Kenangan Rindu

Kenangan Rindu
Apa maksudnya?


__ADS_3

Tring… tring…


Terdengar bunyi pesan masuk dari handphone yang sedang Hanif pegang. Dia segera membuka pesan tersebut dan ternyata itu berasal dari Bagas, teman yang disebutnya sebagai titisan indigo.


Bagas: Weiiii, diem-diem aja gak ada kabar, bro!


Hanif tersenyum membaca pesan itu, dan dia pun membalas.


Hanif: Weiiii, bro! Di rumah aja ini, masih belum tenang ninggalin nenek gue.


Ddrttt… ddrttt… ddrttt…


Getaran handphone milik Hanif menandakan bahwa ada seseorang yang sedang menghubunginya saat ini. Hanif segera mengambil handphone dan menatap layar nya sekilas, terlihat nama "Bagas" sebagai penanda manusia yang sedang melakukan panggilan dengan nya.


"Hallo, Gas?" Sapa Hanif begitu menangkat teleponnya.


Assalamualaikum, Nif. Gimana masih di kampung?


"Masih ini, belum tau kapan balik ke tempat lo lagi. Di rumah masih rame sama nyokap bokap gue, terus nyokap bokapnya Sarah juga ada. Nenek gue masih syok, belum mau ditinggal sendirian."


Kalau gue dateng ke rumah lo di sana, gimana? Mau main sekalian ada yang mau gue obrolin.


"Boleh, dateng aja. Gue tunggu ya."


Siappp.


Panggilan telepon pun terputus. Hanif lalu kembali masuk ke dalam rumah karena sedari tadi dia sedang duduk di bangku taman halaman belakang rumah kakeknya sembari merokok.


Hanif pergi ke arah dapur untuk mengambil minum terlebih dahulu. Saat sedang menuangkan minum ke gelas, tiba-tiba dia mendengar selintas suara wanita sedang menangis pilu. Hanif menajamkan pendengarannya, dia masih mendengar suara tangisan itu.


Aneh memang, di saat hari masih menampakan cahaya matahari dan juga ketika rumah dalam keadaan yang ramai, Hanif malah mendengar suara misterius yang entah berasal dari mana.


Akhirnya, dia memutuskan untuk mengikuti arah suara itu berasal. Dari dapur, dia mengarahkan kakinya kembali ke halaman belakang rumah kakeknya, tepatnya ke bangunan kecil yang di gunakan sebagai gudang penyimpanan barang-barang yang sudah tidak terpakai.


Hanif sudah berhenti tepat di depan pintu gudang itu, dia menempelkan telinganya ke pintu kayu gudang yang sudah mulai sedikit lapuk karena termakan usia.


Huhuhu hikss…


Suara tangisan itu semakin terdengar jelas di telinga Hanif, dan dia pun bertambah yakin bahwa suara itu berasal dari dalam gudang ini.

__ADS_1


Hanif mulai menggerakkan gagang pintu dan ternyata pintu itu tidak terkunci sama sekali.


Suasana di dalam gudang penuh debu dan sedikit gelap. Walaupun hari masih siang menjelang sore dan sinar matahari sedang bersinar terang di atas sana, tidak cukup membuat sinar itu masuk menembus ke dalam ruangan gudang karena jendela satu-satunya yang berada di gudang tersebut, setengahnya telah ditutupi oleh papan kayu.


Beberapa barang-barang besar yang berada di dalam sana di tutupi oleh kain-kain putih yang sudah mulai pudar warnanya, semakin menambah kesan seram suasan gudang di siang hari itu.


Hanif menajamkan penglihatan nya, dari pintu gudang dia mengamati satu persatu benda-benda yang berada di dalam sana sekaligus mencari siapa wanita yang sedang menangis saat ini.


Akhirnya dia menemukan sosok tersebut, seorang wanita yang sedang berdiri di antara jam kuno besar dan beberapa pajangan tua lainnya. Wanita itu menangis sambil menundukkan kepalanya, sehingga seluruh wajahnya tertutupi oleh rambutnya yang panjang acak-acakan. Tidak terlihat jelas warna atau gambar apa yang ada di baju wanita itu, yang jelas dia memakai pakaian gaun selutut yang juga mempunya model kuno seperti berasal dari jaman dahulu.


Hanif diam terpaku melihat nya, dia tidak bisa menggerakkan badannya sama sekali seolah-olah diharuskan untuk selalu menatap wanita itu.


Hiks… hiks…


"Tolong aku," terdengar suara lirih dari wanita itu yang meminta tolong kepada Hanif.


"Si siapa kamu?" Akhirnya Hanif bisa mengeluarkan suaranya walaupun dengan terbata-bata, namun dia tetap tidak bisa menggerakkan anggota badannya.


"Aku adalah wanita yang sudah di sakiti oleh Kemala," jawab sosok itu dengan sendu.


"Aku di tarik, di pukuli. Sakit sekali."


Hanif masih diam terpaku, mendengar apa yang sosok itu bicarakan. Namun, kembali dia tidak bisa mengeluarkan suaranya lagi.


Hingga tanpa disadarinya, tiba-tiba saja dia merasakan tepukan kencang di bahu kanannya yang sekaligus menyadarkan dia kembali dari keadaan yang tidak normal tadi.


"Mas Hanif, kenapa di sini?" ternyata itu adalah Si Mbok yang datang menghampirinya.


"Hah?" Hanif bingung tidak tau ingin memberikan jawaban apa karena dirinya sendiri baru tersadar dari lamunannya.


"Ini, Mas Hanif kok bisa ada di depan sini? Pintunya kok juga bisa terbuka? Kunci pintu ini kan yang megang kakek."


"Loh, bukannya emang gak pernah ditutup ya pintu ini?"


"Gak, mas. Pintu gudang ini selalu di tutup sama kakeknya Mas Hanif, soalnya isinya barang-barang antik peninggalan orang tuanya Tuan Dedi dulu, jadi takut ada yang hilang kalau pintunya gak di kunci."


Aku terkejut mendengar penjelasan Si Mbok, dan hanya bisa memberikan respon menganggukkan kepala saja.


"Yasudah, Mas Hanif sekarang masuk ke dalam saja, ini biar Mbok yang nutupin."

__ADS_1


"I iya, Mbok. Makasih ya."


Hanif lalu masuk kembali ke dalam rumah dan tidak mau menengok-nengok ke arah gudang itu lagi. Sampai di dapur, dia segera meminum air dingin dari botolnya langsung untuk menetralkan degup jantungnya.


Hingga tiba-tiba saja ada suara yang memanggil namanya.


"Loh, Mas Hanif di sini toh ternyata. Di cariin dari tadi sama mamanya Mas Hanif," kata suara tersebut yang ternyata sangat mengejutkan Hanif ketika melihatnya.


"Loh, Mbok?" Tanya Hanif sambil menunjukkan telunjuk tangannya yang gemetar ke arah wanita paruh baya itu.


"Iya, kenapa, mas?"


"Mbok bu bukannya da dari gudang belakang?" Tanya Hanif dengan tergagap.


"Mbok dari tadi di depan kok, mas. Ikutan ngerujak sama yang lain di sana. Mas Hanif dari tadi di cariin kok gak keliatan, eh ternyata malah di sini." Jawab Si Mbok menjelaskan.


Hanif benar-benar merasakan tubuhnya kembali lemas seketika. Dia mengarahkan pandangannya ke arah pintu gudang itu, dan benar saja pintu itu telah tertutup rapat.


Lalu, siapa yang tadi mengajaknya berbicara di depan pintu gudang itu? Belum lagi dengan penampakan wanita yang berada di dalam gudang dengan keadaan sedang menangis dan menyebut-nyebut nama neneknya.


Hanif sangat bingung, dan sekali lagi tidak bida menggerakkan badannya sama sekali karena merasa lemas, bahkan untuk berdiri saja di rasakan nya sudah tidak mampu.


"Mas Hanif kenapa? Kok tiba-tiba pucat?" Tanya Si Mbok khawatir.


"Gak papa, Mbok. Tolong ambilin kursi itu aja mbok." Jawab Hanif pelan.


Si Mbok langsung mengambilkan kursi yang di maksud Hanif dan memberikannya.


"Nih, Mas."


Hanif lalu menduduki kursi itu dengan matanya yang menatap ke arah Si Mbok.


"Mbok, makanan kesukaan Hanif apa?"


"Sambal terong sama ayam kaldu rebus. Mas Hanif ada-ada aja deh nanyanya," jawab Si Mbok dengan tertawa.


"Alhamdulillah, ini beneran Mbok."


"Kenapa sih emangnya, Mas?"

__ADS_1


"Saya ceritain tapi jangan bilang siapa-siapa dulu ya, Mbok."


__ADS_2