KESANDUNG CINTA CALON DUDA

KESANDUNG CINTA CALON DUDA
Kegaduhan Pagi


__ADS_3

Berurai air mata dan rasa malu bersama kemarahan yang tidak mampu ia lontarkan dengan sebuah kata-kata bahkan tindakan yang akan Nadira lakukan.


Nadira membawa kembali kopor kopor yang belum sempat ia buka menuju mobil yang sudah di siapkan oleh mang Budi sopir yang biasa melayani kebutuhan pak Baskoro.


Semua sudah terjadi, ibarat nasi terlanjur menjadi bubur, luka menganga itu akan sulit mengering.


Herman yang enggan memasuki kamarnya, berat rasanya menerima kenyataan cinta pertama yang ia pupuk dari awal kini menjadi sebuah pengkhianatan yang menyakitkan baginya.


"Pa... Mama kok nggak tega ya menyaksikan Herman begitu terpuruk dalam pernikahannya," Bu Ariani menghela nafas dan merasa sulit matanya terpejam dalam tidurnya malam itu.


Kejadian yang baru saja terjadi, selalu terbayang dalam ingatannya.


"Sudah ma, itu sudah menjadi pilihan Nadira dan keputusan Herman sudah mutlak, cuma cucu kita yang akan menjadi korban atas kejadian ini." Pak Baskoro memeluk tubuh Bu Ariani dari belakang dalam rengkuhannya, dan membawanya kedunia mimpi mereka.


"Tidur ma... Jangan lupa berdoa semoga Herman segera mendapatkan jodoh idaman dan Mama pengganti untuk Kayla."


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Aroma bumbu yang sedang di aduk di atas penggorengan itu, sangat menggugah selera makan. Apalagi perut yang sudah keroncongan.


Nasi goreng spesial dengan taburan bawang merah goreng, dan telur ceplok plus kerupuk udang teh melati yang di bawa Anjani dari kampung, hasil tanaman depan rumahnya menemani menu sarapan pagi dengan irisan pepaya yang merah merona dan segar, sungguh! Sarapan yang nikmat dan tidak wajib untuk komplain tentunya.


"Ma... sepertinya Anjani pinter masak loh ya, hemm bakal nambah nanti ma," gumam pak Baskoro sambil mengedip ngedipkan matanya.


Sambil menunggu sarapan tersedia pak Baskoro dan Bu Ariani duduk di beranda samping rumah sambil memangku Kayla yang aktif memberikan makanan untuk ikan ikan koi peliharaan di kolam.


"Hhem, asal tidak kolesterol aja ya pa," goda Bu Ariani sambil tersenyum sambil terus melemparkan bijian konsentrat untuk ikan-ikan koi itu.


Tiba-tiba....


Aahhhhh tolong.....


Dua suara perpaduan antara laki-laki dan perempuan, sama-sama kencang dan nyaring mengejutkan seisi rumah.

__ADS_1


"Gusti....ada apa den Herman... Jani?" Lalu disusul suara bi Ijah yang tidak kalah nyaringnya.


"Kamu!"


"Bapak....pak Her... Herman," suara Anjani terbata-bata sambil membuang muka ke jendela.


"Hei kenapa kamu disini? dih kamu mesum ya melihat orang yang sedang keluar dari kamar mandi!" Ucap Herman seraya memakai kaos oblongnya tergesa-gesa di enggan handuk yang masih melilit pada bawahannya.


"Maaf saya tidak tau bapak akan keluar dari kamar mandi itu, bukannya bapak tidur di kamar atas? Kenapa mandinya di kamar mandi dapur?" Bukanya Herman yang mencerca pertanyaan tapi malah Anjani yang dengan lancar melontarkan sekian pertanyaan kepada Hermansyah.


Herman merah padam mukanya menahan malu segera melangkah kakinya menuju kamar tamu di lantai bawah, sedangkan Anjani nyaris saja jantungnya enggan untuk berhenti berdetak kencang, ketika menyaksikan betapa kokohnya dada bidang sang majikan yang putih bersih dengan butiran air yang masih tersisa disana.


Pak Baskoro dan Bu Ariani yang menyaksikan keributan mereka berdua tidak sanggup menahan tawa, "mama...ila mamam." Kayla membuyarkan kehebohan pagi yang membuat seluruh anggota keluarga kaget.


"Duh rumah kita bakal rame ya Bu? Anjani rupanya suka ngomong lantang juga, he..he..he.." ucapan bi Ijah di selingi dengan senyum tanpa maksud selain bercanda saja.


Semua sudah duduk di kursi masing masing dan melakukan sarapan pagi bersama, tiba-tiba Kayla yang duduk di high chair menyeletuk. "Mama, mana?"


Suapan nasi goreng yang baru saja akan masuk kedalam mulut Herman, berhenti seketika demi mendengar suara itu.


"Mama, ayo mamam cinih masa!" Teriak Kayla kembali lantang.


"Sayang, Kayla anak papa! Kayla mamam dulu ya! Mama masih kerja belum pulang, nanti kalau sudah pulang bisa mamam bareng Kayla," hibur Herman menengahi keheningan yang tercipta tiba-tiba.


"Itu mama! Mau mamam sama mama," rengek Kayla ketika melihat bayangan Anjani yang melintas dari balik jendela, hendak menjemur pakaian yang baru ia ambil dari mesin cuci.


"I..itu bukan mama sayang, itu kak Anjani," Jawab Herman sambil melirik pak Baskoro yang acuh dan tetap menyuapkan nasi gorengnya dengan lahap dan menikmati makanan itu.


"Oma, ila mau mama," Kayla sudah berancang-ancang untuk mengeluarkan jurus andalannya agar keinginannya di kabulkan oleh papanya.


"Ma.. tolong beri pengertian kepada Kayla, tentang Nadira." Herman merasa frustasi oleh keadaan yang bakal menimpa putri semata wayangnya.


"Anjani, tolong kesini!" Pak Baskoro akhirnya menengahi permasalahan Kayla dan ketakutannya Hermansyah.

__ADS_1


Anjani dengan langkah panjang segera menghampiri panggilan yang ditujukan kepadanya, " iya tuan, ada yang bisa saya bantu?"


"Kayla ingin kau temani makan, dan sekalian kau makan! Sebab kami sudah selesai makan," Bu Ariani menambahkan kata-kata agar tidak terjadi kecanggungan di pagi hari.


Herman hanya bisa menatap Anjani dengan sejuta tanya, kenapa Kayla bisa memangilnya mama, dan begitu akrab anaknya dengan Anjani.


Anjani pun menatap Herman dengan rasa yang kurang nyaman, karena mata itu kembali membuat degup jantungnya serasa tidak normal lagi.


Pak Baskoro meninggalkan meja makan terlebih dulu, sambil melempar senyuman misteri kepada Hermansyah.


Lalu tidak lama kemudian Bu Ariani menyusul, mengikuti pak Baskoro menuju taman bunga di pekarangan belakang rumah.


"Papa, ayo mamam, aa...." Kayla dengan mimik wajah yang lucu seperti mengajari makan kepada Hermansyah.


"Maaf pak Herman, saya sudah empat hari berada disini, atas kehendak tuan Baskoro. Lalu saya juga tidak mengerti kenapa Kayla selalu memanggil saya dengan sebutan Mama," Anjani tetap menatap kearah Herman, sambil tidak peduli ia tetap makan nasi goreng masakannya sendiri.


"Emmm, masakan hari ini sangat enak, besok tolong suruh bi Ijah, bikinkan saya yang sama seperti ini untuk bekal ke kantor ya, Anjani," ucap Herman mengalihkan pembicaraan.


"Ini saya yang masak pak, kenapa? Bapak suka? dengan senang hati akan saya masakan lagi pak." Anjani merasa senang ternyata bosnya juga suka dengan nasi goreng kesukaannya.


Kayla makan dengan lahapnya, ia bahkan tidak perduli dengan pembicaraan orang dewasa di sebelahnya, yang sama-sama mengalikan kegugupan masing-masing.


"Terima kasih, saya harus berangkat ke kantor, saya titip anak saya, jika rewel tolong hubungi kantor langsung ke saya." Pesan Hermansyah sambil berdiri dan menghampiri Kayla, mencium kening batita itu dan pamit akan berangkat kerja.


"Papa, tium mama juga ya!" Perintah Kayla sambil menatap Anjani yang kebingungan.


"Hah...!"


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Duh anak kecil tidak paham konflik batin orang dewasa aja nih bestie πŸ˜‚, main suruh tium tium pula 🀣.


oke deh bestie jempol yah jempol Ojo laliπŸ˜‚

__ADS_1


Salam Sayang Selalu by RR 😘


To be continued πŸ˜‰


__ADS_2