KESANDUNG CINTA CALON DUDA

KESANDUNG CINTA CALON DUDA
perjalanan pulang


__ADS_3

Tawa Simon tentu saja pecah, dan membalas pesan eletrik di ponselnya, "Loe sudah ada anak bini, biarkalah Kawan mu ini berusaha mendapatkan yang terbaik, ha....ha...ha..."


Simon yang selama ini menjomblo bahkan sudah berulang kali ia putus cinta, bukan seorang playboy mungkin bisa di katakan belum jodoh.


Sebentar kemudian ia memasuki ruangan direktur, mengetuk pintu pelan tentunya sebelum memasuki.


Etika seorang teman dengan rekan kerja tetap ia jaga, walaupun sebenarnya antara Simon dengan Hermansyah adalah sahabat kental sejak duduk di bangku sekolah.


"Permisi Om, maaf mau bicara sama Herman sebentar, bisa?" Simon masuk dan langsung duduk di depan meja direktur menghadap ke arah Herman.


"Her...gua ijin keluar bentar, mo antar Anjani pulang ke kontrakannya, kasihan tuh sepertinya dia sakit, mana pincang lagi. Naik ojek jaman sekarang nggak aman, dan sebaiknya memang gua antar. Sambil pendekatan begitu biar lebih akrab sebelum jadian, he...he..he..." cerocos Simon dan itu memang sudah menjadi kebiasaan.


Ehemm... ehem...


Suara pak Baskoro yang sedang berdehem, membuat wajah cengengesan Simon seketika berubah ciut.


"Oke om ikut, sekalian mau beli sesuatu buat Kayla, Ayuk jalan!" Pak Baskoro tidak perduli protes yang akan Simon lontarkan.


"Ba..baik om, tapi om Baskoro lebih baik titip saja deh nanti Momon belikan sampai ketemu." Tawar Simon karena tidak mungkin menolak kemauan pak Baskoro.


Hermansyah dari tadi sudah sibuk menahan tawa sambil memegangi perutnya, sambil menatap wajah Simon yang mulai mengeluarkan trik memelas dan senyum kecutnya.


"Pak Toni, minta tolong cegah karyawan atas nama Anjani Layang Abigail pada nametag nya, untuk menunggu di ruang pos sebentar." Hermansyah menelepon pak Toni di pos penjagaan.


"Nanti papa pulang diantar Simon, kau pulang saja duluan,"


"Baik Pa, jaga bujang lapuk itu pa biar cepat laku, ha...ha ..ha... " Tawa Hermansyah meledak juga di balas dengan cibiran Simon yang sudah merasa gagal pada trik awal mendekati Anjani.


Anjani bergegas ke pantry dan bersiap untuk keluar menuju ruangan HRD untuk berpamitan dan memberikan kertas ijin dari Hermansyah.

__ADS_1


"Jani... Anjani, ya ampun kesalahan apa yang kau buat lagi...?" Mang Isan datang tergopoh-gopoh sambil menghadang jalannya Anjani.


"Idih mang, Jani tidak berbuat kesalahan loh! Ini mandat dari tuan Baskoro untuk jadi, agar istirahat bekerja untuk sementara waktu, bukan di pecat!" Anjani segera memperjelas kepada mang Isan teman seprofesinya yang juga selalu perhatian pada Anjani.


"Oalah, aku pikir kamu di pecat. Ya udah buruan pulang nanti hujan gojek belum tentu bawa mantel juga." Pesan mang Isan sambil menggelengkan kepalanya.


Ia berjalan menyusuri halaman pabrik yang luas, lalu melirik ke sebelah kiri parkiran terdapat sepeda motor kesayangannya masih di sana dengan kondisi mengenaskan. Lampu depan yang pecah spartbor ada juga yang pecah di beberapa tempat.


'aahh...tragis nian motor peninggalan bapak ku, semoga waktu dengan cepat segera terima gaji aku pasti akan bawa ke bengkel.'


Tetap dengan langkah yang sedikit pincang menahan sakit, Anjani menuju pos satpam.


Tin..tin...tin


Belum juga beberapa langkah ia berlalu dari tempat parkir motor, sebuah mobil berhenti di samping Anjani berjalan.


Akan tetapi pak Baskoro juga ikut keluar dari mobil dan pindah menuju pintu depan yang sudah di buka oleh Simon.


"Loh om.., eh pak... Anjani duduk di depan saja dengan saya, bapak duduk di belakang biar santai," ucap Simon seperti sedang memberikan pengertian yang detail kepada pak Baskoro.


"Simon, sayangnya bapak lebih suka duduk di depan, dan biarkan Anjani duduk di belakang tanpa kejahilanmu!" Bisik pak baskoro sambil memberikan penekanan kepada Simon.


Anjani tentu saja menahan tawa, dengan ulah kedua laki-laki beda usia di depannya yang sibuk mengatur tempat duduk untuk dirinya.


"Maaf Tuan, maaf pak Simon saya sudah pesan ojek online, saya naik ojek saja." Lalu Anjani melewati mereka yang masih sibuk mengatur tempat duduk.


"Anjani, masuk ke dalam! Kita sama sama satu tujuan, ayuk! Jangan membantah!" Nyatanya pak Baskoro lebih bisa menghandle suasana yang di ciptakan oleh Simon.


'duh om Baskoro! Jadi batal deh,... ck...' Simon menggerutu dalam hati, namun apalah daya.

__ADS_1


Pak Baskoro duduk di jok depan dan Anjani di belakang, mobil melaju pelan melalui pos satpam, pak Toni menyapa sambil membungkukkan badannya dan kembali menutup pintu gerbang.


Suasana sangat sunyi dan kaku di dalam mobil yang di kemudikan oleh Simon.


Anjani sedikit bingung harus bagaimana, sedangkan kedua orang di depannya sama-sama kaku, dan diam tanpa ada tanda-tanda mereka akan membuka suara walaupun sekedar basa-basi.


"Maaf Tuan, pak Simon... Saya turun di jalan depan itu, untuk masuk kedalam gang nya saya bisa jalan kaki, terima kasih tumpangannya bapak," Anjani akhirnya membuka suara dari keheningan.


Mobil pun pelan merapat kepinggir aspal dan berhenti, Simon juga bergegas melepas sabuk pengamannya keluar dan membukakan pintu untuk Anjani.


"Sekali lagi terima kasih bapak, Taun Baskoro," Anjani memberikan salam lantas berjalan pelan masuk menuju gang sempit dimana ia dan Melisa mengkontrak sebuah ruangan kecil yang cukup untuk mereka berdua tinggal bersama.


Pak Baskoro menatap dari dalam mobil tanpa membuka kacanya, "Simon..., Antar om pulang ya.. terima kasih tumpangannya."


"Om langsung pulang? Loh katanya mau beli sesuatu untuk Kayla? Tak apa Simon antar om, itung-itung cari muka siapa tau besok antar Anjani lagi pulang ke rumahnya," gumam Simon lirih, namun apalah di kata telinga pak Baskoro ternyata bisa menangkap suara yang Simon keluarkan.


"Jangan pernah mencari kesempatan dalam kesempitan, kalau ada yang sampai mengetahui kau bawa keluar dengan Anjani, maka gajimu akan ku potong lima puluh persen" ucap pak Baskoro sedikit menekankan suara kepada Simon. Ia menatap jauh kedepan kehidupan Hermansyah yang sangat tidak stabil dalam mengarungi berumah tangga dengan wanita pilihannya, semakin hari semakin menganggu pikirannya.


Simon memutar musik melankolis yang biasa ia nikmati, mereka tengelam dalam situasi yang sulit untuk mereka utarakan, dua laki-laki beda usia dan beda harapan berada dalam satu mobil dengan nuansa yang sangat kaku.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued πŸ˜‰


keep save, healthy and happy always.


semangat menunaikan ibadah puasa, semoga lancar dan di terima oleh Allah SWT... aaminn...


Salam Sayang Selalu By RR 😘

__ADS_1


__ADS_2