
Sore itu Anjani bergegas pulang ke rumah kontrakan yang ia tempati bersama Melisa, "Lisa, aku pindah kerja!"
"Hah! Kamu di pecat kah Jani?" Ucapan Anjani yang belum tuntas sudah di jawab Lisa dengan reaksi terkejut.
"Lisa, aku belum tuntas bicara loh, main sela aja, aku di tarik sama tuan Baskoro untuk menjadi tukang momong di rumah beliau." Jelas Anjani sambil menghempaskan pantatnya pada ranjang tidur mereka.
"Lalu apa yang membuat mu sedih? Bukankah kita setiap hari masih bisa bertemu, Jani. Bukan berpisah jauh juga," ucap Lisa kembali.
"Bukan begitu Lisa, aku harus tinggal disana dan besok aku sudah mulai kerja," mata Anjani berkaca kaca hendak menangis.
"Sudahlah Jani selama kita tidak berpisah terlalu jauh, dan masih bisa kita jangkau untuk bertemu dikala kita saling merindukan, jalani saja! Aku tetap mendukungmu, jalani saja, tetep semangat yah!" Melisa memberikan semangat untuk Anjani sahabat karibnya.
"Sewaktu waktu kamu bisa datang ketempat ini, dan aku selalu menanti kedatangan mu untukku," Melisa menggoda Anjani dengan gaya seperti ibu yang akan merindukan anak gadisnya yang akan pergi merantau ke negeri seberang.
Pembicaraan mereka berakhir pada bantal dan guling, yang membawa mereka merajut mimpi dengan harapan untuk menuju kehidupan yang lebih layak.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Wanita muda dan cantik itu bergegas berjalan dan menuju keluar dari loby kedatangan, di bandara internasional di kota Jakarta.
"Nadira, tunggu aku! Apakah dengan begini kau meninggalkan aku, kau baik baik saja kan!" Ronny berusaha mengejar langkah kaki jenjang Nadira.
"Ini masih terlalu dini untukmu pulang, sayang! Tunggulah sebentar mungkin setelah matahari terbit agak siang kau bisa pulang ke rumahmu." Ronny kembali memberikan pertimbangan kepada Nadira, yang masih saja menangis menyesali perbuatannya.
__ADS_1
"Sayang...andaikan aku benar-benar di ceraikan oleh Herman, apakah kau akan menepati janjimu untuk menikahi diriku?" Isak tangis Nadira menyayat hati.
Jatuh kedalam pelukan Ronny adalah satu-satunya tempat Nadira untuk menghibur dirinya sendiri.
Bujukan Ronny kembali berhasil memperdaya pendirian Nadira, Ronny kembali membawa Nadira keluar dari bandara dan menuju penginapan di sekitar bandara.
'Aku akan bikin keluarga mu hancur Hermansyah, tunggu saja tanggal mainnya!' batin Ronny tertawa akan kemenangan yang ia dapatkan dari kehancuran sahabatnya sendiri
'Tidak ada rotan akar pun jadi, oke! Kau bisa moncer dalam usaha berbisnis mu tapi tidak dengan keluarga mu, wanita pujaanmu harus bertekuk lutut dan menjadi milikku kelak!" Senyum sinis itu terlukis di balik pelukan hangat yang ia berikan kepada Nadira yang sedang di rundung ketakutan akan ancaman cerai dari Hermansyah.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Sehari pasca kembalinya dari Taiwan Herman melanjutkan lagi meneliti perusahaan anak cabangnya yang ada di kota Surabaya, rasa amarahnya sedikit demi sedikit ia harus mampu untuk menepisnya.
"Nadira, apa yang kau cari! Kurang apa aku di matamu? Kenapa cintamu kepadaku hanya sebagai permainan saja," mata Herman menatap jauh pada jendela kaca yang terhampar luasnya jalanan ibukota dan kebisingan kota seakan siap membakar jiwa yang sudah kering kerontang oleh kepalsuan cinta.
Kring....kring....
Telpon berdering nyaring membuyarkan lamunan Hermansyah, "hallo...iya pa.. apapun itu saya terserah Mama, semua demi kebaikan Kayla, malam ini saya akan kembali pa,"
"Baik Pa, Assalamualaikum." Hermansyah meletakan gagang telepon lalu menghela nafas panjang, separuh nyawanya benar benar telah pergi.
Harapan untuk sehidup semati dalam sebuah pernikahan dengan Nadira harus pupus di bawah ketok palu pengadilan agama, pengkhianatan cinta Nadira tidak mudah baginya untuk membuka pintu maaf baginya.
__ADS_1
Dua insan yang berada di dua tempat mereka saling merenungi kesalahannya masing-masing, saling mengoreksi diri sendiri.
Sedangkan jauh di lain tempat, seorang bocah dengan lincah bermain bersama baby sitter.
"Mam...mama." Kayla berlari sambil berjinjit kaki, dan memberikan sesuatu pada Anjani yang dengan sigap merespon teriakan Kayla.
Gelitik kecil yang di berikan oleh Anjani membuat tawa Kayla semakin menggemaskan.
"Kayla sayang, sini nak! Sama eyang kita mamam siang bersama, eyang sudah pulang tuh !" Ajak bu Ariani sambil memberikan kode kepada Anjani untuk menuju ruang makan.
Anjani memberikan Kayla kepada Bu Ariani, dan ia bergegas ke dapur untuk membantu Mak Ijah, kali ini mak Ijah hanya menyiapkan saja, selebihnya Anjani yang memasak untuk makan siang ini, beberapa lauk dan masakan sayur sudah tersaji dengan rapi.
Harum bumbu menyengat hidung, menggugah selera makan. Sedangkan untuk makanan kayla, Anjani memasak makanan spesial yakni bubur kentang yang dipadukan dengan ayam yang telah dipotong kecil- kecil dengan tekstur yang lunak agar anak mudah mengonsumsinya.
Mereka melakukan rutinitas makan dengan hikmad dan menikmati masakan Anjani untuk pertama kalinya, pak Baskoro bahkan tanpa ekspresi menikmati masakan lauk dan sayur buatan Anjani.
Sedangkan Bu Ariani sibuk mencicipi beberapa hidangan simple di depannya sedikit demi sedikit, tanpa komentar dan meneruskan makanannya.
"Mak Ijah yang masak lauk dan sayur ini ya?" Akhirnya suara Bu Ariani keluar juga dengan sebuah pertanyaan.
"Saya yang masak nyonya, apakah ada kesalahan pada rasanya? Atau ada sesuatu yang nyonya maupun tuan tidak suka?" Ucap Anjani sambil meremas tangannya, merasa bersalah.
Tangan Anjani berubah sedikit gemetar ketika menyuapi Kayla karena rasa takut akan ada sesuatu tidak benar pada hari pertama ia bekerja di keluarga Tuan Baskoro.
__ADS_1