
Begitu Sherlyn keluar dari gerbang, pemandangan pertama yang ia lihat yaitu seorang laki-laki yang tengah duduk dari motornya sambil melihat ke arahnya. Tanpa berbasa-basi lagi, Sherlyn langsung naik ke motor laki-laki itu dan memintanya untuk segera menjalankan motornya. Sherlyn masih terlalu malas untuk berdebat dengan laki-laki itu yang tak lain tak bukan adalah Dylon, pacar pura-puranya.
Mereka berangkat menuju kampus dengan tenang tanpa adanya pembicaraan diantara keduanya. Tak butuh waktu lama, mereka sudah memasuki gerbang kampus dan Dylon memarkirkan motornya di basement kampus. Begitu sampai di parkiran, Sherlyn langsung turun dari motor Dylon setelah laki-laki itu mematikan mesin motornya. Sherlyn melepas helm yang ada di kepalanya dan menyerahkannya kepada Dylon.
"Nih helm loe. Thank's ya loe udah nganterin gue ke kampus. Soal gaun yang kemarin, sekarang lagi gue cuci. Nanti sepulang dari kampus kalo udah kering, gue kembaliin langsung ke loe." ucap Sherlyn sambil menyerahkan helm kepada Dylon.
"Iya sama-sama. Gaunnya nggak usah loe kembaliin. Kalo loe kembaliin mau dipake siapa juga? Masa iya gue yang pake? Udah loe ambil aja itu gaun. Itung-itung bisa loe pake kalo temen loe ngadain pesta terus loe diundang." ucap Dylon.
"Owh, ya udah kalo gitu. Gue duluan ke kelas ya." ucap Sherlyn sambil mulai berjalan meninggalkan Dylon menuju kelasnya.
"Hmmm." jawab Dylon sambil terus memperhatikan punggung Sherlyn hingga menghilang ditelan belokan menuju kelas Sherlyn.
Dylon pun turun dari motornya dan mulai berjalan menuju kelasnya berada. Di sepanjang perjalanan yang dilewatinya, para mahasiswi di kampus itu tak henti-hentinya menatap kagum wajahnya. Bahkan sebagian dari mereka ada yang secara terang-terangan menggodanya. Dylon hanya menatap mereka dengan tatapan jengah. Ia sudah terlalu lelah menghadapi para kaum hawa karena kebanyakan dari mereka hanya memandangnya dari fisik maupun hartanya saja tanpa adanya ketulusan sedikit pun.
Dylon mempercepat langkahnya menuju kelas agar ia bisa segera terbebas dari para mahasiswi yang terus menatapnya. Begitu sampai di kelas, Dylon langsung disambut dengan suara keras khas seorang pria yang sangat dikenalnya. Siapa lagi kalau bukan Mada Putra Dewangga, temannya yang playboy dan sedikit tengil. Mereka mengobrol sebentar sambil menunggu bel masuk berbunyi. Setelah sekitar 15 menit mengobrol, bel masuk berbunyi dan dosen mata kuliah hari ini memasuki kelas. Mada dan Dylon pun menghentikan obrolannya dan mulai mengikuti kuliah hari ini.
*****
Pukul 17:00
Dylon dan Sherlyn telah selesai mengikuti kuliah hari ini. Sherlyn membereskan buku-bukunya dan masukkannya ke dalam tas. Ketika ia masih membereskan buku-bukunya, Berlian mendatanginya.
"Lyn, loe nggak lupa kan sama janji loe kemarin buat cerita tentang hubungan loe sama kak Dylon?" tanya Berlian menghampiri Sherlyn di mejanya.
"Eh Berlian, gue nggak lupa kok. Tapi kayaknya nggak bisa sekarang deh. Soalnya gue udah ditungguin seseorang. Entar kalo lagi senggang, gue hubungin loe buat ketemuan deh. Sorry banget ya, Li." jawab Sherlyn sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada untuk meminta maaf kepada Berlian.
"Yah...padahal gue udah penasaran banget. Tapi ya udah deh nggak papa. Ntar kalo loe ada waktu senggang langsung hubungin gue ya?" ucap Berlian.
"Siap, gue pasti bakalan langsung hubungin loe. Lagipula, gue juga udah kangen ngumpul bareng loe. Kalo gitu gue duluan ya, Li." ucap Sherlyn sambil mulai melangkahkan kakinya keluar dari kelas.
"Iya, hati-hati di jalan, Lyn." ucap Berlian sambil berteriak karena Sherlyn sudah menjauh.
"Sip." jawab Sherlyn sambil mengacungkan jempolnya ke arah berlian yang ditanggapi dengan senyum tipis oleh Berlian. Ia pun ikut melangkahkan kakinya meninggalkan kelas menuju arah basement kampus untuk mengambil mobilnya.
__ADS_1
Di tengah perjalanan, Berlian tanpa sengaja melihat Mada tengah bersama seorang gadis sedang berciuman. Berlian berdehem di dekat mereka dan langsung melanjutkan langkahnya menuju basement. Mada yang tersadar jika dirinya tercyduk oleh Berlian sedang berciuman dengan seorang gadis pun langsung menguraikan ciumannya. Ia langsung berlari menuju basement untuk menyusul Berlian. Setelah menemukan keberadaan Berlian, ia langsung menarik tangan gadis itu.
"Berlian, loe tadi ngeliat gue ciuman sama cewek? Maafin gue ya." ucap Mada.
"Iya, gue ngeliat loe ciuman sama cewek. Tapi kenapa loe malah minta maaf sama gue?" tanya Berlian yang sedikit heran mendengar Mada meminta maaf kepadanya.
"Ya karena gue nggak mau nyakitin perasaan loe aja. Gue kan suka sama loe dari dulu. Masa loe nggak nyadar sih?" ucap Mada menjelaskan mengapa dia meminta maaf kepada Berlian.
"Ya elah, gue berdehem tadi tuh bukan karena gue cemburu. Gue cuma ngingetin doang supaya loe inget kalo tempat loe ciuman tadi itu termasuk tempat umum. Masih untung gue yang nyiduk loe tadi, kalo dosen atau rektor? Bisa abis loe di D.O dari kampus ini. Ngapain juga gue mesti cemburu ke loe. Suka aja enggak, punya hubungan juga enggak. Jadi gue nggak ada alasan buat cemburu ke loe." ucap Berlian panjang lebar sambil langsung meninggalkan Mada tanpa menoleh lagi.
"Loe gitu amat sih sama gue, Berlian. Dari dulu gue deketin loe, tapi loe nggak pernah respon gue. Gue deketin cewek lain aja, mereka langsung mau sama gue. Kenapa loe susah banget sih buat dideketin?" gumam Mada sambil menatap kepergian Berlian bersama mobilnya.
Dari awal bertemu dengan Berlian, Mada memang sudah menyimpan rasa suka kepada gadis itu. Di awal-awal, ia sering mengirim bunga serta surat tanpa nama kepada Berlian. Namun hal itu tak pernah berhasil karena Berlian selalu membuang bunga pemberiannya ke dalam tong sampah. Hingga akhirnya, Mada mencoba mendekati gadis lain untuk mengetes apakah dirinya cukup menarik atau tidak. Ia mendekati banyak gadis setiap harinya. Karenanya lah, ia dikenal playboy di kampus.
Meski begitu, setiap gadis tak ada yang pernah menolak dirinya karena Mada termasuk mahasiswa tampan di sana. Namun hal ini merupakan pengecualian bagi Berlian. Gadis itu bersikap seolah ia tak pernah tertarik kepada Mada. Bahkan Berlian menganggap Mada seolah tak menarik sama sekali di matanya. Mada sendiri sampai bingung bagaimana caranya agar bisa meluluhkan hati seorang gadis bernama Berlian tersebut. Gadis itu seolah memiliki sinar yang begitu memikat seperti namanya.
"Ok, Berlian. Gue nggak akan pernah menyerah untuk dapetin hati loe. Walaupun nantinya gue harus jungkir-balik, gue nggak masalah. Karena gue cinta sama loe. Gue tulus sama loe. Semoga nanti loe bisa nerima gue sebagai laki-laki yang mengisi hati loe. Semangat Mada, loe nggak boleh nyerah." gumam Mada menyemangati diri sendiri.
Dylon baru sampai rumahnya setelah mengantar Sherlyn pulang ke kost-annya terlebih dahulu. Ketika ia melewati ruang TV, ia melihat sang Mommy tengah duduk di sofa. Dylon pun menghampiri Mommynya tersebut.
"Assalamu'alaikum, Mom." ucap Dylon sambil mencium punggung tangan sang Mommy.
"Waalaikumussalam, Dylon. Kamu udah pulang?" ucap nyonya Sandra.
"Belum, Mom. Ini masih arwah Dylon. Hahaha." jawab Dylon sambil tertawa.
"Ish, kamu nih." ucap nyonya Sandra sambil mendelik sebal. " Oh iya, Lon. Mommy mau tanya sama kamu boleh?" lanjut nyonya Sandra ingin bertanya kepada Dylon.
"Boleh, Mom. Emang Mommy mau tanya apa sih?" jawab Dylon sambil bertanya balik kepada nyonya Sandra.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued.....
Hari ini author liburin dulu perdebatan antara Dylon dan Sherlyn. Author sendiri capek sama perdebatan mereka(padahal author sendiri yang bikin mereka debatππ). Tapi author lagi pengen nulis cerita tentang Berlian sama babang buaya, Mada. Sengaja author selipin sedikit tentang mereka biar ceritanya nggak terlalu monoton tentang Sherlyn dan Dylon yang debat mulu. Semoga readers tetap suka ya sama cerita author. Author sayang readers banyak-banyak ππ
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa Like, Komen, Rate bintang 5, dan vote juga kalau bisa. Part ini panjang banget loh. Kalo nggak salah sekitar 1125 kata. Jadi jangan pelit-pelit buat pencet tombol jempolnya ya. See youππ
NB: Kalau besok author nggak up maaf ya. Besok author dapet vaksin covid. Kalau memungkinkan dan author nggak kena efek samping yang parah, author akan usahakan untuk up.
__ADS_1