
" Syukurlah bapak dapat memahami" Ucap Darwis sambil menelengkupkan tanganya.
"Tidak masalah master...?? " kata kata pak Danu terhenti saat hendak menyebut nama Darwis namun pak Danu memang blm sempat mengetahui namanya
"Saya Darwis, dan ini Kirana" sahut Darwis kemudian.
"Owh, iya master Darwis, Keadaan Rama baik baik saja, hanya saja selama tanganya masih belum pulih benar, Dia mungkin tidak bisa bersekolah, apalagi mengikuti latihan untuk sementara waktu" Ucap pak Danu
"Owh, bagaimana kalau kami membantu Rama pak, Kirana selain sbg master, dia ini juga murid paling berprestasi di sekolahnya. Bagaimana kalau Kirana mengajar Rama di rumah pak Danu secara gratis, karna Kirana juga harus bertanggung jawab atas insiden ini" ucap Darwis. Entah dari mana, tiba tiba muncul ide agar Kirana tetap punya alasan untuk bisa bertemu Rama walaupun Rama tidak dapat mengikuti Latihan. Dalam hati Darwis begitu berharap pak Danu bersedia menerima Kirana untuk mengajar Rama, Dan itu pasti akan membuat Kirana senang pikir darwis sambil melirik ke arah diana dan sepintas mengerjapkan matanya. gagasan itu pun akhirnya terbaca oleh kirana dan begitu senang meski blm tahu apakah pak Danu bersedia atau tidak..
"Oh..boleh.., kapan kita bicarakan kontraknya?" Jawab pak Danu kemudian.
*Owh, Alhamdulillah* bisik kirana dalam hati
"Bagaimana Kirana? " tanya Darwis sambil kembali mengedipkan sebelah matanya.
"Saya bersedia pak, sy sangat senang bisa membantu Rama, terlebih saya yang seharusnya bertanggung jawab atas apa yang di alami Rama hari ini" jawab kirana berusaha menyembunyikan hatinya yang kian berbunga.
"Ah, tidak apa apa master Kirana, ini hanya masalah kecil, lagi pula itu kecelakaan yang tidak di sengaja" jawab pak Danu begitu ramah."
"Baiklah pak Danu, hari sudah petang, kami harus segera pulang dan besok kami akan menemui pak Danu kembali untuk membicarakan hal ini" ucap Darwis
Keduanya pun meminta izin menemui Rama guna berpamitan
"Silahkan" sambut pak Danu ramah..
Sementara Rama yang masih terbaring tersenyum melihat kedua Masternya mendekat
"Bagaimana kondisimu jagoan" tanya Darwis sambil melempar senyum pada Rama..
"Seandainya Rama hebat seperti master Darwis dan Master Kirana mungkin Rama tidak akan terkilir" jawab rama
"Semua butuh proses teman, Lihat master Kirana, dulu pertama kali dia ikut latihan hanya satu kali hentakan saya dapat membuatnya tubang, tapi sekarang justru master Kirana yang tidak Bisa saya kalahkan" jawab darwis pada Rama seakan mereka sudah berteman lama.
"Benarkah master? " tanya Rama lagi melebarkan senyumnya bersemangat..
"Yaaa..."jawab Darwis
Kemudian Darwis mendekatkan mulutnya ke telinga Rama dan berbisik
"Karna di balik maskernya itu wajahnya sangat cantik, dan mampu membuat master Darwis kehilangan konsentrasi" bisik Darwis sambil tersenyum
__ADS_1
"xi..xi..xi.. benarkah master?" ucap Rama lagi sambil cekikikan..
"Hemmm"Jawab Darwis sambil mengangguk dan tersenyum lebar
Kirana dan pak Danu beserta istrinya merasa heran dan bertanya tanya dalam hati kenapa Rama bisa tersenyum begitu riang mesti tanganya masih sakit.
"Baiklah Rama, semoga lekas sembuh, besok kami akan datang lagi, karna besok master kirana akan menjadi guru les prifatmu di rumah" ucap darwis kemudian
"wah, menyenangkan sekali" jawab Rama girang
"Kami pamit" ucap Darwis sambil mengusap usap rambut lurus Rama. Disambut dengan anggukan kepala oleh Rama.
***
Di perjalanan pulang, Darwis melihat wajah kirana yang tak semasam tadi waktu berangkat. rupanya percakapanya dengan pak Danu barusan, berhasil membuat kirana lupa sesaat dengan masalah di panti. Esok, Kirana dapat menemui Rama kapan pun Kirana mau.
"Trima kasih kak Darwis" ucap kirana memecah keheningan
"Apa kamu sangat senang bisa bersama Rama Kirana?"tanya darwis memastikan walau sesungguhnya dia sudah tahu jawabanya
"Iya, lebih tepatnya saya sangat bahagia" ucap kirana.
Kini Darwis dapat melihat mata kirana yang berkaca kaca menyiratkan rasa harunya.
tiba tiba saja Darwis menginjak pedal remnya sedalam munkin. Untung saja mereka menggunakan sabuk pengaman hingga tak terjadi benturan.
"Tolooongg.." teriak wanita yang nyaris saja tertabrak oleh Darwis, untung saja darwis menyadari kehadiran ibu itu ketengah jalan raya sebelum tertabrak.
"Ada apa bu? tanya Darwis melongok dari jendela mobilnya
"Mereka merampas tas saya" jawab ibu itu sambil menangis dan menunjuk ke arah 3 orang preman yang berlarian kencang bersama sama.
"Tunggu di sini Kirana" Ucap Darwis sambil membuka pintu mobil dan mengejar ketiga Orang itu yang di tunjuk oleh ibu itu.
Kirana hendak ikut mengejar, tapi melihat ibu itu yang syok akibat ulah para prampok dan nyaris saja tertabrak mobil Darwis maka Kirana memilih untuk tinggal menenangkan Ibu itu.
Hampir setengah jam Darwis belum juga kembali, Kirana menunggu dengan harap cemas sedang beberapa orang bergumul menyaksikan si ibu yang sedang menangis dan Kirana tetap berusaha menenangkanya.
"sudah Bu.. sabar ya" ucap kirana berusaha menenangkan.. terlebih hari sudah mulai gelap.
"Uang itu untuk makan dan berobat anak saya mbak. hu..hu..hu.."si ibu masih mebangis.
__ADS_1
"Oh anak ibu sakit?" tanya kirana sambil mengelus punggung ibu itu.
"Iya, sekarang sedang di rumah sakit terkena gangguan lever" jawab ibu itu lagi.
tak lama kemudian Darwis muncul dengan nafas tersegal segal dan berkeringat.. tas hitam milik si ibu sudah ada ditanganya.
"Ini tas ibu huh..huh.." sambil tersegal Darwis menyerahkan tas ibu itu..
Kirana yang melihat keadaan darwis lansung berlari mengambilkan botol berisi air mineral yang ada di mobil dan menyerahkanya pada darwis..
"Trima kasih banyak mas, sanget sanget trimakasih" ucap ibu itu.
seusai meminum air yang di berikan Kirana darwis pun hanya bisa menganggukan jawaban untuk si ibu..
"Bagaimana kak, tertangkap jambretnya?tanya Kirana penasaran
Darwis menggeleng..
"Tadi sih tasnya berhasil saya amankan, saya pun sudah menghajar mereka hingga babak belur, tapi sayangnya mereka berhasil lolos lewat gang gang sempit, mana aku juga nggak hafal kawasan sini ran, mereka berpencar juga kaburnya, jadi saya bingung mau kejar yang mana" jawab Darwis menjelaskan.
Kirana hanya mengangguk angguk memahami.. memang klo hanya sendiri akan kesulitan mengejar, pencopet pasti hafal mati gang gang sempit yang biasa mereka lalui, sedangkan darwis tak pernah blusukan di gang sempit..
"Ya sudah, kita pulang ya kak" ucap kirana..
Ibu yang di tolong tadi masih berdiri di situ dan berkali kali mengucapkan trima kasih pada Darwis dan Kirana, sebelum pada akhirnya Darwis dan Kirana kembali mengendarai mobilnya.
***
Sesampai di Panti, kirana langsung pamit pada Darwis. begitupun Darwis yang berlalu pergi dari halaman panti..
Namun ketika hendak masuk ke panti, terdengar percakapan pak Hendro dgn kedua temanya..
"sialll... siapa laki laki tadi." Ucap pak Hendro pada temanya..
"Hah.. gagal kita dapat duit, kenapa juga tuh pahlawan abal abal mesti muncul"
"sudahlah, begitu memang resikonya, kamu sih Ndro, coba kamu paksa Mbak maya untuk menyerahkan surat surat tanah panti ini, pasti kita bisa hidup enak kan" ucap temanya yang satu lagi.
"Lhah mau bagaimana lagi, mbak Maya tetap tidak mau ngasih tahu di mana dia simpan surat surat itu" Ucap pak Hendro
Tak menyadari Kirana yg ada di balik pintu dan kemudian Kirana pun masuk tanpa mengetuk pintu
__ADS_1
ketiga orang itu terbengong dan saling bertukar pandang. begitu juga kirana yang memandangi mereka satu persatu yg kesemuanya berwajah lebam.
Kirana baru sadar penjambret yang tadi di kejar Darwis adalah mereka..