
Anjani bangun tidak seperti biasanya, kali ini baru pukul enam pagi Anjani sudah rapi dengan baju yang paling bersih dan bagus yang ia miliki, Melisa menatap agak aneh dengan penampilan Anjani yang tidak seperti biasanya.
"Loe mau kemana Jani? Mau kerja apa janji sama doi sih? Tapi siapa, sepagi ini loh?" Tanya Melisa sembari menatap Anjani yang cantik dengan penampilannya hari ini.
Rambutnya ikal yang di biarkan tergerai panjang hingga sebatas bahu, baju dan warna yang ia kenakan sangat cocok pada penampilannya, dandanan wajahnya yang tidak mencolok dan terkesan natural.
"Gua masuk kerja Lisa, tuan Baskoro memintaku masuk hari ini, ya... Gua bersyukur sih dari pada di pecat, jadi pengangguran donk dan menyusahkan loe kan jadinya," Anjani menatap Lisa sambil tersenyum manis.
"Iya iya.... Gua doa-in direktur loe tertarik ama loe, Jan! Kalau sudah begitu loe jangan lupain gua ya he...he...he..." Canda Lisa sambil duduk di tempat tidur menatap Anjani yang sibuk menyiapkan dirinya.
"Idih amit-amit ya Sa!, dia sudah beranak bini gua tidak mungkin menjadi pelakor, lagian andai dia masih sendiri pun gua juga ogah! Amit-amit dia orang kek biji mahoni, pahit...!" Seru Anjani tak kalah berapi-api menjawab perkataan Melisa yang hanya tertawa melihat gaya bicara Anjani yang bibirnya sampai seperti onde-onde pecah.
"Loe kalau ngomong suka kejam sih Jani, kena karma Dewi cinta yang sedang murka padamu tau rasa loe nanti Jan," tawa Lisa tak bisa berhenti melihat kekonyolan sahabatnya.
Akhirnya mereka berangkat bersama namun berbeda tujuan, Melisa bekerja sebagai Chief of Store di salah satu TBK. Alfamart.
Anjani turun dari ojek yang ia tumpangi, lalu menuju ke pos satpam untuk melakukan absen check clock seperti biasanya. Semua mata memandang ke arah Anjani dengan berbagai pertanyaan.
"Pagi pak Toni, hari ini Anjani sengaja datang tepat waktu pak he.. he..he.. jadi melihatnya nggak perlu melotot begitu pak." Anjani yang memang mudah bergaul dan supel ada saja bahan candaan yang ia lontarkan kepada lawan bicaranya.
Anjani berlalu sambil tersenyum puas bercanda dengan pak Toni, walaupun dia galak tapi pak Toni satpam yang baik hati dan selalu perhatian kepada setiap karyawan.
Apalagi yang membutuhkan bantuan darinya, pak Toni tidak segan menolong dengan kemampuannya.
"Neng Jani! Motor nya sudah jadi, kemaren sudah di perbaiki dan bisa di kendarai, ini kunci kontaknya," pak Toni memberikan kunci motor Anjani dan Anjani menerima lalu memasukkan kedalam tas, dengan mengucapkan terima kasih, dan berlalu menuju tempat dia bekerja.
"Naik pangkat ya Jani! Tapi kamu cantik dengan dandanan seperti ini, traktir kami jangan lupa ya, he..he...he... Kalau sudah sukses jangan galak galak pada kami, yah.,." Tina teman seprofesinya menyeletuk dari belakang, sambil mencolek bahunya dari belakang.
Anjani menghentikan langkahnya, menoleh dan mereka tertawa lepas seakan menemukan kelucuan dalam kata-kata Tina yang begitu saja meluncur dari bibirnya.
__ADS_1
Waktu berjalan seperti biasa, kali ini pak Baskoro sendiri yang menghandle perusahaan pasca keberangkatan Hermansyah ke kota Surabaya untuk memantau anak cabang perusahaannya.
Budi sopir setia pak Baskoro dengan setia mengantar kemana tujuan tuannya.
"Simon, minta tolong panggilkan Anjani untuk datang keruangan saya, sekarang!" Suara pak Baskoro melalui telefon.
"Baik pak, segera?" Simon menjawab, dan sedikit berpikir aneh tentang utusan pak Baskoro.
Panggilan telepon Simon sambungkan untuk Anjani yang berada di lantai dasar, dan tidak lama Anjani berjalan menuju lift, berjalan dengan sedikit cepat menuju ruangan pak Baskoro.
Mata Simon menatap sempurna memandang ke arah Anjani yang dengan penampilan beda, lebih dengan balutan baju yang sederhana namun pas pada penampilannya, hingga menambahkan nilai plus pada Anjani di mata Simon.
'Oah....kau cantik Anjani! Lalu ada apa dengan Om Baskoro? Kenapa disaat Herman tidak ada di kantor om Baskoro memanggil Anjani? Bahkan sekarang tampilannya jauh berbeda dari seharusnya, tentu aku kalah satu langkah lagi donk,' batin simon, sejauh mungkin ia menepis pikiran negatif yang ada pada otaknya tentang skandal fair antara gadis cleaning service dengan pemilik utama perusahaan anexaplast.
"Anjani! Kau Kah? A..apakah ada janji dengan pak Baskoro?"
"Pak Simon, iya pak! saya kurang tau pak, tuan Baskoro menyuruh saya untuk datang ke kantor, kemaren saat beliau berada di sekitar kontrakan saya, pak," jawaban Anjani membuat Simon kembali menguras pikirannya untuk tidak berburuk prasangka.
Tok....tok....tokkk
Anjani membuka Handle pintu dan masuk, "Selamat siang tuan!"
"Siang"
Pak Baskoro mendongakkan kepalanya, lalu tersenyum ramah kepada Anjani.
"Duduk dulu! Sebentar lagi kita keluar,"
Anjani merasa aneh juga lama-lama dengan sikap pak Baskoro, ia merasa akan ada sesuatu pada dirinya.
__ADS_1
"Maaf tuan... Apakah ada kesalahan yang saya perbuat? Sa..."
"Duduk dulu saja, saya masih ada sedikit pekerjaan." Belum selesai mengucapkan kata-katanya, pak Baskoro sudah kembali menyela ucapan Anjani.
Alhasil Anjani menurut saja duduk di atas sofa, dan menikmati kesunyian di dalam ruang kerja direktur.
"Halo Simon, segera bawa kesini dokumen yang perlu di tandatangani, nggak pake lama," pak Baskoro menghubungi Simon untuk segera menyelesaikan Beberapa lembaran yang harus ia tandatangani.
Tidak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar dan sudah bisa di pastikan, itu adalah sekertaris Simon yang datang memenuhi perintah pak Baskoro.
Sesaat mata Simon melirik ke arah Anjani yang duduk dengan kepala menunduk.
"Maaf pak, apakah Anjani akan di pindahkan ke bagian lain dalam perusahaan ini?" Tanya Simon sopan, walaupun sangat akrab dengan keluarga Baskoro namun etika dalam bekerja apalagi di lingkup perusahaan, sangat terjaga dengan baik.
"Hemm...iya." Pak Baskoro sesaat berhenti meneliti setiap lembar kertas yang harus ia tandatangani, dan beralih menatap Simon.
"Iya betul, bisa jadi begitu sekertaris Simon, dan untuk hari ini tolong handle kantor selama aku keluar dengan Anjani sebentar lagi." Pak Baskoro tidak perduli dengan dengan tatapan aneh Simon kepadanya.
"Tapi, om... eh..pak!" Simon menghentikan pertanyaannya saat melihat isyarat pak Baskoro yang tidak ingin di ganggu, dengan keputusannya untuk mengajak Anjani keluar dari kantor pada saat jam kerja.
Anjani sendiri ketika mendengarkan percakapan mereka, merasa akan terjadi sesuatu padanya. Ia sibuk mencari alasan untuk menolak ajakan pak Baskoro bila itu akan membahayakan dirinya.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Duh pak Baskoro! Anjani mau di bawa kemana?
tetep saja ikuti jalan ceritanya ya bestie, semangat berpuasa πͺ.
Salam sayang selalu by RR π
__ADS_1
To be continued π