
Mata Herman dengan Anjani saling menatap, semburat merah jelas terlihat pada pipi Anjani.
Sejak awal Anjani masuk kerja di PT Anexaplast, dan beberapa kali melihat wajah Hermansyah melalui foto di ruangan direktur, saat ia oper piket dengan rekan kerjanya dan kini ia bahkan bisa bertatap muka secara langsung, mata itu serasa enggan mengalihkan maniknya, jantung Anjani serasa mau meledak ketika mendengar Kayla meminta Herman untuk menciumnya sebagai mamanya.
"Sayang...ini kak Anjani, bukan Mama ya," Jelas Herman pelan, mengelus puncak kepala Kayla dan tersenyum lalu mencium pipi gemoy Kayla.
"Nggak mauu...Kayla maunya mama," gumam Kayla sambil bersedekap tangan dan bibirnya cemberut berbentuk kerucut.
"Maafkan saya pak, dari kemarin baby Kayla selalu salah menyebut saya dengan panggilan mama." Anjani berusaha berbagi cerita dengan dengan Herman.
"Kayla sayang, anak cantik tidak boleh ngambeg dong, biarkan papa berangkat kerja dulu, nanti kita berdua main sambil mengganti baju barbie dengan warna kesukaan Kayla, oke?"
Anjani berusaha mengalihkan pembicaraan sambil membetulkan letak duduknya.
"Oke... Ila sayang Mama!" Tangannya yang mungil berusaha meraih tangan Anjani.
Bi Ijah yang menyaksikan kejadian itu dari tempat tersembunyi, ikut merasakan betapa rindunya Kayla pada sosok seorang ibu di dalam kesehariannya. Kejadian yang bi Ijah dengar semalam tentang keretakan rumah tangga Hermansyah, sebagai bagian anggota keluarga Baskoro walaupun hanya seorang pembantu, tetapi keprihatinan itu tentu juga Bi Ijah rasakan.
"Malang nian nasibmu ndhuk, semoga ning Anjani bisa menjadi pengasuh yang mau memberikan kasih sayangnya kepada baby Kayla."
Hermansyah berangkat ke kantor dengan mengendarai mobilnya sendiri tanpa sopir, setiap suara Kayla yang terucap tadi saat sarapan bersama sangat mengusik hatinya yang sedang kukuh untuk tetap menjalankan proses perceraiannya dengan Nadira.
"Nadira! Aku mencintai setulus hati, menerima mu dengan apa adanya dirimu, namun begini yang kau berikan padaku," gumam Hermansyah.
"Kayla, maafkan Papa!"
__ADS_1
Serasa separuh nyawa Herman hilang, dengan Pengkhianatan yang dilakukan seorang istri yang sangat ia cintai.
Perjalanan menuju pabrik Anexaplast aman terkendali dengan kepala dingin dengan mudah ia handle seluruh tugas dan tanggung jawabnya sebagai direktur utama bersama Simon yang selalu mendukung dan membantunya walaupun dia sangat konyol.
Baru saja Herman memasuki ruangan, tidak lama kemudian Simon masuk dengan sedikit tergesa-gesa, dan memberikan amplop besar berwarna coklat di atas meja.
"Loe jadi cerai dengan Nadira bro? Maaf... Gua sangat ikut prihatin dengan rumah tangga loe, yang sabar semoga kedepan kehidupan loe menemukan pendamping yang lebih baik daripada Nadira." Ucap Simon yang semakin membuat kacau perasaan Herman.
"Gua masih mencintai Nadira bro, tapi pengkhianatan itu terlalu menyakitkan. gua hanya bingung dengan putri gua, bagaimana cara menjelaskan kepada dia yang masih sangat kecil,"
"Yang lebih gila lagi, putri gua manggil Anjani dengan sebutan Mama, ini benar-benar complicated, bro.' Herman menautkan kedua tangannya pada wajahnya yang terlihat lelah.
"Waduh yang bener aja, mana bisa loe embat calon gua, hei!" Sungut Simon berdiri seketika dari tempat duduknya.
"Cinta itu hitam dan putih ada gelap dan terang. Cinta gak selamanya penuh keindahan dan kejelasan, tetapi juga punya bagian gelap yang selalu bikin tersesat, sabar bro ingat! Loe ada Kayla andaikan loe berjodoh dengan Anjani itu bukan suatu kesalahan."
"Seminggu ini gua seperti hidup dalam dilema, bro! Gua harus bagaimana?"
"Kemungkinan ini adalah surat dari seorang pengacara, coba loe pelajari lagi. Gua masih banyak pekerjaan, makan siang nanti gua mau loe traktir gua di warung Mak Siti, siapa tau ada kembaran Anjani yang tercipta buat gua, ha...ha...ha..." Simon berlalu begitu saja dari hadapan Herman yang masih seperti orang linglung membuka isi amplop besar itu.
Sementara di kediaman Hermansyah, pak Baskoro sedang merundingkan sesuatu dengan Bu Ariani.
"Ma.... Sepertinya kita terlalu lama tinggal disini, papa rindu rumah kita yang nyaman. Bagaimana kalau besok sore kita pulang, itung itung Kayla sekarang sudah ada pengasuhnya yang baik, dan terlihat lebih cocok dengan Anjani,"
"Tapi pa... Apa nggak aneh tuh, Kayla memanggil Anjani dengan sebutan Mama, Anjani masih belia loh, mama kok kasihan takutnya Anjani terbebani dengan sebutan itu, pa." Bu Ariani menghela nafas sambil melanjutkan menata bunga pada vas besar yang sudah diisi dengan air.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Bu Ariani, pak Baskoro tersenyum penuh semangat bahwa rencananya akan berjalan mulus dengan di bantu Kayla.
Senyum pak Baskoro kembali ceria ketika melihat Kayla berlari kecil menghampirinya, "kakek...."
"Uh ..cucu kakek yang lucu, dari mana saja! Kenapa ngos ngos an begini?" Tanya pak Baskoro sambil menciumi pipi Kayla dengan gemas.
Kayla menarik tangan pak Baskoro dan membawanya sembunyi di balik sofa.
Bu Ariani yang menyaksikan itu, menjadi tertawa sambil menutup mulutnya dan terus melanjutkan aktivitasnya menata bunga hidup.
Kayla penuh semangat bermain, hingga kelelahan dan tertidur dalam pelukan Anjani setelah mereka makan siang bersama.
Pak Baskoro tetap yakin bahwa rencananya akan sukses seratus persen. Pelan-pelan menceritakan ide menjodohkan Anjani dengan Herman oak Baskoro ceritakan kepada Bu Ariani.
"Apa..! Tidak salah dengar kan pa? Belum tentu Anjani mau dengan duda anak satu, dan sebaliknya dengan Herman, awas ya pa, jangan sembrono main jodoh jodoh in putraku, mama tidak mau Herman terpuruk kedua kalinya, AHH sudahlah lha wong cerai aja belum kok sampean sibuk mau cari mantu." Bu Ariani benar benar di buat bingung dengan ulah sang suami yang sedikit ngebet.
"Ya namanya usaha ma, siapa tau kali ini membuahkan hasil yang bagus, dan segera memberikan kita cucu laki-laki. Nanti mau papa ajak main catur, he...he he..."
πΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Oalah kakek Baskoro ada-ada saja ya Mak π€£π udah mikirin calon cucu aja tuh π, jempol mana jempol mu π€
Salam Sayang Selalu by RR π
Dan ......
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan 1444 H. Semoga ibadah puasa kita mendapat rida dari Allah SWT dengan meraih ketakwaan kita kepada Allah SWT.