
Sebuah mobil warna merah berhenti di depan gerbang rumah Herman, satpam Bahri dengan buru-buru membuka pintu gerbang dan membungkukkan badannya untuk memberi hormat, wanita cantik dengan dandanan yang sangat anggun dan elegan, turun dari mobil lalu menuju pintu masuk, tanpa mengucapkan salam maupun menekan tombol bell, ia masuk dengan santainya lalu duduk di sofa sambil memandangi sekeliling ruang tamu itu.
"Siapa ya...kok nggak salam juga nggak mengetuk pintu. Asal nyelonong aja masuk rumah orang," omel Anjani ketika melihat ada bayangan orang yang masuk pintu depan.
Mata Anjani terbelalak matanya ketika melihat wanita cantik yang sudah masuk dan duduk di kursi tamu, "maaf anda siapa? Mau mencari siapa ya?"
Namun sesaat Anjani mengingat tentang foto yang terpajang besar di kamar Kayla adalah sama dengan wanita yang saat ini sedang berada di depannya.
Nadira sedikit terkejut ketika melihat seorang wanita muda, cantik dengan kulit putih bersih dengan rambut panjang sebahu dan di ikat rapi. Seketika api cemburu Nadira membakar hatinya, sikap egoisnya muncul dengan sirat kemarahan yang di tujukan pada Anjani.
"Hemm, harusnya aku yang tanya padamu! Kamu pembantu disini atau calon pelakor disini? Huh!" selidik Anjani sambil berjalan mendekati Anjani, dengan tangan bersedekap.
"Hei dengar baik-baik ya! Aku adalah nyonya di rumah ini, dan aku adalah ibu dari gadis kecil itu!" Suara Nadira penuh penekanan, dan menunjuk ke arah Kayla ketika gadis kecil itu muncul tiba-tiba sembunyi di balik tubuh Anjani.
"jangan pernah mimpi kamu mendekati suamiku, kamu masih muda, lebih baik bekerja jadi membantu atau pemulung di luar sana daripada menganggu suami orang."
Tentu saja kata kata Nadira membuat merah padam wajah Anjani, "Perlu anda ketahui nyonya! Saya pembantu disini, dan itu betul. Namun saya bukan pelakor seperti yang anda katakan, saya miskin itu betul sekali, akan tetapi tidak pernah ada sedikitpun keinginan pada otak saya untuk menganggu suami orang," Suara Anjani pelan, namun penuh dengan penekanan. Mata yang semula indah tanpa riasan apapun, kini menjadi penuh kemarahan.
"Kamu jangan alasan seperti orang bodoh saja! Rumah besar seperti ini dan hanya ada kalian berdua, apa saja yang kalian lakukan coba, hah?" Mulut Nadira semakin enggan mengontrol emosinya.
"Mama, oya pelgi," tangan Kayla menarik tangan Anjani untuk menghindar dari hadapan Nadira.
"Sayang ini Mama nak, sini!" Nadira berusaha mendekat dan ingin meraih tangan Kayla, namun lari gadis kecil itu lebih gesit dari gerakan tangan Nadira.
Anjani yang melihat itu juga tidak mampu berbuat banyak, dia beranggapan bahwa dia hanya seorang pembantu, sedangkan wanita yang ada di depannya adalah ibu dari Kayla.
"Tidak mau....! Pelgi... Ila tidak mau, mamaaa!" Kayla menjadi histeris ketika Nadira berhasil meraih tangannya dan berusaha mengendong putri semata wayangnya itu, tangan kecilnya berusaha kembali meraih Anjani.
__ADS_1
"Nyonya sebaiknya lepaskan, Kayla tidak menginginkan itu! Kasihan nyonya." Anjani kembali berusaha melerai, namun semua sia sia Nadira lebih kuat mencengkeram Kayla.
"Hey kamu siapa? apa hak kamu melarang ku? Kamu hanya calon pelakor, perusuh rumah tangga orang, berani beraninya kamu mengaturku, dia anakku!"
plak....
Tangan Nadira hendak memukul wajah Anjani, namun secara bersamaan sebuah tangan telah berhasil menangkis tamparan keras itu
Nadira dan Anjani mengarahkan pandangannya kepada sosok laki-laki yang tiba-tiba muncul di depan mereka.
"Herman!" Desis Nadira pelan lalu melepaskan cengkraman lengan Kayla.
Anjani secara reflex segera mengendong dan membawa menghindar dari ruang tamu yang sedang terjadi ketegangan.
"Pergi kamu dari sini! Sekarang! dan jangan pernah datang lagi! Karena kamu sudah tidak berhak apapun disini." Kemarahan Herman mencapai puncak, tangannya mengepal kuat menahan kemarahannya.
"Mas... Aku istrimu yang masih sah, dan aku ibu dari Kayla! Maafkan aku mas," Isak tangis Nadira sambil berusaha meraih tubuh herman, ingin rasanya Nadira kembali kedalam pelukan Herman kembali, namun Herman berkelit menghindar.
"Pergilah!" Suara Herman melunak, agar menghindari terjadinya kericuhan.
"Kamu egois mas! Kamu lebih mementingkan pelakor itu daripada aku dan anak mu! Aku ibunya mas, dan aku kangen anakku" Teriak lantang Nadira seolah olah dia adalah seorang yang paling menderita dan tersakiti atas kejadian yang menimpa dirinya.
"Keluar...!" Bagai halilintar suara Hermansyah menggetarkan hati Nadira, selama hidup bersama Herman baru kali ini ia mendengar teriakan Herman dan membuat jantungnya berdetak kencang karena ketakutan.
"Ingat ya! Dia Anjani dan bukan pelakor, dia gadis baik-baik. Pergi kamu dari sini! Sekali lagi bentak Herman kembali menghentakkan hatinya.
"Mas! Buka pintu maaf mu padaku, aku sayang kamu mas, dan aku berjanji untuk merubah sikapku dan akan menjadi ibu yang baik bagi Kayla." Rengek Nadira mengiba, memohon dan tidak tau malu di hadapan Herman.
__ADS_1
"Pergi, atau ku panggil para satpam itu untuk menyeretmu keluar yang akan semakin mempermalukan dirimu sendiri, lebih baik kamu keluar dari rumah ini secara baik-baik?" Perintah tegas Herman sambil menuding kan jari telunjuknya kearah luar pintu.
Tidak ada pilihan lain, akhirnya Nadira melangkah menuju mobilnya, dan keluar dari halaman yang luas dengan rumah yang penuh kenangan indah dengan Hermansyah waktu itu.
Sepeninggal Nadira, Herman mengendurkan dasi dan melepaskan jas yang ia kenakan, lalu terduduk di sofa dan meremas rambutnya. Rasa sesak dan nyeri atas pengkhianatan orang yang paling ia cintai dan menjadi harapan satu-satunya untuk mengarungi bahtera kehidupan, kini harus kandas dengan luka yang terlalu dalam dan menyakitkan.
"Papa..." Suara Kayla membuyarkan keheningan dan menyadarkan Herman atas kesedihannya.
"Iya sayang," Herman menghampiri putri kecilnya lalu memeluknya dengan lembut.
"Maafkan Papa sayang,"
"Mama menangis, ila takut pa," gadis kecil itu semakin sesenggukan usia yang terlalu dini untuk mengetahui perselisihan dan permasalahan orang dewasa.
Herman menuju kamar Kayla dan mendapati Anjani yang duduk dengan muka lusuh, dan air mata yang masih belum mengering di pipinya.
"Jani..." Herman menurunkan Kayla dan menghampiri Anjani.
"Oh bapak! Maafkan saya, sepertinya terlalu memasuki permasalahan keluarga bapak." Anjani menunduk kembali berusaha tegar setelah menerima cacian Nadira sebagai pelakor.
"Maafkan saya Anjani, mungkin Ini telah terjadi kesalahpahaman. Beri waktu untuk saya menjelaskan semua ini padamu." Tangan Herman menggenggam hangat tangan Anjani yang dingin, dan tiba-tiba merasa gugup dengan pandangan mata Herman yang begitu sendu mengarah kepadanya.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Kejam bener sih Nadira ๐คงmain tuduh pelakor aja, pen keplek aja tuh Mak ๐คฃ๐คฃ
Jempol Mak ๐คญ plus hujatan buat emak yang kagak tau nalar tuh.
__ADS_1
Salam Sayang Selalu by RR ๐
To be continued ๐