
Mata Herman sesekali mencuri pandang ke arah Anjani yang masih saja sibuk menyuapi Kayla.
"Ehem... Oh ya Anjani, sebaiknya kamu tidur di kamar Kayla dan selama bi Ijah masih di kampung kamu tidak usah menyiapkan kebutuhan sarapan makan saya, saya takut kamu kelelahan." Ucap Herman sambil tetap menguyah nasi goreng yang tersisa di dalam piringnya.
"Itu bisa di atur pak, saya enjoy melakukan tugas saya pak," Anjani menjawab sambil tersenyum dan menatap sekilas kearah Herman.
"Bersiaplah Jani, satu jam kedepan kita akan pergi untuk belanja kebutuhan, seminggu kedepan!"
"Baik pak."
"Horeee nanti ila mau minta gendong papa lagi," teriak Kayla tentu saja sangat girang, selama ini jarang untuknya bisa berjalan bersama kedua orang tuanya adalah hal yang langka yang pernah ia rasakan.
Persiapan pun mereka lakukan, Herman memakai setelan baju santai, dengan paduan kaos oblong begitupun Kayla sangat cantik memakai dress santai dengan rambutnya yang panjang sebahu di kuncir dua pada bagian atasnya.
"Wow princess papa hari ini cantik sekali, beri papa kiss nya dong sayang, hhuummm." Herman menciumi pipi gemoy kayla.
"Mama mana, kok lama!" Kayla sibuk mencari dimana Anjani berada.
Mata Herman menangkap Anjani yang memakai baju sedikit lusuh, timbul ingatan Herman akan sesuatu yang ia simpan sebenarnya sebagai hadiah untuk Nadira.
"Sebentar Jani!" Buru-buru Herman melangkah menuju kamarnya dan memberikan bingkisan besar Anjani.
"Bukalah dan ambil yang cocok untuk kamu pakai keluar siang ini, jangan pakai baju itu Jani?" Herman bicara sedikit berbisik karena takut kalau di dengar Kayla yang akhir akhir ini suka usil dengan kemauannya.
Anjani berlalu masuk kedalam kamar kayla dan mencoba satu stel baju santai, yang ternyata sangat pas pada ukuran tubuhnya.
Karena takut Herman dan Kayla menunggu terlalu lama, Anjani buru-buru melakukan sedikit polesan lipstik dengan warna mate.
__ADS_1
"Pak Herman saya sudah siap, ayuk!" Ajak Anjani sambil mengulurkan tangannya kepada Kayla.
"Mama cantik, Kayla suka." Ucap Kayla dan mengakibatkan tangan Anjani gemas dengan ucapannya, lalu menggelitik perut Kayla yang tertawa kegelian.
Mereka bertiga berangkat dengan keceriaan Kayla, dan tentu saja Anjani merasakan tentang itu, sebab selama hidupnya di kampung ini adalah kali pertama baginya melihat apa yang namanya mall, dan hang out melihat keramaian yang hanya bisa ia lihat melalui siaran televisi saja.
Herman membiarkan Kayla bermain di time zone, berlari kesana kemari dan bermain mandi bola bersama Anjani.
Tawa mereka lepas, tanpa beban dan tanpa kecanggungan, Herman melihatnya dari jauh senyum bahagia itu sesaat melupakan luka yang masih menganga terlalu dalam.
Hingga waktu pun mengharuskan mereka untuk pulang, "Anjani! Kamu lelah? Sebaiknya sehabis sampai di rumah kamu mandi dan langsung tidur saja," pesan Herman.
"Iya pak, terima kasih lain kali bawa kami ketempat tadi ya pak," ajak Anjani tanpa rasa canggung lagi, seolah olah mereka adalah teman ataupun anggota keluarga yang sangat akrab.
"Bisa...bisa asal kamu rajin bikini saya sarapan, hem!" Mata Herman mencuri pandang lewat kaca spion, wajah polos Anjani memaksanya untuk bersabar sebagai laki-laki normal.
Kayla yang kelelahan tertidur dalam pangkuan Anjani, gadis kecil itu telah mendapatkan kepuasan tersendiri. Bermain lepas dengan orang yang di harapkan bisa menemani dan mengerti dunianya.
Malam Pun beranjak membawa lelap Anjani dan kayla, namun tidak dengan Herman setelah menguyur tubuhnya dengan air dingin membuatnya terasa nyaman.
Kamar dengan ukuran besar dengan nuansa brown mate, dengan foto besar yang masih tergantung indah di dinding bercat putih bersih itu, senyum Nadira Aswari yang cantik, dengan manja menatap kearah Herman yang merangkul pinggang dengan kedua tangannya.
"Ah .. Nadira, terlalu dalam luka itu kau goresan, terlalu indah untuk ku lupakan kenangan yang indah bersamamu, jerit manja mu masih jelas kudengar di telingaku."
Langkah gontai Herman mengambil laptop yang biasa ia pakai hanya untuk sekedar membuka file atau melihat tayangan di short film pada sebuah aplikasi, atau mengamati tidur Kayla melalui camera CCTV wireless yang bertautan pada laptopnya.
Mata Herman menatap dengan terbelalak tatkala mendapati pemandangan yang ia lihat dari cctv tersembunyi di kamar Kayla.
__ADS_1
Anjani yang belum juga terlelap, sedang membayangkan Herman yang ternyata orangnya asyik bila sedang diajak bicara ataupun bercanda.
Anjani yang hanya mengenakan tank top dengan celana kolor selutut, tidak menyadari setiap pergerakannya sedang dinikmati oleh Herman.
Berulang kali Herman menarik nafas, demi melihat ulah Anjani yang terlentang dan memainkan ponselnya, entah siapa yang ia hubungi hingga selarut malam ini.
Sedangkan Anjani yang masih sibuk bercanda dengan Melisa melalui ponselnya saling menanyakan kabar masing-masing, tidak menyadari sepasang mata mengawasinya sambil menahan sesuatu yang menyiksa otak kelelakiannya. π€
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Pagi yang cerah secerah senyum Anjani, bubur ayam dengan teh hangat bunga melati sudah tersaji. Senandung lagu ia lantunkan tanpa ia sadari Herman sudah berada di belakangnya.
"Eehemm, Jani." Sapa Herman.
"Eh bapak, pagi pak... Maaf sa saya tidak tau bapak ada di belakang saya." Ucap Anjani sedikit malu.
"Bikinkan kopi saya, dimana Kayla kok tidak ada suaranya?" Herman mengalihkan rasa canggung yang hadir tiba-tiba.
"Papa... Ila kasih makan ikan, biar gendut seperti ila," teriak Kayla dari beranda di balik tembok sebagai pembatas dapur.
Mata Herman intens menatap ke setiap gerakan Anjani, ketika Anjani berbalik badan, mata itu saling menelisik satu sama lain untuk beberapa saat.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Bestie! jinak jinak merpati tuh rencananya, walaupun nyosor sebenarnya π
lanjut yuk? tetep semangat bentar lagi Raya, semoga puasa kita membawa barokah, aamiin π€²π€²
__ADS_1
Salam Sayang Selalu by RR π
To be continued π