KESANDUNG CINTA CALON DUDA

KESANDUNG CINTA CALON DUDA
Rasa syukur Anjani


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu bermain dan makan siang dengan lahapnya Kayla duduk bersebelahan dengan Anjani, gadis cantik yang di gadang gandang pak Baskoro untuk menjadi baby sitter bagi Kayla, dengan anak berusia belum genap 2 tahun itu, yang baru saja bertemu namun sudah lengket seperti perangko.


Hingga mata Kayla perlahan terpejam dan pulas tertidur dalam pelukan Anjani. "Maaf Nyonya, Kayla sudah tertidur saya baringkan dimana?" Tanya Anjani pelan, karena tidak ingin mengusik Kayla yang sudah terlelap dalam tidurnya.


"Heran sama anak ini, ketemu kamu langsung saja lengket Anjani." Bisik ibu Ariani sambil tersenyum tipis pada Anjani.


Bu Ariani membawa Anjani berjalan menuju kamar Kayla dan pelan pelan membaringkan tubuhnya.


Anjani berjalan kembali menuju ruang tengah yang mendapati Bu Ariani sedang membaca buku, sedangkan pak Baskoro menerima sebuah panggilan melalui ponselnya.


"Nyonya... Mohon maaf! Apa yang harus saya kerjakan di sini? Apakah saya sudah bisa minta izin untuk pulang ke kontrakan saya?" Anjani merasa bingung dengan posisinya saat ini di dalam rumah tuannya.


"Anjani, duduklah mungkin saya harus bicara dengan mu untuk menjelaskan maksud kami membawa mu kesini tanpa memberitahu terlebih dahulu."


"Tinggallah kamu disini sebagai pengasuh Kayla! Kebetulan Kayla juga sangat menyukai mu, ini sangat memberikan dampak yang bagus untuk pertumbuhannya mendatang."


Bu Ariani sedikit menceritakan, bagaimana baby Kayla batita yang kurang kasih sayang dari sosok ibu yang sedang berkarier dan jarang bertemu walaupun dalam sepekan hanya sekali.


"Wah... Terima kasih nyonya! Jadi saya tidak di pecat seperti kata tuan Baskoro bukan, nyonya?" Binar mata Anjani penuh semangat lagi.


"Kalau begitu saya mohon ijin untuk pamit kepada teman saya dan mengambil keperluan saya seperti baju dan lain-lainnya."


Sorak Anjani seperti sudah tidak sabar akan memberikan berita ini kepada Melisa karena hanya dia satu satunya teman dekat yang ia miliki di kita besar ini.


"Sepertinya kau tidak perlu pulang Anjani, baju dan kebutuhan yang kau. Perlukan sudah siap di kamar Kayla, kau bisa memakainya dan membersihkan badan mu sekarang." Bu Ariani memberitahukan tentang keperluan yang akan di butuhkan Anjani.


"Nyonya!"


"Iya, pergilah! Kau bisa mandi sekarang setelah itu istirahat saja, nanti sore bi Ijah akan memberi tahukan apa saja yang harus kau lakukan untuk Kayla, sebab lusa kami harus kembali ke Jogja tempat kami." Anjani sepertinya sulit mencerna setiap bait kata-katanya nyonya Ariani.

__ADS_1


"Maksud nyonya?"


"Iya, kamu langsung kerja disini," ibu Ariani tersenyum melihat tingkah Anjani yang sedikit norak.


"Ya ampun, terima kasih nyonya... Tadi saya sempat berpikiran kalau saya kena PHK, duh... mana mau lebaran lagi, he...he...he..."


"Saya permisi dulu nyonya, tuan." Pamit Anjani sambil memutar badannya menuju kamar Kayla.


Betapa girangnya hati Anjani demi melihat isi lemari yang ia buka dan tau isinya semua baru dan bermerek.


"Wah....orang kaya mah suka-suka kalau mau habisin duit, tapi aku sungguh sangat bersyukur ini semua pasti ada hikmahnya." Ucap Anjani seraya memeluk baju yang hendak ia kenakan.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


"Nadira... apa yang akan kau lakukan? Kau mau kemana?" Teriak lantang Ronny sambil manarik tangan Nadira kedalam


"Lepaskan Ronny! Aku harus pulang ke Indonesia dan harus bisa membuat Herman mencabut talaknya padaku, aku tidak bisa begini Ronny, please?" Nadira meraung bagaikan seorang yang kesurupan.


"Tenang! Kita akan pikirkan bersama-sama, aku tau karakter Herman dengan dengan baik, bukankah ia cinta mati hanya padamu, Nadira."


"Semua sudah terjadi Dira, bukankah ini yang kau harapkan dari Herman untuk segera menalak dirimu, dan kita bisa resmi menikah tanpa adanya gangguan dari Herman, untuk masalah anak, pelan pelan dia juga akan tau bahwa kau adalah ibunya, atau kita ambil saja hak asuhnya, dengan alasan dia masih batita membutuhkan seorang ibu di sisinya." Dengan mudah Ronny menasehati Nadira seolah-olah akan semudah itu masalah ia pecahkan.


"Ronny, kau pikir semua uang ku dari mana kalau bukan dari Herman, dia selalu memanjakan aku pada finansial walaupun dalam permasalahan ranjang sangat kurang bagiku," Isak Nadira penuh penyesalan.


Nadira merasa ini adalah karma yang harus ia tuai, akhirnya ia menyerah dan jatuh kedalam pelukan Ronny lagi.


"Ronny, kita harus tetap akan pulang! Kita tidak bisa lama-lama disini, aku tidak ingin Herman menceraikan aku." Nadira terus saja menangis menyesali perbuatannya dan seketika hatinya down, lalu membuatnya pingsan karena sebuah tekanan perasaan yang sama sekali ia tidak pernah menduga akan terjadi.


Ronny kalang kabut dengan kegugupannya ia menelepon operator servis di hotel tersebut untuk menyambungkan dokter dan datang ke kamar Nadira, untuk melakukan pemeriksaan terhadap Nadira.

__ADS_1


Kepanikan Ronny membuatnya terlihat sangat bodoh, ketika ia sibuk mengambil ponsel Nadira lalu scrolling mencari nomor Herman yang tertera di sana.


Puluhan kali Ronny melakukan panggilan terhadap Herman, namun semua nihil! Dalam hati sebenarnya bersorak, misi untuk menghancurkan Herman telah berhasil.


Ronny selalu saja cemburu dengan apa saja pencapaian yang Herman terima, Ronny cemburu dengan Herman sejak dari bangku sekolah karena Herman sangat menonjol di beberapa hal. Termasuk berbisnis ketika mereka sama sama terjun dan menggeluti dunia bisnis, hingga perkawinan antara Nadira dan Hermansyah.


Semua tentu membuatnya menjadi cemburu, namun hanya pada Nadira ia merasa di atas angin. Nadira yang selalu haus akan keliarannya di atas ranjang, menjadi incarannya dan berhasil.


kembali Ronny mencoba menghubungi Herman melalui ponsel Nadira, "ya hallo, apalagi? belum puas dengan drama kejam yang kau lakukan padaku, Nadira."


Akhirnya Herman mengangkat juga panggilan ponsel itu, "Herman ini aku Ronny, maafkan kami, kami khilaf ku harap kau Sudi memaafkan kami,"


"omong kosong apa ini Ron, kau bilang khilaf, ha...ha..ha... seekor anjing pun tidak pernah berharap memakan bangkai majikannya," emosi Herman kembali meluap tidak bisa ia kendalikan.


"Ambillah Nadira! kalau aku mencintainya, bahkan sangat penting kehadiran Nadira untukku, atau aku bisa mati tanpa Nadira, tapi itu dulu ..dulu sekali, sekarang aku tidak perduli."


"tunggu Herman, Nadira saat ini pingsan dan sedang di rawat oleh seorang dokter, bisakah kau berbicara sepatah kata setidaknya." pinta Herman tanpa rasa bersalah dan malu sedikitpun.


Namun.....'klik' panggilan terputus dan langsung notif blokir dari seberang.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Duh pria macam apa sih si Ronny ini๐Ÿคฎ, tapi itu tak luput dari kebodohan Nadira yang bisa-bisa jadi pecundang.


Tetap sabar ya bestie, jangan lupa like dan komen yang membangun terimakasih ๐Ÿ˜˜


Salam Sayang Selalu by RR ๐Ÿ˜˜


To be continued ๐Ÿ˜‰

__ADS_1


__ADS_2