
"Nak, bangun udah jam 5 subuh, sholat dulu!" Terdengar suara papa membangunkan diriku yang sedang tertidur dengan sangat pulas karena baru sempat tertidur selama dua jam.
"Iya pa, udah bangun ini." Jawabku dengan merenggangkan otot-otot di sekujur tubuhku. Aku lalu beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan setelah itu melakukan sholat subuh.
Sholat wajib dua rakaat telah aku tunaikan dan kembali aku duduk di atas kasur untuk mengecek kembali beberapa barang bawaan yang akan aku bawa dalam perjalanan tugas hari ini.
Setelah beberapa kejadian aneh tadi malam di restoran cepat saji dan hanya diriku saja yang mengalaminya, pagi ini aku merasa perasaanku sedikit rileks karena tidak mengalami mimpi apapun di dalam tidurku, sehingga walaupun hanya sempat tertidur selama dua jam saja, aku tetap merasa nyaman dengan diriku sendiri.
Selesai mengecek beberapa barang bawaan, aku mengambil handphone ku yang berada di samping bantal dan membuka aplikasi pesan populer yang berwarna hijau muda. Terlihat beberapa pesan masuk ke handphone ku, namun yang pertama ku buka adalah pesan dari Andre, kekasihku.
Kamu udah sampai rumah yang? Kalau udah langsung kabarin aku ya..
Udah sampai belum yang? Kok belum ngabarin aku?
I love you..
Terdapat tiga pesan yang berasal dari Andre yang dikirim jam 11 tadi malam. Aku tidak tahu kalau dia menanyakan keadaan ku dikarenakan handphone ku yang disetel dalam mode diam sejak berada di kediaman Bagas.
Yang, maaf aku baru lihat chat kamu. Aku semalem sampai rumah jam stengah 1 malam. Pergi ke rumah temennya Mas Hanif sama Mas Hanif dan Mas Evan.
Aku capek banget semalem, sampai rumah langsung beres-beres buat bawaan nanti tugas.
Love you too..
Aku membalas pesan dari Andre kemudian membuka kembali pesan dari yang lainnya.
Darling dadar guling, yey jalan jam berapose?
Begitu isi pesan dari Joseph teman kantorku yang mempunyai kepribadian seperti seorang wanita dan hanya mau dipanggil dengan sebutan J'lo.
Jam 8 J'lo sayang…
Balasku menjawab pesan dari Joseph. Setelah membalas beberapa pesan di handphone, akupun bergegas untuk mandi dan bersiap-siap untuk keberangkatan ku keluar kota.
******
"Pagi semua!" Aku menyapa seluruh keluarga yang sudah berkumpul di meja makan untuk memulai sarapan pagi.
"Pagi sayang, jadi berangkat tugas hari ini?" Tanya mamaku.
"Jadi ma, sebentar lagi juga mau berangkat ke kantor."
"Bawa mobil ga? Kalau ga bawa biar Mas Hanif yang anterin ke kantor."
__ADS_1
"Emm, boleh deh mas kalau ga ngerepotin."
Suasana di meja makan diisi dengan obrolan hangat oleh kedua orang tuaku, kakak kembarku, dan sepupuku Mas Hanif. Sementara aku hanya mendengarkan saja topik-topik yang sedang mereka perbincangkan.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi, aku pun bergegas mengambil barang-barangku di dalam kamar dan mau menaruhnya ke dalam mobil Mas Hanif.
Dengan sedikit terburu-buru, aku menarik koper dari kamarku yang berada di lantai dua. Singkat cerita, semua barang bawaan sudah berada di dalam bagasi mobil Mas Hanif. Setelah berpamitan kepada orang tua dan kakak kembarku, aku pun berangkat ke kantor dengan di antar oleh Mas Hanif.
Jarak dari kantor dan rumah lumayan jauh, memakan waktu setengah jam perjalanan jika tidak terjebak macet. Aku mengobrol santai dengan Mas Hanif sambil sesekali mengecek handphone ku. Untuk sementara, aku lupa dengan kejadian semalam karena hanya memikirkan perjalanan tugas ku nanti.
Tidak terasa aku pun sampai di kantor dan turun tepat di depan pintu lobby. Mas Hanif langsung pamit ke diriku karena mau menemui Bagas di kafe milik teman mereka.
"Sarahhhhh." Terdengar dari kejauhan teriakan suara laki-laki yang sedikit gemulai memanggil namaku, dan ternyata itu adalah Joseph atau J'lo.
Aku pun menghentikan langkah dan tidak jadi masuk ke dalam kantor karena menunggu Joseph menghampiri diriku. Sambil tersenyum lebar aku melihat ke arahnya yang sedang berlari sambil menggendong tas punggung besarnya dan tangannya terus melambai ke arah ku.
Beberapa satpam dan karyawan yang ada di halaman kantor tersenyum dan tertawa melihat tingkah Joseph yang sangat menghibur mereka pagi ini.
"Huffttttt, akhirnya sampe juga ekye." Katanya sambil mengelap keningnya dengan punggung tangannya yang lentik.
"Ngapain sih lari-lari segala? Kan ga telat."
"Ih yeay mah gitu, J'lo kan mau bareng masuk ke kantornya." Katanya sambil mencubit gemas pipiku.
"Pagi neng geulis dan pak ganteng" Sapa pak satpam yang berjaga di pintu masuk kantor.
"Ih bapak mah, J'lo udah dandan cantik gini masa dibilang ganteng, liat nih kemeja J'lo warnanya baby pink cantik, muka udah bedakan. Eh luntur sedikit deh cyin." Dengan gerakan yang gemulai, Joseph bercermin dengan cerminnya yang selalu ada di saku celana panjangnya.
Satpam pun hanya bergidik dan tertawa mendengar jawaban manja dari Joseph. Aku juga ikut tertawa melihat tingkah ajaib temanku yang satu ini.
Keberadaan Joseph di kantor sangat membuatku terhibur. Dia merupakan salah satu dari 3 sahabat yang aku punya saat ini. Sementara kedua sahabatku yang lainnya merupakan teman SMA ku saat sekolah dulu.
Kami pun berjalan ke arah lift kantor, dan memencet tombolnya agar lift terbuka. Lalu Joseph memencet tombol lantai tempat ruangan kami berada. Kebetulan kami berdua berada dalam satu divisi dan team kerja, jadi memang kemana-mana selalu berdua.
Sebenarnya bukan hanya Joseph saja temanku di kantor ini karena hampir semua karyawan yang berada di kantor mengenal diriku dan aku pun juga mengenal mereka, walaupun kadang aku hanya tahu muka tapi lupa nama begitupun sebaliknya, khususnya untuk para karyawan baru dan mahasiswa magang.
Tiba-tiba lift berhenti di lantai 8 dan seorang laki-laki tampan masuk ke dalamnya. Ternyata itu Andre, kekasihku. Andre juga bekerja di perusahaan yang sama denganku tetapi beda divisi, dia menjabat sebagai manajer pemasaran di divisinya.
"Loh yang, baru aku mau ke ruangan kamu." Kata Andre setelah menyadari bahwa di lift ada diriku.
"Mau ngapain ke ruangan aku?"
"Mau ketemu Doni, ada yang harus di bahas. Kamu udah sarapan?"
__ADS_1
"Udah tadi di rumah." Jawabku sambil tersenyum. Andre pun mengelus rambutku sambil balas tersenyum. Beruntung di dalam lift hanya ada kami bertiga, jika tidak pasti aku akan sangat malu dengan perlakuan dari Andre barusan. Karena walaupun kami adalah sepasang kekasih di luar kantor, namun jika di dalam kantor kami tetap bersikap profesional. Hanya saat sedang suasana sepi seperti sekarang ini saja dia memanggilku dengan panggilan kesayangan.
"Helloooo, ada eyke ini di marih! Hih dipikir eyke ini makhluk halus kali ya ga keliatan ada di sini, hihhhhh sebel deh!"
"Eh ada J'lo cantik, maafin Aa Andre ya ga liat ada si cantik di sini." Kata Andre menggoda Joseph.
"Au ah gelap, hfft." Jawab Joseph sambil merajuk.
"Jangan ngambek dong, nanti cantiknya hilang loh." Andre kembali menggoda Joseph dengan mencolek sedikit dagu pria lemah gemulai itu, membuat Joseph memukul manja lengan Andre.
Aku tertawa melihat tingkah mereka berdua. Mereka jika sudah bertemu memang bisa membuat suasana menjadi heboh. Andre yang mempunyai sifat humoris dan gampang bergaul menjadikannya orang yang mempunyai banyak teman di mana-mana, berbeda dengan sifatku yang sedikit tertutup dan hanya berkata seperlunya, sehingga menurut teman-teman kami, sifat kami ini yang membuat kami menjadi pasangan yang romantis karena saling mengisi satu dengan yang lainnya.
Meski begitu, khusus untuk diriku Andre mempunyai sifat yang sedikit posesif, dia selalu ingin tahu kabarku seperti apa dan berada di mana, beda dengan diriku yang jarang menanyakan kabarnya karena bagi ku saat dia tidak menelepon atau mengirim pesan ke handphoneku, tandanya dia sedang sibuk dengan pekerjaannya dan aku tidak mau mengganggunya. Aku sangat percaya dengan segala tingkah laku Andre di belakangku.
Tidak lama kemudian, lift pun telah sampai di lantai tempat ruangan kerjaku berada. Aku dan Joseph segera menuju meja kami masing-masing untuk mengambil berkas yang akan kami bawa pergi ke luar kota hari ini. Sementara Andre sudah berada di meja kerja Doni untuk membahas beberapa pekerjaan.
Saat sedang merapihkan beberapa berkas, tiba-tiba gelas pajangan yang berada di atas meja kerjaku terjatuh ke lantai dengan sendirinya.
Prangggg…
Suara pecahannya mengagetkan satu ruang kerjaku.
"Sarah, kamu gak apa-apa?" Tanya temanku yang bernama Serli.
"Cyinnn, kenapa?" Tanya Joseph yang heran melihat gelas pajangan ku terjatuh dan pecah.
"Sarah, kamu gak apa-apa? Loh gelasnya kok bisa jatuh? Panggil ob sekarang minta tolong di bersihin." Perintah Andre kepada salah satu temenku di ruangan ini.
Aku yang di tanya juga sebenarnya bingung kenapa gelas yang berada di pojok bilik meja kerjaku bisa terjatuh begitu saja, padahal posisinya jauh dari pinggir meja. Aku terdiam dan mencoba menebak-nebak apa yang akan terjadi nanti karena tiba-tiba saja perasaanku menjadi tidak enak.
Tidak lama office boy kantor pun datang ke ruanganku dan segera membersihkan pecahan gelas pajangan ku itu. Barang-barang kecil yang berada di dalam gelas itu juga sudah berada di atas meja kerjaku kembali.
"Aku mau ke kamar mandi dulu ya." Kataku kepada Andre.
Dengan sedikit tergesa-gesa aku menuju kamar mandi yang terletak di pojok lantai ruanganku ini.
Suasana sepi di dalam kamar mandi, aku lalu membasuh mukaku dengan air keran agar pikiran ku menjadi jernih kembali. Selesai membasuh dengan air dingin, aku memoleskan kembali make up tipis di wajahku agar terlihat lebih segar. Saat sedang memoleskan bedak ke wajahku, tiba-tiba pintu kamar mandi yang berada di belakangku terbuka sendiri dengan cukup kencang.
Duarrrrr…
Aku terlonjak kaget melihatnya, dan tambah membuatku menjadi ketakutan karena tiba-tiba saja ada bisikan yang berada tepat di kuping kiriku.
"Tante sudah jangan pergi-pergi, di sini saja." ...
__ADS_1