KESANDUNG CINTA CALON DUDA

KESANDUNG CINTA CALON DUDA
Nasi uduk Mak Siti


__ADS_3

Pak Baskoro tidak perduli dengan omelan Herman, bahkan ia semakin narsis saja ketika Herman berusaha mengambil foto pak Baskoro, lalu dengan sengaja ia mengirimkan pesan elektrik kepada Bu Ariani.


Herman yang merasa aneh dengan tingkah pak Baskoro, langsung saja berfikir negatif akan ulahnya. Pengalaman yang ia rasakan saat ini sudah sangat menyakitkan hati, terluka parah namun tidak berdarah.


"Sudah kau kirim pesan WhatsApp nya ke Mama? He...he...he... Pernikahan kami sudah hampir memasuki usia golden aged. Kami sangat mencintai satu sama lain Herman! Walaupun tidak mudah untuk menuju kesana, duduklah!"


"Tidak pernah sedikitpun dalam benak kami untuk mengkhianati dan mempermainkan pernikahan yang sudah kami bina dengan waktu yang tidak pendek ini,"


Pak Baskoro mengambil tempat duduknya yang sangat strategis dengan taman buatan yang indah dan angin semilir. Walaupun di pinggir kota dan terbilang sedikit kumuh, namun warung Mak Siti terlihat sangat bersih dan terawat dengan berbagai tanaman hias di sekitar kanan kiri warungnya.


"Apa maksud papa mengajak saya kesini, ini tidak higienis Pa! Lagian untuk apa papa mencari Anjani? Bukankah dia sudah saya beri waktu untuk istirahat rumahnya pasca jatuh dari motor tempo hari."


"Papa ada tugas untuk Anjani, kamu urusi perusahaan dan rumah tanggamu saja, masalah Kayla dan mama, papa yang akan urus! Oke...?"


Herman masih saja tidak habis pikir dengan kelakuan pak Baskoro yang tiba-tiba aneh. "Baiklah Pa... Besok saya akan mengambil penerbangan pertama, papa baik-baik jaga kesehatan. Simon akan setia mendampingi papa, mungkin saya agak lebih lama di sana. Sebab, ada kontrak dengan beberapa distributor container yang sedang booming saat ini."


Pesanan pun datang, nasi uduk dengan berbagai lauk di tambah minuman es serut buah yang menggoda iman di saat panas-panas begini.


Tiba tiba suara sangat familiar di telinga Herman dan pak Baskoro terdengar dengan jelas.


"Mak.... Ini belanjanya, saya pulang dulu ya mak! Soalnya sedikit buru buru Mak, Jani harus antar laundry ke tempat Bu Wulan."

__ADS_1


Anjani mengulurkan tangannya dengan tas belanjaan yang ia bawa kepada Mak Siti.


Ketika memutar tubuhnya pandangan mata bertatapan dengan pak Baskoro dan Hermansyah yang sedang makan di tempat itu juga.


Pak Baskoro melambaikan tangannya, seperti isyarat memanggil Anjani untuk mendekat.


"Loh Tu..tuan! Kok jauh sekali makannya, bukannya bapak dan tuan kalau makan siang selalu di area kantor, yah." Seloroh Anjani lalu menghampiri mereka berdua yang sedang asyik makan.


"Duduklah Anjani, dimana kau bertempat tinggal, apa jauh dari sini?" Pak Baskoro melontarkan pertanyaan pada Anjani yang duduk agak menjauh dari mereka.


"Saya dengan teman saya kontrak di belakang warung Mak Siti ini, tuan. Apakah besok saya sudah bisa masuk kerja? Saya butuh pekerjaan tuan, jangan pecat saya." Anjani duduk sambil memainkan jari-jarinya Karen sedikit gugup saat melontarkan kata permohonan kepada pak Baskoro.


Hermansyah tidak perduli dengan perkataan mereka, ia tetap saja menikmati nasi uduk yang tersedia di depannya, sedangkan di dalam otaknya terdapat sejuta rencana untuk menguak kebejatan Nadira istri yang selama ini tulus ia cintai.


"Baik tuan...saya akan sampai di pabrik tepat waktu, terimakasih! Maaf saya harus pergi, selamat siang pak, tuan.." Anjani bergegas pergi dan melakukan aktifitas di saat ia mendapat ijin libur istirahat pasca kecelakaan di pabrik tempatnya bekerja.


"Ya... Hati-hati di jalan jangan nabrak orang lagi," pak Baskoro menjawab salam Anjani, sedangkan Herman hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa sepatah katapun terlontar dari mulutnya.


"He...he...he ... Iya pak, namanya juga sedang apes pak! Di hindari juga tetep apes," deretan rapi gigi Anjani semakin menambah nilai plus di hati pak Baskoro.


Kesibukan Herman dengan ponselnya tidak bisa diganggu, ia terlihat sangat serius dengan sebuah chatting dan berakhir pada sebuah panggilan.

__ADS_1


"Apa...! Oke ikuti kemana dia pergi, berikan info sekecil apapun itu," Herman menutup panggilan sepihak. Matanya nanar menatap setiap foto yang ia dapat dari Jepri spion yang ia percaya untuk mengikuti segala aktifitasnya Nadira saat jauh dari Herman.


'Sebuah pernikahan adalah ikrar yang sakral, saling mencintai dan menghormati serta kesetiaan dan kepercayaan mutlak bagi setiap pasangan, lalu... Apa artinya bila kesetiaan disalah artikan'


"Sabar Her... Hadapi dengan kepala dingin. Berfikir yang rasional untuk melakukan segala tindakan yang akan kau lakukan, ingat! Ada Kayla di antara kalian. Itu juga harus kalian fikirkan." Pesan lirih pak Baskoro.


Makan siang mereka telah usai, Herman mengemudikan mobil menuju kediamannya dengan sejuta kebisuan.


"Her... sedalam apapun lukamu, sesakit apapun perasaan mu, kau harus mampu mengendalikan emosi, jangan pernah merusak dirimu dengan menghabiskan waktu, hang out dan pulang-pulang dalam kondisi mabuk."


Herman menatap pak Baskoro lalu tersenyum kecut,"Papa.. dosa apa yang pernah kulakukan, kekurangan apa yang pernah kuberikan kepada Nadira? Ini sungguh tidak adil pa,"


"Masih beruntung kau mengetahui hari ini, dan belum terlambat! Bersyukurlah, ambil hikmahnya semua pasti ada rahasia yang indah yang bisa kamu petik dari kejadian yang menimpa rumah tangga kalian." Tidak bosan-bosannya pak Baskoro memberi semangat Hermansyah untuk tetap menghadapi situasi rumah tangganya dengan berkepala dingin.


Mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan sedang, pembicaraan mereka beralih pada kelincahan Kayla yang sedang lucu-lucunya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Selamat menunaikan ibadah puasa, semangat semoga di terima semua ibadah kita, aamiin 🀲🀲


To be continued πŸ˜‰

__ADS_1


Salam Sayang Selalu By RR 😘


__ADS_2