KESANDUNG CINTA CALON DUDA

KESANDUNG CINTA CALON DUDA
Jogging Sambil Mencuri Kesempatan


__ADS_3

Pak Baskoro tidak bosan-bosannya tersenyum sendiri melihat Anjani dengan Kayla yang semakin hari semakin lengket saja, "ma.. kita jodohkan saja mereka yuk, papa kok semakin nggak sabar makin kesini makin gemas aku tuh melihat Herman yang lambat,"


"Lah papa! Biarkan saja cinta mereka pelan-pelan pa, mama juga merasakan Herman itu menyukai Anjani, cuma dia mungkin masih trauma dengan bayang bayang kegagalan kemarin," Bu Ariani yang baru saja duduk di samping pak Baskoro sambil membawa secangkir teh panas dengan pisang goreng yang masih hangat, mereka sedang santai duduk di teras rumahnya sambil menikmati sore yang menghangat.


"Kita bawa Kayla mumpung liburan juga ma, biar Herman sama Anjani berkesempatan lebih dekat lagi," Bu Ariani memberi ide lebih konyol lagi untuk mendekatkan Anjani dengan Herman.


"Oke deal kita bawa Surti ke puncak ya ma, sama supir kita bawa sekalian biar hanya mereka berdua di rumah ini, hi...hi..hi.." sungguh orang tua durhakim mereka mempunyai ide keji untuk anak sendiri yang sedang baru saja resmi menduda.


Keesokan harinya pak Baskoro dengan Bu Ariani benar-benar menjalankan misi yang mereka rencanakan, tentu saja dengan mudah bagi mereka membujuk Kayla untuk meninggalkan Anjani dengan papanya di rumah sendirian hanya berdua saja.


'Herman, mama sama Kayla pergi mengikuti papa, jangan panik kami akan baik baik saja berlibur' Bu Ariani bahkan membuat pesan tertulis, semakin membuat Anjani kebingungan ketika membaca tulisan itu di atas meja makan.


Herman yang ikut membacanya jadi tau kemana arah maksud mereka, senyum jahil khas herman juga mengingatkan pada malam sebelumnya ketika dirinya mendapat siksaan dari CCTV di kamar Kayla.


"Anjani sepertinya hanya kita berdua yang disini, bagaimana menurutmu, hemm..." Tanya Herman sambil senyum kembali sedikit jahil kepada Anjani yang masih saja polos.


"Sabar Herman, dia masih belia, kamu harus mampu menahan diri dan memberikan bimbingan agar tidak benar-benar tersesat' batin Herman bertarung sendiri dengan keadaan yang kini ia hadapi.


"Pak... Bapak mau sarapan apa, biar saya masakan," Anjani sedikit canggung berbicara kepada Herman setelah menyadari di dalam rumah sebesar ini ternyata hanya ada mereka berdua dan dua satpam yang bertugas di pintu gerbang halaman depan.


"Mumpung masih pagi kita jalan saja keluar yuk, mas bawa kamu ke taman tidak jauh dari sini, yuk," intonasi dan cara berbicara Herman sedikit berubah, membuat hati Anjani sedikit tercengang.


Anjani berhenti lalu menoleh kearah Herman yang pura pura tidak tau, "mas?"


"Iya mas!" Herman tersenyum dan mengulangi perkataannya kembali, lalu menarik tangannya menuju kamar tamu yang ada tidak jauh dari ruang tengah.

__ADS_1


Tentu saja Anjani menarik tangan dan beringsut kebelakang, menjauh dari Herman, "pak Herman mau berbuat apa, lepaskan saya pak?"


"Hei dengarkan! Aku hanya ingin mengambilkan kamu baju untuk jalan, bukankah kamu tidak ounya baju untuk joging kan?"


Herman tentu saja menahan senyumnya demi melihat wajah Anjani yang menjadi panik.


"Oalah... Jani pikir bapak mau apa gitu, he he he..." Merah merona tentunya wajah bersih Anjani semakin terlihat nyata bahwa dia malu akan sikapnya sendiri.


Herman membuka lemari dan mendapatkan beberapa tumpukan baju baru yang belum pernah dipakai. Baju baju yang sengaja Bu Ariani persiapkan bila Anjani datang ke kediamannya.


"Jani...masih takut! Atau penasaran ingin melihat sendiri! Di pilihkan sama mas, apa Jani pilih sendiri, suka yang warna apa?" Herman semakin berani menggoda Anjani yang sibuk mengintip dari luar pintu kamar.


Pelan-pelan akhirnya Anjani masuk juga, dia berusaha membuang jauh prasangka buruk tentang Herman, dan dia harus tetap yakin kalau Herman adalah orang baik.


"Jani, mas suka kamu pakai yang ini, soft dan kamu semakin cantik." Entah rayuan kelas teri atau hanya keisengan belaka, Herman semakin intens memberikan bahasa panggilan kepada dirinya untuk Anjani adalah 'Mas'.


"Terima kasih m..mas.." huft ternyata tidak mudah bagi Anjani untuk sekedar memanggil mas dengan majikannya, yang masih terlihat muda, ganteng dan hmm tentu saja Tahir plus duda.


"Andaikan tidak malu atau canggung tentu saja ingin rasanya aku memanggilnya sayang saja, ku rasa ini lebih cocok, he he he" batin Anjani tanpa malu-malu lagi ia mematut dirinya di depan cermin rias di dalam kamar tamu itu.


Persiapan pun akhirnya usai juga, Herman kembali menghampiri Anjani dan menggandeng tangan Anjani dengan menautkan jari-jari.


Bagai kerbau tercocok hidungnya, Anjani nurut saja dengan apa yang dilakukan padanya, diam-diam Anjani menikmati juga debaran jantungnya enggan normal, otaknya bahkan tidak normal lagi untuk menghayal tentang duda keren yang saat ini jelas berada di sampingnya.


"Jani semalam tidur di rumah mama bagaimana? Nyaman kan?" Herman sedikit basa basi dan tangannya meraih tangan Anjani lalu menggandengnya sambil menautkan jari-jari nya.

__ADS_1


"Loh ini Bukannya nak Herman putra mas Baskoro, betul?" Belum juga Anjani menjawab pertanyaan Herman, dari arah berlawanan terdengar seorang bapak-bapak yang berjalan dengan istrinya, kurang lebih sama usia dengan pak Baskoro, tengah menyapa Herman.


"Betul Om Ilham, ini saya Herman. Selamat pagi om! Apakabar om Tante, lama kita tidak berjumpa Om Ilham terlihat semakin segar saja, om?"


"Whah... Kabar baik tentu saja, ini istrimu ya Her, benar kata papa mu kemaren, istrimu cantik Herman!" Pujian pak Ilham tentu saja membuat tangan Herman mau tidak mau meraih pinggang Anjani dan terlihat sangat romantis, Herman memperkenalkan kepada pak Ilham.


Jantung Anjani benar benar berdetak tidak beraturan, apalagi sisi tangan Herman meraih satu tangan Anjani lagi untuk membalas memeluk pinggang Herman dari belakang.


Setelah berbincang dan saling mengucapkan salam, Herman kembali berjalan menuju taman dan lupa tidak melepaskan pelukan di pinggang itu.


Sungguh pasangan yang serasi, beberapa pasang mata saling menatap pasangan juragan dan baby sister itu berjalan sambil berangkulan.


"Jani, suka jalan sambil bergandengan tangan apa memeluk pinggang begini, hem?" tanya Herman sambil menahan tawa.


"aih... maaf ya ampun maafkan saya mas!" rupanya sedikit banyak Anjani merasa nyaman juga dengan panggilan mas yang Herman pinta.


"mas suka yang begini, biarkan saja!"


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


hilihh 😂 mas Herman makin nakal aja 🤣, pura pura bego pisan 🤣.


like dan komen ya kak, maaf tidak up beberapa hari 🙏🙏


Salam Sayang Selalu by RR 😘🧚🏽‍♀️

__ADS_1


To be continued 😉🧚🏽‍♀️


__ADS_2