
"Anu nyonya, tuan...maafkan saya, tadi yang masak saya karena bi Ijah masuk angin" jawab Anjani sambil tetap menyuapi Kayla yang lahap memakan makanannya.
"Iya Bu, maaf tadi saya masuk angin, tapi sudah di kerokin sama ratna, maaf Bu." Bi Ijah tidak kalah bingungnya dengan pertanyaan pak Baskoro sama Bu Ariani.
"Ada yang salah ya nyonya? Tapi saya mohon jangan pecat saya nyonya! Saya akan berusaha memperbaiki kesalahan saya, dan tidak akan saya ulangi lagi." Anjani berusaha meminta maaf bila kesalahan itu terletak pada dirinya.
Tapi pak Baskoro tetap saja menikmati masakan sederhana yang telah di sajikan oleh Anjani.
"Mama...mamam.." Kayla membuyarkan keheningan sesaat, dan membuat Anjani segera memberikan suapannya lagi
"Anjani kalau setiap hari kamu yang masak, saya jamin anggota keluarga ini akan meningkat semua berat badannya," Bu Ariani akhirnya menyudahi sandiwara mereka berdua.
Lalu di sambut tawa oleh pak Baskoro yang masih saja dengan santai menikmati enaknya masakan Anjani.
"Jani besok pagi, bapak mau dibikinin nasi goreng ya, dan sementara bi Ijah pensiun masak, he he he," gurau pak Baskoro sejenak menguraikan ketegangan yang telah membuat Anjani dan bi Ijah semula penasaran.
"Huh papa maunya, awas saja kalau kolesterol tinggi lagi. Nanti sibuk minta di antar ke sinshei lagi," Bu Ariani tidak mau kalah untuk menimpali candaan pak Baskoro.
Acara makan siang yang ramai dengan gurauan yang tidak seharusnya, mampu membuat kedekatan antara mereka.
Bi Ijah yang sudah sekian tahun mengabdi pada keluarga Baskoro sedikit banyak sangat kenal dengan masing masing perangai anggota dalam keluarganya.
Makan siang pun telah usai, Kayla kembali dalam pangkuan Bu Ariani dan an oak Baskoro sambil menonton film kartun kesukaannya, Winnie the Pooh and friend's. Hingga perlahan membawanya terlelap dan mereka dengan nyaman tertidur di depan tv yang masih menyala.
Sementara, Anjani dan bi Ijah makan bersama setelah tuan Baskoro dan bi ariani, lalu berkemas membersihkan meja makan bekas mereka.
"Non Anjani, semoga kerasan disini yah... Bapak sama ibu beliau berdua sangat baik, tapi mantunya yang kurang baik sih, tapi jangan di ambil hati, dia jarang ada dirumah. Selalu sibuk keluar negeri jadi model," cerita bi Ijah panjang lebar tanpa diminta.
"Ah bibi, panggil Jani saja! Sudah jangan bicara in orang bi, nanti kalau makan kesedak kan kasihan, bi." Bi Ijah buru-buru menutup mulutnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Jani... Seperti bapak sama ibu sedang kelon sama Ning Kayla di depan TV, kita sebaiknya ke pasar sore untuk membeli kebutuhan, rumah yang sudah habis sama belanja sayur buat persediaan, kulkas sudah menipis persediaannya." Bi Ijah melakukan persiapan dan mengambil keranjang belanja.
"Kita jalan ya bi? Jauh dari sini?" Anjani menanggapinya dengan basa-basi lalu mengikutinya dari belakang bi Ijah.
"Kita di antar kang sholeh, Jani."
Mereka pun berangkat dengan di antar mang Sholeh, sebab jarak pasar dengan tempat mereka tinggal sedikit jauh, dan perlu transportasi untuk menuju ke sana.
Bi Ijah banyak memberikan beberapa tata cara yang sering ia lakukan di rumah keluarga Baskoro, tentang masakan dan pekerjaan yang berada di dalam rumah itu tidak ribet, hanya harus tertib.
"Den Hermansyah orangnya tegas Jani, tapi beliau sangat baik. Memperlakukan kita yang bekerja namun seperti keluarga sendiri, nanti kami pasti kenal dia Jani, putra pak Baskoro satu-satunya."
Anjani tidak banyak menimpali pembicaraan bi Ijah, mereka terus saja melanjutkan aktivitas belanja di pasar tradisional yang ramai pada sore hari.
Waktu berjalan dengan lambat namun pasti akan menuju senja. Kedatangan Anjani dan bi Ijah dari pasar sudah di tunggu-tunggu oleh Kayla yang sejak bangun tidur sudah merengek mencari dimana Anjani.
"Maaf nyonya, Jani kebelakang dulu," pamit Anjani pada Bu Ariani dan di balas dengan anggukan bersama senyuman manis khas Bu Ariani.
Tidak berselang lama setelah Anjani masuk ke dalam dapur dan menuju kamar mandi yang ada di antara dapur dan tempat tidurnya.
Sebuah taxi berhenti tepat di depan gerbang dan masuk lebih kedalam setelah satpam membukakan pintu gerbang lebih lebar lagi.
Satpam di samping gerbang dengan buru-buru membantu membukakan pintu taxi, dan mengeluarkan beberapa kopor serta bawaan lainnya dari dalam mobil.
Beberapa kopor dengan bantuan satpam dan mang Sholeh di bawa masuk dengan pelan pelan menuju ruang tengah.
Bu Ariani bersama pak Baskoro menyaksikan kedatangan Nadira dengan sedikit asing.
Rasa kecewa dan ikut merasakan sakit hati atas yang dirasakan putra tunggalnya dengan kelakuan sang mantu padanya.
__ADS_1
"Mama..., Papa... Apa kabar? Nadira pulang, maaf saya pergi terlalu lama." Sepertinya sikap pak Baskoro dan Bu Ariani yang acuh kepadanya sedikit membuat Nadira agak kikuk juga.
"Permisi pa,ma..." Nadira kemudian berjalan masuk menuju kamar utamanya.
Kayla memandang kedatangan Nadira ibu kandungnya, bahkan tidak ingin menyapa atau sekedar merengek ingin dalam gendongannya.
Namun ketika melihat Anjani yang sekelebat lewat menuju dapur untuk mempersiapkan masak untuk makan malam, batita itu secara reflex rewel dan meronta ingin turun dari pangkuan Bu Ariani.
"Ma..maaa...hik hik..." Kayla berjalan dengan sedikit berlari menuju tempat Anjani berada.
Nadira yang sudah masuk di dalam kamar dengan segera membersihkan tubuhnya dengan mandi dan memakai wangi-wangian kesukaan Herman, lalu memakai baju santai berjalan menuju ruangan tengah yang ada Bu Ariani dan pak Baskoro yang sedang menerima telpon dari Herman.
"Halo, kenapa mendadak? Oke oke biar Budi yang menjemputmu." Panggilan telepon terputus
, Lalu pak Baskoro menatap Bu Ariani.
"Ma... Minta tolong, Budi menjemput Herman di bandara, sekarang!"
"Nadira kamu duduk, papa ada sesuatu untuk bicara dengan mu."
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Keknya bakal perang nih bestie, kalau terjadi kdrt kalian siap-siap panggil oak erte ye ๐คฃ๐คฃ๐คฃ
siapin jempol bestie biar aku ini semangat nulis ๐คง, komen membangun juga sebuah harapan loh bestie๐ฅบ
Salam Sayang Selalu by RR ๐
To be continued ๐
__ADS_1