
Begitu Sherlyn keluar dari ruang ganti, Dylon melihat penampilan Sherlyn yang memakai gaun pilihannya tadi. Dylon sampai lupa berkedip melihat penampilan Sherlyn yang ternyata cantik memakai gaun itu. Warna gaun tersebut tak terlalu cerah. Namun tetap terlihat elegan jika dipakai. Gaun tersebut juga tak terlalu terbuka. Panjang gaun tersebut mencapai lutut Sherlyn juga tidak ada lengannya.
"Ekhemm....yang ini oke juga." ucap Dylon menanggapi tampilan Sherlyn dengan gaun tersebut. "Tolong bungkus gaun yang ini. Bawa dia ke bagian sepatu-sepatu juga." lanjut Dylon.
"Baik tuan muda. Mari Nona, ikut saya sebentar." ucap manager itu dengan ramah.
Sherlyn hanya mengikuti langkah sang manager sampai tibalah dia di tempat yang di sana terdapat banyak sekali pilihan sepatu high heels yang harganya pun pasti tak murah. Sherlyn mulai melihat-lihat sepatu itu. Hingga pilihannya terjatuh kepada sepatu yang memiliki hak tak terlalu tinggi dengan warna cream senada dengan gaun yang dipilihnya tadi.
"Apa Nona mau sepatu yang itu?" tanya si manager.
"Oh, iya. Yang ini bagus. Warnanya sama seperti gaun saya tadi. Haknya juga tak terlalu tinggi." jawab Sherlyn.
"Baiklah. Nomor kaki Nona berapa?" tanya manager itu lagi.
"38, kaki kanan dan kiri sama." jawab Sherlyn.
"Baik, kalau begitu saya pergi sebentar untuk membungkusnya ya Nona. Nona bisa langsung pergi ke tempat tuan muda. Nona tau arahnya kan?" tanya manager itu.
"Ah, tentu saja saya ingat. Terimakasih ya ibu sudah mau melayani saya dengan baik." ucap Sherlyn berterimakasih kepada manager itu.
"Sudah merupakan kewajiban saya untuk melayani pembeli dengan baik Nona. Lagipula sepertinya nona ini pacarnya tuan muda ya? Sudah berpacaran berapa lama dengan tuan muda?" tanya manager itu yang mulai kepo.
"Hehehe...ibu kepo ya? Untuk itu hanya kita berdua serta Tuhan yang tau Bu." jawab Sherlyn sambil nyengir.
"Yahh...padahal saya pengen tau gimana bisa tuan muda jatuh cinta. Soalnya setahu saya, tuan muda itu termasuk orang yang sulit jatuh cinta non. Makanya saya jadi kepo tentang hubungan tuan muda dan nona." ucap manager itu. "Ya sudah saya ke bagian kasir dulu ya non. Saya bungkus dulu barang-barang yang Nona beli. Nona ke tempat tuan muda saja. Nanti barangnya akan saya antar ke sana." lanjutnya.
"Iya Bu terimakasih sekali lagi." ucap Sherlyn.
"Sama-sama Nona." ucap manager itu. Setelahnya ia langsung pergi menuju kasir sedangkan Sherlyn berjalan menuju tempat Dylon berada.
*****
Dylon yang melihat Sherlyn mendekat ke arahnya langsung berdiri dari duduknya. "Gimana? Udah selesai belum milih sepatunya? Ato jangan-jangan loe kebingungan lagi buat milih sepatu kayak loe milih gaun tadi?" sodor Dylon kepada Sherlyn yang bertanya tanpa kira-kira.
__ADS_1
"Loe nanya ato interview orang mau kerja sih? Banyak amat pertanyaan loe. Ok gue jawab satu persatu. Nggak gimana-gimana. Udah, gue udah milih sepatu yang pas buat gue. Gue nggak bingung milih lagi karena tadi loe bilang gue nggak perlu mikirin soal harga karena yang beliin semua ini loe. Bagaimana tuan muda? Apakah sudah puas?" Jawab Sherlyn panjang lebar.
"Hhmmm....." Dylon hanya menanggapinya dengan berdehem.
Setelahnya, datanglah manager yang tadi melayani Sherlyn ketika membeli gaun dan sepatu. Manager itu menyerahkan barang-barang tadi kepada Sherlyn.
"Ini barangnya Nona. Semoga hubungan Nona dan tuan muda awet ya. Dan semoga hubungan Anda berdua bisa sampai ke jenjang yang lebih serius yakni pernikahan." ucap manager itu sambil mendoakan hubungan Dylon dan Sherlyn.
Sherlyn dan Dylon hanya menanggapinya dengan senyuman tipis yang terpaksa karena mereka tahu kalau manager itu mengira mereka benar-benar pacaran dan saling mencintai. Padahal mereka tidaklah demikian. Jangankan benar-benar pacaran, saling suka saja tidak. Yang ada mereka justru saling membenci dan berdebat setiap berbicara. Tidak ada sama sekali kata-kata romantis yang keluar dari mulut keduanya. Hanya ada kata-kata penuh penekanan yang biasa mereka gunakan untuk berdebat.
Sherlyn dan Dylon pun keluar dari butik tersebut dan menaiki motor Dylon yang terparkir di sana. Dylon langsung melajukan kembali motornya ke jalan raya menuju sebuah salon terkenal di kota itu. Begitu Dylon dan Sherlyn melajukan motornya, datanglah mobil sedan berwarna abu-abu memasuki parkiran butik itu. Orang yang berada di dalam mobil itu sempat melihat ke arah motor yang baru saja keluar dari butiknya. Ia melihat putranya sedang berboncengan dengan seorang gadis. Namun wajah gadis itu tak terlihat jelas karena motor itu melaju cukup kencang. Orang tersebut pun masuk ke dalam butik miliknya.
Orang yang melihat Dylon berboncengan dengan seorang gadis ialah tak lain dan tak bukan Sandra Anggara, Mommy Dylon. Ia yang penasaran mengapa Dylon ke butiknya dan pulang membonceng seorang gadis pun bertanya kepada managernya. Nyonya Sandra memang memerintahkan kepada managernya untuk melayani langsung putranya ketika datang ke butiknya tersebut. Makanya ia tau kepada siapa ia harus bertanya tentang kedatangan putranya ke butik miliknya.
"Sisil, bisa ke ruangan saya sebentar?" ucap nyonya Sandra lewat interkom yang ada di mejanya.
"Bisa nyonya. Saya langsung ke sana sekarang." jawab Sisil, manager yang melayani Sherlyn tadi.
Sisil pun mulai berjalan menuju ruangan pemilik butik itu. Begitu di depan pintu, ia mengetok pintu di depannya. Setelah dipersilahkan masuk, ia pun membuka pintu itu dan masuk ke dalam.
"Iya, nyonya. Tuan muda baru saja datang ke butik ini tadi. Setelah tuan muda pergi, tak lama setelahnya nyonya datang." jawab Sisil.
"Owh iya. Tapi tadi di parkiran saya lihat Dylon naik motor membonceng seorang gadis. Apakah Dylon datang dengan seorang gadis ke sini?" tanya nyonya Sandra lagi.
"Iya, nyonya. Tuan muda datang dengan seorang gadis cantik yang menurut saya sedikit tomboy karena tidak memakai make up yang seperti gadis kebanyakan." jawab Sisil menjelaskan sedikit tentang gadis yang datang bersama tuan mudanya tadi.
"Apakah kau tahu hubungan gadis itu dengan putra saya?" tanya nyonya Sandra lagi yang sepertinya masih ingin tahu tentang gadis itu.
"Kalau setahu saya, gadis tadi adalah pacar tuan muda nyonya." jawab Sisil sesuai dengan pemikirannya tadi.
"Baiklah, kau boleh pergi. Terimakasih untuk infonya." ucap nyonya Sandra mempersilahkan Sisil pergi.
"Sama-sama, nyonya. Kalau begitu saya pamit undur diri ke ruangan saya nyonya. Selamat sore." ucap Sisil.
__ADS_1
Begitu Sisil pergi, nyonya Sandra langsung berfikir tentang gadis yang dibonceng putranya. 'Dasar anak dan bapak sama aja. Seleranya untuk gadis aja sama aja. Dulu mas Rayhan juga suka aku karena dulunya aku tomboy. Eh nggak tahunya ternyata nurun ke anaknya yang juga suka sama cewek tomboy.' batin nyonya Sandra sambil menggelengkan sedikit kepalanya karena terheran-heran dengan suami dan putranya yang memiliki banyak kesamaan bahkan untuk urusan tipe gadis pun juga sama.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued.....
__ADS_1
Hi readers author kembali๐๐maaf kemarin author nggak up karena bener-bener sibuk. Nanti dilanjut sore ya. Author sayang readers banyak-banyak ๐๐
Jangan lupa untuk selalu dukung author dengan Like, Komen, Rate bintang 5, dan vote juga ya. Tolong untuk utamakan beri jejak berupa like karena like itu gratis nggak perlu bayar hehehe. See you๐๐