
"Mulut loe lemes amat sih buat ngejek gue. Jangan sampai gue bikin tuh mulut nggak bisa ngomong lagi ya. Dari kemarin sebenernya gue udah gemes banget pengen cabik-cabik mulut loe. Jangan sampe kesabaran gue abis lalu gue ngelakuin hal itu ke loe." ucap Sherlyn yang sudah sangat kesal kepada Dylon.
"Etdah, sadis amat sih ciinnn. Jangan gitu dong. Dylon ganteng kaya gitu masa mau dicabik-cabik sih mulutnya." ucap Juju yang sedikit ngeri mendengar ucapan Sherlyn.
"Biarin aja, Ju. Ni orang dari kemarin bikin gue kesel mulu tau nggak? Dari kemarin gue udah berusaha sabar buat nggak mukul ni cowok. Gue cuma bales ucapan dia yang suka banget ngejek gue." ucap Sherlyn sambil menatap Juju sekilas.
"Ya udah deh, gue minta maaf ke loe. Masa iya, loe tega banget buat nyabik-nyabik mulut pacar sendiri. Maafin gue ya, gue janji deh nggak bakal ngejek-ngejek loe lagi." ucap Dylon memohon maaf kepada Sherlyn.
"Ok, kali ini loe gue maafin. Awas kalo loe masih suka ngejek gue lagi. Abis loe." jawab Sherlyn. Meskipun Sherlyn terkesan tomboy, dia tetaplah orang yang mudah memaafkan orang lain. Ibunya dulu sering berkata kepadanya agar menjadi orang yang mudah untuk memaafkan kesalahan orang lain. Kata ibunya orang yang tidak mau memaafkan orang lain adalah orang yang tak akan bisa masuk surga(kalo salah maaf ya๐๐author juga agak lupa sama penjelasan ini).
"Iya, gue janji. Gue bakal usahain buat ngejaga mulut gue lagi kedepannya." ucap Dylon. "Ya udah, sekarang mending kita berangkat. Bentar lagi pestanya udah mau mulai nih." lanjut Dylon mengajak Sherlyn untuk segera berangkat ke pesta.
"Ok." jawab Sherlyn. " Gue berangkat sekarang ya, Ju. Makasih udah dandanin gue tadi dan makasih juga buat tawaran tadi. Sampai ketemu lagi, Ju." lanjut Sherlyn menghadap Juju.
"Iya, ciinnn sama-sama. Akur-akur terus ya sama Dylon." ucap Juju.
Sherlyn hanya menanggapinya dengan anggukan kepala dan tersenyum. Sherlyn mulai melangkahkan kakinya keluar dari salon mengikuti langkah kaki Dylon di depannya. Dylon berhenti di samping sebuah mobil dan membuka pintu depan bagian kiri. Dylon menyuruh Sherlyn untuk masuk ke dalam mobil itu.
"Bukannya tadi kita berangkat ke sini naik motor ya? Kok sekarang malah naik mobil?" tanya Sherlyn yang sedikit bingung melihat Dylon menyuruhnya masuk ke dalam mobil itu.
"Tadi pas loe masih didandanin sama si Juju, gue pulang sebentar buat siap-siap sekalian ngambil mobil. Udah buruan masuk." jawab Dylon langsung menarik tangan Sherlyn untuk lebih mendekat dan masuk ke mobil.
Setelah Sherlyn masuk ke mobil, Dylon menutup pintu itu dan berjalan memutari mobil menuju ke pintu depan bagian kanan. Dylon membuka pintu itu dan masuk ke dalam mobil. Begitu masuk, Dylon langsung memakai sabuk pengamannya. Selesai memasang sabuk pengamannya, Dylon melirik Sherlyn yang justru terdiam menatap ke depan serta sabuk pengamannya yang belum dipasang. Dylon pun berniat memasangkan sabuk pengaman itu. Ia mulai mendekati Sherlyn. Sherlyn yang menyadari jika Dylon mulai mendekatinya refleks mundur ke samping hingga tubuhnya mentok di pintu. Sherlyn yang melihat Dylon tetap mendekatinya mulai berfikir jika Dylon akan menciumnya lagi seperti awal pertemuan mereka.
"Mau ngapain loe? Jangan macem-macem ya sama gue. Loe mau gue pukul di sini?" ancam Sherlyn padahal sebenarnya tubuhnya bergetar hebat karena takut. Namun Sherlyn menutupi itu dengan berlagak galak kepada Dylon.
Dylon tak menanggapi ucapan Sherlyn dan terus mendekati Sherlyn. Ia mengambil sabuk pengaman di samping Sherlyn dan memasangkannya. Sherlyn yang melihat ternyata Dylon memasangkan sabuk pengaman untuknya pun menjadi malu sendiri. Dia menundukkan kepalanya untuk menutupi rasa malu itu.
__ADS_1
"Kalo jadi cewek tuh jangan GR. Siapa juga yang mau macem-macem sama loe. Yang ada sebelum gue macem-macem, loe udah siapin bogem mentah buat mukul gue. Pake sabuk pengaman tuh penting biar aman." ucap Dylon dengan posisi yang tetap berada sangat dekat dengan Sherlyn.
"Y-ya mana gue tau kalo loe bakal masangin sabuk pengaman buat gue. Lagipula siapa yang nggak curiga kalo loe ngedeketin gue kek gitu." ucap Sherlyn sedikit salah tingkah.
Berada di posisi yang sedekat itu dengan Sherlyn, membuat Dylon bisa menatap wajah Sherlyn dengan leluasa. Ia terus mengamati wajah itu dengan seksama sampai matanya tertuju ke bibir Sherlyn yang diolesi sedikit lipstik berwarna soft pink. Dylon langsung menelan salivanya dengan susah. Ia terus mengamati bibir itu yang tak berhenti berbicara.
"Pertama ketemu aja loe udah nyium bibir gu...." ucapan Sherlyn tak terselesaikan karena bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Dylon. Sedari tadi Dylon terus menahan untuk tidak mencium bibir itu. Namun melihat Sherlyn yang tak berhenti bicara membuatnya gemas untuk mencium bibir itu untuk kedua kalinya.
Dylon mencium bibir Sherlyn dengan lembut membuat Sherlyn terlena dan ikut menikmati ciuman itu. Tanpa sadar, Sherlyn membalas ciuman Dylon membuat Dylon semakin bersemangat untuk menjelajahi mulut Sherlyn. Setelah agak lama, Sherlyn baru tersadar kalau yang menciumnya adalah laki-laki yang sangat dibencinya. Ia pun refleks mendorong dada Dylon agar melepaskan ciumannya.
Dylon yang juga baru tersadar ketika didorong oleh Sherlyn pun langsung melepaskan pagutan bibirnya. Begitu bibir keduanya terlepas, keduanya nampak ngos-ngosan karena ciuman tadi. Seketika suasana mobil menjadi sepi karena keduanya sama-sama canggung. Dylon yang menyadari hal itu pun berusaha untuk sedikit mencairkannya.
"Ekhemm... kita langsung berangkat sekarang aja ya. Takutnya entar makin telat lagi." ucap Dylon sedikit gugup.
"Owh i-iya." jawab Sherlyn yang sama gugupnya.
Sesampainya di tempat pesta, Dylon dan Sherlyn langsung turun dari mobil secara bersamaan. Mereka mulai berjalan beriringan dengan Dylon yang berjalan terlebih dahulu dari Sherlyn. Dylon dan Sherlyn mengisi buku daftar tamu yang ada di depan ruangan. Setelah mengisinya, mereka melanjutkan berjalan memasuki ruang pesta yang ada di restoran hotel bintang 5 itu.
Dylon yang menyadari jika Sherlyn tidak berjalan di sampingnya pun menghentikan langkahnya sebentar dan mengajak Sherlyn untuk berjalan di sampingnya. Sherlyn pun hanya mengikuti kemauan Dylon tanpa protes. Namun ia sedikit bingung ketika tangan kanan Dylon melingkar di samping kanan badan pria itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued.....
Hi readers semua๐๐author kembali menyapa kalian hari ini. Author seneng banget melihat perkembangan cerita author ini yang ternyata setiap hari pembacanya terus bertambah. Perkembangan ini membuat author jadi begitu bersemangat untuk melanjutkan cerita ini. Maka dari itu, tolong jangan sungkan-sungkan untuk memencet tombol jempolnya ya. Untuk para pembaca dari sesama penulis, insyaallah kalau ada waktu luang author akan memberi feedback ke karya-karya author sekalian. Sekian dulu dari saya, kalau ada kesalahan kata di tulisan author mohon untuk kritikannya ya. See you๐๐
Jangan lupa untuk Like, Komen, Rate bintang 5, dan vote ya. Author sayang readers banyak-banyak ๐๐
__ADS_1