KESANDUNG CINTA CALON DUDA

KESANDUNG CINTA CALON DUDA
Insiden Kayla


__ADS_3

Mata Herman menatap lekat kedalam mata Anjani yang masih menyisakan air mata, "Aku mohon jangan sekalipun kau masukkan dalam hati semua ucapan Nadira, mungkin dia masih belum bisa menerima kenyataan yang telah sendiri ia perbuat."


Kali ini Herman merasa hilang kata-kata demi mengahadapi dua wanita yang lebih rumit daripada uletnya memenangkan tender proyek yang kadang membikin ciut nyali.


Dua wanita yang berbeda status namun mampu memberikan cerita dalam kesehariannya.


Anjani yang mampu memahami dan mulai mempunyai ikatan unik dengan putri semata wayangnya, Arsyakayla putri Ariansyah dan Nadira Aswari bekas istri sekaligus mantan wanita yang sangat ia agungkan dan banggakan sebagai istri dalam ikrarnya sehidup dan semati, yang kini hanya tinggal kenangan saja.


"Santai pak, coba tadi kalau bukan mantan istri bapak, sudah aku bikin bengkok aja tuh hidung oplasan, perempuan kok arogan gitu di depan gadis kecilnya, ish! Memalukan" nada geram Anjani menyiratkan amarah, kemarahan yang beralasan atas ucapan Nadira.


"Sudah... sudah saya minta maaf! Kamu kalau marah begitu jadi jelek, nanti yang ada Kayla takut mau manggil Mama," tangan Herman kembali mengusap ujung kepala Anjani.


Kayla menyaksikan interaksi dua orang dewasa itu dengan berdiam diri, sambil mendekap boneka kesayangannya.


Lalu gadis kecil itu menyeletuk begitu saja sambil tetap memainkan boneka dalam gendongannya, seolah-olah tidak pernah terjadi apapun dengannya.


"Papa halusnya cium Mama, bial mama nggak nangis lagi."


Senyum Herman lebar menghiasi bibirnya, sambil menggelengkan kepalanya.


Selama ini Kayla tetap beranggapan bahwa Anjani adalah Mamanya, ikatan batin itu sudah begitu kuat.


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


Anjani beranjak menuju taman di belakang rumah, tidak luas namun asri penuh dengan bunga anggrek dan beberapa tanaman hias lainnya.


Ingatannya kembali kepada kampung halamannya, kerinduan akan seorang ibu yang telah membesarkan dirinya sendiri hingga beranjak dewasa.


"Anjani, kenapa disini? Kayla sibuk mencari kesana kemari, sepertinya kalian cocok jadi emak sama anak loh," suara yang sangat familiar mengagetkan Anjani yang sedang asyik menikmati kesegaran taman di sore hari.

__ADS_1


"Idih bi Ijah.... Ada ada saja, mana mungkin saya hanya sebagai pembantu tiba-tiba punya anak seperti kayla, ha..ha...ha...ha! Yang ada nanti Jani di sebut pelakor lagi," senyum Anjani berakhir kecut mengingat kejadian siang tadi yang sebenarnya masih lekat menyisakan kemarahan yang tidak mungkin ia lontarkan.


"Sabar Jani, nasib orang siapa yang tau, bukankah cinta itu buta, tidak kenal kasta," jawab bi Ijah sambil duduk di sebelah Anjani.


"Ah, bi Ijah ada ada saja, saya belum berfikir ke arah situ bi, saya belum pernah berpacaran kasihan ibu saya." Jawab Anjani malu malu.


"Loh, bi Ijah kapan datang? gimana keadaan anak bi Ijah? semoga segera sembuh ya bi!" Anjani berbalik tanya tentang anak bi Ijah yang beberapa hari lalu.


"Semua baik baik saja Jani, hanya motornya yang rusak, dan sedikit lecet pada lututnya, semua sudah aman kok." jawab bi Ijah sambil duduk di samping Anjani.


"Mamaaaa, whuuaaa!" Suara tangis Kayla terdengar keras hingga ke taman bunga belakang, membuat Anjani spontan berlari meninggalkan bi Ijah sendiri.


"Ah Jani, kamu gadis yang cantik, lembut walaupun sedikit pecicilan tapi kamu sosok yang membawa keceriaan bagi non Kayla." Gumam bi Ijah sambil meneruskan aktivitasnya menyapu di taman kecil itu.


Tangisan Kayla sontak saja membuat seluruh isi rumah yang mendengarnya berlarian mencari dimana sumber suara berasal, "mama, sakit Pa.... Tolong Ilaaa, hwuaa."


Tangis itu semakin kencang, Herman yang hanya mengenakan boxer dengan telanjang dada, berlari begitu saja dari dalam kamarnya.


Anjani terdiam tanpa berani bergerak walaupun itu hanya sedikit beringsut dari tempat duduknya, jantung Anjani serasa mau copot harum rambut Herman jelas tercium oleh indera penciumannya, sedangkan kepala Herman hampir saja mendarat dengan pelan ke dada Anjani.


Andaikan saja dada Anjani adalah sebuah benda yang transparan, tentu saja akan dengan mudah terlihat betapa cepatnya debaran yang berdenyut didalamnya.


Kalau yang lain bisa saja merah padam bagaikan kepiting rebus, namun yang terjadi pada Anjani sebaliknya pucat pasi, tentu saja! Ini adalah pertama kali dalam


hidupnya dadanya tersentuh walaupun itu hanya kepala, sengaja ataupun tidak yang jelas memberikan rasa yang beda pada Anjani.


"Oh.... Andaikan ini adalah cobaan hidup satu atap dengan calon duda, apakah iya harus terus-menerus begini, bau harum ini mengingatkan diriku saat pertama bertemu dengan pak Herman." Dalam diam Anjani mengingat awal bertemu dengan Herman.


"Tangan ila sakit, pa.... Beldalah,!" Kayla masih sesegukan menahan sakit, sambil memperlihatkan jari telunjuknya yang sedikit memar dan ada sobekan lukanya.

__ADS_1


Herman tetap pada posisi semula, jongkok di kursi yang diduduki Anjani dengan memangku Kayla.


"Kok bisa begini sayang! Tadi Kayla main apa? Bukannya tadi Kayla sedang menonton tv sambil rebahan?" Tanya Herman lembut sambil tidak mengubah posisi.


"Lain kali kalau bermain panggil Mama, dan....!"


Ups..... Secara tidak sengaja bibir Herman menyebut nama Anjani dengan sebutan 'Mama' lalu secara reflex Herman menoleh kearah Anjani dan wajah mereka nyaris saja bersentuhan.


Sesaat mereka saling berebut udara untuk bernafas, rasa gugup dengan mudah bisa Herman kendalikan, akan tetapi tidak dengan Anjani yang semakin berdebar merasakan kejadian yang tidak pernah sedikitpun terlintas dalam fikirannya.


"Ma... maafkan sa..saya pak, hee.... Bapak terlalu mepet saya kesulitan bernafas, pak." Ucap Anjani berkata jujur.


Herman buru-buru dengan gerakan yang halus berdiri dan mencium kening Kayla, lalu mengusap pundak Anjani pelan, sambil berbisik.


"Panggil mas saja, jangan bapak!"


"Sayang... Papa ke atas dulu, nanti setelah mandi kita jalan beli oleh oleh, besok kita kerumah eyang, papa ambil cuti, oke?"


Herman kembali memencet ujung hidung Kayla dan mengacungkan dua jarinya, tanda oke sambil mengerlingkan mata kirinya.


Setelah puas membuat janji dengan Kayla, Herman berdiri tegak dan tentu saja ia menyadari, ternyata ia memakai boxer yang seharusnya tidak ia kenakan di depan Anjani.


Herman mengeluh dalam hati atas perbuatannya sendiri yang melupakan posisi Anjani di dalam rumahnya.


Sedangkan Anjani tertawa terkikik dengan Kayla yang merasa aneh dengan sang papa yang berlari berjingkat jingkat seperti film kartun yang sering ia tonton di cable tv.


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


hhemmm berawal dari tidak sengaja kan yah, Mak?🤣 dahlah kita lanjutkan lagi sampai kemana Herman sama Anjani malu-malu meong tuh 😂🧚🏽‍♀️

__ADS_1


Salam Sayang Selalu by RR 😘🧚🏽‍♀️


To be continued 😉🧚🏽‍♀️


__ADS_2