telepon, sebenarnya itu hanya kamuflase semata dari dirinya yang sedang merasa gemetar saat mendengar suara dari mantan kekasihnya itu.
"Kenapa kamu harus muncul lagi, Nggun?"
********
__ADS_1
Sarah POV.
Kereta Argo Parahyangan.
Joseph meminta ijin padaku untuk pergi ke toilet. Aku hanya menganggukkan kepala dan dia pun segera beranjak menuju toilet di dalam kereta.
Kereta sudah berjalan dengan laju yang kencang. Tidak lama sejak Joseph ijin pergi ke toilet, tiba-tiba aku merasakan ada seseorang yang datang dan langsung menempati kursi di sebelahku yang mana kursi itu merupakan milik Joseph sepanjang perjalanan menuju Bandung.
Aku mengacuhkan orang tersebut karena ku pikir itu adalah Joseph yang sudah kembali dari Toilet. Namun, tiba-tiba saja aku merasakan tepukan yang cukup keras di bahu ku, seketika aku menolehkan muka dan terkejut begitu melihat siapa yang berada di sampingku saat ini.
Sesosok hantu wanita yang beberapa waktu terakhir ini meneror ku dan keluarga kakekku. Ya, dia lah yang menempati kursi Joseph yang berada persis di sisi kanan ku.
Aku sangat terkejut dan seketika tidak bisa menggerakkan seluruh badanku sama sekali, bahkan ingin berteriak saja aku tidak mampu. Aku hanya bisa melihat wajah mengerikan wanita itu yang sedang menatapku tajam.
Aku merasakan seolah-olah keadaan di sekitarku menjadi sunyi, yang ada hanya aku dan sosok hantu wanita itu saja. Sekujur tubuh ku bergetar dan berkeringat. Ingin rasanya aku memejamkan mata, namun tidak bisa. Seperti di paksa untuk selalu melihat ke arahnya.
Aku hanya bisa pasrah sambil berharap ini semua segera berakhir. Tak lama kemudian hantu wanita itu berkata sambil berteriak, "Mas Dedi hanya milikku seorang, aaahhhhhhh!"
Sosok itu pun akhirnya menghilang secara perlahan dan kurasakan keadaan di dalam gerbong kereta kembali menjadi normal. Namun, aku masih tetap terpaku menatap kursi itu, sampai akhirnya Joseph datang menyadarkanku.
"Darling!" Joseph menepuk bahuku pelan sambil berjongkok di hadapanku dan menatapku heran.
Aku terkejut dengan tepukan Joseph dan seketika membuatku tersadar kembali. Namun, yang membuat diriku sendiri heran adalah tiba-tiba saja aku memeluk Joseph dan menangis dalam pelukannya.
Joseph juga ikut terkejut dengan tingkah laku ku ini.
"Darl, are you ok?" Tanya Joseph kepadaku sambil menepuk-nepuk punggungku.
Aku merasakan hampir semua mata penumpang yang berada satu gerbong denganku menatap kami berdua dengan heran.
Aku hanya menggelengkan kepalaku saja, tidak tahu harus memberikan jawaban apa kepada Joseph.
"Permisi, ada yang bisa kami bantu, bapak dan ibu?" Seorang pramugari kereta menghampiri kami dan menawarkan bantuannya.
"Tolong minta air mineral botol ya, mbak," kata Joseph.
"Baik, mohon ditunggu sebentar ya, pak."
Pramugari itu pun berlalu untuk mengambil pesanan Joseph.
__ADS_1
"Udah enakan?" Terdengar kembali suara Joseph yang lembut kepada ku. Entah mengapa, di saat seperti ini aku merasakan aura Joseph yang menjadi seperti seorang laki-laki sejati.
"Udah," jawabku sambil mengangguk-anggukkan kepala dan masih berada di dalam pelukannya. Tak ku hiraukan tatapan para penumpang yang sebagian masih memperhatikan adegan kami berdua.