KESANDUNG CINTA CALON DUDA

KESANDUNG CINTA CALON DUDA
Rahasia mulai terkuak


__ADS_3

Puas dengan jawaban dari telpon yang ia tuju, wanita itu tersenyum lebar. Ia memasukkan iPhone yang ia gunakan, dan kembali memilih dan menunjuk barang branded yang ia inginkan.


Berjalan dengan anggun serta sangat elegan dandanan yang serba branded, seorang pegawai mall yang terkenal di Singapore itu, membantunya membawa beberapa barang-barang yang ia beli menuju sebuah mobil Limousine beberapa menit lalu dengan setia menunggu wanita cantik itu menghampirinya.


"Maaf sedikit lama menungguku sayang, kita langsung ke apartemen ya! Aku capek sayang.... mau mandi lalu di manja sama kamu, heemmm,"


Nadira Aswari, seorang istri dengan impian yang tinggi tanpa batas, cinta pertama Hermansyah demi ingin mendapatkan terwujudnya impian kesuksesannya ia rela meninggalkan suami dan putri semata wayangnya yang belum genap 2 tahun usianya.


Kebohongan demi kebohongan demi ia lancarkan untuk melancarkan keinginan.


Kehamilannya dan melahirkan seorang anak adalah cara untuk mengunci pernikahannya dengan Anang Putra Hermansyah, putra tunggal dan ahli waris bapak Baskoro yang seorang terkaya dan pengusaha sukses dan berada di jajaran urutan 5 besar di Asia.


Cantik dan licik, namun ia sangat pandai menutupi perbuatannya dengan tipu muslihat atas nama cinta.


"Sayang.... Besok aku akan flight menuju Taipei, kau harus menemaniku. Disana musim dingin aku ingin kau selalu di sampingku sebagai penghangat sewaktu-waktu aku membutuhkan mu." Dira mengalungkan tangannya pada dada bidang dan berbulu lembut di sampingnya, peluh mereka belum juga mengering, mereka tidak pernah mengenal lelah dengan segala model gaya bercinta mereka yang sangat menguras tenaga.


Akan tetapi Seperti kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, masuk wajan juga kalau ada yang suka makan daging tupai (he..he..he.. otor ngakak)


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Wajah lesu karena lelah telah seharian berkutat di kantor dengan segala aktifitasnya, Hermansyah melajukan mobilnya pelan menuju kejalan protokol, lalu mengambil terusan untuk menuju ke kediamannya.


Kling.....


Pesan WhatsApp messenger dari ponselnya berbunyi nyaring, tertera Beberapa pesan dengan satu nomor pengirim.


Tepat di perempatan traffic light, mobil Herman berhenti dan ia gunakan waktu sebaik mungkin untuk membuka pesan di ponselnya.


Dunia bagaikan runtuh seketika, ulu hatinya bagaikan tersayat sembilu matanya seketika menjadi nanar, tangannya menggenggam erat kemudi mobil hingga jari-jari tangannya memutih.

__ADS_1


"Nadira..." Desis kemarahan keluar dari bibirnya.


Tin ...tin...tin....


"Oiii buruan, rabun warna apa ya!" Teriak pengemudi lainnya, mereka tidak mau tau dengan kekalutan yang sedang menimpa Herman.


Herman melajukan kecepatan tinggi pada mobilnya, hingga tepat di depan pintu gerbang kediamannya.


Melangkah tergesa memasuki rumahnya yang sunyi dan senyap menuju kamarnya, menatap foto pernikahan yang terpajang Indang di atas ranjang tidur mereka.


"Nadira, apa yang sudah kau lakukan padaku? Kurang apa aku padamu?" Gumam lirih Herman dengan bibir bergetar.


Tangannya kembali membuka ponselnya dan membuka satu persatu foto yang telah ia terima dengan hati mendidih.


Semakin ia melihatnya semakin panas matanya. Tubuh yang pernah ia sentuh dan rindukan bahkan telah memberikan ia gadis kecil yang kini sedang lincah lincah bermain dan belajar berjalan.


Panggilan ia tutup dan kembali ia menghindari Simon, sekertaris sekaligus sahabatnya, "Bro loe jemput gua ya! Sekarang." Klik Herman menutup panggilannya sepihak.


Kurang lebih tiga puluh menit Simon sudah berada di depan pintu rumahnya, karena memang rumah Simon berada di satu wilayah dengan Herman.


Mang Sholeh membukakan pintu untuknya, "loh mas Momon, kok tumben malam begini baru nyampe? Bukankah sekarang masih hari Rabu ya mas?" Tanya mang Sholeh heran, sebab tidak biasanya Simon datang kekediaman saat malam hari.


Tanpa pamit Herman bergegas berjalan keluar, dengan di ikuti Simon di belakangnya sambil mengukir berbagai pertahanan dalam benaknya, apa yang telah terjadi.


Dalam perjalanan menuju tempat yang biasanya mereka gunakan untuk menghabiskan waktu, Simon mulai membuka suaranya." Loe kenapa? Wajah loe makin jelek bro, ada masalah apa?"


"Gua hancur, bro." Herman mengambil tempat duduk dan memesan minuman untuk dirinya.


Simon yang tidak memahami kemana arah pembicaraan Herman semakin heran di buatnya.

__ADS_1


"Besok loe handle perusahaan! dampingi papaku, aku akan ke Surabaya. Mungkin beberapa hari aku di sana." Pesan Herman pada Simon.


Hingar bingar musik yang ia sengar, bukanya membuat melupakan kemarahannya, namun yang ada ia semakin di buat geram oleh keadaanya yang membawa dia jatuh kedalam belenggu kebodohan yang telah di ciptakan oleh orang yang paling ia cintai selama ini.


Seteguk demi seteguk telah mengalir membasahi tenggorokan Herman, mengalir pelan dan semakin membakar emosi akan kemarahannya tanpa bisa ia luapkan.


"Hei bro...katakan padaku apa yang telah menimpamu? Kenapa tiba-tiba saja kau menjadi begini? Minum bukan solusi, coba kau ceritakan sedikit dukamu padaku!" Ucap Simon pelan yang duduk tepat di depan Herman.


"Andai membunuh orang tidak ada hukumnya, hari ini juga ingin ku bunuh kedua manusia lakhnat dan menjijikan itu, aku bisa gila Bro! Ini diluar kemampuan ku berfikir," minuman alkohol berkadar tinggi yang Herman teguk begitu cepat, semakin membuat ia dengan cepat memasuki fase mabuk dan tumbang tanpa bisa ia kendalikan.


Waktu mendekati adzan subuh, dengan di bantu oleh satpam setempat, Simon membawa masuk kedalam mobil dan mengantar hingga keledai Herman.


"Simon..." Panggil pak Baskoro, sambil memberikan tempat duduk di sampingnya.


"Ada apa dengan kalian? Katakan?" Suara berat pak Baskoro.


"Saya juga kurang paham om, Herman hanya mengatakan ia sendiri yang akan ke Surabaya, om tetap di Jakarta bersama saya, hari sudah pagi om sebaiknya saya segera pulang dan istirahat sejenak, sebelum masuk kantor nanti." Elak Simon mencari alasan yang tepat untuk menghindari beberapa pertanyaan dari pak Baskoro.


Setelah kepergian Simon, pak Baskoro tetap duduk diam di tempat semula, ia merasakan kepedihan yang saat ini alami.


Sebagai orang tua, dan sama-sama laki-laki tentu rasa itu tidak beda jauh. Pernikahan Herman dengan Nadira Aswari adalah atas dasar suka sama suka dan saling mencintai. Namun apa jadinya kalau harapan satu-satunya untuk melihat kebahagiaan anak semata wayangnya menderita pada hari tuanya ini bukan suatu keputusan yang bijak.


"Herman, papa berikan segalanya untukmu bukan untuk menuju kehancuran yang kau pupuk sendiri, biarkan papa yang bergerak sebelum kamu jatuh lebih dalam lagi." Pak Baskoro bergumam sendiri dalam kesunyian pagi.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued πŸ˜‰


salam Sayang Selalu By RR 😘

__ADS_1


__ADS_2