
Kemala terlihat begitu mengenaskan. Duduk di lantai kamar dengan pandangan mata yang kosong. “Bu,” sekali lagi Anita memanggil nama Kemala, bermaksud untuk menanyakan keadaannya, namun tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Kemala.
Dedi pun akhirnya menghampiri Kemala, berjalan dengan perlahan-lahan karena takut terkena pecahan kaca dari meja rias. Dedi kini berjongkok di hadapan Kemala dan bertanya, “kamu kenapa lagi?”
memang terkesan kasar saat seorang suami menanyakan keadaan istrinya seperti itu, tapi memang begitulah sikap Dedi sehari-hari kepada kemala, tidak pernah basa basi dan langsung kepada intinya.
mendengar suara Dedi, secara perlahan kemala mulai menunjukkan reaksinya. Kemala menatap wajah suaminya terlebih dahulu, dan tak lama kemudian tiba-tiba saja dia menangis sendu sambil mengangkat jari telunjuknya ke arah meja rias.
“tadi Asih ada di situ, mas.”
“Asih? siapa Asih?” terdengar gumaman pertanyaan dari mulut anak-anak dan para menantu Dedi dan Kemala. dedi memilih mengabaikan pertanyaan tersebut. “pak, ayok angkat ibu ke kasur dulu,” kata Anita.
Dedi dan Anita akhirnya membantu Kemala berdiri dari duduknya, lalu menuntunnya agar kembali ke tempat tidur. Sementara yang lain hanya terdiam, menonton pergerakkan dari ketiga orang tersebut.
“Mas, Asih tadi dateng katanya mau membunuhku. Aku takut, Mas,” Kemala kembali menangis dengan tersedu-sedu di hadapan Dedi, bermaksud ingin meminta perhatian yang lebih dari suaminya itu. Namun, tanpa dia sadari bahwasannya sikapnya itu yang selalu mengungkit Asih-memberitahukan bahwa kedatangan Asih untuk membunuhnya-, membuat kecurigaan Dedi menjadi bertambah besar, dan semakin meyakinkan Dedi bahwa hilangnya Asih ada sangkut pautnya dengan perbuatan Kemala.
***********
Anggun sudah pergi dari hadapan Andre dan Sarah, mereka pun kini sudah berada di dalam unit aprtemen milik Andre. Sepanjang jalan menuju unit apartemen, terjadi kebisuan di antara mereka berdua. Banyak pertanyaan mengenai “siapa Anggun” di dalam benak Sarah, sementara Andre, dia merasa segan untuk mengajak ngobrol Sarah terlebih dahulu karena melihat ekspresi muka Sarah yang di rasa berbeda.
“Ini minumnya, Yang.” Akhirnya Andre mengajak Sarah berbicara duluan dengan memberikan teh hangat sebagai pembuka obrolan. “Terima kasih,” Jawab Sarah singkat dan langsung menyeruput teh nya dengan perlahan.
“Kamu udah makan?” Tanya Andre.
__ADS_1
“Belum, gak sempet tadi.”
“Yaudah, kamu mau makan apa? Kita pesen makan lewat aplikasi online ya.”
“Nasi goreng aja, pedes.”
“Siap boss, tunggu ya aku pesenin dulu.” Andre memesan menu nasi goreng untuk Sarah dan dirinya lewat aplikasi online. Sementara Sarah mengeluarkan handphonenya untuk mengirim pesan kepada Puspa, sahabatnya. Bebb lo di rumah gak? Isi dari pesan tersebut.
Pesan menunjukkan tanda telah terkirim, Sarah kemudian menaruh handphonenya kembali ke dalam tas. “W.a siapa?” Tanya Andre. “Puspa,” jawab Sarah singkat. Entah kenapa dia masih merasa jengkel mengingat kebersamaan Andre dengan teman wanitanya tadi.
“Kamu mau dengerin ceritaku, gak?” tanya Andre tiba-tiba.
“Cerita apa?”
“Oh, yaudah kalau mau cerita ya cerita aja.”
“Kamu cemburu?”
“Biasa aja.”
“Aha! Cemburu ini kamu, hahaha seneng deh aku.”
“Loh kok kamu malah seneng aku cemburu, sih?” Tanya Sarah sewot.
__ADS_1
“Ya soalnya selama ini kamu gak pernah kelihatan cemburu ke aku, sampai aku suka mikir kamu beneran sayang atau gak sama aku?” Jawab Andre sendu.
“Terkadang aku cemburu kalau udah lihat cewek-cewek lain tebar pesona sama kamu, padahal udah jelas kamu lagi sama aku, tapi aku Cuma mendem aja gak mau buat suasana jadi berubah kikuk.”
Mendengar jawaban Sarah yang seperti itu, Andre langsung menegapkan tubuhnya dan menghadap ke arah Sarah,”mulai sekarang, kalau kamu cemburu atau ngerasa perasaan apapun yang gak enak, cerita ke aku ya, jangan kamu pendem sendiri.” Andre memberitahu Sarah sambil tangannya mengusap pipi Sarah lembut.
“Iya,” jawab Sarah sambil tersenyum. “Terus, jadi mau cerita yang tadi?” Tanya Sarah kembali mengingatkan.
“Oh iya lupa, hahaha. Jadi, aku ketemu Anggun itu tadi di jalan depan Apartemen, awalnya aku gak lihat dia dan udah lupa juga sama wajah dia gimana, beda banget sama dulu pas terakhir aku ketemu dia.”
“Terus?” tanya Sarah lagi.
“Dia manggil aku, terus ngingetin lagi dia siapa. Aku kaget karena beda banget, terus yaudah deh ngobrol sambil jalan ke arah apartemen karena katanya dia punya temen yang tinggal juga di sini, jadi dia mau main ke unit temennya itu, tapi malah ketemunya sama aku.”
“Loh, tapi kok tadi dia malah pulang? Gak jadi ketemu temennya?”
“Gak tau, tadi dia bilang kan ada janji dadakan sama orang lain, mungkin klien pentingnya.”
“Oh, begitu,” jawab Sarah sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Iya, begitu. Sama satu lagi aku mau kasih tau ke kamu, tapi pleaasseee kamu jangan jadi bad mood habis dengerin yang ini,” Andre berkata dengan sangat hati-hati sambil memperhatikan raut muka Sarah.
“Emang kenapa? Kalau mau cerita ya cerita aja, kalau reaksi ku nanti gimana-gimana ya urusan nanti, namanya aku manusia biasa yang masih punya perasaan,” jawab Sarah sedikit puitis.
__ADS_1
“Hufft,” Andre menarik nafasnya sebentar, seperti sedang mengumpulkan kekuatan untuk mengungkapkan suatu hal kepada Sarah. “Sebenarnya, Anggun itu mantan pacarku dulu.”