Kenangan Rindu

Kenangan Rindu
Flashback #4


__ADS_3

"Sih, mata kamu bengkak banget. Kamu habis nangis ya semalam?" Tanya Dedi masih sambil memperhatikan Asih.


Degggg…


Jantung Asih tiba-tiba berdetak cepat mendengar pertanyaan mendadak dari Dedi.


Mas Dedi ga boleh sampai tau masalah semalam di sini..


"Bengkak? Ah mungkin kurang tidur aja semalem, mas," jawab Asih memberi alasan.


"Loh kenapa tidurnya malam? Ada yang di pikirin?" Tanya Dedi kembali.


"Gak ada apa-apa, mas. Percaya deh. Oh ya, Mas Dedi tumben pagi-pagi udah ke sini, ada apa?"


"Oh iya Mas lupa. Mas mau ngabarin kalau mulai hari ini Mas udah mulai kerja sama Juragan Slamet."


Seketika Dedi melupakan rasa penasaran nya terhadap Asih, dan langsung bersemangat memberitahukan bahwa dirinya sudah mempunyai pekerjaan baru yang bisa membuat kehidupan keluarganya menjadi lebih terjamin.


"Oh ya? Wah selamat! Akhirnya Mas Dedi bisa dapat pekerjaan yang lebih mapan. Asih doain semoga kerjaan Mas Dedi di sana selalu diberi kelancaran," jawab Asih antusias.


"Terima kasih, Sih. Yasudah, mas berangkat sekarang ya, takut kesiangan."


"Iya, mas. Hati-hati ya di jalan."


Dedi kembali mengayuh sepeda tuanya menuju sawah tempat dia melaksanakan tugasnya. Sepanjang jalan dia menyapa satu persatu warga desa yang kebetulan bertemu dengannya.


"Assalamualaikum Mbah Gito."


"Walaikumsallam, eh, Di. Mau kemana?"


"Berangkat kerja, Mbah. Duluan ya Mbah."


"Iya Di, hati-hati."


Dedi melanjutkan kembali perjalanannya menuju sawah. Singkat cerita, dia sudah sampai di sawah tersebut. Terlihat beberapa pekerja lepas sudah mulai mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing yaitu menanam bibit padi di sana.


"Assalamualaikum, Pak," sapa Dedi kepada salah satu pekerja di sana yang belum dia kenal sebelumnya.


"Walaikumsallam. Siapa ya?" Tanya bapak tersebut.


Baru saja Dedi ingin menjawab pertanyaan nya, namun tiba-tiba sudah terdengar suara laki-laki yang memanggil namanya.


"Dedi!" Ternyata Juragan Slamet lah yang sedang memanggilnya.


Dedi menolehkan wajahnya ke arah Sang Juragan dan langsung menghampirinya.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Juragan. Selamat pagi," sapa Dedi.


"Walaikumsallam. Gimana, sudah siap kerja hari ini? Kalau sudah siap akan langsung saya kenalin dengan buruh-buruh yang bekerja di sini."


"Insya Allah siap, Juragan."


"Yasudah, ayok ikut saya!" Juragan Slamet mengajak Dedi menemui satu persatu para pekerja lepas di sana, dimulai dari bapak yang tadi sempat menanyakan siapa diri Dedi sebelumnya.


"Pagi Pak Joko."


"Pagi, Juragan," sapa Pak Joko sambil membungkuk hormat kepada Juragan Slamet.


"Pak, saya mau kenalin mandor baru yang waktu itu saya bilang ke bapak dan buruh lainnya. Ini orangnya, namanya Dedi. Dedi, kenalin ini Pak Joko, selama ini Pak Joko yang jadi kepala buruh di sini sekaligus mandor sementara."


"Pak, kenalin saya Dedi. Mandor baru di sini, mohon kerjasamanya," kata Dedi memperkenalkan dirinya.


"Oalah, akhirnya ada lagi mandor di sini. Selamat datang Nak Dedi, semoga betah bekerja di sini," jawab Pak Joko.


"Kedepannya, kamu akan di bantu oleh Pak Joko dalam mengawasi buruh di sini. Karena sawahnya lumayan luas, jadi tidak mungkin kalau hanya satu orang saja yang mengawasi pekerja nya satu persatu," kata Juragan Slamet menjelaskan.


"Baik Juragan."


********


Sementara itu, masih di desa yang sama namun di salah satu rumah penduduknya, terlihat seorang wanita muda berparas cantik yang sedang duduk merenung di depan kaca meja riasnya.


masalah perjodohan yang akan dia hadapi dalam waktu dekat ini.


"Asih, nak. Kamu ngapain di dalam kamar terus? Ayok keluar, sebentar lagi Bagus dan keluarganya sudah mau sampai di sini," ajak sang ibu kepada anak gadisnya yang sejak tadi berdiam diri di dalam kamarnya.


Ya, wanita muda itu adalah Asih kekasih dari Dedi. Hati dan pikiran Asih saat ini sedang berkecamuk. Di satu sisi dia sangat mencintai Dedi dan tidak mau berpisah dari diri Dedi sampai kapanpun, namun di sisi lain dia tidak kuasa menolak perintah ayahnya yang mengharapkan dia untuk segera menikah dengan anak dari salah satu kawan lamanya.


"Sih? Asih?" Panggil sang ibu kembali.


Cekrek…


Asih keluar dari pintu kamarnya untuk menemui ibunya.


"Sih, kamu gak apa-apa, nak?" Tanya ibu nya cemas.


Penampilan Asih yang tidak seperti biasanya membuat ibunya merasa sangat khawatir. Bibir pucat, mata bengkak seperti habis menangis semalaman, serta pergerakan badannya yang terlihat sama lemas membuat ibu nya berpikir bahwa anaknya itu sedang sakit.


"Gak apa-apa bu, baru bangun tidur aja ini," jawab Asih dengan lembut.


"Yasudah kalau memang baik-baik saja. Sekarang kamu siap-siap dulu, sebentar lagi Bagus dan keluarganya sudah mau sampai," kata ibu mengingatkan kembali.

__ADS_1


"Iya bu."


*********


Kediaman Rumah Juragan Slamet.


"Bibiiiiiiiiiii.."


Terdengar teriakan dari mulut Kemala muda yang terlihat kebingungan mencari sesuatu di dalam rumah tersebut.


Asiten rumah tangga yang biasa di panggil Bibi Iroh datang dengan terburu-buru karena mendengar teriakan dari nona muda nya itu.


"I-iya, non. Ada yang bisa bibi bantu?" Tanya Bibi Iroh dengan nafasnya yang tidak beraturan.


"Lihat selendang kuning punya saya gak bi? Biasanya saya taruh di gantungan dalam lemari pakaian saya, tapi sekarang tidak ada," tanya Kemala dengan gusar.


"Selendang kuning? bibi gak pernah lihat non. Bibi juga gak pernah buka-buka lemari Non Kemala sebelumnya," jawab Bi Iroh sambil menundukkan kepalanya karena takut.


"Yasudah, balik lagi sana ke belakang," usir Kemala sambil mengibaskan tangannya ke arah Bibi Iroh.


Bibi Iroh segera beranjak dari hadapan Kemala dan bergegas menuju ke dapur.


"Bi Iroh, kenapa nafasnya ngos-ngosan gitu?" Tanya salah satu pekerja lainnya di rumah Juragan Slamet yang bernama Ujang.


"Biasa, Jang. Non Kemala teriak-teriak manggilin bibi, terus tanyain selendangnya warna kuning yang biasanya selalu di simpan di dalam lemari pakaian nya Non Kemala."


"Selendangnya emang kenapa?"


"Hilang, padahal ada di dalam lemari pakaiannya terus."


"Ah, paling si non lupa naruh aja kali. Siapa tau keselip di barang-barangnya yang lain."


"Bisa jadi, Jang. Tau sendiri kalau Non Kemala itu apa-apa udah harus tersedia, dia tinggal mau make aja tapi habis di pake barangnya di lempar-lempar gitu aja, jadi hilang-hilangan kan," kata bibi sambil menggerutu.


"Iya, bi. Non Kemala kenapa bisa beda banget ya sama Almarhumah ibunya. Almarhumah Ibu Sri ramah banget, gak semena-mena sama semua bawahannya yang ada di rumah sini, baik banget pokoknya. Kalau Non Kemala ngikutin siapa ya?" Tanya Ujang sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Hayo ngomongin siapa?"


Bi Iroh dan Ujang seketika menjadi panik dan tegang karena tiba-tiba mendengar suara seseorang yang menegur mereka berdua. Mereka pun langsung menolehkan wajah masing-masing ke arah pintu dapur, tempat orang tersebut berdiri menghadap mereka berdua.


Ternyata yang menegur mereka adalah Agus, si tangan kanannya Juragan Slamet, yang artinya di percaya juga oleh Juragan Slamet sebagai pengawas bagi para pekerja di rumah tersebut.


"Mas Agus," sapa Ujang dengan tubuh sedikit bergetar karena takut jika Agus mendengar obrolan antara dirinya dengan Bi Iroh.


"Ngobrolin apa kalian berdua lagi di jam kerja begini?" Tanya Agus kembali tidak menghiraukan sapaan dari Ujang.

__ADS_1


"A-anu, mas."


"Anu-anu, anu apaan?" Tanya Agus sambil sedikit membentak mereka berdua.


__ADS_2