
Bagas mendengarkan cerita Hanif sambil sesekali mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Gue akhirnya masuk ke dalam rumah, tapi gue berhenti dulu di dapur buat ambil minum. Nah, ini yang bagian epic nya, Si Mbok tiba-tiba dateng dari arah dalem rumah dong dan dia manggil gue, nyuruh supaya gue ke depan rumah buat kumpul sama yang lainnya. Gila gak tuh? Padahal baru aja Mbok itu nyamperin gue ke gudang dan dan dia yang bilang mau nutup pintu gudangnya! Gue bener-bener syok, langsung nengok ke arah gudang dan pintunya emang udah ke kunci lagi. Gue sampai nanyain makanan kesukaan gue buat mastiin kalau yang di depan gue Si Mbok yang asli.”
Hanif akhirnya menyelesaikan ceritanya yang lumayan panjang itu dan Bagas memberikan sebuah pernyataan singkat yang cukup membuat Hanif terkejut.
“Yang duduk di ayunan tadi, itu makhluk halus yang menyerupai Si Mbok di gudang.”
“Hah? Serius lo?”
“Iya, dia baik tau mau ngelindungin lo, makanya tiba-tiba muncul dan nyamar jadi Si Mbok. Coba kalau dia dateng make wujudnya yang asli, bisa pingsan lo.”
“Ngelindungin gue dari apa?”
“Dari hantu perempuan yang lo denger tangisannya tadi. Hantu itu penuh dengan dendam, gue bisa ngerasain itu. Dia dateng dari luar karena suatu sebab, seperti ada celah kembali yang bisa bikin dia leluasa masuk ke dalam rumah ini. Sementara hantu perempuan yang satunya lagi, yang gue bilang mau ngelindungin lo, dia emang menetap di sini. Lebih tepatnya di halaman tengah ini. Bisa dibilang, dia salah satu yang menjaga rumah ini dari gangguan-gangguan negatif yang berasal dari luar rumah.”
“kalau dia emang bener yang jaga rumah ini, kenapa hantu yang hobi nya nangis itu bisa masuk ke area rumah ini?”
“Kan tadi gue bilang, ada celah yang bikin dia bisa masuk lagi kerumah ini. Tapi gue gak tau itu apa, nanti coba gue cari tau.”
“Tunggu-tunggu, lo bilang ‘masuk lagi’? berarti dulu pernah gitu berhasil masuk ke dalam sini dan buat kekacauan?”
“Pernah.”
“Kok lo tau? Gue aja gak pernah tau.”
“Nih, barusan gue di kasih tau sama hantu ayunan tadi. Dia bilang, dulu si hantu itu pernah nebar teror di rumah sini dan hampir mencelakakan nenek lo, sampai akhirnya kakek lo datang ke orang pintar dan minta di pasangin pagar gaib di rumah ini. Nah salah satu penjaga gaib nya si hantu ayunan itu.”
“Terus katanya kejadian itu kapan?”
__ADS_1
“Waktu awal-awal kakek nenek lo menikah.”
“Pantesan gue gak tau. Ngomong-ngomong hantu ayunan nya sekarang ada di mana?”
“Tuh di belakang lo, lagi liatin lo aja. Kenapa? Mau kenalan?”
“Rese lo! Ogah gue! Suruh dia jauh-jauh lah dari sini!”
“Hahaha, sukurin loh entar malem di datengin dia ke kamar lo, terus dia nemenin lo tidur.”
“Gue kan tidur sama lo malam ini, jadi aman.” Jawab Hanif sambil menaik-naikkan alisnya.
“Najis lo kayak homo aja!”
“Hahahahaha.”
**********************
Ah, akhirnya selesai juga tugas ku di Bandung. Dan sekarang aku sudah merasakan kembali empuknya kasurku di rumah.
Sudah sampai rumah, yang?
Kulihat chat dari Andre di handphone kesayanganku. Aku memang lupa mengabari dia bahwa aku sudah sampai di rumah dengan selamat.
Sudah, baru banget sampai. Ini lagi rebahan dulu. Maaf ya baru ngabarin.
Aku menaruh handphone kembali dan mulai memejamkan mata untuk mengistirahatkannya sejenak. Namun, tak kusangka aku malah tertidur lelap di atas kasurku tanpa membersihkan seluruh tubuhku terlebih dahulu.
Aku pun sedikit terkejut dan langsung memeriksa handphoneku, melihat pukul berapa saat ini karena suasana di luar jendela sudah terlihat menjelang surup atau menjelang adzan magrib.
__ADS_1
Ku lihat juga ada beberapa pesan dan panggilan telepon masuk di handphoneku yang tidak sempat aku balas ataupun aku angkat. Aku memilih untuk mengabaikan itu semua dan memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur lalu menuju meja makan di rumah untuk mengecek makanan apa yang tersisa yang bisa aku makan untuk mengisi perutku yang sudah sangat lapar ini.
Aku membuka pintu kamarku, dan merasakan ada yang aneh dengan suasana di dalam rumah.
Loh, yang lain pada kemana? Sepi dan gelap banget ini rumah.
Aku bertanya kepada diriku sendiri karena melihat keadaan rumah yang seperti tidak ada penghuninya.
“Ma? Mama?” Teriakku mencoba memanggil mama, namun, tidak terdengar jawaban panggilan dari mama. Aku terus menuju ke arah ruang makan yang berada di lantai bawah sambil menghidupkan beberapa lampu dan menutup jendela yang ada di lantai atas, termasuk di dalam kamarku.
Rumah sedikit lebih terang karena cahaya lampu yang berasal dari lantai atas. Dengan berjalan perlahan sambi memegang teralis tangga, aku menuruni tangga rumah yang langsung berdampingan dengan ruang makan yang ku tuju.
Di dalam cahaya yang sedikit menyinari ruangan ini, aku melihat ada sesorang yang berada di dalam dapur rumahku seperti sedang melakukan sesuatu, yang kutebak itu adalah mama yang sedang mulai memasak untuk makan malam kami sekeluarga nanti.
“Di cariin ternyata mama di sini toh. Masak kok gelap-gelapan gini sih mah? Mana kelihatan coba?” Tanyaku sambil menghidupkan lampu ruang dapur dan ruang makan yang letak saklarnya tidak jauh dari tempaku berdiri saat ini.
Ceklek . . .
Ruangan seketika menjadi terang, namun, ada yang sangat aneh sekali. Begitu aku melihat ke arah dapur, tak kulihat sosok mamaku kembali.
Loh, kok hilang? Mama kemana ini lagi masak masa di tinggal-tinggal? Bahaya ah!
Aku bermonolog kembali sembari mengedarkan pandangan mataku ke seluruh bagian rumah untuk mencari keberadaan mama yang tiba-tiba menghilang. Sambil berjalan pelan, kuarahkan langkah kaki kecilku ini ke arah dapur bermaksud untuk meneruskan masakan mama tadi.
Saat aku sudah berada di depan pintu dapur, lagi-lagi aku di buat terkejut karena ternyata kondisi di dalam dapur bersih tanpa ada sedikitpun bahan-bahan dan alat masak di atas meja masaknya.
“Loh, kok bersih?” Tanyaku kepada diri sendiri dengan sedikit berteriak. Tiba-tiba aku merasakan ada perasaan tidak enak di dalam hati. Aku kembali teringat saat pulang kerja tadi, yang membukakan aku pintu adalah mama. Tapi, tumben-tumbennya mama melihat kedatanganku dengan sikap yang datar dan tidak menanyakan apapun ke aku.
Biasanya, mama adalah orang yang paling antusias dengan segala kegiatanku karena memang aku satu-satunya anak perempuan yang mama dan papa miliki, sehingga aku menjadi anak kesayangan mereka berdua.
__ADS_1
Tapi tadi sejak kepulanganku ke rumah dari tugas ke luar kota, sikap mama terlihat sangat aneh. Begitu mama membukakan aku pintu masuk, dengan reflek aku mencium tangan mama, tercium bau yang sedikit aneh dari aroma tubuhnya, dan juga kulit tangannya terasa sangat dingin seperti habis memegang es batu.