
Dylon yang menyadari kalau ternyata ayam tersebut seperti marah kepadanya, langsung turun dari motor dan mulai berjalan mendekat ke arah ayam itu. Dylon mulai mengelus-elus bulu kepala ayam itu untuk menenangkannya. Udah kayak cewek aja kalo lagi marah pake dielus-elus segala kepalanya. Entah dapat ide darimana, Dylon melakukan hal itu untuk menenangkan ayam itu. Melihat tingkah Dylon yang satu itu, Sherlyn sudah tak dapat lagi menahan kebengekan yang sedari tadi disimpannya. Sherlyn langsung tertawa lepas tak tertahankan melihat perlakuan Dylon terhadap ayam tersebut. Dylon yang mendengar suara tawa Sherlyn yang begitu keras langsung menoleh menatap Sherlyn dengan dahi sedikit berkerut.
"Ngapain loe ketawa? Udah gitu lebar banget lagi mulut loe kalo ketawa." ucap Dylon bingung dengan penyebab Sherlyn tertawa begitu lebar.
"Loe tuh lagi ngebujuk ayam yang lagi ngamuk-ngamuk apa lagi ngebujuk cewek yang ngambek sih? Cara loe nenangin tuh ayam udah kek lagi berhadapan sama cewek aja pake segala dielus kepalanya. Apa jangan-jangan ini karena loe udah terlalu sering berhadapan sama cewek ya? Makanya loe memperlakukan ayam sama kek mereka. Emang sih ini ayam juga cewek. Tapi masa iya loe mau sama ayam juga. Loe masih normal kan?" bukannya menjawab pertanyaan Dylon, Sherlyn justru balik bertanya tentang hal-hal konyol kepada Dylon.
"Enak aja gue dibilang nggak normal gara-gara ngelus ayam doang. Gue emang sering berhadapan sama cewek yang suka ngambek. Tapi tadi gue refleks aja buat ngelus kepala nih ayam." ucap Dylon sedikit kesal dibilang tidak normal oleh Sherlyn. Padahal Dylon kan laki-laki yang 100% normal. Mana mungkin ia menyukai ayam betina sedangkan di luaran sana masih banyak sekali perempuan cantik nan seksi yang mengantri untuk menjadi pacarnya. Dylon tak akan pernah senekat itu. Jika Dylon benar-benar tidak normal, itu sama saja Dylon seperti laki-laki yang tidak laku.
"Halah, nggak usah ngeles deh loe. Dalem mulut mungkin loe bilang nggak mau. Tapi siapa tau yang di dalem hati justru beda. Nggak usah malu-malu kucing Persia deh loe sama gue. Gue bakal simpen rahasia loe rapat-rapat kok. Tapi kalo ada fulusnya bisa lah." ucap Sherlyn diakhiri dengan jari jempol dan telunjuknya menggesek-gesek layaknya sedang menyentuh uang.
"Dih, ogah banget gue ngasih duit buat loe cuma karena pengen nutupin kalo gue nggak normal. Gue nggak mau karena gue emang bener-bener normal." ucap Dylon.
"Ya udah, terserah." ucap Sherlyn memalingkan wajahnya ke samping.
"Mending loe cepetan naik motor gue deh. Kalo loe nggak naik-naik juga, loe mau nanti kita telat ke kampus? Enggak kan?" ucap Dylon sambil melangkahkan kakinya kembali menuju motor dan menaikinya.
"Iya, iya bawel." ucap Sherlyn langsung ikut menaiki motor Dylon.
Dylon tak lagi merespon ucapan Sherlyn. Begitu Sherlyn sudah siap di atas motor, Dylon langsung meluncurkan motornya menuju jalan raya arah ke kampus. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam. Dylon diam karena ingin fokus ke jalanan di depannya. Sedangkan Sherlyn diam karena tengah mengamati daerah sekitar. Selang 20 menit, keduanya sudah sampai di daerah kampus. Dylon mulai memasuki gerbang sekolah lalu melajukan motornya menuju basement kampus. Begitu motor Dylon berhenti, keduanya langsung turun dari motor. Tanpa berbicara babibu keduanya kompak mulai berjalan menuju kelas masing-masing.
*****
Kelas Sherlyn dan Dylon hari ini sudah selesai. Sherlyn berjalan keluar kelas bersama dengan Berlian di sampingnya. Mereka mulai berjalan menuju basement kampus tempat kendaraan baik roda dua maupun roda empat berada. Begitu sampai di sana, seperti biasa Dylon sudah nangkring di atas motor kesayangannya. Sherlyn yang sudah mengetahui hal itu langsung berjalan menuju tempat Dylon berada bersama Berlian.
"Eh cowok brengsek, hari ini gue sama Berlian lagi ada tugas kelompok. Ngumpulin tugasnya emang masih lumayan lama sih. Tapi gue nggak mau nunda-nunda pekerjaan jadi nanti-nanti. Loe pulang duluan aja. Entar gue pulangnya bareng Berlian." ucap Sherlyn kepada Dylon.
__ADS_1
"Beneran? Jangan-jangan loe boong lagi." tanya Dylon sedikit tak percaya dengan ucap Sherlyn. "Eh, Berlian. Emang yang dibilang Sherlyn beneran?" tanya Dylon kepada Berlian.
"I-iya, kak. Aku sama Sherlyn lagi ada tugas kelompok hari ini. Kita mau kerjain hari ini biar cepet selesai dan nggak jadi beban pikiran nantinya." ucap Berlian sedikit terbata karena gugup berbicara langsung dengan Dylon. Pasalnya, ini adalah pengalaman pertama bagi Berlian berbicara langsung dengan Dylon yang notabene adalah idola kampus.
"Owh, ya udah kalo gitu. Gue pulang duluan aja. Lumayan nggak perlu capek-capek nganterin loe hari ini." ucap Dylon.
"Eh, siapa juga yang minta diantar jemput sana loe. Gue juga ogah kali." ucap Sherlyn langsung berlalu dari hadapan Dylon.
Begitu Sherlyn pergi dari hadapannya, Dylon langsung menyalakan mesin motornya dan mulai melajukannya untuk pulang ke rumah. Sedangkan Sherlyn yang sempat pergi dari hadapan Dylon mulai mengintip sedikit dari balik tembok untuk memastikan kalau Dylon sudah tidak ada di sana. Setelah memastikan aman, Sherlyn langsung keluar dari tempat persembunyiannya.
"Thanks ya, Li. Loe emang temen terbaik gue. Eh salah, maksudnya loe emang sahabat terbaik gue. Best friend forever lah." Sherlyn berterimakasih kepada Berlian karena sudah membantunya.
Saat di kelas tadi, Sherlyn meminta tolong kepada Berlian untuk bersandiwara di depan Dylon kalau mereka akan belajar kelompok hari ini. Padahal sebenarnya mereka sama sekali tidak ada tugas kelompok hari ini. Sherlyn tadi berfikir jika Dylon pasti tak akan mudah percaya dengan alasannya. Maka dari itulah ia meminta bantuan kepada Berlian agar mau menjadi saksi kalau mereka sedang ada tugas kelompok. Udah kayak kejahatan aja pake saksi segala. Emang nggak salah sih, bohong kan juga termasuk kejahatan.
Awalnya Berlian tak mau membantu Sherlyn karena takut harus berbicara dengan Dylon. Tapi setelah melalui berbagai bujukan, akhirnya Berlian mau juga membantu. Sherlyn membujuk Berlian dengan akan menceritakan semua tentang hubungannya dengan Dylon kepada Berlian. Berlian yang memang penasaran dengan hubungan keduanya tentu saja tak melewatkan tawaran Sherlyn. Sherlyn berjanji akan menceritakan tentang hal itu besok di cafe dekat kampus sembari sedikit mentraktir Berlian.
"Iya sama-sama." jawab Berlian.
"Dah, Berlian." ucap Sherlyn sambil melambaikan tangannya kepada Berlian dan langsung berjalan menuju tempat driver ojol yang telah dipesannya berada. Berlian membalas lambaian tangan Dylon dan tersenyum melihat sahabatnya mulai menghilang di depan gerbang. Berlian mulai melangkahkan kakinya menuju mobilnya untuk pulang ke rumah.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued.....
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak setelah membaca dengan Like, Komen, Rate Bintang 5, dan vote ya. Hari ini author mau crazy up loh. Author akan up 3 bab sekaligus hari ini. Kalau memungkinkan author akan tambah lagi up-nya. So, jangan pelit-pelit buat ngasih dukungan buat author ya. Author sayang readers banyak-banyak 💞💞. See you 👋👋