
Perpisahan pun harus kembali terjadi, pak Baskoro dengan dengan Bu Ariani kembali ke kediamannya sendiri dengan di antar pak Budi sebagai sopirnya.
"Herman, papa sama mama pulang! jaga Kayla dengan baik, semua kejadian ambil saja hikmahnya. Anjani masih belia andai ada kesalahan padanya , bimbing dia untuk kesalahan bisa dirundingkan dengan jalan baik-baik," pak Baskoro berpesan pada Hermansyah, yang karena seriusnya Hermansyah tidak menyadari kemana pesan pak Baskoro tertuju.
Bu Ariani yang tau maksud pak Baskoro, senyumnya tersungging sambil mencubit pinggang pak Baskoro.
Lambaian tangan Bu Ariani dari dalam mobil, terbalas dengan sorak Kayla dan jerit tawanya yang lucu.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Anjani, mungkin malam ini saya pulang agak malam, untuk makan malam nanti saya akan memanasi sendiri, kalian tidur saja dulu." Pesan herman untuk Anjani yang sedang melakukan persiapan masak untuk makan malam.
Mata kedua insan berbeda jenis itu saling menatap dan sesaat terdiam tanpa suara, "baik pak! Hati-hati di jalan." Jawab Anjani menghindari kecanggungan.
Beberapa hari bekerja sebagai pengasuh Kayla terasa nyaman yang di rasakan Anjani, namun jantungnya serasa mau copot sewaktu-waktu bila Herman menyapanya atau berbicara sesuatu padanya.
Sedangkan Herman sendiri, jauh di lubuk hatinya merasa bahagia ketika menyaksikan sendiri betapa kedekatan antara Kayla dan Anjani walaupun hanya sebatas pengasuh, namun membuatnya lepas dari rasa khawatir.
Tawa lepas mereka membaut suasana dalam rumah yang semula sepi kini semakin berwarna dengan jeritan Kayla yang menggemaskan serta teriakan Anjani yang pura pura geram ketika bermain di tinggal begitu saja oleh Kayla untuk bersembunyi.
Sidang perceraian yang melibatkan pengacara yang sedikit alot karena, menyangkut hak asuh anak, dan Nadira juga menuntut harta Gono gini selama menjadi istri sah Herman.
"Dia yang berbuat, dan dia tidak berhak mendapatkan hak asuh terhadap Kayla!" Ucap Herman kepada pengacara saat mereka berinteraksi melalui telpon.
Herman melimpahkan semuanya kepada pengacara karena dia sudah tidak ingin, berkomunikasi ataupun berurusan lagi dengan Nadira.
Keramaian kota pada akhir pekan, harus sedikit menyita kesabaran untuk mengemudi mobil yang di kendarai Herman menuju tempat tinggalnya.
Lelah! Hanya itu yang Herman rasakan, seluruh tempat yang ia lewati dan penuh kenangan ketika masih bersama Nadira, sedikit membuatnya nelangsa sekuat hati Herman menepis rasa itu.
Rumah besar dan terawat itu terlihat sepi, lampu-lampu sudah mulai redup hanya dua orang satpam saja yang masih bercengkrama sambil mendengarkan musik lewat radio FM dengan irama yang mereka sukai.
__ADS_1
Pintu gerbang terbuka perlahan, "Tumben pulang agak malam den Herman! Weekend selalu macet harus sabar kalau pulang malam, den." Pak Bahri satpam yang sudah lama bekerja di tempat pak Baskoro menyapa dengan sopan kepada Hermansyah sebagai basa-basi untuk membuka keakraban.
"Banyak kerja pak, he..he..he... Saya masuk dulu pak," jawab Herman dengan mengulurkan kunci mobilnya kepada pak Bahri, dan berlalu memasuki pintu rumah.
Hal pertama yang Herman masuk kedalam rumah adalah menuju kamar Kayla.
Mata Herman menatap kearah dua insan berbeda usia yang tertidur dengan berpelukan, seolah tidak ingin melepaskan satu sama lain.
Hati Herman trenyuh menatap ulah mereka, lalu mata Herman reflek tanpa sengaja melihat tubuh sintal Anjani dengan belahan dadanya yang sedikit tersingkap dan sebuah gundukan yang menyembul, matanya yang terpejam dengan bibirnya yang indah, menambahkan keluguan gadis belia itu, darah Herman seketika berdesir memberikan rasa yang aneh perlahan Herman menutupkan selimut pada tubuh mereka berdua dan berlalu keluar dari kamar yang sedikit memberikan siksa pada dirinya.
Buru-buru Herman menghindari rasa itu, dan berjalan menuju kamarnya sendiri sambil membuka kancing kancing bajunya yang tiba-tiba sesak dan panas.
Kerinduan sebagai laki-laki dewasa menjalar memenuhi keinginannya, "ah.... Rasa ini ternyata sangat menyiksa." Keluh Herman sambil berlalu menuju kamar mandi dan menyegarkan tubuhnya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Harum masakan Anjani membuat cacing cacing menggeliat di dalam perut Herman, ketika menuruni tangga menuju lantai bawah.
"Pak, tadi pagi bi Ijah ijin untuk pulang karena anaknya kecelakaan, tadi mau pamit sama tuan tapi tuan masih tidur." Jelas Anjani sambil menyeduh kopi pesanan Herman.
"Kecelakaan?"
"Iya tuan, mungkin nanti bi Ijah pasti akan telpon dan mengabari kepada bapak." Kembali Anjani menjawab pertanyaan Herman.
Anjani menyiapkan sarapan dan Kayla sibuk bermain boneka sambil sendiri berbicara, mengerakkan tubuhnya persis seperti seorang ibu yang melakukan kegiatan kepada anaknya.
Beberapa menit kemudian ketika sarapan sudah siap, Anjani menempatkan kayla pada high chair dan mengambilkan makanan untuknya, dan tidak lupa menuang nasi goreng kesukaan Herman.
Mereka berdua antara anak dan bapak duduk berhadap-hadapan melakukan makan bersama.
Lalu Anjani berjalan keluar untuk meneruskan tugas paginya terlebih dulu sebelum sarapan untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Papa... Kenapa Mama tidak duduk dekat kita? Papa nakal ya?" Tiba-tiba celoteh Kayla menghentikan aktivitas Herman yang sedang menikmati masakan Anjani yang pas di lidahnya.
"Sayang... Itu kak Anjani bukan Mama," bisik Herman yang mendapatkan respon mata melotot dari Kayla.
"Mamaaaa... Kayla maunya mama," suara pelan Kayla terdengar pilu di telinga Herman.
"Oke, oke kita panggil Mama," jawab Herman sambil berjalan mencari Anjani.
"Jani, kita sarapan bersama ini permintaan Kayla," ajak Herman sambil sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Anjani mengangguk lalu berjalan mendahului Herman, mungkin ada sesuatu yang terlupakan, Anjani tiba-tiba refleks membalikkan tubuhnya, dan....
"Auhh, Jani," tangan Herman merengkuh tubuh Anjani dan memeluk pinggang itu yang hampir saja terjerembab.
Harum aroma tubuh Herman menyeruak melewati lubang hidung Anjani, pelukan sesaat tanpa unsur kesengajaan itu membuat jantung Anjani berubah menjadi tidak normal.
"Ah...pak..maaf, saya mau mencuci tangan dulu." Wajah Anjani berubah memerah karena malu.
Anjani pun juga tidak pernah menduga bahwa debar jantung Herman pun, berubah menjadi tidak normal dan kembali menggaruk tengkuknya lalu berjalan menuju ke meja makan menemani dan menunggu Anjani untuk melakukan makan bersama.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Idih siapa yang ambil kesempatan dalam kesempitan nih 🤣.
jempolnya yuk kak, like dan komen mendukung sebagai penyemangat jempol Rhuji bestie.
Salam Sayang Selalu by RR 😘
"Setitik tinta jadi noda, salah setitik jadi dosa, bulan penuh berkah segera tiba, mari tekun ibadah di bulan puasa marhaban ya Ramadhan, sambutlah dengan senyuman yang penuh ikhlas.”
selamat menunaikan ibadah puasa🤭
__ADS_1
To be continued 😉