
Author POV
"Aaahhhhhhhhhh!" Terdengar teriakan histeris dari mulut Nenek Kemala. Secara kebetulan juga Hanif dan Kakek Dedi masuk ke dalam ruang perawatan dengan terburu-buru setelah mendengar teriakan dari Nenek Kemala barusan.
"Nek, kenapa nek?" Tanya Hanif sambil memeluk sang nenek yang terlihat sangat ketakutan. Hanif juga mengusap air mata yang terus keluar dari kedua mata neneknya.
"A-a-da setan ta-tadi di sana," kata Nenek Kemala ketakutan sambil menunjuk ke arah posisi hantu wanita itu berada.
Kakek Dedi dan Hanif terdiam saling memandang seolah-olah saling bertanya ada apa dengan Nenek Kemala?
"Tidak ada siapa-siapa di sini, Mala." Kata Kakek Dedi mencoba menenangkan Nenek Kemala.
"Ada tadi di situ, mas. Mukanya serem banget, aku takut, tadi keluar dari kamar mandi."
Mendengar itu, Hanif melepaskan pelukan ke neneknya dan langsung berjalan menuju kamar mandi di dalam ruang perawatan ini.
Hanif membuka pintu kamar mandi dan melihat ke dalam namun tidak mendapati apapun di sana.
Hanif menggeleng kan kepalanya ke arah Kakek Dedi, kakek memahami maksud gelengan kepala Hanif.
"Sudah tidak usah di pikirkan lagi, sekarang ada saya dan Hanif, kamu tenang saja," kata Kakek Dedi yang seperti biasa bersikap formal saat bersama Nenek Kemala.
"Mas, mau kemana?" Tanya Nenek Kemala yang tiba-tiba memegang tangan suaminya saat mengetahui kalau suaminya itu ingin beranjak keluar dari ruang perawatannya.
"Tidak kemana-mana, hanya menemui dokter sebentar. Hanif, nitip nenek ya."
"Iya kek."
Tidak lama setelah Nenek Kemala sudah mulai tenang kembali, Hanif beranjak dari ruang perawatan untuk menemui kakeknya di luar ruangan.
"Kek." Hanif memanggil kakeknya yang sedang serius menatap taman kecil yang ada di hadapannya.
Kakek Dedi menolehkan wajahnya dan tersenyum melihat Hanif.
"Sini-sini," kata Kakek mempersilahkan Hanif untuk duduk di kursi sampingnya.
"Ada apa?" tanya Kakek Dedi kembali.
"Kakek udah ketemu dokter?"
"Belum, tadi alesan kakek aja biar bisa ke luar ruangan. Sebentar lagi kakek baru mau nemuin dokternya."
"Hmm."
Hanif terdiam sesaat, menimbang-nimbang ingin menceritakan peristiwa sebelum dia sampai dirumah sakit ini atau tidak. Akhirnya dia pun memutuskan untuk menceritakan nya.
"Tadi Hanif ngalamin peristiwa aneh di jalan."
__ADS_1
"Peristiwa apa?"
Hanif menceritakan awal mula peristiwa itu terjadi sampai akhirnya dia terjebak di dalam wilayah hutan misterius.
"Tiba-tiba aja Hanif terjebak di pinggir jalan arah mau ke hutan yang Hanif sendiri ga tau nama wilayah itu apa. Perasaan gak pernah lewatin tempat itu sebelum nya."
"Ga jauh dari mobil Hanif, ada sesosok wanita misterius, penampilannya nyeremin. Dia liatin Hanif dari balik pohon."
"Gak lama dari situ juga tiba-tiba ada kabut tebal banget, jadi Hanif ga bisa lihatin lagi suasana sekitar. Tapi tiba-tiba ada kakek-kakek berdiri di samping mobil Hanif dan mengetuk kaca mobil Hanif, bilang minta tumpangan buat pulang dia."
"Terus kamu kasih tumpangan?"
"Iya kek, sebelumnya Hanif telepon temen yang paham masalah begini, katanya suruh ikutin aja perintah dari kakek itu, jadi Hanif kasih tumpangan ke dia, sekalian jadi temen Hanif cari jalan keluar."
Kakek Dedi terdiam sesaat, lalu berkata, "Terus akhirnya gimana?"
"Pas kakek-kakek itu masuk ke dalam mobil, agak merinding sih sebenarnya, tatapan matanya itu lurus aja ke depan. Terus yang bikin serem, sosok wanita yang lihatin Hanif dari balik pohon itu keluar dan tatapan matanya kayak yang marah banget sama kakek-kakek ini. Tapi pas si kakek arahin mukanya ke wanita itu, tiba-tiba aja wanita itu menghilang."
"Terus?"
"Si kakek nyuruh Hanif jalanin mobilnya, lurus aja ke depan ga belok-belok. Sebenarnya ngeri karena jalanan ga kelihatan sama sekali, anehnya lampu khusus kabut di mobil juga mati, tapi kakek-kakek itu tetep nyuruh buat jalan terus."
"Hampir sepuluh menit Hanif nyetir dan itu arahnya terus lurus aja, tiba-tiba kakek itu bilang berhenti dan ngucapin terima kasih sama Hanif karena katanya dia udah sampai di tujuan. Loh Hanif bingung, keadaan sekitar masih ketutup kabut tapi si kakek kok tau kalau dia udah sampai di tempat yang dia mau."
"Baru Hanif mau nanya dari mana si kakek tau kalau dia udah sampai tujuan, tiba-tiba aja kabutnya hilang gitu aja dan anehnya, Hanif juga tiba-tiba ada di tempat awal Hanif berhenti yang sebenarnya, di pinggir jalan raya besar."
"Tapi, pas Hanif nengok, kakek itu udah gak ada. Hanif lihat ke arah belakang mobil juga ga ada, dan ga mungkin juga dia keluar dari mobil, pasti kalau dia keluar kedengaran suara buka dan tutup pintunya."
Hanif mengakhiri kisahnya yang mengalami kejadian aneh saat di jalan tadi. Kakek Dedi mendengarkannya dengan sesekali bertanya dan mengangguk-anggukkan kepala.
Akhirnya setelah terdiam sesaat, Kakek Dedi pun berkata, "Itu sepertinya khodam punya temenmu yang bantuin kamu."
"Khodam? Apaan lagi tuh kek maksudnya?" tanya Hanif tidak mengerti.
"Susah di jelasinnya tapi gampangnya begini, temanmu punya penjaga atau pendamping, entah itu di taruhnya di cincin atau pusaka lainnya, nah khodam itu di tempatkan di dalam benda tersebut dan sewaktu-waktu bisa di keluarkan untuk di mintai pertolongan."
"Pendamping? Jin atau setan gitu maksudnya?"
"Kurang lebih begitu."
"Kakek kok kayaknya paham banget sama masalah begitu?" Tanya Hanif penasaran.
Dengan tersenyum kakek berkata, "Temenmu yang orang kota dan anak kemarin sore aja bisa mengerti masalah hal gaib begini, apalagi kakek yang hidup dari jaman dulu dan tinggal di kampung, pasti sedikit-sedikit mengerti masalah begini meskipun tidak se ahli temanmu itu."
***********
Flashback.
__ADS_1
"Imas, kesini!" Terlihat Kemala muda yang
memanggil Imas dari balik pohoh rambutan tidak jauh dari rumah Asih.
Imas segera menghampiri Kemala, dan bertanya, "Kenapa?"
"Kamu dari rumah Asih? Ngapain?" Tanya Kemala.
"Bukan urusanmu."
"Kamu!" Kemala merasa tersinggung dengan jawaban yang Imas berikan karena selama ini tidak ada satu orang pun yang berani bertindak tidak sopan dengannya karena statusnya sebagai putri dari Juragan Slamet.
"Loh kenapa? Ada masalah sama saya?" Tanya Imas dengan gayanya yang sombong.
"Jangan kurang ajar ya kamu, kamu tau kan siapa saya. Saya Kemala putri dari Juragan Slamet."
"Terus kenapa kalau kamu putri dari Juragan Slamet? Ada urusannya sama saya?"
"Si.."
"Kalian berdua ngapain ngobrol di tengah jalan begini?" Terdengar suara seorang laki-laki yang ternyata itu adalah Dedi.
"Eh, Mas Dedi." Jawab Imas sambil tersenyum.
Kemala hanya melihat sekilas ke arah Dedi tanpa menyapanya.
"Kalian kenapa? Kok tadi aku lihat kayak lagi ada yang di ributin?" Tanya Dedi kembali.
"Gak tau ini Kemala, tadi manggil-manggil saya tapi habis itu langsung marah-marah sendiri." Jawab Imas sambil menatap sinis Kemala.
"Jangan asal ngomong aja ya kamu. Tadi saya kan nanya kamu baik-baik tapi kamu jawabannya gak enakin gitu." Balas Kemala sengit.
"Sudah-sudah jangan berantem di sini, gak enak kalau di lihat orang-orang."
"Loh, kalian bertiga ngapain di sini?" Tiba-tiba Asih datang ke arah mereka tanpa mereka bertiga ketahui.
"Loh, Asih. Kamu mau kemana?" Tanya Dedi yang terkejut melihat kedatangan Asih secara tiba-tiba.
"Mau ke warung sebentar. Ini ada apa ya?"
"Bukan urusanmu!" Jawab Kemala ketus.
Asih dan Dedi terkejut mendengar jawaban itu, mereka berdua bingung kenapa Kemala seperti tidak menyukai tindakan Asih yang menghampiri mereka bertiga saat ini.
"Sudah-sudah, sekarang kembali ke urusan masing-masing, jangan berhenti di tengah jalan seperti ini, tidak enak." Kata Dedi memberi saran dan mencoba untuk mencairkan suasana.
Imas dan Kemala segera pergi meninggalkan Asih dan Dedi tanpa berpamitan dengan keduanya. Asih dan Dedi hanya bisa mengelus dada melihat tingkah Kemala dan Imas yang terlihat sangat kekanak-kanakan seperti ini.
__ADS_1