Kirana Gadis Panti Asuhan

Kirana Gadis Panti Asuhan
Kirana Gadis Panti Bab 19 #Kemarahan Kirana#


__ADS_3

Di perusahaan, pak Danu tengah sibuk dengan Dokumen dokumen perusahaan.


kriing..kriing..


pak Danu mengangkat telfon yang ada di mejanya


"Pak ada pak Bayu ingin menemui bapak" suara dari ujung telfon


"Oh.. persilahkan beliau masuk" titah pak Danu


"Baik pak"


tok..tok.. Terdengar pintu di ruanganya di ketuk dan sekertaris pribadinya membuka pintu. Kemudian mempersilahkan pak Bayu masuk


dan pak Danu bangkit dari kursi kebesaranya menghampiri pak Bayu


"Oh pak Bayu mari silahkan duduk" ucap pak Danu sambil menjabat tangan pak Bayu


"Apa kabarnya Kirana pak Bayu, sudah dua hari ini saya belum sempat menjenguknya lagi karna sibuk dengan perusahaan" tanya pak Danu memulai percakapan


"Kirana sudah membaik pak Danu, Jika memungkinkan hari ini sudah bisa pulang, itu yang saya dengar dari Darwis anak saya"


"Syukurlah kalau begitu" ucap pak Danu


"Ya pak Danu, Kirana gadis yang penuh semangat, itu pun mendukung kesehatanya segera pulih" tukas pak Bayu lagi


"Rama pasti senang dengan kabar ini. dan Darwis orang yang beruntung bila dapat berjodoh dengan gadis baik seperti Kirana" ucap pak Danu


"Betul itu pak, saya pun mendukung apa yang menurut Darwis anak saya baik. Tapi sekarang ini saya kesini untuk membahas tentang kerja sama perusahaan saya dengan pak Danu" ucap pak Bayu sambil terkekeh, seakan mengingatkan agar mereka tak lupa karna sibuk membicarakan Kirana. Begitupun pak Danu turut tertawa mendengar penuturan pak Bayu


***


Dirumah sakit Dokter selesai memeriksa kesehatan Kirana..


" Bagaimana dokter, apa saya sudah bisa pulang hari ini?" tanya Kirana tak sabar. Kirana begitu rindu pada suasana dan Adik adik panti dan Ibu Ratih


"Baik nona Kirana anda sudah boleh pulang, tapi dua hari sekali masih harus kontrol lagi kerumah sakit dan hati hati luka jahitan di pinggang belum kering benar" jawab Dokter


"Baik dokter trima kasih" ucap kirana senang di balas anggukan dan senyum oleh Dokter


"Suster suruh para perawat mengganti perban nona Kirana sebelum pulang" titah Dokter pada suster yang memdpinginya

__ADS_1


"Baik Dokter" ucap suster itu kemudian Dokter permisi dari kamar rawat Kirana


Darwis mendekati Kirana yang melempar senyum ke arahnya


"Kirana, kenapa cepat sekali minta pulang?" tanya Darwis


Kirana menatap darwis dan mengeryitkan kening heran


"Lhoh memang Kak Darwis tidak lelah pulang balik Rumah ke rumah sakit untuk menjaga Kirana? Kirana balik bertanya


" Tidak apa apa, justru kak Darwis senang bisa berduaan terus sama kamu disini, bisa memandangimu saat kamu tidur sampai ngorok dan ngiler segala" jawab Darwis sambil terkekeh menggoda kirana


"Hah..iya kak emang Kirana kalau tidur seperti itu? tanya kirana terkejut dan tersipu


"Hah..hah..Kirana polos banget sih" ucap Darwis sambil memencet hidung mancung Kirana gemas


setelah perawat selesai mengganti perban di pinggang Kirana,kemudian Darwis membimbing Kirana berjalan keluar rumah sakit karna masih sedikit cemas karna luka luka jahitan pada tubuh kirana belum sembuh sepenuhnya.


Setelah yakin tidak ada yang tertingal darwis pun segera mengemudikan mobilnya


"Nanti sampai di panti jangan lupa minum obatmu dan istirahat yang cukup Kirana" Ucap Darwis perhatian sambil terus mengemudi.


"Iya kak" jawab kirana sambil tersenyum


"iya" jawab kirana sambil menoleh kiri kanan. Hatinya sangat gembira setelah terkurung beberapa hari di rumah sakit dan kini akan segera berkumpul kembali dengan adik adik pantinya.


Tinggal beberapa puluh menit sampai, melewati persimpangan dan lampu merah darwis berhenti.. kirana yang masih memperhatikan sekeliling jalanan tiba tiba matanya tertuju pada beberapa anak yang tengah mengamen memakai alat alat seadanya, dari botol aqua dan tutup botol bekas. mengenali anak anak itu kirana terkejut dan membelalakan matanaya. Kirana mengucek kedua matanya meyakinkan kalau dirinya tidak salah dengan penglihatanya dan bukan sekedar berhalusinasi. Namun kenyataanya memang benar Kirana mengenali mereka


"Astaghfirullah..kak Darwis" teriak kirana di tengah bisingnya suara kendaraan di sekitarnya


Darwis pun terkejut menatap kirana heran


"Ada apa kirana" tanyanya sambil mengeryitkan kening


"Itu Adik adik pantiku ngapain ngamen dijalanan" ucap kirana sambil menunjuk sekelompom anak yang ada di sebrang jalan


"mana" tanya Darwis sambil mencari anak anak yang di tunjuk kirana..


"Itu kak, itu bagas lala dan lainya" ucap kirana memastikan ke darwis. dan darwis pun melihat kumpulan anak yang di maksut kirana. Karna darwis memang pernah bertemu mereka beberapa kali setiap menjemput Kirana


"Iya benar, itu mereka kamu di disini dulu kirana biar saya panggil mereka"ucap darwis dan kirana mengangguk.

__ADS_1


Meskipun kirana ingin mendatangi sendiri adik adik pantinya pasti Darwis tak akan mengizinkanya, mengingat pesan dokter lukanya masih belum kering sepenuhnya


Kirana hanya bisa mrmperhatikan Darwis berbincang pada anak anak itu entah apa yang mereka bicarakan kirana masih belum tahu, hanya sesekali mereka menunjuk ke suatu tempat.


*Apa yang terjadi, bukankah uang donasi biasanya cukup untuk makan dan sekolah anak anak panti, walaupun kurang kenapa sampai harus membiarkan anak anak membahayakan diri mengamen dijalan* bisik Kirana dalam hati


Beberapa menit kemudian Darwis kembali kemobil dan mengemudikan mobilnya karna lampu Rambu lalu lintas sudah menghijau


"Kak, bagaimana adik adiku?" tanya kirana tak sabar


"Sy sudah bilang pada mereka untuk segera mencari saudara saudara mereka yang lainya dan segera pulang kepanti, ternyata mereka berpencar dari jalan ke jalan


"Aaapaa?" kirana terkejut sekaligus cemas. semakin yakin di panti sedang tidak beres


"Kenapa Ibu Ratih mengijinkan mereka mengamen di jalanan. ini tidak pernah terjadi di panti selama ini kak" ucap kirana nampak menahan emosi


"Entahlah Kirana, kita akan segera tahu nanti, karna untuk membawa mereka pulang sekaligus kita tidak bisa, lihat mobil saya kecil"ucap Darwis


Kirana mengangguk, namun hatinya kini kian tidak tenang..


*memasuki halaman panti Darwis membunyikan kelakson dan Ibu ratih berlari lari kecil membuka pintu dan menuju halaman menyambut kedatangan Kirana dan Darwis.


Baru saja turun dari mobil kirana yang tak sabar langsung bertanya pada ibu Ratih


"Bu, tadi Kirana bertemu adik adik panti di jalan, kenapa ibu membiarkan mereka mengamen?" tany kirana


"A..apa, mengamen? " justru Bu Ratih yang terkejut dan balik bertanya


"Iya bu, kenapa bu, apa kehabisan donasi hingga mereka seperti itu?" tanya kirana lagi


"Ibu tidak tahu kalau mereka mengamen, mereka pamit sama ibu setiap hari bermain di Taman seperti biasa" Jawab ibu ratih merasa ada yang salah


"Mereka tidak akan melakukanya tanpa alasan bu" ucap kirana masih belum paham


"Munkin karna mereka tahu ibu sudah tidak memiliki uang, uang dari para donatur dirampas oleh pak Hendro beberapa hari yang lalu Kirana. terpaksa Ibu hanya memberi mereka makan mi Instan itupun uang dari laci kamu yang ibu dapat" jawab bu Ratih begitu bersedih dan meneteskan air mata


Kirana dan Darwis saling melempar pandang..


"Tapi ibu tidak pernah mengizinkan mereka untuk mengamen apa lagi menyuruh" ucap bu ratih lagi. Ucapanya begitu berat dan tersendat menahan sedih .Air mata semakin deras mengalir dari sudut matanya


Kirana yang mendengar penuturan Bu Ratih mulai meradang, Detak jantungnya menjadi kencang dan nafasnya memburu menahan gejolak amarah

__ADS_1


"Jadi semua ini ulah pak Hendro dan Teman temanya, Dasar ke****t? ucapnya Kirana menangis pilu.


"Tenang Kirana, ingat kesehatanmu belum pulih"ucap Darwis sambil menyentuh kedua pundak kirana


__ADS_2