Kenangan Rindu

Kenangan Rindu
Lift Kantor #1


__ADS_3

Sarah POV.


Tok tok tok.


"Permisi pak." Aku membuka pintu ruangan kerja Pak Rafli dan meminta izin agar di perbolehkan masuk oleh beliau.


"Oh Sarah, mari masuk."


Aku segera masuk ke dalam ruang kerjanya yang terlihat sangat rapi dengan penempatan barang yang tidak terlalu banyak sehingga membuat kesan luas untuk ruangan yang tidak terlalu besar ini.


"Silahkan duduk." Perintah Pak Rafli sambil menunjuk kursi yang ada di hadapannya.


Aku lalu duduk di kursi yang ditunjuk oleh beliau. Dengan perasaan yang sedikit cemas, aku menebak-nebak untuk apa aku dipanggil ke ruangan Pak Rafli. Aku takut jika pemanggilan ini dikarenakan sikap Andre tadi yang membuat Pak Rafli menjadi tidak suka terhadap kami berdua.


"Mmm, kalau boleh tau ada apa bapak memanggil saya ke sini?" Tanyaku mencoba mencairkan suasana yang mendadak terasa sunyi.


Pak Rafli lalu menutup buku yang sepertinya tidak dia baca karena hanya di bolak-balikan saja antar halamannya, kemudian dia menengadah kan kepalanya dan menatap diriku.


"Kamu gak enak badan?"


"Hah? Sudah tidak pak, kenapa?"


"Bener? Kalau masih gak enak badan kamu tunda keberangkatanmu, nanti urusan kerjaan di sana biar di handle sama Joseph." Kata Pak Rafli memberikan pilihan kepadaku.


"Ga usah pak, terima kasih. Saya sudah tidak apa-apa kok."


"Hmm, baik kalau begitu. Kamu bisa siap-siap sekarang."


"Baik pak, terima kasih."


Aku lalu berdiri dari kursi dan segera keluar dari ruangannya dan berjalan menuju meja kerjaku sendiri.


"Kenapa Sar? Kok di panggil Pak Rafli?" Tanya Ana si tukang gosip di bagian divisiku.


"Gak ada apa-apa, cuma nanya persiapan yang mau dibawa buat tugas." Jawab ku yang mencoba memberikan jawaban seaman mungkin agar tidak meninggalkan gosip di dalam lingkungan kantor.


*****


Author POV.


"Jadi kita harus gimana sekarang, Gas?" Kata Hanif sambil menopang dagunya dengan tangan.


"Tetap dengan rencana awal, Malam Jumat besok kita mulai ritualnya." Jawab Bagas sambil sesekali menghisap rokoknya.


"Tapi kalau misal Sarah ga jadi ikut gak apa-apa?" Tanya Hanif kembali.


"Kalau bisa sih ikut, karena di sini ada peran dia buat bantu lancarin proses ritualnya. Seperti yang gue ceritain tadi, yang paling di incar di antara cucu-cucunya kakek lo ya Sarah."

__ADS_1


"Gue bener-bener ga nyangka kalau bener kejadiannya dulu seperti yang lo ceritain tadi ke gue."


"Ya begitulah, setelah semalam gue coba ajak komunikasi makhluk itu, gue di lihatin beberapa peristiwa dulu yang jadi akar masalah keluarga lo saat ini."


"Tapi gue ga nyangka dan gak habis pikir, kok bisa sih nenek gue, hftt." Kata Hanif sambil menghembuskan nafas nya dan tidak jadi melanjutkan apa yang ingin di ucapkan nya.


"Semua belum pasti Nif, kita jangan terlalu percaya sama apa yang di ucapkan makhluk itu. Kita harus percaya berdasarkan bukti dan hasil akhirnya nanti."


"Oke, gue paham. Tapi sekarang yang gue mau tanyain ke lo, kalau gitu buat apa kita tetep adain ritual lagi Malam Jumat besok? Toh lo kan udah nanya macem-macem sama itu makhluk dan udah di kasih tau beberapa gambaran tentang kejadiannya jaman dahulu."


"Biar lebih pasti aja. Siapa tau kalau ada Sarah, makhluk itu jadi mau ngungkapin misteri apa yang sebenarnya terjadi selama ini."


"Maksudnya gimana? Sarah dijadiin tumbal gitu?"


"Ya gak lah ngaco, nanti gue dampingin Sarah buat komunikasi sama makhluk itu, apa yang mau kalian tanyain biar Sarah yang sampaikan."


"Hmm, baiklah. Gue telpon Sarah dulu buat mastiin Malam Jumat besok dia udah sampai rumah lagi atau belum."


"Iya."


Tuuttt..tuuttt..tuuttt.


Terdengar sambungan suara telepon dari Hanif ke nomornya Sarah.


"Hallo. Assalamualaikum mas."


********


Ddrrrttt...ddrrttt...dddrrttt..


Terdengar suara getaran telepon masuk dari handphoneku. Aku segera meraih handphone dan melihat siapa yang menghubungiku di jam kantor begini.


Ah, ternyata Mas Hanif. Aku segera menggeser tombol hijau di layar handphone untuk mengangkat panggilan telepon dari kakak sepupuku itu.


"Hallo. Assalamualaikum mas." Ucapku memberi salam


"..………."


"Belum, ini lagi siap-siap, kenapa mas?"


"......…"


"Ehm, kalau di jadwal sih seharusnya tiga sampai 4 hari di sana mas, tapi aku nanti coba buat ijin pulang duluan deh sama temenku. Mmm, emang kalau misalnya Sarah gak ikut, ga bisa ya mas?"


"........"


"Baiklah kalau begitu, Sarah usahain kamis sore udah sampai rumah."

__ADS_1


"………"


"Walaikumsallam."


Aku menutup panggilan telepon dan menaruh kembali handphone ku ke atas meja kerja. Setelah mengecek kembali seluruh berkas-berkas yang akan ku bawa pergi tugas, aku pun menghampiri Joseph di meja kerjanya dan memberi tahu bahwa tidak lama lagi kami berdua sudah harus berangkat ke Stasiun Gambir.


"Bentar nek, eyke mau ngecek lagi bawaan eyke biar ga ada yang ketinggalan. Bentar, bedak oke, lipgloss oke, maskara oke. Hmmm, oke deh udah kebawa semua uhhh cucok deh." Dengan tidak tahu malunya Joseph mengeluarkan sebuah tas kecil yang ternyata isinya adalah beberapa peralatan make up nya.


"Hah? Kamu bawa make up?" Tanyaku heran.


"Ihhhh, biasalah cewek kayak yey bukan cewek aja deh emmm!"


"Ya aku mah emang cewek, original lagi jadi wajar bawa-bawa make up begitu, lah kamu kan."


"Kamu kan apa hayo?" Tanya Joseph yang tiba-tiba berubah menjadi sedikit sewot.


"Hihihihi, pisssss."


"Huh udah jalan sekarang ah, eyke telepon sopir kantor dulu biar siapin mobil."


Joseph beranjak menuju telepon ruangan untuk menghubungi sopir kantor dan memberi tahukan untuk segera mengantarkan aku dan Joseph pergi ke stasiun.


Setelah semua beres, kami berdua pun segera turun ke lantai dasar kantor. Sambil menunggu lift berhenti di lantai ruangan kami, aku dan Joseph terlibat beberapa obrolan ringan yang membuat kami berdua tertawa sambil menutup mulut agar tidak mengganggu konsentrasi karyawan yang lain.


Tinggg..


Pintu lift pun terbuka dan tidak ada siapapun di dalam sana. Aku dan Joseph pun masuk ke dalam lift, ku tekan tombol yang menuju ke lantai dasar.


"Duh, kok jadi agak merinding ya darl?" Tanya Joseph tiba-tiba mengagetkanku yang sedang melamun menatap pantulan wajahku di cermin dalam lift.


"Merinding?" Tanyaku kembali.


"Iya nih, liat deh bulu-bulu tanganku tiba-tiba berdiri semua." Kata Joseph bergidik ngeri sambil menunjukkan tangannya kepadaku.


"Ih iya, kok bisa ya?"


"Ga tau nih aneh, suasananya juga tiba-tiba jadi ga enak begini di dalam sini, duh kok tumben lift ini jadi terasa horor ya?"


Aku tidak membalas ucapan Joseph. Aku merasakan seperti ada kehadiran seseorang di dalam lift ini selain aku dan Joseph. Tapi bagaimana bisa? Sementara saat masuk tadi saja aku tidak melihat siapapun di dalam lift ini. Saat pintu lift terbuka pun isinya dalam keadaan kosong.


Ujung mata ku menangkap satu sosok yang berada di pojokan lift. Dengan sedikit gemetar, ku beranikan diri mengangkat kepala dan melihat ke arah cermin untuk mengetahui siapa yang ada di belakang ku saat ini.


Deggggggg..


Ternyata dia! Wanita yang beberapa waktu belakangan ini mengganggu ketenanganku dengan segala macam terornya. Dia sedang menatapku dengan senyumannya yang sungguh sangat menyeramkan dan mukanya yang juga sangat mengerikan.


Perlahan-lahan dia maju ke arahku dan sekarang berada tepat di belakang tubuhku.

__ADS_1


Bulu kudukku berdiri, seluruh badanku bergetar hebat dan dahiku mengeluarkan keringat dingin, tak ku dengarkan segala ocehan yang berasal dari mulut Joseph.


Ya Allah bantu hambamu ini Ya Allah.


__ADS_2