
"Hmmm." Sherlyn hanya menjawab dengan berdehem. Setelahnya, ia langsung turun dari mobil Dylon dan langsung berjalan memasuki kost-annya tanpa berniat berbalik lagi. Berbeda dengan Dylon yang belum melajukan mobilnya kembali. Hingga punggung Sherlyn menghilang di balik pintu kost, barulah ia mulai menjalankan kembali mobilnya menuju rumah.
Begitu dirinya memasuki kamar kostnya, Sherlyn langsung beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sedikit lengket oleh keringat. Ia melepas gaun yang melekat di tubuhnya lalu diletakkannya di keranjang baju kotor untuk ia cuci besok. Tak butuh waktu lama, Sherlyn menyudahi acara mandinya karena hari sudah malam dan mandi malam tidaklah baik untuk kesehatan.
Usai mandi, Sherlyn mengganti bajunya dan langsung membawa tubuhnya untuk berbaring di atas ranjang kecil khas kost-kostan biasanya. Matanya melihat sekilas jam yang ada di dinding telah menunjukkan pukul 23:00. Namun, ia belum berniat memejamkan matanya untuk menjelajahi alam mimpi.
Pikirannya masih berkelana memikirkan kejadian di pesta tadi. Dalam hati kecilnya, ia merasa kasihan kepada Lydia yang ditolak cintanya oleh Dylon. Ralat.....tapi tak dibalas cintanya oleh Dylon. Bahkan Dylon menunjukkannya dengan terang-terangan di depan mata Lydia bahwa Dylon tak akan pernah bisa menganggap Lydia lebih dari sekedar teman biasa. Sherlyn merasa bersalah kepada Lydia karena Dylon menolak Lydia pasti sebabnya adalah dirinya. Meskipun sebenarnya semua itu bukanlah real kesalahannya, tetapi tetap saja ia merasa bersalah telah menyakiti perasaan Lydia.
Sherlyn terus berpikir tentang hal yang sama hingga tanpa terasa kantuk mendatanginya. Ia pun akhirnya tertidur dengan masih dibebani masalah yang ada semenjak ia menjadi pacar Dylon.
*****
Subuh datang bersamaan dengan Sherlyn yang baru membuka mata dari tidurnya. Sherlyn melihat jam yang menunjukkan pukul 04:30. Ia pun langsung bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelahnya, ia melaksanakan sholat Subuh dua raka'at di kamar kostnya.
Setelah selesai dengan rutinitas ibadahnya, Sherlyn melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar kost menuju dapur yang berada di belakang. Di sana ia bertemu dengan ibu kost yang sedang memasak makanan untuk sarapan. Sherlyn menghampiri ibu kostnya dan menyapanya.
"Pagi Bu Kasih." sapa Sherlyn kepada ibu kostnya yang bernama Bu Kasih. "Hari ini Ibu mau masak apa buat sarapan?" lanjutnya, bertanya tentang menu masakan apa yang dibuat oleh Bu Kasih.
"Pagi juga, Lyn." sapa balik Bu Kasih. "Hari ini ibu mau bikin nasi goreng udang kesukaan kamu." jawab Bu Kasih.
"Wah, ibu tau aja kalo saya lagi pengen banget makan nasi goreng udang. Ya udah kalo gitu, biar Sherlyn bantu buat masak ya Bu?" ucap Sherlyn bersemangat mendengar makanan favoritnya.
"Iya, kamu tolong bersihin udangnya dulu ya. Biar ibu yang siapin bumbu-bumbunya." ucap Bu Kasih memberitahu Sherlyn apa yang harus dilakukannya.
"Siap Bu." ucap Sherlyn sambil tangannya diletakkan di pelipis kanannya layaknya orang hormat. Hal itu tentu saja membuat Bu Kasih terkekeh melihatnya.
Sherlyn pun mulai membersihkan udang dengan membuang bagian kepalanya dan membuang kulitnya. Sherlyn sama sekali tak kesulitan saat membersihkan udang itu karena ia memang sudah sering membersihkan udang. Tak butuh waktu yang lama, Sherlyn sudah selesai membersihkan semua udang itu dan mencucinya di air mengalir. Setelah bersih, Sherlyn merebus udang itu di air mendidih.
Bu Kasih mulai mengoseng bumbu nasi goreng yang sudah dihaluskan tadi. Sherlyn sesekali juga membantu Bu Kasih untuk mengambilkan bumbu seperti gula dan garam kepada Bu Kasih. Tak lama kemudian, nasi goreng buatan mereka sudah matang. Sherlyn membantu Bu Kasih untuk menyajikan nasi goreng itu di meja makan. Setelah selesai menyajikannya di meja makan, Sherlyn pamit kepada Bu Kasih pergi ke kamar untuk mandi. Setelah berpamitan kepada Bu Kasih, Sherlyn langsung berjalan menuju kamarnya berada.
20 Menit kemudian......
__ADS_1
Sherlyn sudah selesai mandi dan mengenakan pakaiannya santainya. Hari ini dia ada kelas siang. Jadi ia tak terlalu buru-buru untuk berangkat ke kampus. Sherlyn berjalan menuju meja makan yang dekat dapur tempat Bu Kasih dan teman-teman satu kostnya sedang sarapan. Sherlyn menghampiri mereka lalu menyapa mereka dengan senyum merekah.
"Pagi semua." sapa Sherlyn kepada semua orang yang sedang ada di meja makan.
"Pagi juga, Lyn." jawab mereka semua dengan serempak.
"Aku boleh ikutan sarapan di sini kan?" tanya Sherlyn yang terdengar konyol. Bagaimana tidak? Semua orang mengenal Sherlyn sebagai pribadi yang baik dan ramah. Walaupun terkadang ia sedikit cuek.
"Hahahaha...kamu ada-ada aja deh, Lyn. Emangnya kamu penghuni baru di sini sampe harus ijin dulu kalo mau ikut sarapan?" jawab salah satu dari mereka sambil tertawa.
"Hehehe...aku cuma bercanda kok. Ya udah kalo gitu aku duduk ya." ucap Sherlyn.
Mereka merespon dengan menganggukkan kepala dan memulai sarapan masing-masing. Mereka memakan sarapan sambil saling bercanda tawa. Begitulah suasana pagi di kost-an Sherlyn. Walaupun sederhana, mereka tetap senang karena bisa bercanda tawa bersama. Meskipun bukan keluarga, mereka tetap menyayangi satu sama lain. Di kost-an itu, penghuninya semua adalah perempuan. Tidak ada satu pun laki-laki yang ada di sana. Suami Bu Kasih telah lama meninggal. Beliau tidak memiliki anak karena suaminya sudah terlebih dahulu dipanggil oleh sang pencipta. Karenanya lah, Bu Kasih sangat menyayangi semua anak gadis yang tinggal di kost-kostannya.
Setelah sarapan bersama, semua orang mulai melakukan aktivitasnya masing-masing. Ada yang berangkat kuliah dan ada pula yang berangkat bekerja. Sebelum berangkat, mereka semua berpamitan terlebih dahulu kepada Bu Kasih. Setelahnya mereka mulai berangkat menuju tujuan mereka masing-masing. Sedangkan Sherlyn membantu Bu Kasih membereskan bekas sarapan mereka di dapur.
Usai membantu membereskan dapur Bu Kasih, Sherlyn berjalan kembali menuju kamarnya untuk mengambil keranjang baju kotornya untuk dicucinya di tempat mencuci. Sherlyn mencuci semua pakaiannya dengan mesin cuci. Akan tetapi, gaun yang dipakainya kemarin ia cuci dengan tangannya sendiri. Ia takut gaun itu rusak jika dicuci di mesin cuci. Sherlyn berniat mengembalikan gaun itu kepada Dylon karena ia menganggap Dylon hanya meminjami gaun itu kepadanya.
Setelah selesai mencuci dan menjemurnya, Sherlyn kembali berjalan ke kamarnya. Ia merebahkan badannya di ranjang untuk beristirahat sejenak. Setelah dirasa cukup, Sherlyn mulai beranjak menuju meja belajarnya untuk belajar sebentar tentang mata kuliah hari ini. Ia juga mempersiapkan buku-buku untuk kuliahnya hari ini ke dalam tasnya.
*****
"Bu Kasih, Sherlyn berangkat kuliah dulu ya." pamit Sherlyn.
"Iya, Lyn. Kamu kuliahnya yang pinter biar cepet lulus dan bisa banggain orangtua kamu." jawab Bu Kasih.
"Iya, Bu. Ya udah, kalo gitu Sherlyn duluan ya. Assalamu'alaikum." salam Sherlyn.
"Waalaikumussalam." jawab Bu Kasih.
Begitu Sherlyn keluar dari gerbang, pemandangan pertama yang ia lihat yaitu seorang laki-laki yang tengah duduk dari motornya sambil melihat ke arahnya. Tanpa berbasa-basi lagi, Sherlyn langsung naik ke motor laki-laki itu dan memintanya untuk segera menjalankan motornya. Sherlyn masih terlalu malas untuk berdebat dengan laki-laki itu yang tak lain tak bukan adalah Dylon, pacar pura-puranya.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued.....
__ADS_1
Maaf kalau sedikit lama, ide author lagi nyendat-nyendat hari ini. Jadi butuh waktu lumayan lama untuk bisa menulis satu episode. Semoga readers tetap suka sama cerita author ya. Author sayang readers banyak-banyak 💞💞
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak setelah membaca ya. Hari ini author nulisnya lebih dari 1000 kata loh. Jadi tolong dukung author dengan Like, Komen, Rate bintang 5, dan vote juga kalau bisa. See you👋👋