
Rencana untuk ke mall untuk belanja, menjadi gagal! Jelas saja Anjani merasa hanya di anggap sebagai pelarian saja oleh Herman, yang jelas-jelas mengucapkan kata sayang namun nyatanya sekejap setelah melihat bayangan mantan, mudah saja dia lupa akan janji.
"Jani, kita pergi ke mall X untuk membeli kebutuhan selama kita tinggal di rumah Mama!" Lembut suara Herman.
Anjani hanya terdiam saja tanpa respon, tentu saja rasa hatinya merasa mencelos ketika sendiri dia merasakan betapa mudahnya Herman berubah pikiran setelah hanya melihat bayangan Nadira saja.
"Mas sebaiknya kita pulang saja, maaf sepertinya saja sedikit masuk angin, mungkin semalam saya kurang tidur, pulang yuk!" Anjani memberikan keputusan, walaupun mungkin sedikit membuat Herman terheran juga dengan sikap Anjani yang seketika berubah drastis.
"Kamu cemburu? Mas suka Anjani! Berarti kamu juga mencintai mas, kan?" Mata Anjani terbelalak melingkar sambil membuang muka ke jendela kaca mobil.
"Cemburu tidak juga sih mas, hanya saja malas debat dengan orang yang kurang menjaga hati yang masih rentan nih, baiknya kita putar haluan saja mumpung Kayla sendang dengan nyonya Ariani, mending saya gunakan waktu sebaik mungkin untuk tidur. Bila anda tidak suka bisa potong gaji saya sehari ini,"
Herman hanya bisa menggaruk tengkuknya saja yang tiba-tiba gatel, tidak menduga akibat matanya yang meleng menatap Nadira dari kejauhan jadi berakibat fatal begini.
Mobil telah memasuki kawasan perumahan elite milik keluarga pak Baskoro, satpam yang berjaga menyapa mobil Herman dengan melambaikan tangannya dan sedikit membungkukkan badannya.
Herman turun terlebih dulu, lalu di susul Anjani. Suasana tiba-tiba menjadi beku dan kikuk, Herman berlari mendekati Anjani yang sedikit manyun sudah baik-baik tersanjung kini malah jatuh kejedot gara-gara mantan lewat di depan mata mas Herman.
"Anjani, maaf jangan marah bukan maksudku mengabaikan dirimu!" Tangan Herman menarik tubuh Anjani dan menariknya dalam pelukan Herman.
Tentu saja Anjani kaget bukan kepalang, degup jantung Herman terdengar jelas di telinganya, bau harum parfum yang dia pakai sesaat menghipnotis rasa Anjani.
"Di buang sayang, di pungut tentu menjaga harga diri dong, bisa jeblok bila asal main nurut saja sama duda ngenes ini mah," batin Anjani sendiri berperang dengan rasa yang menggodanya.
Sesaat jelas keraguan menghantui Anjani dengan sikap Herman yang masih saja dihantui oleh mantan.
"Anjani maafkan, aku hanya terbawa perasaan saja tidak ada maksud lainnya, maaf... Jangan ngambeg please!" Dua jari peace tanda perdamaian di harapkan oleh Herman dari Anjani.
Anjani jadinya menahan rasa geli ketika sendiri menyaksikan ulah Herman yang terkesan lebay dan konyol padanya, jadi teringat kesan pertama saat jumpa didalam lift.
"Idih siapa juga yang ngambeg, saya tetap cool dan santai tidak mudah bagi saya untuk ngambeg dan itu bukan type saya, mas boss!" Anjani melengos dan pergi meninggalkan Herman yang masih nyengir kuda mendengar jawaban dari Anjani yang sedikit jutek padanya.
__ADS_1
"Ah masa bodoh dengan cinta duda ngenes, aku disini bekerja untuk membantu ibu dan menyekolahkan adikku, bukan sibuk menghibur duda ngenes ataupun meladeni rayuan gombalnya." Anjani mulai berbenah diri dengan membersihkan dirinya, sambil bersenandung kecil dikamar mandi.
Lain pemikiran Anjani, lain juga pemikiran Herman. Di dalam kamar yang hening Herman masih saja sibuk mengutak-atik gadget miliknya untuk mencari solusi lewat Googling cara jitu untuk menangani kekasih yang sedang ngambeg.
"Sensitif banget gadis itu, ah... ini salahku juga kenapa Nadira berada di kota ini? ish... masa bodoh dengannya."
Anjani yang terbiasa sibuk dengan rutinitas sore, kini bingung juga apa yang harus di lakukan di rumah, rumah besar milik tuan Baskoro dengan beberapa asisten sudah tentu mereka menghandle pekerjaan mereka masing-masing.
Sedangkan tugas dia hanya sebagai pengasuh Kayla, dan gadis cilik itu sedang di bawa berlibur ke suatu tempat dengan tuan Baskoro beserta nyonya Ariani.
"Ahh..... Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Anjani mulai membuka ponsel jadul miliknya, sambil duduk santai di teras samping ruang tamu, jari tangannya mencari nomor Melisa sahabat sekaligus tempat Anjani mengadu dan menceritakan hari-harinya yang ia lalui selama ini.
"Kamu cemburu! Ha ..ha...ha.. come on Jani, sejak kapan kau rasakan cemburu itu? Atau jangan jangan kau sudah benar-benar jatuh cinta dengan tuan duda itu," ucapan Lisa melalui panggilan ponsel Anjani yang tertawa lepas mendengar ucapan Anjani yang terkesan lucu.
"Bukan cemburu juga Lisa, hanya saja!"
Tut....tut..tut...
menjawab kata-kata Lisa ponsel sudah terputus sepihak, sebab tiba-tiba Herman sudah berada di depannya duduk dengan santai sambil membawa makanan kesukaan Anjani yang diam-diam juga sudah di pelajari oleh Herman.
"Loh kok?" Bingung Anjani di buatnya.
"Anjani please jangan ngambeg lagi, semua tidak seperti yang kau bayangkan, tadi aku hanya merasa aneh saja, kenapa Nadira juga berada di kota ini secara kebetulan," Herman benar-benar memohon kepada Anjani untuk mengerti.
Herman memang harus pandai-pandai untuk menyikapi atas diri Anjani yang masih belia dan bisa saja ini adalah yang pertama untuk Anjani.
"Mas masih memikirkan mantan istri mas? Sebaiknya mas mengatur hati mas dulu sebelum kita lebih jauh lagi menuju kedepan, bagaimanapun juga mantan istri mas adalah ibu dari kayla, saya sangat menyadari itu!"
"Oh ya mas, kapan Kayla pulang ya! Jani kok jadi kangen sama celotehnya," Anjani bahkan lebih memilih mengalihkan pembicaraan.
Herman terpekur dengan ucapan Anjani, walaupun usianya muda namun dia lebih memahami rasa hati dan sebuah ikatan antara anak dan ibu yang tidak akan pernah terputus sampai kapan pun.
__ADS_1
"Tapi kau memaafkan mas kan, Jani!"
"Tentu saja mas, buktinya saat ini kita masih bisa duduk bersama menikmati kiriman go food yang mas pesan," tangan Jani sudah tidak sabar saja membuka bungkusan dengan aroma BBQ yang tercium oleh indera penciumannya.
Mereka menikmati dalam diam makanan yang di pesan oleh herman, iga bakar BBQ saus madu, dan aneka dim sum.
Herman mencuri curi pandang, melihat Anjani yang sedang asyik menikmati menu yang ada di depannya.
Ponsel Herman berbunyi.
"Papa, Ila lindu mama, ila mau bicala sama mama," rengek Kayla lagi.
Herman memberikan ponselnya kepada Anjani sebelumnya mengubah mode ke video call's.
"Mama.... Ila mau mama, ila mau pulang saja huaaa...." Begitu melihat wajah Kayla yang berlinang air mata dengan tangisan yang menyayat hati, Anjani begitu saja menjawab kata-kata Kayla tanpa persetujuan Herman.
"Oke Kayla sama Oma sama Opa, nggak boleh nangis lagi, mama sama papa nyusul Kayla ke sana dech, gimana! Setuju?" Mata anjani sibuk mengerlingkan matanya ke arah Herman.
๐ง๐ฝโโ๏ธ๐ง๐ฝโโ๏ธ๐ง๐ฝโโ๏ธ๐ง๐ฝโโ๏ธ๐ง๐ฝโโ๏ธ๐ง๐ฝโโ๏ธ๐ง๐ฝโโ๏ธ๐ง๐ฝโโ๏ธ๐ง๐ฝโโ๏ธ
hufft...maafkan saya yah bestie ๐ฅบnovel ini terpaksa tersendat sendat, bahan bakar sulit di dapat Mak ๐คฃ๐คฃ
tapi insyaallah kali ini akan berjalan dengan lancar lagi.
jangan lupa masukannya biar dudanya makin klepek-klepek aja tuh Ama abegeh๐คฃ
Salam Sayang dan Sejahtera Selalu by RR ๐
To be continued ๐
๐ง๐ฝโโ๏ธ๐ง๐ฝโโ๏ธ๐ง๐ฝโโ๏ธ๐ง๐ฝโโ๏ธ๐ง๐ฝโโ๏ธ๐ง๐ฝโโ๏ธ๐ง๐ฝโโ๏ธ๐ง๐ฝโโ๏ธ๐ง๐ฝโโ๏ธ๐ง๐ฝโโ๏ธ
__ADS_1