KESANDUNG CINTA CALON DUDA

KESANDUNG CINTA CALON DUDA
Pertemuan pertama


__ADS_3

Entah kemana mobil ini melaju, Anjani hanya merasa was-was dan ketakutan yang luar biasa, akankah akan terjadi hal buruk yang akan menimpa diriku!


"kita ke butik langganan nyonya dulu ya Bud, setelah itu kita langsung saya pulang." suara pak Baskoro memberi komando kepada sopirnya pak Budi.


Tapi Anjani sangat yakin! Seorang seperti tuan Baskoro tidak akan mungkin berbuat yang tidak wajar pada bawahan seperti diri Anjani yang hanya ibarat, bumi dengan langit saja.


Rasa kantuk yang mendera mataku ku tahan kuat-kuat, tidak mungkin aku tidur di dalam mobil walaupun rasa nyaman itu selalu menggoda untuk memejamkan mata Anjani.


"Berapa saudara ka punya, ayah ibu masih ada Anjani? Sudah berapa lama kau tinggal di kota ini?"


Suara itu sedikit mengejutkan indera pendengaran Anjani yang sedang melawan rasa kantuk.


"Saya, masih jalan dua bulan ini tuan. Ayah saya sudah berpulang ke Rahmatullah ketika saya masih duduk di sekolah menengah, saya ada adik laki-laki yang masih duduk di bangku sekolah menengah sekarang ini tuan." Anjani menjawab apa adanya.


"Ma..maaf tuan kemana tuan akan membawa saya pergi?" Pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari mulut Anjani.


Tuan Baskoro yang duduk di jok belakang terlihat menghela nafas, Anjani memberanikan diri untuk kembalikan kepalanya dan menatap kearah tuan Baskoro, sebentar kemudian Anjani menatap sopir pribadi tuan Baskoro yang sering di panggil pak Budi.


"Anjani, saya minta maaf! Sebenarnya sejak kemaren kamu sudah saya pecat dari perusahaan sebagai cleaning service."


"Tuan!"


"Ya.... dan sebagai penggantinya, saya akan membawamu kekediaman saya dan menetap disana." Ucapan pak Baskoro berhenti seakan memberikan waktu pada Anjani untuk mencerna semua kata-katanya.


"Maaf... Maksud tuan Baskoro bagaimana?"


Mobil melaju semakin pelan dan memasuki perumahan elite dengan bangunan yang besar dan berjajar hanya beberapa rumah saja dengan di jaga beberapa satpam keamanan di setiap rumah.


"Turunlah! nanti istri saya yang akan menjelaskan kepadamu, yuk!" Baskoro berjalan terlebih dulu dengan menenteng tas kerjanya yang berisi beberapa dokumen penting yang akan ia pelajari di home office miliknya.

__ADS_1


"Pa...pa..." Kayla kecil berlari kegirangan melihat kakek kesayangannya pulang lebih awal.


Bu Ariani mengikutinya dari belakang lalu di susul dengan bi Ijah. "Ma... Gadis yang papa ceritakan ada di depan, dia masih bingung dapat prank dari papa, he...he...he..."


"Papa ini, apa nggak kasihan gadis baik-baik masih saja di usil in , kebiasaan kok nggak pernah berubah papa ini, huh!"


Sungut Bu Ariani yang tidak habis fikir tentang keusilan sang suami.


"Ma...ma...ma...." Kayla berlari menghambur dan memeluk kaki Anjani.


Secara reflex Anjani jongkok dan begitu saja membalas pelukan Kayla, mereka berdua sama-sama tertawa dengan bahasa hati mereka.


Pak Baskoro bersama Bu Ariani hanya saling pandang, menyaksikan pertemuan antara mereka untuk pertama kali dan belum pernah terjadi kontak batin dan pertemuan diantara mereka.


"Kasihan Kayla pa... Usia masih di bawah tiga tahun tapi kasih sayang dari seorang ibu sama sekali tidak ia dapatkan. Lalu apakah Anjani bisa pa, merawat cucu kita? Aku ndak mau loh terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan menimpa Kayla kecil."


"Lalu Herman pa...! Ohhhh sungguh malang putra tunggal kita pa, apakah hanya perceraian sebagai jalan satu-satunya?"


Bu Ariani bersama pak Baskoro, mengamati Anjani dan Kayla yang sudah asyik dan akrab begitu saja di antara mereka, sambil membahas tentang Hermansyah.


Pak Baskoro menghela nafas panjang, dan membenarkan letak duduknya. "Ma... Herman sudah dewasa tentunya, ini adalah kehidupan yang ia lalui dalam suka maupun duka, pilihan sudah ada pada dirinya sendiri, kita hanya sekedar mengingatkan dan mendukung mana yang lebih baik."


Mata Bu Ariani berkaca-kaca ketika mendengarkan penuturan pak Baskoro, "Mama tidak tega Kayla ikut menderita pa, dia masih sangat kecil."


"Sudah....sudah... Kita jalani saja dulu ma, tapi jujur! Papa lebih suka sama Anjani, hhmm." Mata pak Baskoro menatap Anjani dari kejauhan.


"Kalau Herman tidak mau? Belum tentu ia langsung membuka hatinya pa! Tapi entahlah," sungut Bu Ariani.


"Belum tentu juga Anjani Sudi dengan seorang duda, ha...ha...ha.." pak Baskoro tertawa lepas karen mendapatkan cubitan kecil pada sisi perutnya.

__ADS_1


"Ma... terima kasih hingga usia kita yang sudah tidak muda lagi, kau tetap menemani dan melayani papa, terima kasih sayang!" pak Baskoro memeluk erat tubuh Bu Ariani yang sudah terlebih dulu memeluk pak Baskoro.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Ma..ma Ila mamam, mau..." Suara Kayla yang menggemaskan berhasil menghipnotis perasaan Anjani, Kayla yang selalu lengket sejak pertemuannya tadi seolah olah takut kalau tiba-tiba Anjani menyelinap dan meninggalkannya sendiri.


"Adik mau mamam? sini!"


"Ila, mamam..." Jeritnya kembali dan merangkul menuntun mencari Bu Ariani.


Anjani mengikuti langkah kecil kaki Kayla, sekita matanya saling bertukar pandang dengan Bu Ariani, ia jadi sedikit canggung.


"Maaf nyonya, Sa..saya Anjani." Anjani memperkenalkan dirinya sambil menundukkan kepalanya.


"Ayo sini Anjani, saya sangat berterima kasih padamu, lihatlah Kayla langsung akrab saja denganmu." bu Ariani mempersilahkan Anjani, untuk masuk ke dalam dapur dan mendudukkan Kayla pada high chair di depan meja makan.


Bi Ijah menyiapkan meja makan, Anjani tidak segan-segan membantu menyiapkan makanan.


"Bi...saya Anjani, bisa saya bantu menyiapkan makanannya?" tawar Anjani dengan ramah.


"Aduh...neng sudah cantik mana rajin pisan, oei beruntung nanti yang punya mantu atuh neng." celoteh bi Ijah sambil memberikan celemek pada Anjani.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued πŸ˜‰


semoga puasanya lancar selalu dan diberikan kesehatan yang luar biasa πŸ€—πŸ€—


Salam Sayang Selalu by RR 😘

__ADS_1


__ADS_2