Kirana Gadis Panti Asuhan

Kirana Gadis Panti Asuhan
Kirana Gadis panti bab. 7 #Adik Bu Maya#


__ADS_3

Kirana tak ingin gegabah untuk mendekati Rama, kirana masih belum tahu orang seperti apa pak Danu orang tua angkat Rama. Kecemasan akan omongan Bu Maya pada waktu itu bisa saja terjadi. Jika tahu Kirana sudah berhasil menemukan Rama, mungkin orang tua angkatnya akan menjauhkan Kirana dari Rama. Untuk itu, kirana hanya bisa bertemu adiknya disetiap jadwal latihan. itu pun dia berusaha untuk menahan keinginanya memeluk adiknya.


***


Tak banyak yang tahu tentang riwayat hidup Ibu maya pemilik sekaligis pengurus panti asuhan Muara Kasih, Hanya Ibu Ratih yang membantu mengurus Ibu maya. Di usianya yg kini sudah setengah baya, beliau masih sangat cekatan dan wajahnya nampak awet muda. mungkin karna kebahagiaanya setiap hari berkecimpung dengan anak anak di panti, mempengaruhi fisiklis Ibu maya.


Suatu hari Ibu maya pernah bercerita pada kirana, Panti asuhan ini adalah peninggalan orang tua Ibu maya. sedang ibu Ratih, dulunya juga merupakan anak asuh di panti ini.. sedang Ibu maya memiliki adik Laki laki bernama Hendro yang sudah tak pernah berkunjung lagi ke Panti, karna Ibu Maya pernah berselisih dikarnakan adik laki lakinya itu begitu serakah dan dulunya setelah orang tua Bu Maya meninggal20 tahun yang lalu pak hendro hendak menjual tanah Panti yang sudah di wakafkan orang tuanya. Beruntung Ibu maya tahu aksi licik pak Hendro dan menghentikanya dan panti bisa di selamatkan, bahkan Ibu Maya memenjarakan pak Hendro adiknya karna berusaha memalsukan tanda tangan milik Bu Maya saat hendak menjual tanah panti.


pada saat di penjara, Ibu Maya dan Bu Ratih pernah berusaha menjenguk Pak Hendro, namun bukanya menyesali perbuatanya, malah mengancam Ibu Maya dan Ibu Ratih. sejak Saat itu Bu Maya tak lagi pernah bertemu dengan Pak hendro, walaupun pak Hendro sudah bebas 5 tahun setelah sejak di penjarakan. Ancaman pak Hendro pada Bu Maya, bahwa suatu hari dia akan kembali untuk merebut kembali tanah panti.


sudah belasan tahun berlalu, dan Ibu maya sudah nyaris lupa akan hal itu. Tapi sayangnya hari itu pak Hendro benar datang dan membuat kegaduhan di panti di siang bolong..


Hari itu hari minggu, Ibu maya, Bu Ratih, Kirana dan anak anak panti lainya bergotong royong membersihkan panti baik di dalam ruangan maupun halaman. rutinitas ini memang dilakukan setiap hari minggu Oleh Bu Maya dan anak anak asuhnya..


siangnya saat mereka selesai mandi dan berkumpul di meja makan, tiba tiba ada suara orang menggedor gedor pintu panti.


Ibu Ratih dengan cekatan membukakan pintu, Alangkah terkejutnya Bu Ratih


"Hendro" ucapnya dengan mimik cemas

__ADS_1


Ibu maya yang baru keluar dari kamar pun menyusul ke pintu depan untuk memastikan siapa yang datang. Bu maya pun terkejut dgn kedatangan pak Hendro..


"Mau apa lagi kamu Hendro, jangan datang lagi kalau hanya ingin membuat kerusuhan di panti" ucap bu Ratih sedikit meninggikan suaranya.


"Ha..ha..ha.. Mbak maya, mbak maya.. Apa lupa kita ini saudara?, panti ini juga milik orang tuaku, jadi aku juga berhak berada di sini". jawab pak hendro lantang..


"Saya tidak lupa kalau kamu adik kandungku, tapi saya juga belum pikun kalau kamu pernah hendak menjual tanah panti yang sudah di wakafkan oleh Ayah dan Ibu kita untuk kelangsungan hidup anak anak terlantar" ucap bu maya dengan volume suaranya ikut meninggi.


mendengar kegaduhan di luar, Kirana Dan anak anak panti pun menyusul ke keluar. menyaksikan perdebatan antara bu Maya dan pak Hendro. ternyata pak hendro tidak sendiri, melainkan bersama 2 orang laki laki lain yang merupakan temanya.


" Mbak maya Setuju ataupun tidak aku akan tetap berada di sini karna panti ini milik orang tuaku juga" bentak pak Hendro pada Bu Maya.


"Diam Kamu Mbak Maya" teriak pak Hendro sambil melayangkan tangan hendak melayangkan pukulan ke wajah Bu Maya. Tapi sebelum sempat menyentuh Bu Maya, Kirana sudah menangkap tangan pak Hendro, tatapan sangar mereka pun saling beradu. sebab cengkraman tangan Kirana yang terbiasa dengan bermacam alat olahraga berat mampu menahan tangan pak Hendro yang nyaris mengenai wajah bu Maya. sepintas kirana melihat bekas sayatan luka di pergelangan tangan pak hendro.


"Lapaskan tanganku anak Sialan, siapa kamu berani beraninya ikut campur" bentak pak Hendro sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Kirana..


"Beranani kau sentuh Ibu Maya, aku tidak akan tinggal diam" ancam Kirana dengan sorot mata tajam. kemudian menghempaskan tangan pak Hendro.


Namun tak mengindahkan ucapan Kirana justru pak Hendro menyuruh kedua temanya maju menghadapi Kiarana. Dengan gesit justru Kiranalah yang menghajar kedua teman pak hendro hingga babak belur, kemudian pak hendro pun turut maju namun tak juga dapat menandingi kepiawaian Kirana dalam mengolah seni Bela diri yang sudah di pelajarinya selama bertahun tahun hingga menyandang gelar sebagai seorang Master. Hanya saja Pak Hendro tidak menyadari siapa gadis yang sedang di hadapinya saat ini.

__ADS_1


Hanya dalam hitungan menit, ketiganya sudah tersunkur di tanah.


menyaksikan hal itu, anak anak panti bersorai semangat dan meneriaki Kirana. Namun tak begitu Bu maya berlari menghentikan aksi mereka.


"Sudah sudah cukup" teriak bu Maya..


"Hendro kamu boleh tinggal, tapi tolong jangan berbuat onar lagi, ingat pesan almarhum orang tua kita" Ucap Bu Maya. Nampak air mata mengalir dari membasahi pipinya.


Ibu Ratih dan Semua anak anak panti terdiam dengan keputusan Bu maya. Mereka tak mengira Bu Maya menerima Pak Hendro kembali ke Panti itu. Kecemasan mendalam pun menyusup di Hati Kirana, namun mereka tak dapat melawan keputusan Bu Maya, sebab walau bagaimanapun Pak Hendro adalah adik Bu Maya.


pak Hendro dan teman temanya bangkit menatap bengis ke Arah Kirana


"Aku akan membuat perhitungan denganmu, akibat dari berani menantangku" ucap pak hendro sambil menunjuk ke arah kirana.


sekali lagi Hati Kirana berdesir, bukan karna takut pada ancaman pak Hendro, namun Kirana dapat melihat dengan Jelas Bekas luka di pergelangan tangan pak Hendro sama persis pada bagian luka yang pernah di berikan kirana ketika di Masa kecilnya melakaukan perlawanan terhadap perampok yang menyatroni Rumahnya dan menghabisi nyawa Ayah dan Ibunya 10 tahun silam.


Setelah itu pak hendro memasuki Rumah panti di ikuti kedua temanya dan dususul oleh Bu Maya..


Kirana masih terdiam termanggu di tempatnya berdiri dan masih bertanya tanya dalam hati

__ADS_1


* Apakah parampok itu adalah mereka*


__ADS_2