
Nadira duduk di sofa tidak jauh dari pak Baskoro, tidak lama kemudian datanglah Bu Ariani duduk di samping pak Baskoro dan suasana terasa hening sesaat.
Nadira berusaha sesantai mungkin untuk mengahadapi pertanyaan yang akan dilontarkan oleh mertuanya, tentu saja yang sebenarnya sudah mengetahui ulah dan kebusukan Nadira.
Hanya saja Nadira tidak terlalu ambil pusing, ia sangat yakin Herman pasti akan memaafkannya dan mencabut talak yang telah Herman ucapkan padanya, karena Nadira tau cinta Herman kepadanya adalah cinta mati.
"Papa ingat kondisi! jangan terlalu terbawa emosi, landai saja keputusan dan tindakan biar Herman saja yang menentukan." Bisik bu Ariani dan di tanggapi dengan anggukan pak Baskoro.
"Mama... Sedari Dira pulang, kok tidak melihat Kayla? Dimana dia ma?" Pertanyaan seorang Nadira yang merasa dirinya sedang baik-baik saja.
"Nadira, cukup semua sandiwara yang kamu suguhkan kepada kami! Jujur sebagai orang tua dari anak ku Hermansyah, kami sangat malu dengan perbuatan yang kamu lakukan pada Herman, anakku dan suamimu." Rupanya Bu Ariani lebih tidak tahan dengan cara Nadira basa-basi di depannya.
"Ma...sabar!" Bisik pak Baskoro.
"Ini tidak bisa di biarkan pa? Mama merasakan dia sudah tidak jujur, dan dia tidak pantas untuk menjadi pendamping Herman."
"Ma...mama tau apa tentang Nadira di luar sana, sudah baik baik saya menjaga kesetiaan saya hanya untuk Herman, tapi mama dan papa masih saja mencurigai saya." Isak tangis Nadira bersandiwara menutupi kebejatannya.
Pak Baskoro menatap serius kepada Nadira, angan-angannya untuk mengorek Nadira secara pelan pelan, kini semakin membawa dia kedalam emosi.
"Nadira! Sebaiknya kamu berkaca pada dirimu sendiri, kamu seorang ibu, dan seorang istri, lalu kewajiban bagaimana yang bisa kamu berikan kepada keluarga mu, hura-hura, overseas dengan dengan dalih karir."
"Papa....! Herman setuju dengan segala kegiatan dan cita-cita saya sebelum kami menikah, ini adalah komitmen kami! Lalu dimana letak kesalahan saya?" Nadira menyela kata-kata pak Baskoro yang belum selesai.
"E...yang....mau...!" Tiba tiba lari Kayla mendekat dalam pangkuan Bu Ariani.
__ADS_1
"Sayang ini Mama, sini nak!" Nadira berusaha meraih tangan Kayla, namun!
"Jauhi dia! Kamu tidak pantas untuk Kayla dan kamu tidak seharusnya memasuki rumah ini, keluar!" Suara lantang itu bersumber dari luar pintu masuk, dan Herman dengan geram memandang Nadira dengan pandangan yang penuh kemarahan.
"Pa..papa...!" Lagi-lagi Kayla yang mampu meredam amarah Herman yang sudah mencapai batas kesabaran.
"Sayang papa baru datang, baby Kayla Sama bi Ijah dulu ya sayang, emmm." Sekuat hati Herman menahan emosi di depan Kayla, putrinya yang masih sangat kecil.
"Herman kapan kamu datang nak, bukannya kau masih di jemput sama Budi?" Bu Ariani lebih di buat bingung dengan keadaan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
"Mama, berikan Kayla pad bi Ijah,dan bawa dia jauh dari ruangan ini." Pinta Herman seraya menyerahkan kepada Bu Ariani.
"Sini sama Mama sayang." Nadira berusaha merebut Kayla dari bu Ariani dan terjadilah perebutan.
"Bi Ijah!" Teriakan Herman lebih lantang dan dua wanita lari tergopoh-gopoh mendekat, Anjani bersama bi Ijah saling ketakutan, sedangkan Kayla menjerit dan menangis sejadi-jadinya, karena ketakutan dengan suara keras yang berasal dari bentakan Herman.
"Mas...ada apa dengan mu, aku adalah ibu dari Kayla dan dia anak ku, anak kita mas!" Nadira tidak kalah kerasnya menjawab semua kata-kata Herman.
"Pa...ya ampun ini bagaimana pa...!" Bu Ariani mendekat pak Baskoro yang sejak tadi hanya diam saja, melihat kejadian yang sudah tidak bisa di cegah.
"Biarkan mereka menuntaskan semua Ma," hibur pak Baskoro dan memberikan tempat duduk disampingnya untuk Bu Ariani.
"Ibu...? Ibu macam apa kamu huh?" Herman berjalan cepat menuju teras dan mengambil kopor lalu membukanya dan mengambil isinya, sebuah amplop besar berwarna cokelat.
Mata Herman menatap nanar ke arah Nadira, andaikan sebuah tamparan mampu meredakan amarah Herman, tentu saat ini wajah Nadira sudah babak belur oleh kekarnya tangan Herman, namun tentu itu tidak Herman lakukan, sebab! Bagaimanapun juga ia tidak ingin mengotori tangannya dengan berbuat sebuah kekejaman.
__ADS_1
"Ibu macam apa kamu, kamu tidak pantas untuk di sebut sebagai seorang ibu! Lihat ini masih bisa mengelak kamu!" Kemarahan Herman benar-benar berada di puncak.
Isi amplop bertebaran di lantai, mata Bu Ariani terbelalak lebar, sedangkan pak Baskoro mengusap wajahnya, merasa prihatin dengan kehidupan anak satu-satunya.
"Mas itu tidak benar mas, aku bisa menceritakan yang sebenarnya, ini fitnah mas!" Nadira menjerit histeris, bersujud di kaki Herman.
"Pergilah, raihlah semua mimpimu, temui dia yang bisa memberikan lebih untukmu, kita bukan suami istri lagi! Surat keputusan dari pengadilan agama sedang dalam proses," ucap Herman menahan amarah, tidak di pungkiri luka itu sangat menyakitkan.
"Bawa semua barang-barang mu, dan keluar dari sini secepatnya! Tempat ini tidak layak untuk mu, Nadira Aswari," Herman berlalu dan begitu saja meninggalkan kegaduhan yang baru saja terjadi.
"Nadira! Benih yang kamu tabur sudah saatnya kamu tuai. Pergilah kemasi semua barang berharga milik mu! Biarkan besok atau lusa setelah semua menjadi jernih kembali, Herman pasti akan memberikan klarifikasi kepada ayah dan ibu mu, apapun itu dan bagaimanapun kalian berpisah, Papa yakin Herman tetap akan bertanggungjawab dan menuntaskan permasalahan ini." Lirih suara pak Baskoro namun tajam bagaikan sembilu.
"Mama, ampuni Dira ma... Dira khilaf," tangis Nadira kembali pecah dan berusaha memeluk Bu Ariani, namun Bu Ariani dengan lembut menolak pelukan itu, dengan memegang tangan Nadira.
"Kemasi foto foto itu Dira, itu aib paling besar jangan sampai yang lain tau tentang cerita ini, kamu harus berani mempertanggung segala perbuatan mu sendiri." Walaupun rasa marah itu mengalir deras, namun bagaimanapun juga Bu Ariani dan pak Baskoro tetap harus bersikap bijaksana.
Langkah gontai Nadira, memungut satu persatu foto dirinya yang sedang memadu cinta dengan ronny, air mata kesedihannya sedikitpun tidak mampu melunturkan amarah Herman dan orang tuanya.
Nadira malam itu juga keluar dari rumah besar yang telah di bangun dengan penuh rasa cinta dan sayang Herman dan semua hanya untuk seorang wanita Nadira Aswari, namun pengkhianatan yang ia dapatkan.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Satu kata! sedih bestie, cinta tulus dan suci hanya di balas dengan sebuah pengkhianatan.
Terus ikuti ya bestie! jangan lupa like jempolnya, komen babnya π
__ADS_1
Salam Sayang Selalu by RR π
To be continued π