
Pukul tujuh tiga puluh menit, Kayla yang sudah kelelahan dengan aktivitas seharian yang menguras tenaganya membuatnya terlelap dengan memeluk boneka rabbit kesayangannya.
Anjani bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena memang belum mandi, sejak pulang dari jalan-jalan untuk sekedar membeli kebutuhan sehari-hari dan oleh-oleh untuk pak Baskoro dan Bu Ariani ketika berkunjung ke kota beliau.
Sambil bernyanyi lirih Anjani keluar dari kamar mandi dengan hanya membalut tubuhnya dengan handuk, dan begitu saja Menganti pakaian tanpa curiga sepasang mata menatap dari balik CCTV yang tersembunyi di balik tempat rahasia.
"Oh Anjani, kau benar-benar menguji iman dan kesabaran, apa yang kau lakukan? Ini benar-benar menyiksa, Anjani." Herman sendiri bergumam dengan suara yang serak karena sedang menahan rasa yang sudah tertunda beberapa pekan bahkan bulan tanpa ia sadari.
Panas dingin rasanya ketika menyaksikan indahnya lahan perbukitan yang sedang subur suburnya, serta telaga dengan minim rumput yang mungkin bisa saja akan tumbuh dengan subur.
Hampir seluruh lahan milik Anjani, Herman curi dari CCTV yang ternyata menguntungkan baginya, Herman mengambil air putih yang tersedia di atas nakas, meneguknya tuntas tenggorokannya terasa kering dan butuh cairan untuk membasahinya.
Herman dengan susah payah meredam rasa, dan akhirnya ia berujung dengan sabar dia harus menjinakkan tongkat Ali yang hampir saja tidak pernah tersentuh walaupun hanya sekedar untuk berpegangan.
Tongkat Ali jinak jinak meong akhirnya tidur juga, sedikit memberikan rasa nyaman walaupun kepala terasa nyut-nyutan karena ulahnya sendiri.
Herman berjalan menuju dapur dan mencari sesuatu, karena menahan lahar yang sudah terpendam lama juga butuh energi double dan membuatnya merasakan lapar.
"Bapak...! Apa bapak menginginkan sesuatu? Bisa Jani bantu pak!" Suara Anjani yang tiba-tiba berada di belakangnya membuat dirinya sedikit terkejut, dan refleks menoleh.
"Boleh, boleh! Aku mau makan ini Jani, nanti setelah selesai tolong bawa ke ruang tv!" Pinta Herman sambil begitu saja meninggalkan Anjani.
Tapi.... Tidak lama kemudian.
"Aku minta 2 mangkuk ya Jani, dan setelah itu temani aku makan di tuang tv, tidak ada penolakan!" Herman mengulangi permintaannya sambil berlalu dan menghilang di balik sekat tembok.
"Lah ini orang aneh aneh aja, pemaksaan siapa juga yang lapar main perintah dia mangkuk aja sih." Gumam Anjani dengan sedikit merasa aneh dengan sikap Herman.
__ADS_1
"Hemm, mungkin pak Herman mau ngajak begadang nonton TV, okeh siapa takut."
Anjani cerdik dalam penyajian, dia memasak mie instan dan beberapa sea food serta sayur hijau yang segar, dengan potongan cabe rawit serta telur ceplok yang kuningnya utuh bulat se bulat matanya yang indah.
Hanya memakan waktu beberapa menit, mie instan dengan seafood serta sayuran plus telur sudah ready dalam mangkuk ukuran besar, Anjani membawanya dalam nampan dengan dua mangkuk kecil dan dua gelas air putih hangat.
"Permisi pak, mie instan sudah siap saji, silahkan!"
"Tapi.... Kok dua mangkuk pak, dengan siapa?" Anjani berpura-pura bertanya tanya.
"Kan tadi sudah ku bilang, temani aku makan mie sambil kita nonton TV," wajah serius Herman seakan tidak pernah terjadi pada indera penglihatannya sebelumnya.
"Tapi pak! Sudah malam nanti bi ijah, aemm.." Halus Anjani menolak ajakan Herman.
"Ya nanti kalau bi Ijah tau bisa gabung juga," Herman bicara seolah tidak terbebani.
Hening... Hanya suara film di cable tv tentang kisah romantis redeeming love.
"Ayah saya sudah beberapa tahun lalu berpulang, ibu saya di kampung hanya dengan adik laki-laki saya yang saat ini masih sekolah," jawab Anjani sambil terus mengunyah mie dalam mangkuknya.
Mata Anjani tidak sengaja melihat ujung bibir Herman yang belepotan, segera ia mengambil satu lembar tissue dan mengulurkan tangannya untuk Herman.
Bukannya menerima tissue nya, tapi Herman meraih tangan Anjani dan membawanya untuk mengusap bibirnya perlahan.
Mata Herman tidak berkedip menatap wajah ayu Anjani yang sedang gugup dengan sikap Herman kepadanya.
"Pak, aemm... Tangan saya ma .. maaf..." Perlahan Anjani menarik tangannya, sambil menghela nafasnya yang sesaat ia terlupa untuk menghirup udara dengan nyaman.
__ADS_1
"Oh maaf, aku hanya emm... terima kasih." Herman juga merasa gelagapan dengan sikapnya sendiri.
"Please! Jangan panggil aku bapak, bisa panggil mas saja, usia kita terpaut tidak terlalu jauh," Herman mengalihkan pembicaraannya.
"Dan biarkan Kayla tetap memanggil mu Mama, ku mohon!" Pinta Herman sambil meneguk air hangat miliknya setelah itu.
"Sudah malam, tidurlah! Ingat! Pakai baju agak panjang ya!" Ucap Herman sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maksudnya pak.... emm... Mas we iya mas,"
"Maksudnya, kalau kamu pakai baju pendek dan se xy takut dingin, kan air conditionernya aktif," Herman asal jawab saja, lalu berdiri dan menuju ruang kerjanya untuk menyusun beberapa tugas yang akan di serahkan kepada Simon selama ia berkunjung ke rumah orang tuanya.
"He.. he.. he.. iya mas, kadang kalau tidur selimut suka melorot, tiba-tiba dingin pas menjelang pagi." Jawab Anjani jujur tapi sebuah godem buat Herman yang semakin dekat Anjani semakin ngenes rasa hatinya.
Mereka berpisah dan Anjani kembali ke kamar dengan perasaan berbunga-bunga, "oh...ya ampun mas Herman, hi ..hi ..hi.. mas duda,"
Anjani mendekap tubuhnya sendiri sambil memejamkan matanya, seolah olah dia sedang berdekatan dengan Herman.
"Jangankan hanya sebutan Mama buat Kayla, jadi mamanya beneran sepertinya lebih indah, he he he," Anjani memejamkan matanya, dan merangkul guling sambil sendiri berbicara pelan menjawab permintaan Herman yang aneh aneh tapi indah di telinga Anjani.
π§π½ββοΈπ§π½ββοΈπ§π½ββοΈπ§π½ββοΈπ§π½ββοΈπ§π½ββοΈπ§π½ββοΈπ§π½ββοΈ
Tongkat Ali nggak tuh π€£, lama tak dipakai katanya bisa lumutan ππ
ya ampun maafkan daku bestie π€
lanjut lagi wes, jempol, komen and plus-plus pleaseπ§π½ββοΈπ§π½ββοΈ
__ADS_1
Salam Sayang Selalu by RR ππ§π½ββοΈ
To be continued ππ§π½ββοΈ