
'Aaahh....aaah...." Teriak Herman membenamkan wajahnya pada bantal tidurnya, sakit kepala yang ia rasakan akibat alkohol yang ia konsumsi semalam, tidak seberapa dengan apa yang dirasakan hatinya tatkala menyaksikan beberapa foto dan video yang dikirimkan oleh orang kepercayaannya untuk menyelidiki keberadaan Nadira.
Ia menatap jam yang ada di atas nakas, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, Herman melempar guling dan bantal ke lantai, lalu berjalan dengan enggan ia menuju kamar mandi dan menguyur air sejuk ke tubuhnya yang gerah, karena suasana hatinya yang sangat kacau.
Tiga puluh menit telah berlalu ia berusaha menyejukkan hatinya dan dirinya di bawah shower, di dengan mengenakan celana jeans dan hem bermotif kotak-kotak lengan panjang yang ia lipat hingga pada batas siku.
"Pa ..pa...ma..ma..." Suara mungil Kayla membuatnya menoleh dan tersenyum lalu jongkok mensejajarkan dengan tubuh Kayla yang masih sebatas lutut orang dewasa.
"Sini, uhhh anak papa cayang, eemmmuaach..." Herman memeluk dan mencium gemas pipi gemoy Kayla dan terkikik geli karena terkena bulu halus di di dagu dan kumis tipisnya.
Menggendongnya dan membawa Kayla menuju dapur mencari bu Ariani.
"Herman..! apa yang terjadi padamu? Kau terlihat kusut apakah ada kendala pada perusahaan?" Bu Ariani pelan memberikan pertanyaan pada Herman yang sibuk menyuapi Kayla dengan makanan kesukaannya.
"Ma, saya menyusul papa dulu. Titip Kayla!"
Herman mencium kening bu Ariani lalu memberikan Kayla dalam pangkuannya, tanpa menjawab pertanyaan Bu Ariani dan mengabaikan makanan yang sudah tersaji untuknya.
"Assalamualaikum ma, Herman berangkat dulu!" Herman melangkah menuju garasi mobil, perlahan ia menjalankan mobilnya hingga ke gerbang pekarangan rumahnya.
Sekuat hati dan perasaan Herman tetap santai, memendam rasa dan amarahnya. Wanita yang ia pertahankan dengan cinta dan sayang yang tanpa batas ukurannya, namun tega melakukan pengkhianatan dibelakangnya.
Ia mengunakan headset dan mulai menelepon Simon, "hallo Bro...bantu gua transfer uang ke rekening Nadira sebesar seratus juta, sekarang,"
"Hei bro..loe oke kan? Kondisikan jiwamu," Simon menjawab telpon Herman dengan pesan yang mencemaskan keadaannya sebagai teman dan sahabat.
Mobil Herman pelan memasuki pabrik dengan di sambut oleh pak Toni dan satpam lainnya.
Kunci mobil ia berikan kepada pak Toni, Herman memasuki kantor dan menuju lorong mengarah ke lift yang akan membawanya naik ke ruang kerjanya di lantai atas.
Senyum khas Herman ia lemparkan ke karyawannya yang kebetulan berpapasan dengannya, " siang pak," sapa Simon profesional ketika mereka berpapasan di dalam lift.
__ADS_1
Sunyi tanpa kata, hanya mata mereka yang saling menatap tanpa ada reaksi yang berlebihan.
Ting ... Pintu lift terbuka dan mereka bergegas berjalan keluar, "tumben loe berangkat siang! Loe sehatkan bro?"
"Seperti yang loe lihat, gua sehat lahir dan batin," jawab Herman dengan senyum lebarnya, ia benar-benar telah melupakan kejadian yang nyaris saja membuatnya gila semalam.
Herman berlalu dan bergegas memasuki ruangannya, dan didalam sudah menunggu pak Baskoro, "tumben kau mabuk semalam Herman? Kesepian, atau sedang menghadapi situasi yang membuatmu berada di puncak kemarahan mu?"
"Hanya ingin melakukan hal baru pa, ternyata hanya pusing yang saya rasakan, tidak lebih." Tawa Herman menutupi kemelut yang ia rasakan.
"Serius hanya ingin mencoba hal baru? Lalu bagaimana dengan ini, Hem?" Pak Baskoro melemparkan, majalah dewasa ke atas meja kerja Herman.
"Herman, lakukan sesuatu sebelum semua terlanjur. Masa depan Kayla membutuhkan perhatian khusus pada masa-masa golden aged dan pertumbuhannya."
Mata Herman menatap nanar pada tumpukan majalah dewasa yang ada di depan matanya, lunak yang berusaha ia sembunyikan nyatanya sudah tersebar di publik, dan menjadi konsumsi publik pada umumnya.
Segera ia menelepon simon," bro, tutup semua akses tentang berbagai berita yang menyangkut Nadir, "
"Tanpa perintah loe, gua sudah bertindak cepat semalam, dan pesan loe untuk transfer uang sebesar seratus juta sudah gua laksanakan satu jam lalu." Jawab Simon panjang lebar.
"Sudah....! Tenang kan pikiranmu, esok papa akan berangkat ke Surabaya untuk meninjau cabang Anexaplast disana."
Pak Baskoro mengalihkan pembicaraan dan kembali meneliti hasil kerjanya. Sambil memutar Oldies lagu masa mudanya dengan cinta pertamanya yang telah menemani suka maupun dukanya hingga hari ini.
"Pa, saya sudah menyelidiki keberadaan Nadira saat ini. Saya sudah mempunyai keputusan, ia tidak akan bisa dan mungkin menyentuh Kayla! Walaupun ia adalah ibu biologisnya."
"Besok saya yang akan melakukan peninjauan ke Surabaya, papa tetap disini! Mungkin butuh waktu seminggu saya berada di Surabaya."
Akhirnya Herman bercerita juga tentang keluh kesahnya, menghadapi sikap Nadira dan semua yang ia dapatkan darinya.
Tanpa terasa waktu pun berjalan menuju siang hingga, krucuk...krucuk...
__ADS_1
Alis pak Baskoro terangkat satu sisi, mata mereka saling menatap dan tertawa bersama.
"Kita makan bro, perut papa juga lapar dan papa juga tau loe belum sarapan, ha...ha...ha..." Pak Baskoro mengimbangi dalam berbicara seperti kaum muda pada teman sesamanya.
"Ha...ha..ha..come on pap, let's go?" Sungguh ikatan antara bapak dan anak yang sangat kuat dan akrab, walaupun sulit untuk move on tentunya. Namun, semua dukungan pak Baskoro seolah semangat Herman untuk menguak kebejatan Nadira, like Son like Father.
Mereka berjalan menuju lobby kantor, tidak lama seorang office boy membawa mobil dari tempat parkir dan menuju di depan pintu masuk kantor.
Herman menerima kunci dan duduk di depan kemudi, di susul pak Baskoro yang duduk di sampingnya.
"Papa mau makan dimana? Ingat kolestrol jangan makan yang aneh aneh."
"Kita menuju jalan Wahid Hasyim yah, kemaren ada rumah makan yang aromanya sangat mengunggah selera, papa ingin mencoba makan disana."
Herman menuruti keinginan pak Baskoro, ia lantas memutar haluan menuju jalan Wahid Hasyim.
'warung nasi uduk Mak siti'
"Tuh ada tulisannya, Her! Dan di sebelah gang itu jalan masuk rumah Anjani,"
Reflex Herman menoleh kearah pak Baskoro dengan mengerutkan keningnya penuh tanda tanya, "papa tidak sedang mempunyai pikiran meninggalkan Mama kan?" Tanya Herman mencurigai gelagat pak Baskoro dengan muka sedikit masam.
"Bisa ya... Bisa juga tidak, tergantung suasana juga sih," begitupun pak Baskoro menjawabnya enteng, sambil mengerlingkan matanya genit seperti seorang pemuda yang sedang kasmaran.
"Kita pulang pa!" Ajak Herman sambil menyalakan mesin mobilnya.
"No...! Kita turun! Papa lapar, kamu juga lapar kan? Ayo... Sebelum asam lambung naik dan tepar tak berdaya." Pak Baskoro bicara seraya menahan senyumnya yang berhasil menggoda Herman yang sedang sibuk meredakan amarahnya.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Lanjut bestieh.... emang siapa yang naksir Anjani sih π³.
__ADS_1
To be continued π
Salam Sayang Selalu By RR π