KESANDUNG CINTA CALON DUDA

KESANDUNG CINTA CALON DUDA
Vonis Kayla


__ADS_3

"pak Herman, emm kopinya silahkan!" Anjani buru-buru memberikan secangkir kopi pada herman.


Sedangkan Herman tentu saja gelagapan ketika ketahuan Anjani kalau dia sedang mencuri pandang gerak gerik Anjani yang semakin membuatnya penasaran.


Prang...


"Ouh panas oh..." Herman reflek berteriak dan melepaskan cangkir yang baru saja ia terima dari Anjani.


"Maaf pak, ya ampun saya teledor," Anjani segera meraih tangan Herman dan meniupnya pelan.


"Bapak sih... Tadi pas pegang cangkir kemana sih mikirnya? Kan masih hari Minggu, masa iya mikir tugas kantor!" Bukannya takut tapi Anjani malah asyik mengomel seperti ibu memarahi anaknya.


"Papa kenapa? Mama nakal ya? halus di hukum ya!" Kayla yang tiba-tiba masuk dari beranda samping sudah mulai menghakimi ulah kedua orang dewasa di depannya.


Anjani buru buru mengandeng herman mendekat ke basink lalu merendam tangan Herman dengan air dingin dengan beberapa butir es kristal.


"Aku melihatmu Jani, kamu oh maaf saya salah ngomong sepertinya, abaikan saja." Kali ini Herman benar-benar di buat gugup karena ulahnya sendiri.


Kepala Anjani mendadak kaku tidak mampu ia gunakan untuk menoleh, bahkan ketika Kayla sedang berjalan mendekatinya.


"Tangan papa sakit? Lihat...lihat ila mau lihat!" Kayla mendekat dan berusaha melihat tangan Herman yang di rendam air dingin oleh Anjani.


Herman senyum senyum melihat tingkah Kayla yang sedikit kepo, dan menyaksikan Anjani yang masih saja menunduk dengan memegang tangan Herman.


"Kalau papa sakit, berarti mama yang halus di hukum," lagak Kayla yang mirip seorang hakim yang sedang memberikan hukuman pada pesakitan yang sedang diadili.


Anjani tertawa tertahan sambil menutupi mulutnya, karena takut ketahuan Kayla dan bisa semakin runyam permasalahan.


"Hukumannya apa donk, kalau kak Jani yang nakal?" Tanya Herman sambil menahan tawa.

__ADS_1


"Bukan kak Jani! Tapi mama!" Wajah imut Kayla semakin menggemaskan ketika bibirnya sedikit manyun kedepan.


"Iya iya Mama!" Jawab Herman tidak mau lagi beradu argument dengan putrinya, matanya menatap Anjani yang sejak tadi sudah menatap dalam diam kearah Herman.


Herman mengedipkan matanya tanda setuju oleh permainan ini demi Kayla.


"Hukumannya mama halus mencium papa, sekalang!" Tangan Kayla bersedekap sambil tertawa memperlihatkan deretan gigi susunya yang rapi.


"Hah?"


Jawaban serentak antara Anjani dengan Herman. "Pak ini tidak mungkin kan? Hanya permainan to, apa iya saya harus mencium bapak?" Tanya Anjani ragu, dan itu jelas tidak mungkin baginya.


Herman mengambil kain dan mengerikan tangannya yang sudah tidak terasa panas, lalu mengendong putri semata wayangnya dan membawanya duduk di kursi.


"Jani, sini kita duduk dan makan bersama dulu," ajak Herman untuk mengalihkan ketegangan Anjani yang sedang kena vonis oleh Kayla.


"Kita makan dulu, sehabis itu papa akan ceritakan sesuatu kepada kayla, yuk!" Herman berdiri dan mengambilkan makanan untuk kayla.


Beberapa menit kemudian setelah selesai makan, Anjani mencuci dan membereskan dapur lalu memotong buah naga kesukaan Kayla dan Herman.


Karena kelelahan bermain dan bergurau, akhirnya Kayla tertidur dengan pulas di depan tv saat menonton cartoon network.


Kesempatan itu Herman gunakan untuk duduk bersama dengan Anjani dan menjelaskan permasalahannya, sehingga kenapa Kayla selalu haus akan kehadiran sosok Mama di sampingnya.


Anjani mendengarkan seluruh cerita tentang kehidupan Herman dengan cermat.


"Anjani, apakah kau keberatan dengan sikap Kayla? Saya mohon maaf bila itu sangat menggangu keseharian mu disini,"


"Saya akan mencoba bercerita kepada Kayla bila sudah waktunya kelak," ucap Herman sambil menghela nafas panjang, dan membetulkan tempat duduknya.

__ADS_1


"Anjani! Berapa usiamu?" Tanya Herman yang merasakan Anjani sedari awal pembicaraan hanya diam dan menganggukkan kepalanya saja.


"Saya dua puluh satu tahun pak, saya sangat tidak keberatan dengan sikap Kayla kepada saya, jujur! Saya juga sayang sama Kayla, pak." Anjani tersipu malu, dan begitu saja memberikan pernyataan kepada Herman tentang sikap Kayla yang memang mengemaskan.


Mata Herman menatap Anjani lebih dalam lagi, tanpa ia sadari Herman mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Anjani.


Anjani bagaikan seekor anak kucing yang di elus elus tubuhnya, hanya nurut bahkan menikmati moment yang belum pernah sekalipun ia rasakan.


"Anjani, terima kasih," hanya itu yang terucap dari mulut Herman.


"Tapi pak! Bagaimana dengan vonis hukuman yang Kayla berikan pada saya?" Tanya Anjani pelan sambil menarik pelan genggaman tangan Herman.


"Ha...ha...ha..." Tawa Herman lepas begitu saja melihat mimik wajah Anjani yang khawatir tentang vonis yang di berikan oleh Kayla padanya.


"Abaikan saja, dia hanya ingin mamanya mencium papanya, bukan kak Anjani yang mencium papanya," tawa Herman kembali lepas mendengar kepolosan Anjani.


"Kamu sudah punya pacar Jani? Dia pasti beruntung mendapatkan dirimu yang lugu begini," tangan Herman mengusap ujung kepala Anjani yang selalu menjaga jarak dengannya.


"Saya anti pacaran pak, tapi kelau bisa langsung nikah aja, biar pacarannya setelah nikah sama suaminya sendiri, hehehehe." Kekonyolan Anjani timbul kembali setelah sekian lama ia menekankan diri hidup didalam rumah bosnya yang notabene orang kaya, yamg kadang suka bossy dengan pekerjanya.


"Jani, usia kita hanya terpaut sembilan tahun, sepertinya belum pantas menjadi bapak kamu, gimana kalau kamu panggil saya dengan sebutan Mas saja, sebagai pengganti vonis Kayla yang mengharuskan kamu mencium ku."


"M...mas apakah tidak aneh ya pak ?"


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Aneh ngga sih bestie 🀭, keknya Dewi amor udah mulai mengasah panahnya tuh πŸ˜‚


Jempolnya ya bestie, komen yang ehem jangan lupa, biar menambah inspirasi.

__ADS_1


Salam Sayang Selalu by RR 😘


To be continued πŸ˜‰


__ADS_2