
Jauh jauh Anjani menepis rasa canggung itu, tangan Herman semakin mencari-cari kesempatan Walaupun hanya sekedar memegang atau membetulkan anak rambut Anjani yang sedikit berantakan di keningnya.
"Mas... Saya malu di lihat orang, bukannya kita tidak punya ikatan apapun, nanti orang yang tau akan berfikiran lain lo mas Herman!" Anjani sedikit menarik tangan Herman yang masih saja menggenggam tangannya, bahkan terkesan pura-pura tidak mendengar kata-kata Anjani.
"Kita duduk disana yuk, sambil menikmati es krim gerobak itu mungkin akan sedikit menyegarkan," Herman bahkan semakin asyik saja memegang pinggang Anjani seolah mereka memang pasangan yang sedang di Landa asmara.
Mereka mengambil tempat duduk yang sejuk di bawah rindangnya pohon beringin besar yang berjejeran di taman kota itu.
"Anjani...jadilah Mama untuk Kayla yang sebenarnya, bukan hanya sekedar Mama asuh untuknya, aku tidak pandai merangkai kata-kata cinta yang bullshit, tapi aku akan berjanji kau tempatku untuk terakhir kalinya walaupun kau bukan yang pertama untukku," suara Herman yang mendekat di telinga belakang Anjani membuat bulu kuduk itu pelan-pelan berdiri tanpa permisi.
"Uhuk....uhuk...." Anjani terbatuk-batuk es krim yang lembut itu nyatanya membuat tenggorokannya seret seketika.
Mata mereka saling beradu dan membisu sesaat, ucapan Herman yang terlalu cepat dan tidak pernah sekalipun Anjani menduga bakal bersambut impiannya yang sering menghayal jadi mama Kayla beneran.
Anjani membisu, sedangkan Herman dengan mesra mengelap ujung bibir Anjani yang belepotan saat makan es krim.
"Mas Herman sedang bercanda kan?" Tanya Anjani memastikan pendengarannya, takutnya telinga tiba-tiba ada sesuatu yang tersesat masuk kedalam hingga mengakibatkan kesalahan pada pendengarannya.
"Apakah aku tidak pantas menginginkan itu, apakah terdapat candaan ketika aku mengatakan permintaan itu padamu, apakah aku salah bila aku mencintai pengasuh anakku, hmm," Herman semakin lebay dan semakin berani mengutarakan isi hatinya.
"Mas bercanda kan? Saya dari keluarga kurang mampu loh mas, nanti tuan Baskoro yang ada tidak merestui hubungan ini?" Elak halus Anjani, walaupun sesungguh dia sangat berat menolak tatapan sejuk dari Herman, kesandung cinta duda tajir memang sesuatu rasanya, selain berpengalaman dan tentu saja tanpa basa basi konyol dengan rayuan sesat lainnya, seperti pemuda pemudi yang sering ia jumpai di jalan atau tetangga kontrakan yang ia tempati dengan Lisa waktu itu.
"Sebaiknya kita mengenal dulu pelan pelan mas, belum tentu tuan dan nyonya akan menyetujui hubungan ini, lagian mas kan baru saja resmi bercerai apa tidak terlalu terburu-buru untuk membuka hati kembali?" Senyum manis Anjani yang selalu meluluhkan hati Herman beberapa hari ini kembali memberikan semangat untuk segera melakukan yang terbaik pada kehidupannya sendiri mendatang.
__ADS_1
Debaran jantung Anjani sulit untuk ia stabilkan, antara senang dan takut menjadi satu, sebab ini juga kali pertama ia menerima ucapan suka dari lawan jenisnya.
"Anjani... Kau belum menjawab pertanyaan mas! Mas beri tenggang waktu beberapa hari ya! Dan mas mau mendapatkan jawaban yang benar dari bibirmu,"
"Kita pulang yuk, hari sudah sedikit panas pipimu memerah tuh terkena sengatan matahari," Herman menarik tangan Anjani dan kembali berjalan menuju mobilnya dan menuju mall besar di kota itu.
Anjani semakin di buat bingung oleh situasi yang di ciptakan oleh Herman, yang secara tiba-tiba menyatakan cinta di saat rasa itu sedikit mengusik hati Anjani.
"Melamun, hemm maaf! Mungkin ini terlalu cepat tapi memang ini yang harus terjadi," tangan Herman mengusap tangan Anjani dan membawa kedalam dada Herman, debar jantung Herman yang berpacu tidak normal membuat kening Anjani berkerut, lalu menatap kearah Herman.
"Mas... Apakah begini namanya orang berpacaran? Berpacaran dengan duda ternyata juga asyik, bonusnya anak sudah gede pisan, wow nikmat mana yang harus aku pungkiri," tertawa lebar membuat gigi Anjani yang rapi terlihat cantik berderet.
"Ha ..ha ha.. ha.. aku lupa kalau sudah duda Jani, tapi mas janji akan menjagamu hingga kita bersanding di pelaminan." Ucap Herman serius sambil tersenyum-senyum fokus menatap jalan yang padat merayap di depan.
"Tapi.... Tuan Baskoro tentu akan murka bila mas mencintai pengasuh cucunya, saya takut mas!" Anjani beringsut sedikit menjauh dari jok yang diduduki Herman.
"Kalau mereka baik-baik saja, apa taruhannya?" Herman semakin konyol sepertinya dia lupa usia dan kembali pada masa putih abu-abu yang suka main tebak-tebakan tentang hati.
"Saya tidak sedang bertaruh mas, hati mana bisa di pertaruhkan?" Anjani mengelak dengan membuang muka keluar jendela mobil.
"Apapun kata orang jangan pernah kau hiraukan, yakin saja pada diri sendiri itu yang lebih nyata dalam kehidupan kita, betul kan jani?" Herman tetap saja gigih mempertahankan pendapatnya.
Traffic light menyala dengan warna merah dan mengharuskan mobil berhenti, mata Anjani menyapu keluar jendela matanya tidak sengaja melihat sosok wanita cantik di dalam mobil di dengan kaca terbuka.
__ADS_1
"Mas... Bukankah itu mantan istri mas Herman! apakah dia juga bertempat tinggal di kota ini mas?" Anjani menunjuk pada mobil keluaran terbaru yang dikemudikan oleh Nadira Aswari mantan istri Hermansyah, laki laki yang baru saja menyatakan cinta pada dirinya.
"Jangan melihat kearah sana, anggap saja tidak mengenalnya." Jawab Herman sembari melajukan mobilnya pelan menjauh dari mobil yang di kendarai oleh Nadira.
Walaupun sepahit apapun perjalanan hidupnya dengan Nadira, namun cintanya pada Nadira terkadang masih Herman rasakan di sudut hatinya paling dalam.
Suasana menjadi hening sesaat, tanpa suara namun mata Herman masih saja sempat mencuri pandang melalui kaca spion, jiwanya kembali meronta mengingat cinta pertama dan tentang hari hari yang indah di saat mereka masih berdua, senyum Nadira yang selalu membuatnya mabuk kepayang dan ingin segera kembali ke rumah bila sedang bekerja, masih teringat dengan jelas rengekan manja Nadira yang selalu meluluhkan hatinya.
Ahhkk.... Terlalu manis untuk dilupakan, kenangan yang indah bersamanya, rasa yang sangat berat kembali mampu melupakan ada sosok Anjani yang berada di sampingnya dengan memandang rasa sedikit cemburu akan perlakuan Herman yang tiba-tiba saja berubah.
"Mas...?"
Anjani memanggil namun Herman masih fokus pada kenangan yang kembali muncul dalam hati kecilnya.
"Mas ...!" Panggilan kedua kalinya tetap saja Herman masih asyik memandang lurusnya jalan aspal kota dengan hatinya yang memikirkan masa lalunya ya g tiba-tiba datang mengusik.
π§π½ββοΈπ§π½ββοΈπ§π½ββοΈπ§π½ββοΈπ§π½ββοΈπ§π½ββοΈπ§π½ββοΈπ§π½ββοΈ
nah kan π€§ laki-laki selalu begitu! baru aja merayu sudah lupa kata-kata saja om!
π§π½ββοΈSalam Sayang Selalu by RR ππ§π½ββοΈ
π§π½ββοΈTo be continued ππ§π½ββοΈ
__ADS_1